
Seri kedua dari “Chemistrypedia“
“Ketika pohon terakhir ditebang, barulah mereka akan sadar, bahwa uang tidak dapat menggantikan oksigen”.
Pohon dan Nafas Kehidupan
Oksigen merupakan elemen penting bagi kehidupan, karena oksigen sangat diperlukan untuk pernapasan makhluk hidup khususnya manusia. Oksigen dapat dihasilkan dari pohon. Pohon menghasilkan oksigen melalui proses fotosintesis yang menyuplai energi melalui cahaya matahari, CO2, serta air (H2O) yang diserap dalam tanah melalui akar. CO2 + H2O + matahari akan menghasilkan glukosa (C6H12O6) dan oksigen (O2). Glukosa adalah zat gula yang menjadi sumber pangan bagi makhluk hidup seperti manusia.
Tiap jenis pohon tentu berbeda-beda dalam memproduksi oksigen. Hal tersebut dikarenakan fotosintesis yang terpengaruh oleh zat klorofil, luas permukaan daun, batang, serta kedalaman akar. Umumnya satu pohon terdiri dari 5% daun, 15% tangkai, 60% batang, dan 20% akar.
Dilansir dari laman https://itats.ac.id/itats-pabrik-oksigen/ tentang ITATS “Pabrik Oksigen”, satu pohon menghasilkan 1,2 kg oksigen perhari. Sementara satu orang perlu 0,5 kg oksigen perharinya. Jadi, satu pohon menunjang kehidupan dua orang, dan menebang satu pohon berarti menghilangkan persediaan oksigen untuk dua orang.
Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki hutan hujan tropis terluas di dunia, menjadikannya salah satu negara dengan keanekaragaman hayati tertinggi. Letak Indonesia di garis khatulistiwa menyebabkan iklimnya selalu lembap dan panas, hal itu dapat mendukung pertumbuhan hutan hujan tropis yang lebat dan subur. Hutan ini tidak hanya menyumbang sebagian besar oksigen bagi bumi, tetapi juga menjadi rumah bagi berbagai flora dan fauna endemik.
Balada Pohon di Khatulistiwa
Indonesia seringkali disebut sebagai paru-paru dunia. Karena hutan hujan tropis Indonesia yang banyak menyuplai oksigen untuk dunia, serta banyak menyerap emisi karbon. Menurut World Resources Institute (WRI), sebagian populasi hutan hujan tropis di dunia tersebar di Indonesia. Ini membuat Indonesia menempati peringkat ke-3 sebagai negara dengan kawasan hutan hujan tropis terluas di dunia setelah Brasil dan Republik Demokratik Kongo.
Ironisnya, semakin hari jumlah pohon-pohon di hutan beberapa wilayah Indonesia mengalami penurunan. Hal itu dikarenakan aktivitas deforestasi yang semakin masif. Deforestasi adalah hilangnya tutupan hutan secara permanen, yang diakibatkan oleh aktivitas penebangan pohon secara sengaja maupun tidak sengaja, seperti untuk lahan pertanian, peternakan, penebangan kayu, atau pembangunan infrastruktur.
Dengan begitu, deforestasi menjadi ancaman serius bagi banyak satwa liar, keanekaragaman hayati, iklim, serta dapat menyebabkan erosi tanah dan peningkatan emisi gas rumah kaca yang dapat meningkatkan pemanasan global. Jika hal itu terus terjadi, maka Indonesia akan menjadi paru-paru dunia yang sesak nafas.
Asap yang Mendunia
Berdasarkan data dari World Resources Institute (WRI) tahun 2024, negara yang kehilangan hutan tropis primer terluas adalah Brasil dengan 33,5 juta hektare, diikuti Indonesia seluas 10,7 juta hektare. Deforestasi adalah faktor penyebab yang paling utama. Dari pulau Sumatera hingga Papua, banyak hutan yang diubah menjadi perusahaan seperti pertambangan ataupun perkebunan kelapa sawit yang menyebabkan berkurangnya keanekaragaman hayati di lingkungan tersebut.
Bukan hanya ditebang, pohon-pohon tersebut juga dilenyapkan dengan cara dibakar. Pembakaran hutan semakin marak terjadi akibat penggundulan lahan untuk dijadikan perkebunan kelapa sawit. Apalagi terjadi di lahan gambut yang sangat mudah terbakar, sehingga ketika angin semakin kencang maka nyala api semakin membesar.
Pada tahun 2015 dan 2019, kebakaran menghanguskan jutaan hektar lahan di Indonesia dan menyebabkan kabut asap menyebar ke beberapa negara Asia Tenggara, yakni Singapura hingga Malaysia. Sehingga asap kebakaran itu menghasilkan emisi yang mencapai rekor tertinggi, menurut para ilmuwan.
Berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), selama periode Januari – Juli 2023 luas kebakaran hutan dan lahan di Indonesia sudah mencapai 90.405 hektare (ha). Dengan ini, seluruh kebakaran itu tercatat menghasilkan emisi lebih dari 5,9 juta ton ekuivalen karbon dioksida (CO2).
Keserakahan = Investasi Kehancuran
Allah Swt menciptakan bumi ini dengan keseimbangan ekosistem yang saling terhubung. Hutan alami terbentuk ribuan tahun, terdiri dari puluhan jenis pohon bernilai ekologis tinggi. Di hutan, gajah dapat makan dari puluhan jenis tanaman. Dia membantu penyebaran biji dari kotorannya, lalu tumbuhlah pohon baru yang kelak menjadi tempat teduh bagi hewan lain. Artinya, jika satu saja pohon ditebang maka akan berpengaruh terhadap lingkungan sekitarnya.
Kekayaan hutan dan lahan Indonesia rupanya menjadi sasaran utama bagi para oknum yang hati dan pikirannya hanya dipenuhi dengan keserakahan. Mereka menganggap hutan dan lahan adalah sebuah komoditas yang bisa dieksploitasi untuk keuntungan pribadi tanpa memikirkan dampak lingkungan jangka panjangnya.
Padahal hutan bukanlah lahan kosong, hutan adalah rumah bagi kehidupan. Kalau hutan digunduli, bagaimana nasib satwa di sana? Lalu bagaimana dengan keanekaragaman hayatinya?
Satwa tidak bisa membuat petisi, hutan juga tidak bisa berdemonstrasi. Hewan-hewan endemik jadi terusik, rumah mereka hilang akibat deforestasi. Lalu mereka masuk ke pemukiman warga yang akan dianggap sebagai ancaman, padahal hanya mencari makan dan ketenangan. Lambat laun populasinya akan semakin menurun dan terancam punah.
Selain itu, bencana alam seperti banjir dan tanah longsor adalah dampak yang akan menerjang lingkungan sekitar. Karena hutan tidak sesederhana menyerap CO2 lalu menghasilkan oksigen. Lebih dari itu, akar adalah senjata utama hutan. Akar pohon hutan tumbuh dalam, menyebar lebar, mengikat tanah, menahan air hujan, dan bisa menstabilkan sungai. Inilah yang membuat hutan tahan banjir dan longsor.
Akan tetapi peristiwa yang terjadi belakangan ini, banjir dan tanah longsor melanda beberapa wilayah di Sumatra yakni Aceh, Sumatra Utara dan Sumatra Barat. Bencana ini tentu sangat memilukan, masyarakat dan makhluk hidup di sekitarnya menjadi korban. Padahal mereka tidak menikmati keuntungan dari deforestasi tersebut, hanya mendapatkan musibahnya.
Bencana tersebut bukan sekedar fenomena alam, akan tetapi puncak dari akumulasi buruknya perbuatan manusia dalam mengelola alam. Allah Swt berfirman:
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia. (Melalui hal itu) Allah membuat mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka agar mereka kembali (ke jalan yang benar)” (Q.S. Ar-Rum : 41).
Keserakahan manusia merupakan investasi kehancuran di masa depan. Karena bumi ini diciptakan cukup untuk memenuhi kebutuhan seluruh makhluk hidup. Akan tetapi, tidak akan cukup untuk memenuhi keserakahan manusia. Karena keserakahan adalah nama lain dari ketidakpuasan yang tak berujung.
Kunci Keseimbangan, Kunci Kebahagiaan
Betapa berharganya sebuah pohon untuk kehidupan. Pentingnya kita untuk selalu peduli terhadap lingkungan, menyelamatkan lingkungan dari segala jenis kerusakan yang sering kali disebabkan oleh oknum dan kebijakan-kebijakan yang sangat merugikan.
Leluhur kita sejak dulu berusaha untuk menjaga keseimbangan alam dengan melestarikannya dan menjadikan alam sebagai sumber kehidupan. Karena hutan bukan sekedar pohon berdaun, akan tetapi kunci keseimbangan kehidupan.
Menjaga hutan juga berarti menjaga masa depan yang lebih tenang. Tentu, kita ingin generasi mendatang masih bisa terus menikmati keindahan alam dan keanekaragaman hayati Indonesia. Tumbuhan dan satwa endemik berbagai daerah Indonesia semakin meningkat populasinya hingga anak cucu kita nanti semakin bahagia hidup di surga dunia dengan segala keelokannya.
So, yo know.. we can’t smile without tree.