Tafakur Rasulullah Saw


Di antara sifat wajib yang mesti melekat pada diri seorang rasul adalah cerdas. Dalam istilah ilmu akidah dikenal dengan sebutan al-Fathanah, satu di antara empat sifat wajib bagi rasul seperti yang dikatakan oleh Syekh Muhammad Amin al-Kurdi (1332 H) dalam kitabnya, Tanwir al-Qulub. Tentu kecerdasan kenabian tidak seperti bentuk kecerdasan lainnya. Ia merupakan penalaran yang didasarkan petunjuk Tuhan. Firman-Nya yang menjamin kebenaran tidak menghalangi para nabi dan rasul untuk memaksimalkan kemampuan berpikir mereka dalam bertindak maupun mengambil sebuah keputusan tanpa keluar dari batasan risalah ketuhanan. Kecerdasan itu nampak pada tindakan dan ucapannya yang bijak, penuh pertimbangan dan perhitungan yang tidak mengakibatkan kegagalan atau penyesalan. Sehingga pikirannya tidak jumud. Kemutlakan wahyu tidak menumpulkan ketajaman logikanya. Nabi Muhammad ﷺ adalah sosok pemikir yang waktunya selalu dipadati oleh pikiran-pikiran berat. Diam panjangnya menyimpan kedalaman tafakur, pandangannya tidak pernah beristirahat dari perenungan. Hal ini disaksikan oleh Hind bin Abi Halah, putra sambungnya. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam at-Tirmidzi dalam asy-Syamail.

كان رسول الله صلى الله عليه وسلم متواصل الأحزان، دائم الفكرة، ليست له راحة، طويل السكت، لا يتكلم في غير حاجة

Rasulullah ﷺ adalah sosok sendu yang dawam pemikiran dan tidak pernah beristirahat. Diamnya panjang dan tidak berbicara kecuali seperlunya.

Imam al-Bajuri dalam al-Mawahib al-Ladunniyyah syarah asy-Syamail mengomentari hadis di atas dan menyebutkan bahwa sebab Rasulullah ﷺ selalu bertafakur adalah karena beliau bertanggung jawab atas kemaslahatan umat yang banyaknya tidak terhingga. Al-fikr secara bahasa adalah kesibukan hati merenungi dan menyiasati sesuatu untuk menarik kesimpulan dan menentukan sebuah keputusan. Adapun secara istilah, ia adalah proses merapikan skala prioritas dari perkara yang diketahui untuk sampai kepada sebuah fakta atau hipotesis belaka. Akibat pikiran yang berat ini, beliau kehilangan kesempatan untuk merehatkan diri dari segala hal yang menyibukkan benak. Sebab, seseorang hanya bisa beristirahat saat pikirannya tenang dan lepas dari segala gangguan. Bagaimana beliau bisa beristirahat sedang pikirannya berkecamuk memikirkan tentang salat, kewajiban jihad, mengajar umat, mengamati gejala sosial, mencurahkan perhatiannya demi tersebarnya ajaran Islam, memenuhi hak kasih keluarganya, serta menjaga dan menjamin keamanan bagi mereka. Begitu pula diamnya yang panjang. Itu adalah tanda bahwa beliau selalu disibukkan pikirannya dengan urusan umat dan agama. Demikian penjelasan Imam al-Bajuri.

Objek Tafakur
Seperti yang disebutkan secara umum pada paragraf di atas tentang objek tafakur Rasulullah ﷺ, pada bagian ini, pembaca akan disuguhkan secara lebih khusus membahas hal apa yang memenuhi isi pikiran Rasulullah ﷺ sampai membuat beliau banyak diam dan kurang waktu istirahat. Dalam salah satu babnya, Imam at-Tirmidzi membahas tentang rambut putih yang tumbuh di antara legam hitam rambutnya.

عن ابن عباس قال: قال أبو بكر يا رسول الله قد شبت قال: شيبتني هود والواقعة والمرسلات وعمّ يتساءلون، وإذا الشمس كوّرت

Dari Ibnu Abbas ra. beliau berkata bahwa dahulu Abu Bakar ra. pernah bertanya kepada Rasulullah ﷺ: “Wahai Rasulullah, aku perhatikan, engkau nampak beruban?” Maka beliau bersabda: “Surat Hud, al-Waqi’ah, al-Mursalat, an-Naba’, dan at-Takwir yang membuatku beruban.”

