
Seri kedua dari “Cerita Pesantren”
Pagi-pagi sekali seluruh santri nampak sedang mempersiapkan diri dengan pakaian seragam hitam-putih yang begitu rapi, para santri putra kompak mengenakan kopiah hitam, terlihat begitu gagah dengan semangat dan doa yang terpancar dari raut wajah mereka. Sedangkan para santri putri seluruhnya mengenakan kerudung putih, memancarkan rona anggun layaknya seorang bidadari yang dikirim Tuhan untuk mewarnai kehidupan bumi. Kini mereka sedang bersiap merapikan barisan di lapangan utama pesantren tempat biasa dilaksanakannya apel resmi, dipimipin oleh salah seorang guru yang membantu mengarahkan agar barisan tertib dan rapi.
Hari ini adalah hari pertama dilaksanakannya ujian tulis semester pertama tahun ajaran ini, sebagaimana yang sudah menjadi sunah pesantren, seluruh santri dan guru akan melaksanakan “Apel Siaga Ujian” sebagai suatu bentuk seremonial pembukaan atas rangkaian pelaksanaan kegiatan ujian tersebut. Tidak hanya itu, seperti kegiatan ataupun sunah-sunah pesantren lainnya yang sarat akan landasan filosofis serta menjunjung nilai-nilai luhur pesantren, apel siaga ujian pun demikian. Pelaksanaan apel siaga ujian yang wajib diikuti oleh seluruh santri dan guru ini ditujukan untuk mempertegas muatan disiplin pesantren mengenai ketepatan waktu. Tujuannya ialah agar seluruh santri dapat senantiasa mendisiplinkan diri dalam menjalankan rutinitas sehari-hari terlebih lagi dalam mempersiapkan diri untuk menghadapi momen-momen penting yang barangkali tidak mereka jumpai setaip hari. Ini juga menjadi sarana pendidikan pesantren, yang baik secara langsung maupun tidak, hendak membentuk karakter mawas diri pada setiap santri. Sikap mawas diri ini penting untuk dihayati dan diwujudkan dalam laku hidup sehari-hari mengingat implementasinya yang juga sejalan dengan pesan Al-Qur’an berkenaan dengan perintah untuk menjaga diri sendiri. Al-Maghfurlah K.H. Ahmad Syahiduddin kerap menyampaikan pesan tersebut kepada para santri.
قُوْا أَنْفُسَكُمْ وَ أَهْلِيْكُمْ نَارًا
Matahari belum lagi tinggi menyinari, hanya sedikit dari barisan santri yang terkena sorot langsung mentari pagi, selebihnya masih tertutupi oleh bayangan gedung Al-Madani yang menjadi kiblat barisan apel siaga pagi ini. Semua peserta upacara kini telah berdiri di barisannya masing-masing. Beberapa guru terlihat berada di barisan santri paling belakang, biasanya mereka adalah Bagian Disiplin yang ditugaskan untuk mendampingi para santri secara langsung di dalam barisan selama apel berlangsung.
Pesan Al-Qur’an tersebut tidak hanya beliau sampaikan sebagai suatu nasihat lisan semata (لِسَانُ المَقَالِ). Lebih dari itu, kami, santri-santri beliau, telah banyak menyaksikan secara langsung bagaimana ayahanda bersikap dan bertutur yang mencerminkan suatu bentuk laku hidup dalam menjalankan pesan Ilahi tersebut. Dalam tradisi pesantren nasihat semacam itu dikenal dengan istilah “لِسَانُ الحَالِ”. Dan kami memahami bahwa
“لِسَانُ الحَالِ أَفْصَحُ مِنْ لِسَانِ المَقَالِ”
Apel pun dimulai, pembawa acara mengantarkan seluruh peserta memasuki susunan agenda yang pertama. “… Marilah kita bukan Apel Siaga Ujian pagi ini dengan mengucapkan Basmalah.”
Pak Mis yang sedari awal begitu fokus memperhatikan barisan para santri merasa terganggu dengan adanya pergerakan yang nampak dari sudut bola matanya. Fokusnya teralihkan, ia palingkan wajahnya agar pandangannya tuntas menelisik sumber pergerakan tersebut. Cukup jauh jarak di antara keduanya. Namun, begitulah Pak Mis. Selain terkenal karena suaranya yang lantang nan menggelegar ia pun terkenal dengan sorotan dan tatapan matanya yang tajam. Ia mampu mengenali gerak-gerik santri bahkan dari jarak yang cukup jauh. Dari situlah ia mendapatkan julukan “mata elang”.
