Tawa dan Tangis Rasulullah Saw

Lanjutan dari serial sebelumnya yang membahas tentang emosional Rasulullah ﷺ sebagai manusia sempurna, tulisan kali ini akan melukiskan bagaimana Rasulullah ﷺ tertawa dan menangis sebagai bentuk ekspresi dari perasaan beliau kala senang atau sedih. Hal ini semata-mata selain agar kita mengenal lebih rinci sosok teladan mutlak, juga agar kita dapat mengikuti setitik demi setitik cahaya tuntunannya yang mencangkup segala aspek kehidupan sehari-hari. Sehingga tertawa tidak lagi hanya soal bual, tangis bukan hanya sekadar duka. Akan tetapi, ada nilai pahala yang diraih dari keteladanan yang diikuti.

Makna Tawa dan Tangis

Sebelum masuk ke dalam inti pembahasan, Imam al-Lahji dalam kitab Muntaha as-Sul syarah Wasail al-Wushul membeberkan makna tawa dan tangis dari tinjauan Bahasa Arab sebagai pendahuluan bab. Beliau mengatakan, dalam Bahasa Arab, terdapat tiga kata yang memiliki kemiripan makna dengan tawa padahal berbeda. Itulah mengapa beliau menunjukkan sisi perbedaannya agar kemudian tidak keliru memahami lafaz hadits yang mengisahkan tentang tawa Rasulullah ﷺ. Lewat pemaparannya, seolah beliau ingin mengabarkan urgensi mempelajari Bahasa Arab bagi siapa saja yang menggeluti ilmu al-Qur’an dan Hadits yang keduanya adalah berbahasa Arab. Tiga kata tersebut adalah Tabassum, Dhahik dan Qahqahah. Menurut kamus, Tabassum artinya permulaan tawa. Mulut terbuka tanpa suara. Dalam Bahasa Indonesia, kata yang tepat menerjemahkan kata tersebut adalah senyum. Kedua, Dhahik adalah tertawa dengan suara yang ringan atau pelan. Adapun Qahqahah bermakna tertawa terbahak-bahak. Kemudian beliau menambahkan keterangan bahwa tertawa khusus hanya untuk manusia. Tidak untuk makhluk lainnya. Pada umumnya, tertawa muncul sebagai ekspresi dari kesenangan yang dirasakan hati. Namun, adakalanya ia justru datang dari kesedihan dan kekecewaan yang begitu mendalam.

Adapun tangis dalam Bahasa Arab terdapat dua kata serupa namun tidak sama artinya: بُكَاءٌ dan بُكَا. Kata pertama menggambarkan tangis yang ditandai hanya dengan mengalirnya air mata. Sedangkan yang kedua, bermakna tangisan yang disertai dengan raungan. Lalu beliau menyebutkan 10 macam tangisan: Tangis kasih sayang, tangis ketakutan, tangis cinta dan kerinduan, tangis bahagia, tangis keresahan atas beban yang tak mampu ia emban, tangis kesedihan, tangisan palsu seperti tangisan perempuan tanpa alasan, tangis ratapan, tangis ketulusan seperti orang yang ikut menangis ketika melihat orang lain menangis padahal ia tidak tahu mengapa orang itu menangis, dan terakhir adalah tangisan pendusta seperti tangisan orang yang kembali melakukan dosa.

Tawa Rasulullah ﷺ

Al-Qadhi Iyadh dalam kitab asy-Syifa meriwayatkan hadits riwayat Imam al-Baihaqi dari A’isyah ra. yang menarasikan bagaimana tertawanya Rasulullah ﷺ. Di antara tiga kosa kata di atas yang menggambarkan makna tertawa, manakah yang dicontohkan oleh Rasulullah ﷺ saat tertawa? Mari kita simak hadits berikut ini.

كان رسول الله صلّى الله عليه وسلّم إذا افترّ ضاحكا افترّ عن مثل سنا البرق إذا تلألأ، وعن مثل حبّ الغمام

Apabila Rasulullah ﷺ tertawa sampai terlihat giginya, seolah mengeluarkan kilauan sinar putih seputih awan.

Sahabat Abu Dzar ra. mengisahkan pengalaman berbeda. Beliau mendapati Rasulullah ﷺ tertawa hingga nampak gigi gerahamnya.