Jawaban Rasulullah ﷺ pada hadis di atas seolah menjadi alasan mengapa rambutnya perlahan mulai beruban. Seperti yang diungkapkan oleh Imam al-Bajuri bahwa surat-surat itulah yang menyebabkan Rasulullah ﷺ beruban. Seakan Rasulullah ﷺ memberikan isyarat tentang kedahsyatan yang terkandung dalam surat-surat tersebut hingga rambutnya memutih. Apa yang hendak Allah sampaikan kepada umat Muslim dalam surat tersebut? Apakah ada kaitan antara rambut putih dengan beban pikiran?


Dalam riwayat yang lain, Imam ath-Thabrani, Ibnu Mardawaih (410 H), dan Ibnu Sa’d menambahkan surat al-Haqqah, al-Ghasyiyah, al-Qari’ah, al-Ma’arij, dan al-Qamar ke dalam kelompok surat yang membuat Rasulullah ﷺ beruban.

وإنما كانت هذه السور سببا في الشيب لاشتمالها على أحوال السعداء والأشقياء، وأحوال القيامة، وما تتعسر بل تتعذر رعايته على غير النفوس القدسية

Sesungguhnya surat-surat tersebut yang menyebabkan Rasulullah ﷺ beruban. Karena di dalamnya terkandung tentang ciri golongan hamba yang bahagia dan sengsara, keadaan hari kiamat yang menyusahkan dan memilukan bagi jiwa-jiwa yang tidak suci.

Begitu ungkap al-Bajuri mengenai surat-surat di atas. Penjelasan dari hadis ini menandakan bahwa pikiran Rasulullah ﷺ selalu terpaut pada hal-hal gaib seperti peristiwa hari akhir dan nasib umatnya pada hari yang mengerikan itu. Kalau kita telaah lebih dalam, pada surat-surat tersebut Allah Swt. menggambarkan begitu rinci kejadian huru-hara yang menandakan tibanya hari pembalasan. Seperti misalnya surat at-Takwir. Awalnya saja, surat sudah dibuka dengan ilustrasi kekacauan hari kiamat yang ditandai dengan digulungnya matahari, jajaran bintang berjatuhan, pegunungan yang diluluhlantakkan, serta lautan yang dididihkan. Begitu mengerikan. Umat Islam hari ini banyak kehilangan kesempatan untuk tafakur merenungi kedigdayaan Tuhan pada hari pembalasan. Padahal, manusia yang dijamin keselamatannya pada hari itu saja menghabiskan sebagian besar hidupnya untuk perenungan mendalam hingga rambut hitamnya memutih diam-diam.


Dilansir pada laman Halodoc bahwa salah satu faktor yang mempercepat tumbuhnya uban adalah tingkat stres yang berlebihan. Sebab saat dalam keadaan stres, sistem tubuh melepaskan neurotransmiter norepinefrin, yang membuat tubuh bertindak. Diketahui bahwa norepinefrin merusak sel-sel induk melanosit, yang membantu regenerasi warna di dalam folikel rambut. Sehingga jika beban pikiran berlebihan, warna hitam rambut tidak beregenerasi dengan baik. Alhasil yang muncul adalah helai rambut putih. Putih rambut yang ada pada Rasulullah ﷺ menandakan kecamuk pikiran beliau yang tidak biasa, dan penyebabnya sebagaimana yang beliau sendiri katakan adalah berita besar yang disampaikan oleh surat Hud dan saudaranya.


