
Esai seri kelima dari “Mencari Ruh Pendidikan”. Sebuah catatan reflektif, semacam kado cinta untuk dunia pendidikan.
Kita hidup di masa ketika sekolah sering kali dipandang seperti pabrik, mengolah bahan mentah bernama siswa menjadi produk siap pakai untuk pasar tenaga kerja. Dalam keramaian jargon kompetensi dan daya saing global, manusia perlahan direduksi menjadi komponen ekonomi. Nilai kemanusiaan yang seharusnya menjadi inti pendidikan, kini tampak sebagai aksesoris moral yang tak lagi diperhitungkan. Padahal, sebagaimana ditegaskan oleh Murtadha Muthahhari, pendidikan adalah upaya menyempurnakan potensi fitrah manusia agar ia menjadi insan kamil, bukan sekadar individu yang berguna secara fungsional (Muthahhari, 1985: 33).
Insan kamil bukan sosok yang selesai dibentuk oleh kurikulum, melainkan manusia yang senantiasa tumbuh dalam kesadaran spiritual dan akal yang tercerahkan. Ia bukan hanya terampil bekerja, melainkan juga tahu mengapa ia bekerja, bukan hanya pandai berpikir, melainkan juga tahu bagaimana menimbang dengan hati apa yang dipikirkan. Di titik inilah pendidikan menemukan kedalamannya, bukan pada efisiensi hasil, melainkan pada kesanggupan menumbuhkan kesadaran manusia secara perlahan.
Pendidikan yang diarahkan pada pembentukan tenaga kerja semata ibarat taman yang ditanami bunga plastik. Dari jauh tampak rapi dan berwarna, tapi tidak beraroma, tidak hidup, apalagi tumbuh. Ia kehilangan daya hidup yang seharusnya menghidupi manusia. Martin Buber menyebut bahwa hubungan pendidikan semestinya selalu berbentuk relasi I–Thou, relasi antara dua kehadiran yang saling menumbuhkan, relasi yang menggambarkan hubungan antara dua subjek yang saling menghargai secara utuh, bukan relasi mekanis antara pengajar dan objek pembelajaran (Buber, 1937: 15). Bila relasi ini berubah menjadi I–It, maka manusia dalam pendidikan hanya menjadi benda di tangan sistem.
Dalam pandangan tasawuf, setiap manusia memikul potensi ilahiah—nafakhna fîhi min rȗḥî. Maka tugas pendidikan bukan mengisi kepala dengan data, melainkan menghidupkan percikan ruh agar menyala menjadi kesadaran. Perlu kiranya dipertegas bahwa pendidikan sejati adalah membangunkan manusia dari tidur panjangnya, agar ia mengenal siapa dirinya dan untuk apa ia hidup. Pendidikan yang gagal menuntun pada pengenalan diri hanyalah rutinitas administratif yang sibuk namun hampa.
Kita sering menyangka bahwa keberhasilan pendidikan diukur dari kemajuan industri dan peningkatan ekonomi. Padahal, ukuran yang lebih halus dan hakiki adalah sejauh mana pendidikan mampu menumbuhkan rasa malu, empati, dan cinta pada kebenaran. Malik Bennabi dalam The Question of Culture menyebut bahwa kebangkitan peradaban hanya akan lahir dari pendidikan yang menanamkan kesadaran ruhani, bukan dari yang menumpuk keahlian teknis (Bennabi, 2003: 87). Jika manusia kehilangan kesadaran itu, maka ilmu berubah menjadi alat kekuasaan, bukan jalan kebijaksanaan.
Pendidikan yang meneladani laku insan kamil tidak terburu-buru menilai hasil. Ia mengajarkan sabar, karena menyadari bahwa menumbuhkan manusia adalah pekerjaan keabadian. Seperti tanah yang harus disinari matahari dan disirami kesabaran, jiwa manusia pun perlu disapa dengan kasih dan kebijaksanaan. Frithjof Schuon menyebut bahwa tujuan tertinggi pendidikan ialah “membangunkan manusia dari kelupaan akan keilahian dirinya” (Schuon, 1998: 71). Maka setiap bentuk pendidikan yang mengabaikan aspek ilahiah sesungguhnya sedang mengajarkan keterputusan.
