
Bulan Ramadan menghimpun dua kemuliaan: al-Qur’an dan puasa. Al-Qur’an karena ia diturunkan di dalamnya, dan puasa karena ia diwajibkan padanya. Keduanya tidak terlepas satu sama lain sebagai salah satu simbol keluhuran islam. Al-Qur’an mengatur kehidupan manusia secara terang-terangan, sedangkan puasa dalam sembunyi menahannya dari melakukan hal-hal berlebihan. Sehingga bukan hanya membatasi seorang hamba dari yang haram. Namun juga mengatur bagaimana cara mengkonsumsi yang halal dengan baik. Maka ketika keduanya berjalan beriringan, niscaya perlahan kemuliaan hidup mulai tercermin pada diri seorang muslim yang istikamah menjaga keduanya sebagai penuntun.
Imam Ahmad meriwayatkan sebuah hadits dari Ibnu Umar ra. bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
الصيام والقرآن يشفعان للعبد يوم القيامة. يقول الصيام: أي رب منعته الطعام والشهوات بالنهار فشفعني فيه. ويقول القرآن: منعته النوم بالليل فشفعني فيه. قال: فيشفعان
Puasa dan al-Qur’an kelak akan memberikan syafaat kepada seorang hamba pada hari kiamat. Puasa akan bersaksi: ‘Wahai Tuhan-ku, dahulu aku pernah menahannya dari kenikmatan makan dan syahwat pada siang hari. Maka izinkanlah aku untuk memberinya syafaat. Al-Qur’an juga bersaksi: ‘Dahulu, aku juga pernah menahannya dari kenikmatan tidur pada malam hari. Maka izinkanlah aku memberinya syafaat. Rasulullah ﷺ bersabda: ‘Maka keduanya diizinkan untuk memberikan syafaat.’
Sementara Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Umamah ra. bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:
اقرؤاو القرآن فإنه يأتي يوم القيامة شفيعا لأصحابه
Bacalah al-Qur’an. Karena sesungguhnya ia nanti akan datang sebagai syafaat pada hari kiamat bagi yang sering membacanya.
Kemudian Syekh Sirajuddin al-Halabi menjelaskan tentang bagaimana syafaat al-Qur’an didapatkan. Beliau mengatakan bahwa syafaat al-Qur’an didapatkan dengan membacanya secara benar. Hal itu dilakukan dengan mengikuti hukum-hukum di dalamnya: menghalalkan apa yang dihalalkannya dan mengharamkan apa yang diharamkan, berakhlak dengan adab-adabnya dan menegakkan hal-hal yang diwajibkan dalam al-Qur’an siang dan malam.
Imam an-Nasa’i ra. meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ ketika disebutkan dihadapannya tentang salah seorang sahabat bernama Syarih al-Hadhrami ra., beliau bersabda:
لا يتوسد القرآن
Jangan jadikan al-Qur’an seperti bantal
Maknanya, jangan banyak tertidur di hadapan al-Qur’an sehingga menjadikannya seperti bantal. Akan tetapi, tegakkanlah kewajiban yang ada dalam al-Qur’an dan tunaikanlah hak-haknya serta jangan lalai darinya.
Imam an-Nawawi menyebutkan bahwa banyak ulama salaf yang saleh, mereka senantiasa mengkhatamankan al-Qur’an setiap sepekan sekali. Sebagian lainnya ada yang mengkhatamkannya selama enam malam sekali. Ada yang lima hari sekali, ada yang empat hari sekali, ada pula yang tiga hari sekali. Bahkan ada di antara mereka yang mengkhatamkan al-Qur’an dua hari sekali, ada yang sehari semalam mampu mengkhatamkan al-Qur’an, ada juga yang sehari bisa mengkhatamkan al-Qur’an tiga sampai delapan kali. Hal yang demikian adalah bagian dari bentuk kemuliaan yang Allah berikan kepada ahli al-Qur’an dan Allah ringankan bacaan al-Qur’an mengalir pada lisan mereka. Sebagaimana yang diisyaratkan oleh Rasulullah ﷺ dalam haditsnya tentang keberkahan waktu. Di antara tanda keberkahan waktu yang Allah berikan kepada hamba-Nya adalah kemampuannya mengerjakan amal saleh yang banyak dalam waktu yang singkat. Seolah-olah arus waktu dibuat melambat baginya dalam mengamalkan kebaikan. Sehingga dalam kurun waktu yang singkat, ia memperoleh pahala yang banyak dari Allah swt sebab amal-amalnya.
خُفف على داود القرآن. فكان يأمر بدابته أن تُسرج، فيقرأ القرآن قبل أن تُسرج
Dawud diberikan keringanan melafalkan kitab Zabur. Biasanya ia menyuruh pembantunya untuk memasangkan pelana ke atas tunggangannya, sebelum tuntas dipasang, ia sudah menyelesaikan bacaannya.