Di balik senyumnya yang selalu merekah di hadapan wajah sahabatnya, pikirannya menyimpan ketakutan yang hebat. Ketakutan dan kekhawatiran itu sampai membuat rambutnya memutih. Beliau sedikit pun tidak pernah merisaukan hal-hal remeh. Tidak khawatir besok makan apa, tidak takut besok bertemu musuh sekuat apa. Keyakinannya teguh pada apa yang Tuhan janjikan padanya. Hanya saja, beliau tidak kuasa membayangi kehancuran dunia dan kepedihan azab neraka yang Allah bocorkan sedikit informasinya dalam al-Qur’an. Beliau tak punya hati membayangi ada di antara salah satu umatnya bernasib buruk mengalami kesulitan dan penyesalan panjang. Perhatian beliau sepenuhnya tercurahkan kepada kita umatnya yang lebih sering melupakannya. Seharusnya ini menjadi titik balik kita untuk paling tidak menyadari ada sosok yang sudah lebih dulu mengkhawatirkan keselamatan kita di dunia dan akhirat bahkan jauh sebelum kita dilahirkan. Sehingga kesadaran itu melahirkan keteladanan yang membawa kita lebih dekat kepadanya secara makna sebelum secara hakikat.

Buah Tafakur
Kegundahan yang memadati pikirannya tidak menutupi cahaya kecerdasannya. Justru, dari sanalah buah pikirnya yang luar biasa dilahirkan. Sebab, seperti yang diutarakan pada pembahasan sebelumnya bahwa di antara hal yang menjadi prioritas adalah urusan kemaslahatan umat. Pikiran itulah yang mendorong beliau untuk mengerahkan seluruh daya nalarnya demi menghasilkan kebijakan yang menjadi maslahat bukan hanya bagi umat Islam. Contohnya adalah ketika beliau berhasil mempersatukan kabilah Arab saat peletakan Hajar Aswad.


Disebutkan dalam Sirah Ibnu Hisyam, pada saat Rasulullah ﷺ berusia 35 tahun, suku Quraisy sepakat untuk merekonstruksi Kakbah. Setelahnya, kabilah-kabilah Arab mulai memperebutkan Kakbah. Sehingga mereka membaginya kepada masing-masing kabilah. Ketika hendak memulai rekonstruksi, orang-orang pada saat itu diliputi rasa takut dan ragu merobohkan bangunan Kakbah sebagai simbol kesucian yang diagungkan sejak dulu. Akhirnya, al-Walid bin al-Mughirah, salah satu pembesar Quraisy memberanikan diri untuk mengawali pekerjaan tersebut. Sedangkan yang lainnya masih menahan diri dan menunggu hingga esok hari, apabila al-Walid ditimpa musibah, maka mereka akan membangun kembali bagian yang sudah dirobohkan. Namun, jika tidak ada apa pun yang menimpanya, artinya Tuhan meridai perbuatan mereka.


Keesokan harinya, orang-orang mendapati al-Walid tidak ditimpa kesialan apa pun. Akhirnya, mereka memutuskan untuk meneruskan rekonstruksi dan merobohkan bangunan lama Kakbah sebelum nantinya dibangun kembali. Usai meratakannya, tiap kabilah berkontribusi dalam membangun kembali Kakbah. Mereka saling mengambil bagian menyusun bebatuan. Hingga pada saat mereka hampir menyelesaikan pembangunan, mereka berselisih tentang siapa yang berhak meletakkan Hajar Aswad pada tempatnya. Masing-masing suku hendak meletakkannya dan menyingkirkan suku lainnya. Sampai mereka saling mencela, melontarkan sumpah serapah, bahkan sudah bersiap untuk saling menyerang. Namun, sebelum itu terjadi, kabilah Abd ad-Dar membawa sebuah bejana berisi darah dan mengajak kabilah lainnya untuk bersumpah menjaga keutuhan dan kerukunan antar kabilah. Mereka pun menyetujui hal tersebut dan menetap di dalam masjid selama 4–5 malam mencari maslahat dari masalah yang tengah mereka hadapi.


Di tengah kebuntuan itu, muncul Abu Ummiyyah bin al-Mughirah menunjukkan jalan tengah, seraya berkata: “Wahai masyarakat Quraisy, serahkanlah perselisihan kalian kepada orang yang pertama kali masuk masjid esok hari.” Mereka menyambut baik usulan tersebut. Setelah dinanti, mereka menyaksikan bahwa yang pertama kali masuk ke dalam masjid adalah Rasulullah ﷺ. Melihat itu, mereka antusias mengungkapkan persetujuan mereka menyerahkan perselisihannya kepada Muhammad bin Abdullah.

