
Makkah sedang terik-teriknya. Namun, semangat dakwah Rasulullah saw. jauh lebih membara. Hari itu adalah momen emas. Beliau sedang duduk berhadapan dengan para petinggi Quraisy yaitu Utbah bin Rabi’ah, Abu jahal dan Umayyah bin Khalaf.
Ini adalah kesempatan langka. Jika para “VIP” ini masuk Islam, maka ribuan pengikut mereka di Makkah pasti akan ikut bersyahadat. Dakwah Islam akan menang besar. Rasulullah saw. sedang mengerahkan seluruh kemampuan komunikasinya. Beliau fokus dan serius, harapan besar terpancar dari wajah beliau.
Namun, ditengah pembicaraan tingkat tinggi itu, terdengar suara tongkat yang diketuk-ketukkan ke tanah “Tuk…Tuk…Tuk…”. Seorang lelaki buta, fakir dan berpakaian lusuh datang meraba-raba arah. Dia adalah Abdullah bin Ummi Maktum ra., sepupu sayydah Khadijah yang juga seorang sahabat setia. Karena matanya buta, ia tidak melihat bahwa Nabi sedang sibuk melobi para penguasa. Ia tidak tahu situasi genting saat itu.
Dengan polosnya ia menyela pembicaraan, “Wahai Rasulullah, ajarkanlah kepadaku apa yang telah Allah ajarkan kepadamu!”. Ia mengulanginya berkali-kali. Secara mannusiawi, wajar jika Nabi merasa terganggu. Konsentrasi beliau buyar. Momen emas untuk mengislamkan tokoh Quraisy terancam gagal karena interupsi ini.
Maka, muncullah respons spontan dari Rasulullah saw. Beliau tidak memarahinya, beliau tidak membentaknya. Beliau hanya diam, namun wajah beliau bermuka masam (‘Abasa) dan beliau memalingkan muka (Tawalla) dari ibnu Ummi Maktum, lalu kembali melanjutkan pembicaraan dengan para pemnbesar Quraisy.
Hanya itu, sebuah ekspresi wajah yang bahkan tidak bisa dilihat oleh Ibnu Ummi Maktum. Tapi, apa yang terjadi di langit sungguh mengguncangkan. Allah Swt., yang Maha Melihat segala gerak hati, tidak membiarkan momen itu berlalu. Jibril as., segera turun membawa wahyu yang nadanya lembut. Bukan untuk memuji, tapi untuk menegur Sang Kekasih Allah Swt.
“Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling. Karena telah datang seorang buta kepadanya. Tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa)” Q.S ‘Abasa 1-3. Ayat ini turun “menampar” kesadaran Nabi seketika itu juga. Allah menegaskan standar-Nya “bahwa satu hati yang tulus ingin belajar (seperti Ibnu Ummi Maktum), jauh lebih berharga dalam pandangan Allah daripada puluhan pembesar Quraisy yang hatinya tertutup sombong, meski mereka kaya raya dan berkuasa”.
Allah tidak butuh Islam lebih kuat karena sokongan pejabat. Allah memenangkan agama ini lewat hati orang-orang yang lemah namun ikhlas. Rasulullah saw. menerima teguran itu dengan hati yang lapang. Beliau tidak menyembunyikan ayat itu karena malu. Justru, beliau menyampaikannya kepada seluruh umat manusia.
Sejak saat itu, sikap beliau kepada Abdullah bin Ummi Maktum berubah total menjadi pemuliaan yang luar biasa. Setiap kali Abdullah bin Ummi Maktum datang menemui beliau setelah kejadian itu, Nabi akan segera membentangkan sorbannya sendiri sebagai alas duduk bagi sang sahabat. Nabi akan menyambutnya dengan kalimat yang penuh kerendahan hati “Selamat datang, wahai orang yang karenanya Tuhanku menegurku”.
Abdullah bin Ummi Maktum, sang tunanetra yang pernah diabaikan kemudian diangkat derajatnya setinggi langit. Ia dipercaya menjadi muadzin kedua Rasulullah saw. menjadi partner Bilal bin Rabah. Bahkan, saat Nabi pergi berperang keluar kota, Abdullah bin Ummi Maktum sering ditunjuk sebagai pejabat pengganti sementara untuk memimpin Madinah dan menjadi imam shalat.
Kisah ini adalah pengingat bagi kita. Jangan pernah meremehkan seseorang karena pakaiannnya yang lusuh, fisiknya yang kurang, atau status sosialnya yang rendah. Boleh jadi, orang yang kita pandang sebelah mata itu, namanya justru disebut-sebut dengan bangga oleh penduduk langit.
Semoga Allah Swt. menjadikan kita sebagai orang memiliki kerendahan hati layaknya Rasulullah saw.