Dengan sigap Pak Mis keluar dari barisan dan segera menghampiri tempat pergerakan tersebut berasal. Dilihatnya seseorang yang nampaknya adalah seorang santri SMP. Mengenakan seragam putih-putih dengan kopiah hitam yang telah lusuh dan terdapat corak kuning di beberapa bagiannya, sedang mencuri-curi pandang dari balik tembok depan asrama. Kepalanya timbul-tenggelam dari balik tembok tersebut berusaha mengamati keadaan di luar asrama. Sesekali santri tersebut memberanikan diri sedikit melangkah keluar dari balik tembok tersebut, menolehkan pandangannya ke segala penjuru, mencoba meraba lebih jauh apakah keadaannya sudah benar-benar aman baginya untuk melesat keluar dari asrama dan langsung menuju ruang ujiannya tanpa terlebih dulu mengikuti apel siaga.
Ternyata dia tidak menyadari bahwa Pak Mis, dengan kemampuannya untuk “melangkah dalam diam” disertai tatapan mata elangnya, telah semakin dekat dengan tempat persembunyiannya. Ketika dirasa momen dan timing¬nya sudah tepat, bak seorang ninja, Pak Mis tiba-tiba saja sudah tepat berada di hadapan santri yang sedang bersembunyi itu. Tidak ada yang dapat dilakukan santri tersebut selain ‘membeku’. Matanya terbelalak, perasaan terkejut dan takut kini menguasai dirinya mendapati seorang guru seangker Pak Mis tiba-tiba saja berada persis di hadapan wajahnya. Sambil diliputi perasaan tak karuan, “A, AAA, Abim, kelas 1 C, ustaz.” Begitulah jawab santri tersebut ketika Pak Mis menanyakan soal nama dan kelasnya. Dengan ucapan yang terbata-bata karena gugup mengahadapi salah seorang guru senior yang juga terkenal di kalangan santri sebagai algojonya Bagian Disiplin, Abim memberanikan diri untuk coba menjelaskan alasan mengapa ia enggan untuk mengikuti apel siaga ujian pagi itu. “Saya malu, ustaz, dengan yang lain karena saya memakai celana putih. Beda sendiri, ustaz. Kalau saya ikut apel pasti saya akan jadi sorotan santri-santri yang lain karena celana saya warnanya beda sendiri. Apalagi kalau ketahuan sama bagian pengajaran, pasti nanti saya juga akan diberikan hukuman yang lebih.”
Meskipun galak, Pak Mis adalah seorang yang bijak, beliau mampu memposisikan diri dan memainkan peran yang proporsional sebagai seorang guru pengasuh. Cara Pak Mis memberikan teguran kepada santri junior dan santri senior tidaklah sama. Kepada Abim, beliau bersikap lembut dengan tidak meninggikan nada suaranya dan mamasang raut wajah yang penuh iba. Lain hal seandainya yang didapatinya itu adalah santri senior, barangkali seketika santri tersebut akan merasa bahwa yang di hadapannya itu adalah malaikat pencabut nyawa.
“Memangnya celana hitam kamu kemana, Abim?”
“Eehhh…anuuu, ustaz. Ituuuu…eehhh…” Karena sudah terlanjut diliputi perasaan takut dan tegang kalau-kalau Pak Mis memintanya untuk tetap mengikuti apel siaga, biacaranya pun menjadi kelu. “Sebenarnya ada, ustaz, tapi kemarin sore baru saya cuci dan karena semalam hujannya cukup deras jadi celananya masih basah. Celana hitam saya yang satu lagi sudah 4 hari ini di tukang jahit. Rencananya nanti sore baru mau saya ambil, ustaz.” Jawabnya pelan dengan nada suara yang rendah, menunjukkan ekspresi seseorang yang dirundung kekhawatiran.
“Kamu sudah coba meminta tolong dengan teman-teman yang lain untuk meminjamkan celananya untukmu?”
“Sudah, ustaz, tapi teman-teman yang ukuran celananya sama dengan saya hanya sedikit. Itupun mereka sedang tidak menyimpan celana bersihnya di lemari.”