Pendidikan hari ini banyak melahirkan manusia cerdas tetapi gelisah. Mereka tahu cara menaklukkan dunia, tapi tidak tahu bagaimana berdamai dengan diri. Mereka bisa membangun gedung tinggi, tapi kehilangan kemampuan membangun keteduhan hati. Ini bukan kesalahan teknologi atau kurikulum, melainkan cara pandang yang keliru tentang siapa manusia itu. Selama pendidikan dipahami sebagai sarana mencapai kepentingan material, maka ruh akan selalu menjadi pengungsi di rumahnya sendiri.
Dalam pandangan Ibn Al-‘Arabi, manusia yang sempurna adalah cermin bagi realitas Ilahi; dalam dirinya terpantul kasih, hikmah, dan kebijaksanaan Tuhan. Karenanya, tujuan akhir pendidikan bukan hanya membentuk kepandaian, melainkan membentuk cermin itu agar kembali jernih. Ia menulis, “Barang siapa mengenal dirinya, maka ia mengenal Tuhannya” (Al-‘Arabi, 1998: 240). Pendidikan, dalam makna ini, adalah perjalanan pulang ke rumah asal jiwa.
Namun perjalanan itu menuntut kesediaan untuk diam, merenung, dan merasakan. Dunia modern terburu-buru, dan pendidikan pun ikut berlari. Kita mengejar hasil yang instan, padahal penyempurnaan manusia adalah proses yang lembut. Seorang guru yang mulia bukan hanya memberi jawaban saja, melainkan yang mengajarkan cara bertanya dengan hati. Ia tidak memaksa murid untuk tahu, tapi menuntunnya agar ingin tahu. Dalam keheningan antara pertanyaan dan jawaban itulah ruh pendidikan sering menampakkan wajahnya.
Ketika pendidikan berhenti pada tataran fungsional, ia kehilangan daya puitik. Ia tidak lagi menyentuh rasa takjub, tidak lagi menggugah kagum, tidak lagi menyalakan kerinduan untuk memahami makna hidup. Padahal, tanpa rasa takjub, manusia hanya menjadi pengamat dunia, bukan penziarah makna. Pendidikan yang mendidik akal tanpa membangunkan jiwa, seperti musik tanpa nada rendah—nyaring, tapi hampa.
Di sinilah falsafah dan tasawuf Bersatu, falsafah menajamkan nalar agar mampu menimbang hakikat, sementara tasawuf menajamkan rasa agar mampu menyelami kebenaran. Keduanya bertemu dalam satu titik, yaitu manusia. Pendidikan adalah ikhtiar agar manusia tidak kehilangan kemanusiaannya di tengah laju zaman.
Pendidikan yang memuliakan manusia tidak bekerja seperti mesin. Ia tumbuh seperti pohon, berakar di tanah kehidupan, menyerap air pengalaman, lalu perlahan menumbuhkan cabang pengetahuan dan buah kebijaksanaan. Akar itu adalah kesadaran diri. Pohon tanpa akar mudah tumbang. Begitu pula pendidikan yang tidak berpijak pada kesadaran tentang siapa manusia pasti akan layu sebelum berbuah.
Di ruang-ruang sekolah yang sibuk dengan lembar kerja dan nilai kadang masih tersisa keheningan kecil. Suara napas murid yang tengah berpikir, tatapan guru yang menimbang kata sebelum diucapkan. Di sanalah sebenarnya ruh pendidikan bersembunyi. Ia tidak hadir dalam seremoni, tapi dalam pertemuan yang jujur antara dua hati yang sama-sama sedang belajar menjadi manusia.
Falsafah mengingatkan bahwa manusia tidak lahir untuk mengulang, tetapi untuk menemukan. Aristoteles pernah mengatakan bahwa kebahagiaan sejati adalah ketika akal (reason/intellect) dan kebajikan (virtue) jalan bersamaan (Aristotle, 1975: 1992). Bila pendidikan hanya mengasah akal, sementara kebajikan ditinggalkan, maka yang lahir bukan manusia bijak, melainkan manusia cerdik yang kehilangan arah.
Dalam perjalanan sejarah, para arif selalu melihat ilmu sebagai tangga menuju pengenalan diri. Semakin tinggi seseorang mendaki, semakin dalam ia memandang ke dalam batin. Maka ilmu tidak boleh dipisahkan dari kebeningan hati. Al-Ghazali mengingatkan bahwa ilmu sejati adalah yang menyalakan cahaya di dada, bukan yang menumpuk kata di kepala (Al-Ghazali, Volume I: 38).