Ada pun kebiasaan luhur Imam al-Bukhari adalah setiap kali mulai masuk bulan Ramadhan, beliau selalu mengkhatamkan al-Qur’an selama sehari sekali. Biasanya beliau mengkhatamkannya ketika waktu berbuka puasa. Kemudian beliau berkata:
عند كل ختمة دعوة مستجابة
Di setiap khataman al-Qur’an itu ada doa yang pasti diijabah.
Tentang hal tersebut, Syekh Abdullah Sirajuddin telah membuatkan risalah khusus yang diberi tajuk al-Ad’iyah wa al-Adzkar al-Waridah Ana’a allail wa Athraf an-Nahar.
Amalan di Bulan Ramadan
- Di antara hal yang dianjurkan untuk diamalkan selama bulan Ramadan adalah memperbanyak istighfar, memohon ampun kepada Allah swt., memperbanyak mengucap tahlil dan zikir lainnya. Sebagaimana yang dikabarkan Rasulullah ﷺ dalam hadits riwayat ath-Thabrani:
ذاكر الله تعالى في رمضان مغفور له، وسائل الله تعالى فيه لا يخيب
Hamba yang berzikir kepada Allah swt pada bulan Ramadan pasti akan diampuni. Hamba yang meminta kepada Allah swt di bulan Ramadan takkan pernah kecewa.
- Memperbanyak sedekah. Imam at-Tirmidzi meriwayatkan hadits yang menerangkan keutamaan bersedekah di bulan Ramadan.
أفضل الصدقة صدقة في رمضان
Sedekah yang paling utama adalah sedekah di bulan Ramadan.
Seperti yang dicontohkan Rasulullah ﷺ, apabila Ramadan tiba, beliau menjadi lebih dermawan dari biasanya. Beliau tidak pernah dimintakan sesuatu melainkan pasti akan memberinya. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad. Sesungguhnya bulan Ramadan adalah bulan ampunan, rahmat dan kemurahan Allah swt serta bulan pemberian. Allah swt sangat menyayangi hamba-Nya yang penyayang. Sebagaimana dalam hadits Rasulullah ﷺ yang menyatakan bahwa hamba-hamba yang berkasih sayang niscaya akan merasakan kasih sayang Sang Maha Sayang. Barang siapa yang berderma kepada salah seorang hamba Allah, pasti Allah berikan anugerah terindah baginya pada bulan Ramadan.
- Mengambil kesempatan untuk sahur. Karena sesungguhnya ia adalah sunnah yang penuh keberkahan. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari, Muslim dan perawi hadits lainnya, Rasulullah ﷺ bersabda:
تسحروا فإن في السحور بركة
Bersahurlah kalian. Karena sesungguhnya di dalam sahur ada keberkahan.
Begitu pula Imam Ahmad yang meriwayatkan dari Abu Sa’id al-Khudri ra. bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
السحور بركة فلا تدعوه ولو أن يجرع أحدكم جرعة من ماء، فإن الله وملائكته يصلون على المسترحين
Sahur adalah keberkahan. Jangan sampai ditinggalkan walau pun hanya dengan seteguk air. Karena sesungguhnya Allah swt dan para malaikat-Nya senantiasa melimpahkan rahmat kepada orang-orang yang sahur.
Dalam sahur, disunnahkan untuk mengakhirkannya tanpa menyegerakannya di awal waktu. Seperti yang dikabarkan Rasulullah ﷺ dalam haditsnya riwayat Imam Ahmad dalam al-Musnad, beliau bersabda:
لا تزال أمتي بخير ما عجّلوا الإفطار وأخّروا السحور
Umatku akan senantiasa dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka puasa dan mengakhirkan sahur.
- Tidak menunda berbuka puasa saat waktu maghrib benar-benar telah tiba. Imam at-Tirmidzi meriwayatkan dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
قال الله تعالى إن أحب عبادي إلي أعجلهم فطرا
Allah swt berfirman dalam hadits qudsi: ‘Sesungguhnya hamba yang paling Aku cintai adalah yang paling bersegera dalam berbuka puasa.’
Selain itu, disunnahkan berbuka dengan rutab kurma muda. Jika tidak ada, boleh dengan kurma matang. Jika tidak ada juga, maka dengan air. Imam at-Tirmidzi meriwayatkan dari Anas bin Malik ra. beliau menceritakan bahwa dahulu, Rasulullah ﷺ berbuka puasa sebelum melaksanakan salat maghrib dengan memakan beberapa butir kurma muda. Jika beliau tidak memiliki rutab, maka beliau berbuka dengan kurma matang. Jika tidak ada apa pun makanan yang beliau miliki untuk berbuka, maka beliau berbuka dengan beberapa teguk air.
- Melazimkan zikir dan doa setelah berbuka puasa. Abu Dawud dan beberapa perawi hadits lainnya meriwayatkan dari Abdullah bin Umar, beliau menuturkan bahwa biasanya Rasulullah ﷺ apabila usai berbuka puasa, beliau berdoa:
ذَهَبَ الظَّمَأُ وابْتَلَّتِ العُرُوْقُ وَثَبَتَ الأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللهُ
Telah hilang dahaga, telah basah pembuluh darah dan pahala insya Allah sudah ditetapkan.