Sekarang giliran Pak Mis yang merasa bingung. Satu sisi, ia ingin agar Abim tetap mengikuti apel siaga meskipun seragamnya itu beda warna mengingat akan pentingnya agenda tesebut bagi para santri. Terlebih lagi yang menjadi pemimpin apel ialah Pak Kyai sendiri. Namun melihat bagaimana ekspresi dan raut muka anak asuhnya tersebut, Pak Mis tak sampai ambil hati kalau harus memaksakan agar Abim tetap berangkat menuju lapangan apel siaga. Bagaimana kalau nanti dia menjadi sorotan santri lainnya karena terlambat, ditambah lagi dengan warna seragam celananya yang lain daripada yang lain. Dalam benaknya terbersit rasa khawatir kalau nantinya apel siaga ujian yang ditujukan untuk memberikan semangat serta menguatkan tekad dan niat para santri dalam menghadapi masa-masa ujian justru menjadi bencana psikologis bagi Abim yang dapat melemahkan semangatnya. Dalam hal ini Pak Mis sadar betul betapa pentingnya arti ‘kesan pertama’ dalam permulaan segala sesuatu. Seperti halnya salat, ‘kesan pertama’ dalam salat bukanlah saat seseorang memulai takbiratul ihramnya melainkan sejak dia berwudu. Kalau wudunya saja sudah berantakan bagaimana mungkin ia akan larut dalam kekhusyukan. Toh yang wudunya sudah sempurna saja tak jarang yang salatnya masih lupa bilangan.
Tetapi di sisi lain, sebagai seorang guru yang sangat ketat terhadap disiplin pesantren, Pak Mis paham betul betapa apel siaga ujian ini merupakan sunah pondok yang harus diikuti oleh seluruh santri. Ketika batin dan pikirannya sedang berusaha keras untuk mengambil suatu tindakan dan keputusan dalam waktu yang singkat, perhatian Pak Mis tak sengaja jatuh pada tulisan kaligrafi bergaya diwani yang termpampang jelas pada majalah dinding di depan asrama. Kaligrafi karya santri tersebut bertuliskan salah satu kaidah dalam khazanah ilmu Ushul Fiqh yang biasanya digunakan guna pengambilan keputusan mengenai suatu pokok permasalahan dalam praktik kehidupan sosial-keagamaan sehari-hari. Oleh Pak Mis, tulisan tersebut dibacanya dalam-dalam;
مَا لَا يُدْرَكُ كُلُّهُ لَا يُتْرَكُ كُلُّهُ
“Apa yang tidak dapat dilakukan seluruhnya, jangan ditinggalkan semuanya.” Batinnya dalam hati.
Laksana seorang nabi yang menerima pesan langit, seketika Pak Mis merasa tercerahkan dan tahu harus berbuat apa terhadap anak asuhnya yang lugu itu. Sambil sedikit membenahi dasi dan pecinya yang sebenarnya sudah rapih sedari tadi, ia berucap “Kalau begitu, kamu apel siaga di sini saja. Saya akan mewakili Pak Kyai sebagai pemimpin apel bagi kamu pagi ini. Siap grak! Untuk amanat, istirahat di tempat, grak!”
Setelah Abim sudah dalam posisi siap untuk mendengarkan amanat apel, segera Pak Mis menyampaikan beberapa poin yang dinilainya tepat sebagai suatu nasihat dan amanat khusus bagi Abim dalam konteks kejadian pagi itu.
“Abim, kamu masih ingat dengan bait-bait pertama pelajaran mahfuzhat yang diajarkan pada saat kamu masih menjadi santri baru? Ada satu bait yang sangat penting untuk selalu kita ingat dan kita amalkan bahkan sekalipun kita sudah tidak lagi nyantri di pondok ini. Nasihat dalam bait tersebut dapat membantu kita agar selalu siap menghadapi segala hal dalam mengarungi jauh dan luasnya perjalanan hidup yang akan kita lalui nanti.”
Abim nampak mengarahkan pandangannya ke atas, berusaha mencari-cari jawaban dari apa yang dimaksudkan oleh gurunya tersebut.
Lanjut Pak Mis “Bait itu berbunyi مَنْ عَرَفَ بُعْدَ السَّفَرِ اِسْتَعَدَّ. Kamu pasti masih ingat kan?”
Anak itu menganggukkan kepalanya dan tersenyum tipis, puas karena pencariannya yang tak membuahkan hasil sedari tadi telah dituntaskan oleh Pak Mis.