فقد رأيت رسول الله صلى الله عليه وسلم ضحك حتى بدت نواجذه

Aku pernah melihat Rasulullah ﷺ tertawa hingga terlihat gigi gerahamnya.

Kedua hadits di atas menyaksikan bahwa Rasulullah ﷺ pernah tertawa, bahkan hingga gigi gerahamnya terlihat. Namun, daripada tertawa yang seperti itu, Rasulullah ﷺ lebih sering tersenyum dalam banyak kesempatan. Seperti kesaksian Hind bin Abi Halah ra. yang diriwayatkan oleh Imam at-Tirmidzi.

 وكان صلّى الله عليه وسلّم جلّ ضحكه التّبسّم

Kebanyakan tertawa Rasulullah ﷺ adalah tersenyum.

Hadits ini menandakan bahwa Rasulullah ﷺ merupakan sosok yang murah senyum. Pribadi yang ramah dan santun kepada siapa saja yang ia temui. Bagaimana tidak? Allah yang mengajarkan dan menyempurnakan akhlaknya. Hal itu dapat kita temui dalam banyak ayat al-Qur’an. Seperti ketika Allah mengajarkan beliau agar tidak memalingkan wajah dalam surat Luqman ayat 18 atau saat Allah mendidiknya agar tidak berwajah masam pada ayat pertama surat Abasa. Itulah mengapa A’isyah menyebut akhlak Rasulullah ﷺ adalah akhlak al-Qur’an. Ali bin Abi Thalib menceritakan bahwa Rasulullah ﷺ tidak pernah hanya menolehkan wajahnya saja saat berbicara. Beliau menghadapkan seluruh tubuhnya kepada lawan bicaranya sebagai bentuk penghormatan.

وإذا التفت التفت معا

Apabila menoleh, ia menghadapkan seluruh tubuhnya.

Beliau adalah orang yang paling banyak menebarkan kedamaian dan ketentraman lewat seutas senyum indah pada raut wajahnya. Sehingga memandang keindahan itu, membuat para sahabat mampu melupakan sejenak kesumpekan hidupnya. Seketika kebahagiaan menyeruak menyertai hati seolah gelisahnya sirna begitu saja saat dihadapkan oleh senyum tulus Sang Nabi. Padahal di balik semua itu, Rasulullah ﷺ adalah orang yang kita yakini memiliki tanggungan yang lebih besar dari siapa pun. Betapa pun demikian, beliau tidak menampakkan bekas risau di wajahnya. Ia selalu menampilkan senyum terbaiknya di hadapan para sahabatnya. Tidak heran jika mereka jatuh cinta begitu dalam kepadanya. Abdullah bin al-Harits, sahabat Rasulullah ﷺ yang diberikan umur panjang oleh Allah swt hingga berusia 80 tahun, beliau bercerita sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam at-Tirmidzi.

ما رأيت أحدا أكثر تبسّما من رسول الله صلّى الله عليه وسلّم

Aku tidak pernah melihat seseorang yang senyumnya lebih banyak dari pada Rasulullah ﷺ

Jika merujuk kepada tiga kata yang mendeskripsikan makna tawa di atas, dari sekian banyak hadits yang meriwayatkan tentang tertawanya Rasulullah ﷺ tidak ada yang menggunakan lafaz Qahqahah. Melainkan hanya menggunakan dua lafaz yang lainnya: Tabassum dan Dhahik, dan di antara keduanya, Rasulullah ﷺ lebih sering tersenyum. Sehingga yang dianjurkan dari teladannya adalah banyak tersenyum dan sedikit tertawa. Sebab dalam hadits lain, Rasulullah ﷺ pernah mengingatkan bahwa banyak tertawa berpotensi mematikan hati sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad dan Imam Ibnu Majah dalam Sunan-nya.

لا تكثر الضّحك فإنّ كثرة الضّحك تميت القلب

Janganlah kalian banyak tertawa. Karena sesungguhnya banyak tertawa dapat mematikan hati.