هَذَا الْأَمِينُ، رَضِينَا، هَذَا مُحَمَّدٌ

“Ini adalah al-Amin (yang dapat dipercaya). Kami rela. Inilah Muhammad.”

Setelah menceritakan apa yang mereka alami kepada Muhammad ﷺ yang pada saat itu belum menerima risalah ketuhanan, Rasulullah ﷺ menawarkan solusi win-win di mana semua pihak diuntungkan.

هَلُمَّ إِلَيَّ ثَوْبًا، فَأُتِيَ بِهِ، فَأَخَذَ الرُّكْنَ فَوَضَعَهُ فِيهِ بِيَدِهِ ثُمَّ قَالَ: لِتَأْخُذْ كُلُّ قَبِيلَةٍ بِنَاحِيَةٍ مِنْ الثَّوْبِ، ثُمَّ ارْفَعُوهُ جَمِيعًا، فَفَعَلُوا: حَتَّى إِذَا بَلَغُوا بِهِ مَوْضِعَهُ، وَضَعَهُ هُوَ بِيَدِهِ

“Bawakan untukku sebuah kain.” Setelah diberikan, beliau meletakkan batu itu di atasnya. Kemudian beliau berkata: “Hendaknya masing-masing kabilah memegang setiap sisi kain. Kemudian angkatlah bersamaan.” Mereka pun mengikuti arahannya. Hingga sampai pada tempatnya, beliau meletakkan Hajar Aswad dengan tangannya.

Pemaparan di atas menyimpulkan bahwa tafakur Rasulullah ﷺ tertuju pada dua hal yang memiliki skala prioritas terbesar di antara hal lainnya: kekhawatiran terhadap keadaan hari kiamat dan kerisauannya akan nasib umat. Kesempurnaan penalarannya tidak mengikis keimanan beliau terhadap hal-hal yang bersifat gaib. Justru, kekuatan akalnya hanya semakin memperjelas makna tersurat maupun tersirat. Hingga gambaran kebinasaan pada hari akhir nampak begitu nyata dalam benaknya. Kekhawatiran semacam ini yang pada akhirnya membawa beliau pada kekhawatiran lainnya, nasib umat yang begitu ia cintai pada hari tiada satu pun makhluk yang selamat dari murka-Nya. Kekhawatiran itu lahir dari cinta yang menjelma pada bentuk keringanan dan kemudahan syariatnya.


Sebagai penutup, penulis menyuguhkan kepada para pembaca tentang komentar as-Sayyid Muhammad az-Zubair Hassani terhadap hadis yang membahas penyebab Rasulullah ﷺ beruban. Beliau menyatakan bahwa pertanyaan Abu Bakar kepada Rasulullah ﷺ ketika ia menemukan beberapa helai rambut putih pada Rasulullah ﷺ adalah bentuk keheranan. Seolah Abu Bakar memahami bahwa sejatinya Rasulullah ﷺ tidak beruban. Sebab Rasulullah ﷺ memiliki kekokohan jiwa serta pengelolaan emosi dan olah pikir yang baik. Sehingga seharusnya tidak ada perkara yang membebani kejiwaan maupun pikirannya. Kekuatan itu dibuktikan oleh rambut putih yang tidak lebih dari dua puluh helai pada rambut dan janggutnya. Seperti yang diriwayatkan oleh Imam at-Tirmidzi dalam bab terpisah. Karena jika tidak, rasa takut itu bukan hanya nampak dari rambut putihnya, namun dari sekujur tubuhnya yang tidak mampu menahan keimanannya terhadap ancaman-ancaman Tuhan dalam al-Qur’an. Sebagaimana Allah menjadikan tafakur Rasulullah ﷺ pada hal yang agung, semoga Allah pun menunjukkan kepada kita tentang hal yang semestinya dikhawatirkan serta menenangkan pikiran kita dari yang tidak perlu dipikirkan.