Penanaman Nilai Adab al-Qur’an Bagi Pembentukan Akhlak Santri
Open Qur'an on a wooden stand with prayer beads beside it and hanging ornate lanterns over a pale patterned background.
Freepik.com


Penanaman nilai-nilai al-Qur’an menjadi ruh utama pendidikan di Pondok Pesantren Daar el-Qolam 3 Kampus Dza ’Izza. Tidak berhenti pada kemampuan membaca dan menghafal, pesantren ini menempatkan adab terhadap al-Qur’an sebagai fondasi pembentukan kepribadian santri.

Melalui pengkajian kitab-kitab klasik, para santri diarahkan agar interaksi mereka dengan al-Qur’an menyentuh dimensi batin dan akhlak dalam kehidupan sehari-hari.

Salah satu kitab yang diajarkan dalam rangka menanamkan adab tersebut adalah At-Tibyān fī Ādāb Ḥamalatil Qur’ān karya Imam an-Nawawi. Ustazah Ade Yulia Safitri, Lc., selaku DKM yang menjalankan program kajian-kajian turats, menjelaskan bahwa kitab ini membahas adab-adab yang harus dimiliki oleh siapa pun yang berinteraksi dengan al-Qur’an, baik sebagai pembaca, penghafal, pengajar, maupun penuntut ilmu al-Qur’an.

“Isinya meliputi keutamaan al-Qur’an dan para ahlinya, adab batin seperti niat yang ikhlas serta pengagungan terhadap kalam Allah, hingga adab lahir berupa cara membaca, sikap saat membawa mushaf, dan etika dalam majelis al-Qur’an,” jelasnya saat diwawancara pada Selasa (3/2/2026).

Menurutnya, pengajaran kitab ini memiliki arti penting bagi santri karena al-Qur’an tidak cukup hanya dihafal atau dibaca dengan benar, tetapi juga harus dimuliakan melalui adab yang benar. Kitab At-Tibyān menanamkan kesadaran bahwa menjadi ahlul Qur’an merupakan amanah besar.

“Dengan mempelajari kitab ini, santri tidak hanya cerdas secara bacaan dan hafalan, tetapi juga dibentuk akhlaknya agar sejalan dengan nilai-nilai al-Qur’an,” ujarnya.

Lebih lanjut, Ustazah Ade Yulia menguraikan nilai-nilai utama dalam kitab tersebut yang sangat relevan bagi santri. Pertama, ikhlas dan meluruskan niat, yakni belajar dan menghafal al-Qur’an semata-mata untuk mencari rida Allah, bukan demi pujian atau kedudukan. Kedua, ta’zhim atau mengagungkan al-Qur’an, baik dalam sikap, ucapan, maupun perbuatan, termasuk menjaga adab terhadap mushaf dan majelis al-Qur’an. Ketiga, akhlak mulia, seperti tawadhu’, menjaga lisan, serta menampilkan perilaku yang mencerminkan nilai al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.

Agar nilai-nilai tersebut benar-benar terwujud dalam diri santri, Ustazah Ade Yulia menekankan pentingnya pembiasaan yang konsisten serta keteladanan dari para asatiz dan lingkungan pondok. Nilai-nilai dalam kitab tidak cukup disampaikan secara teoritis, tetapi perlu dihidupkan dalam keseharian santri, mulai dari cara belajar, berinteraksi dengan guru dan teman, hingga dalam kedisiplinan serta ibadah harian.

“Evaluasi adab juga perlu berjalan beriringan dengan evaluasi akademik dan hafalan,” ungkapnya.

Melalui pengajaran kitab At-Tibyān fī Ādāb Ḥamalatil Qur’ān ini, Ustazah Ade Yulia berharap santri Daar el-Qolam 3 tumbuh menjadi generasi yang mencintai al-Qur’an lahir dan batin. Bukan hanya kuat hafalannya, tetapi juga indah akhlaknya.

“Semoga al-Qur’an benar-benar menjadi cahaya dalam sikap, keputusan, dan perjalanan hidup para santri, sehingga mereka layak menjadi pembawa al-Qur’an yang memuliakan dan dimuliakan olehnya,” pungkasnya.