Selain itu, Rasulullah ﷺ juga mengajarkan kita agar menutup mulut dengan tangan ketika tertawa agar tidak terlihat sesuatu yang nampak pada bibir dan tidak tertawa terbahak-bahak. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh al-Baghawi (317 H) dalam Mu’jam ash-Shahabah. Hal ini membekas dalam sanubari sahabat dan mengambilnya sebagai sebuah adab yang mengajarkan bagaimana bersikap. Seperti yang diceritakan oleh Imam asy-Sya’rani dalam Kasyf al-Ghummah. Beliau mengatakan bahwa dahulu, para sahabat jika tertawa di hadapan Rasulullah ﷺ, hanya berupa senyuman tanpa suara.

وكان ضحك أصحابه صلّى الله عليه وسلّم عنده التّبسّم من غير صوت، اقتداء به، وتوقيرا له، وكانوا إذا جلسوا عنده كأنّما على رؤوسهم الطّير

Dahulu para sahabat jika tertawa di hadapan Rasulullah ﷺ hanya berupa senyuman tanpa suara. Sebagai bentuk keteladanan dan penghormatan kepadanya. Apabila mereka duduk di hadapannya, seolah-olah ada burung yang hinggap di atas kepala mereka.

Tangis Rasulullah ﷺ

Meski nampak bahagia, sejatinya Rasulullah ﷺ adalah sosok sendu yang banyak menyimpan banyak kesedihan. Walau demikian, beliau terlihat lebih sering tersenyum di antara sahabat yang lainnya. Hal ini menunjukkan betapa kokohnya psikologis beliau yang mampu menyembunyikan lara di balik tawa.

كان رسول الله متواصل الأحزان

Rasulullah ﷺ adalah sosok sendu yang selalu dalam keadaan bersedih.

Seperti keadaan tertawanya yang hanya berupa senyum tanpa suara, begitu pun tangisannya. Tidak ada jeritan yang menyertainya selain tetesan air mata yang disertai dengan suara sesak dari dadanya. Di antara sebab yang membuat beliau menangis adalah bentuk bela sungkawa terhadap jenazah, kekhawatiran akan nasib umatnya dan kasih sayang kepada mereka, takut kepada Allah, atau ketika mendengarkan bacaan al-Qur’an dan pada salat malam. Demikian penjelasan Imam Yusuf an-Nabhani.

فعن عبد الله بن الشّخّير رضي الله تعالى عنه قال: أتيت رسول الله صلّى الله عليه وسلّم وهو يصلّي، ولجوفه أزيز كأزيز المرجل من البكاء

Dari Abdullah bin asy-Syakhir ra. beliau bercerita: ‘Suatu hari aku pernah mendatangi Rasulullah ﷺ dan beliau sedang salat. Sementara aku mendengar suara seperti didihan air panas dari suara tangisannya.

وعن عبد الله بن مسعود رضي الله تعالى عنه قال: قال لي رسول الله صلّى الله عليه وسلّم: «اقرأ عليّ» ، فقلت: يا رسول الله؛ أقرأ عليك وعليك أنزل؟! قال: إنّي أحبّ أن أسمعه من غيري. فقرأت سورة النّساء حتّى بلغت: وَجِئْنا بِكَ عَلى هؤُلاءِ شَهِيداً [النساء: ٤١] . قال: فرأيت عيني رسول الله صلّى الله عليه وسلّم تهملان

Dari Abdullah bin Mas’ud ra. beliau berkata: ‘Rasulullah ﷺ pernah bersabda kepadaku: ‘Wahai Abdullah, bacakanlah al-Qur’an untukku !’. Maka aku menjawab: ‘Wahai Rasulullah, apakah aku membacakannya kepadamu, sedangkan al-Qur’an diturunkan kepadamu?’. Beliau menimpali: ‘Sesungguhnya, aku senang mendengarnya dari orang lain.’ Aku pun membacakan surat an-Nisa sampai pada ayat 41. Aku pun melihat air matanya mengalir.

Segala hal yang melatarbelakangi tangisan Rasulullah ﷺ, landasannya adalah pengetahuan beliau terhadap objek yang ditangisinya. Sebab, lazimnya mata akan mengaliri airnya saat merasakan kesedihan mendalam kepada sesuatu yang lebih dulu di dalam hati tertanam. Sehingga setelah kehilangan, hati merasakan kehampaan lalu menumpahkan kepedihan yang nampak pada tangisan. Hal ini sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah ﷺ dalam hadits riwayat al-Bukhari yang mengabarkan bahwa beliau adalah hamba yang paling mengenal Tuhannya dan paling takut kepada-Nya.