Mungkin karena itu, Hamka sering menulis dengan nada yang menenangkan. Ia percaya bahwa pendidikan tidak cukup dengan metode, tapi memerlukan hati yang tenang dan bersih. (Hamka, 2019: 47). Menurutnya, hati yang terdidik akan lebih jernih melihat kebenaran dibanding kepala yang penuh hafalan. Dalam pandangan seperti ini, guru bukan pelatih pikiran, melainkan penuntun jiwa.
Kadang, dalam diri seorang murid, ada cahaya yang belum sempat menyala. Guru datang bukan untuk menyalakan api besar, tetapi sekadar meniup lembut sumbu yang hampir padam. Tugasnya bukan mengubah, melainkan menemani agar cahaya itu menemukan dirinya. Itulah sebabnya, Martin Buber menyebut mendidik sebagai perjumpaan antarwajah, bukan pertukaran informasi (Buber, 1937: 11).
Mendidik adalah seni menghadirkan diri. Bukan kehadiran yang sibuk menjelaskan, tapi yang sanggup mendengar. Di hadapan murid, guru bukan sosok yang serba tahu, melainkan seseorang yang berani mengakui bahwa ia pun masih belajar. Ketulusan semacam ini meluruhkan jarak antara pengajar dan pelajar, menjadikan keduanya sahabat di jalan pengetahuan.
Sebagian orang mengira, menjadi manusia sempurna berarti tak lagi melakukan kesalahan. Padahal insan kamil justru mengenali keterbatasannya dan tetap berjalan dengan penuh kesadaran. Ibn Al-‘Arabi menulis bahwa kesempurnaan manusia bukan pada kesuciannya, melainkan pada kemampuannya untuk terus bertaubat, terus kembali, terus belajar (Chittick, 1989: 143). Maka pendidikan yang sejati memberi ruang bagi kegagalan, karena di sanalah kerendahan hati tumbuh.
Pendidikan yang menyiapkan tenaga kerja mungkin mencetak kepastian. Tapi pendidikan yang menyiapkan insan kamil justru menumbuhkan pertanyaan. Pertanyaan itu seperti pintu yang membuka cakrawala baru. Dari sanalah lahir keberanian untuk berpikir, untuk menimbang, untuk mendengar suara hati sendiri. Dalam ruang semacam itu, murid tidak hanya menjadi peserta, tetapi peziarah.
Setiap peziarah memiliki jalannya sendiri. Maka pendidikan yang manusiawi tidak menuntut semua anak berjalan dalam irama yang sama. Ia menghargai keragaman bakat dan arah hidup. Seperti ladang yang memberi tempat bagi bunga liar tumbuh bersama padi, sekolah pun seharusnya menjadi taman bagi perbedaan. Di sinilah adab bekerja, bukan sebagai aturan yang mengekang, melainkan kebijaksanaan yang menjaga keseimbangan.
Hamka mengatakan bahwa adab adalah mahkota ilmu, karena dari adab lahir rasa hormat, dan dari rasa hormat tumbuh kebijaksanaan (Hamka, 2019: 107-112). Tanpa adab, ilmu kehilangan aroma kemanusiaan. Ia mungkin harum di ruang seminar, tetapi hampa di kehidupan nyata. Pendidikan tanpa adab akan terus berlari tanpa arah, sibuk membangun dunia luar namun melupakan dunia dalam.
Kadang, dunia luar terasa terlalu bising. Sementara tugas pendidikan justru menciptakan ruang sunyi agar manusia bisa mendengar kembali bisikan nurani. Di tengah kebisingan itulah tasawuf hadir, bukan untuk memisahkan diri dari dunia, melainkan untuk menuntun agar dunia kembali memiliki jiwa. Ia mengajarkan keseimbangan antara bekerja dan berdoa, antara berpikir dan berzikir, antara belajar dan berserah.
Insan kamil, dalam makna paling sederhana, adalah manusia yang seimbang. Akalnya tidak kehilangan rasa, rasanya tidak menenggelamkan nalar. Ia berjalan di dunia tanpa terperangkap olehnya, bekerja tanpa diperbudak hasil, berilmu tanpa kehilangan rendah hati. Pendidikan yang menuntun ke arah itu bukan lagi sekadar program belajar, melainkan perjalanan spiritual yang memulangkan manusia pada dirinya.