“Barang siapa yang mengetahui jauhnya perjalanan, maka ia akan bersiap. Begitulah arti secara harfiah dari bait tersebut. Sekarang ustaz mau mengajak kamu untuk mengambil pelajaran dari bait tersebut sesuai dengan apa yang baru saja kamu alami pagi ini. Abim sudah tahu kan kalau hari ini adalah hari pertama ujian tulis dan sebelum ujian dimulai akan terlebih dulu dilaksanakan apel siaga ujian seperti biasanya?”
Lagi, ia anggukkan kepalanya, membenarkan apa yang disampaikan oleh gurunya.
“Seandainya kamu ingat dan mau untuk selalu mengamalkan nilai dalam bait tersebut, ustaz yakin kesulitan seperti yang kamu rasakan pagi ini tidak akan terjadi. Kamu pasti sudah terlebih dahulu menyiapkan celana hitammu dari jauh hari, bukan malah baru mencucinya kemarin sore. Atau barangkali kamu sudah terlebih dahulu mengambil celana yang kamu titipkan di tukang jahit itu. Toh biasanya juga kan paling lama 3 hari. Ketahuilah, nak, yang membedakan antara seorang alim dengan orang yang arif adalah pada kualitas sejauh mana ia mengamalkan ilmunya. Imam Syafi’i mengingatkan bahwa ilmu adalah cahaya Ilahi yang terpancarkan bagi mereka yang hatinya bersih dari kemaksiatan, maka kita perlu meningkatkan kualitas takwa agar cahaya tersebut senantiasa menyinari. Dengan demikian kita dapat memiliki bekal yang memadai dalam mengarungi luasnya samudera kehidupan ini. Sungguh, tidak ada bekal yang lebih baik selain ketakwaan itu sendiri. Allah berfirman di dalam Al-Qur’an “وَ تَزَوَّدُوْا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى”, dan berbekallah, karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa.”
Abim yang usianya baru tiga belas tahun tersebut begitu khusyuk mendengarkan apa yang disampaikan oleh gurunya itu. Layaknya seorang pasukan elite yang berdiri tegap dengan kedua tangan mengepal di belakangnya, sedang mengikuti apel persiapan sebelum diterjunkan langsung ke medan perang.
“Apa yang kamu alami pagi ini semoga dapat menjadi pengalaman bermakna yang dapat kamu jadikan bekal untuk hari-hari berikutnya. Persiapkanlah segala sesuatunya dengan baik karena itu adalah bagian dari proses untuk mencapai tujuan kita. Insyaallah proses yang baik akan mengantarkan kita pada hasil akhir yang baik. Inilah pesan al-Marhum Kyai Syahid yang dulu sering beliau sampaikan kepada kita semua. Semoga kita dapat merawat dan menumbuhkan setiap kebaikan dari apa yang telah beliau semai.”
“Amin.” Meski dengan suara yang pelan, Pak Mis dapat menangkap amin yang terucap dari ketulusan hati seorang santri yang berdiri di depannya itu.
Pelaksanaan apel siaga ujian yang digelar di lapangan utama sepertinya sebentar lagi akan selesai. Riuh ‘amin’ yang terdengar dari barisan para santri menandakan bahwa agenda telah sampai di penghujungnya. Sebelum seluruh santri dibubarkan, terlebuh dulu Pak Mis mengarahkan agar Abim segera bergegas menuju ruang kelas agar tidak berpapasan dengan banyak santri lainnya, khawatir apa yang ditakutkannya justru ia rasakan.
“Ya sudah, setelah ini kamu langsung menuju ruang kelas, ya. Tunggu sampai ustaz yang bertugas hadir dan ajukan perizinan kepada beliau kalau pagi ini Abim tidak mengenakan seragam yang seharusnya, setelah itu kamu masuk ke ruang ujian. Kita cukupkan apel ini sampai di sini. Sekarang kamu sudah boleh pergi.”
“Baik, ustaz.” Jawab Abim dengan penuh semangat. “Terima kasih, ustaz, atas perhatian dan nasihat yang ustaz sampaikan. Semoga ustaz dan ustaz-ustaz yang lainnya selalu dalam lindungan Allah.”
Setelah merapihkan ID Card dan kopiah lusuh yang dikenakannya, ia mencium tangan gurunya itu yang juga mengampu mata pelajaran IPA di kelasnya. Tidak terbayangkan oleh Abim sebelumnya bahwa guru yang dikenalnya sangat handal dalam menjabarkan rumus-rumus matematika itu ternyata juga fasih dalam menyampaikan pesan-pesan qur’ani. Sambil bergegas menuju kelas, dalam batinnya ia berujar “AKU INGIN MENJADI PAK MIS”.