إنّي لأعلمكم بالله وأشدّكم له خشية

Sesungguhnya aku adalah hamba yang paling mengenal Allah di antara kalian dan paling takut kepada-Nya.

لو تعلمون ما أعلم لضحكتم قليلا، ولبكيتم كثيرا

Seandainya kalian mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya kalian akan lebih sedikit tertawa dan akan lebih banyak menangis.

Itulah mengapa Allah Swt. mengaitkan antara pengetahuan dan rasa takut kepada Tuhan. Seperti yang Dia firmankan dalam surat Fathir ayat 28.

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ

Sesungguhnya di antara hamba yang takut kepada Allah adalah para ulama’ (orang berilmu).

Ibnu Katsir dalam tafsirnya meriwayatkan banyak kalam para ulama tentang siapakah mereka yang dimaksud ulama dalam ayat tersebut, atau pengetahuan terhadap apakah yang menumbuhkan rasa takut kepada Tuhan. Secara umum, segala macam bentuk pengetahuan yang bermuara kepada kearifan Tuhan – seharusnya memang demikian -, maka pemiliknya akan mengenal siapa yang darinya semua berasal dan kepadanya segala hal kembali. Namun, secara spesifik Ibnu Katsir menjelaskan bahwa yang dimaksud ulama dalam ayat tersebut adalah mereka yang mengenalkan dirinya kepada Tuhan melalui ayat-ayat-Nya sehingga Dia berkenan mengenalkan Dzat-Nya. Jika demikian, maka pengetahuan yang dimaksud adalah ilmu tauhid yang secara teoritis dibahas dalam ilmu akidah. Ibnu Abbas mengatakan bahwa orang alim itu adalah orang yang takut kepada Allah ar-Rahman (Maha Penyayang) yang tidak disekutukan oleh apa pun, menghalalkan apa yang Dia halalkan, mengharamkan apa yang Dia haramkan, menjaga syariat-Nya, dan meyakini bahwasanya ia akan menjumpai-Nya serta diperhitungkan segala amal perbuatannya. Sedangkan Imam Hasan al-Bashri mengatakan bahwa orang alim adalah ia yang takut kepada Tuhan sekalipun ia tidak menyaksikan-Nya, mencintai apa yang dicintai-Nya dan menjauhkan apa yang dimurkai-Nya. Semoga sedikit pengetahuan ini menuntun kita untuk berada di jalan teladan sempurna menuju lembah keridaan-Nya. Berdoalah agar Dia menjadikan tawa kita pada apa yang disenangi- Nya, dan membasahi kedua mata kita dengan air harap dan takut hanya kepada-Nya. Sehingga ia termasuk di antara golongan mata yang tidak akan menangis kala hari penghakiman tiba.

عن عبد الله بن عباس رضي الله عنهما قال: سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: عَيْنَانِ لَا تَمَسُّهُمَا النَّارُ: عَيْنٌ بَكَتْ مِنْ خَشْيَةِ الله، وَعَيْنٌ بَاتَتْ تَحْرُسُ فِي سَبِيلِ الله

Dari Abdullah bin Abbas ra. beliau bercerita, dahulu aku pernah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: ‘Ada dua pasang mata yang tidak akan tersentuh oleh api neraka: sepasang mata yang pernah menangis karena takut kepada Allah, dan sepasang mata yang terjaga pada malam hari di jalan Allah.’

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: عن النبي صلى الله عليه قال: كل عين باكية يوم القيامة، إلا عينا غضت عن محارم الله تعالى،  وعينا سهرت في سبيل الله تعالى، وعينا خرج منها مثل رأس الذباب من خشية الله تعالى

Dari Abu Hurairah ra. Rasulullah ﷺ bersabda: ‘Semua pasang mata akan menangis pada hari kiamat kecuali sepasang mata yang tunduk pada apa yang diharamkan Allah, sepasang mata yang terjaga di jalan Allah, dan sepasang mata yang mengeluarkan setetes air mata walau hanya sebesar kepala lalat karena takut kepada Allah.’