Mungkin tugas terbesar pendidikan bukan mencetak lulusan, melainkan melahirkan manusia yang sanggup menatap hidup dengan mata yang penuh kasih. Sebab pada akhirnya, nilai tertinggi dari belajar bukanlah pengetahuan, melainkan kebijaksanaan yang lembut, yang membuat seseorang lebih sabar melihat kekurangan orang lain, lebih rendah hati terhadap pengetahuan sendiri, dan lebih dekat dengan Sang Pemilik Ilmu.
Pendidikan sejati selalu bergerak dalam ruang yang tak terlihat. Ia tumbuh di antara jeda, di sela percakapan, dalam keheningan yang tidak dicatat dalam laporan apapun. Di sanalah nur ilmu bekerja dengan caranya sendiri. Ia menembus batas kurikulum, mengalir dari hati ke hati, dari jiwa yang jernih menuju jiwa yang masih mencari. Sebab mendidik bukan sekadar memberi, melainkan menghadirkan diri dengan seutuhnya.
Dalam pandangan Mulla Sadra, pengetahuan yang sejati adalah pengalaman keberadaan itu sendiri. Ia menyebutnya al-‘ilm al-hudhuri—ilmu yang hadir secara langsung dalam kesadaran manusia (Mulla Sadra, 1990: 129). Pendidikan yang berpijak pada pandangan ini tidak hanya menuntun murid untuk mengetahui sesuatu, tetapi untuk menjadi sesuatu. Dengan begitu, belajar tidak berhenti pada kepala, melainkan menyatu dengan kehidupan.
Sering kali manusia modern begitu bangga dengan kecerdasannya. Namun kecerdasan tanpa kebeningan ibarat pisau tajam yang kehilangan pemiliknya. Ali Syari’ati mengingatkan, “Tujuan pendidikan bukan mencetak makhluk pandai yang jinak pada sistem, tetapi manusia yang sadar, yang mengerti dirinya dan tanggung jawab sejarahnya” (Ali Syari’ati, 1996: 37-39). Kesadaran ini yang kini nyaris punah di tengah hiruk-pikuk efisiensi dan capaian.
Ada saatnya seorang guru hanya bisa diam, menyaksikan muridnya tersesat dalam kerumitan zaman. Dalam diam itu, ia berdoa agar suatu hari muridnya mengerti bahwa ilmu bukan untuk berkuasa, melainkan untuk melayani kehidupan. Pendidikan yang menumbuhkan insan kamil tidak berorientasi pada kompetisi, tetapi pada kesadaran kolektif bahwa setiap keberhasilan sejati adalah keberhasilan bersama.
Ketika manusia mengenal dirinya, ia juga mengenal batasnya. Dari pengenalan itulah tumbuh rasa tunduk dan kasih. Rasa ini bukan hasil pembelajaran kognitif, melainkan buah dari kebersihan batin. William C. Chittick pernah menyinggung perihal ini, bahwa manusia modern kehilangan sakralitas karena memisahkan pengetahuan dari sumber Ilahinya (Chittick, 2001: 54). Pendidikan yang suci akan selalu menautkan ilmu dengan Sang Pemberi Ilmu.
Setiap langkah dalam belajar adalah kesempatan untuk kembali. Kembali kepada fitrah, kepada keheningan yang pernah kita miliki sebelum dunia menjadi bising. Suhrawardi mengajarkan bahwa hakikat pengetahuan adalah cahaya yang menyingkap kegelapan diri, sebab “segala bentuk wujud adalah pancaran dari Cahaya yang Maha Cahaya” (Suhrawardi, 1999: 08–110). Dalam terang itu, guru sejati bukan sekadar pengajar konsep, melainknan pembimbing yang menyalakan kembali cahaya batin murid. Itulah yang dinamakan pendidikan sufistik, yaitu pendidikan yang menuntun manusia agar tidak terasing dari asalnya.
Di balik setiap pelajaran, seharusnya ada rasa syukur, rasa yang menunjukkan kesucian hati. Ketika anak belajar menulis huruf pertama, ketika guru menahan sabar terhadap tingkah muridnya, ketika sekolah menjadi tempat berbagi kegembiraan—semua itu adalah laku suci. Karena hakikatnya, pendidikan adalah ibadah yang paling tenang, yang menyalakan cahaya tanpa suara.