Ibnu as-Sunni meriwayatkan dari Ibnu Abbas ra. beliau bercerita, biasanya Rasulullah ﷺ setelah berbuka puasa juga kerap membaca doa berikut ini:
الَّلهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَ عَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ فَتَقَبَّلْ مِنِّيْ إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ
Ya Allah, untuk-Mu aku berpuasa. Dengan rezeki-Mu aku berbuka. Maka terimalah dariku. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.
Ada pun dalam riwayat ad-Daruqutni, lafaznya seperti ini:
إذا قُرب لأحدكم طعام وهو صائم فليقل: بِسْمِ اللهِ وَالحَمْدُ لِلّهِ اللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ وَعَلَيْكَ تَوَكَّلْتُ، سُبْحَانَكَ وَبِحَمْدِكَ تَقَبَّلْ مِنِّيْ إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ
Apabila salah seorang di antara kalian disuguhkan makanan, sementara kalian berpuasa, hendaklah ia membaca doa: ‘Dengan menyebut nama Allah, segala puji bagi Allah, Ya Allah karena-Mu aku berpuasa dan dengan rezeki-Mu aku berbuka dan hanya kepada-Mu aku berpasrah. Maha suci Engkau dengan segala pujian. Terimalah puasa dariku. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.
Sedangkan dalam riwayat Ibnu as-Sunni dari Mu’adz bin Zuhrah, Rasulullah ﷺ juga pernah menggunakan lafaz doa berikut ini ketika berbuka puasa:
الحَمْدُ لِلّهِ الَّذِيْ أّعَانَنِيْ فَصُمْتُ وَرَزَقَنِيْ فَأَفْطَرْتُ
Segala puji bagi Allah yang telah menolongku sehingga aku dapat berpuasa dan telah memberiku rezeki sehingga aku dapat berbuka.
Keragaman doa berbuka puasa bukan untuk diperdebatkan. Selama ada sandaran riwayatnya, sah-sah saja menggunakan doa mana pun yang kita suka. Keragaman ini adalah tanda keluasan rahmat Allah yang menjasad pada lapangnya kesempatan dalam beribadah kepada-Nya. Lagi pula, selama tujuannya adalah Allah, maka berdoa dengan lafaz apa dan bagaimana pun boleh saja. Hanya saja, memang yang lebih utama adalah berdoa dengan doa yang diajarkan oleh Rasulullah ﷺ.
Berdoa setelah berbuka puasa merupakan salah satu amalan yang sangat dianjurkan Rasulullah ﷺ. Bahkan, ia adalah salah satu waktu yang mustajab. Tidak ada doa yang tertolak pada saat itu. dalam riwayat at-Tirmidzi, Rasulullah ﷺ bersabda:
ثلاثة لا ترد دعوتهم: الصائم حين يفطر، والإمام العادل، ودعوة المظلوم يرفعها الله فوق الغمام وتُفتح لها أبواب السماء، ويقول الربُّ: وعزّتي وجلالي لأنصنّك ولو بعد حين
Tiga doa yang tidak pernah tertolak: doa orang puasa ketika berbuka, doa seorang pemimpin yang adil dan doa orang yang terzalimi. Allah mengangkat doa mereka hingga tembus ke atas awan dan pintu-pintu langit terbuka. Allah swt berfirman: ‘Demi keperkasaan dan kemuliaan-Ku, Aku pasti akan menolongmu walau setelah beberapa saat.’
Abdullah bin Umar ketika berbuka puasa biasa membaca doa sebagai berikut:
اللّهم إِنِّي أَسْأَلُكَ بِرَحْمَتِكَ الَّتِيْ وَسِعَتْ كُلَّ شّيْءٍ أَنْ تَغْفِرَ لِيْ ذُنُوْبِيْ
Ya Allah sesungguhnya aku meminta kepada-Mu dengan rahmat kasih sayang-Mu yang meliputi segala hal agar Engkau sudi mengampuni semua dosa-dosaku.
Disunnahkan pula bagi orang berpuasa agar tidak berbuka di tempat makannya. Sehingga tidak berhadapan dengan beragam makanan dan tidak mencampur satu makanan dengan makanan lainnya. Begitu pula ketika sahur. Hendaknya orang-orang yang berpuasa bersikap sewajarnya dan tidak berlebihan dalam segala urusannya. Rasulullah ﷺ bersabda:
بحسب ابن آدم لقيمات يقمن صلبه، فإن كان لا محالة فثلث لطعامه، وثلث لشرابه، وثلث لنفَسه. رواه الترمذي وابن ماجه
Cukuplah bagi anak Adam beberapa suap makanan untuk menegakkan tulang sulbinya. Jika tidak keberatan, sepertiga untuk makanannya, sepertiga untuk minumnya dan sepertiga lainnya untuk nafasnya. (HR. At-Tirmidzi & Ibnu Majah)