Kita mungkin tidak selalu dapat mengubah sistem, tetapi kita bisa menjaga cahaya kecil itu. Cahaya yang tumbuh dari hati guru yang tulus, dari murid yang belajar dengan rasa ingin tahu yang murni, dari sekolah yang berani menjadi ruang keheningan di tengah dunia yang gaduh. Di sanalah insan kamil dilahirkan, bukan sebagai produk, melainkan sebagai jiwa yang menemukan arah.
Setiap zaman membutuhkan guru yang berani melampaui rutinitas. Guru yang tidak hanya mengajar mata pelajaran, melainkan juga mengajarkan bagaimana cara memandang hidup. Paulo Freire pernah menyampaikan nasihat bahwa tugas pendidikan adalah membangkitkan kesadaran kritis agar manusia mampu membaca dunia dengan hati yang merdeka (Freire, 2000: 68). Dalam semangat ini, pendidikan bukan lagi alat negara atau pasar, melainkan cermin bagi nurani.
Ketika manusia dididik untuk mencintai kebenaran, ia akan mencintai sesamanya. Dan ketika cinta itu tumbuh, peradaban akan ikut tumbuh. Ukuran keberhasilan pendidikan tidak tampak pada kemegahan gedung, tetapi pada sejauh mana ia melahirkan manusia yang santun, jujur, dan berani mengasihi. Mungkin inilah insan kamil yang selalu kita cari, yaitu bukan manusia yang sempurna, melainkan yang menebarkan kesejukan di mana pun ia berada.
Pada akhirnya, pendidikan bukan proyek untuk masa depan, melainkan ruang untuk menyadari masa kini. Ia mengajarkan manusia agar tidak hanya hidup panjang, tetapi hidup dengan makna. Insan kamil tidak ditentukan oleh gelar, melainkan oleh sejauh mana ia sanggup menjaga keheningan di tengah bisingnya dunia, menyalakan harapan di tengah kesuraman, dan melihat cahaya di balik setiap ketidaksempurnaan.
Sumber Bacaan
Al-‘Arabi, Ibn. 1998. al-Futȗḥât al-Makkiyyah, Juz II. Beirut: Dar Al-Kutub Al-Ilmiyya.
Al-Ghazali. 2011. Revival of Religion’s Sciences (Ihya’ Ulum Ad-Din) Volume 1. Translated by Mohammad Mahdi al-Sharif. Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah.
Aristotle. 1975. Nicomachean Ethics. Translated by Hippocrates G. Apostle. London: D. Reidel Publishing Company.
Buber, Martin. 1937. I and Thou. Translated by Ronald Gregor Smith. Edinburgh: T. & T. Clark.
Bennabi, Malik. 2003. The Question of Culture. Kuala Lumpur: Islamic Book Trust.
Chittick, William C. 2001. The Heart of Islamic Philosophy. New York: Oxford University Press.
———. 1989. The Sufi Path of Knowledge: Ibn al-‘Arabi’s Metaphysics of Imagination. Albany: State University of New York Press.
Freire, Paulo. 2000. Pedagogy of Freedom: Ethics, Democracy, and Civic Courage. Lanham: Rowman & Littlefield.
Hamka. 2019. Falsafah Hidup. Jakarta: Republika.
Mutahhari, Murtadha. 1985. Man and Faith. Translated by Mustajab Ahmad Ansari. Tehran: World Organization for Islamic Services (WOFIS).
Sadra, Mulla. 1990. Al-Hikmah al-Muta‘âliyah fi al-Asfâr al-‘Aqliyyah al-Arba‘ah. Beirut: Dâr Iḥyâ’ al-Turâth al-‘Arabî.
Schuon, Frithjof. 1998. Understanding Islam. Bloomington: World Wisdom.
Suhrawardi. 1999. The Philosophy of Illumination (Ḥikmat al-Ishrâq). Translated by John Walbridge and Hossein Ziai. Provo, Utah: Brigham Young University Press.
Syari’ati, Ali. 1996. Al-Insan, Al-Islam wa Madris Al-Gharb. Terj. Afif Muhammad. Bandung: Pustaka Hidayah.