
Santri Pondok Pesantren Daar el-Qolam 3 Kampus Dza ‘Izza melaksanakan rangkaian ujian mulai dari 17 November – 11 Desember 2025. Ujian ini menjadi bagian penting dari proses belajar untuk menguji kapasitas ilmu yang telah dikuasai para santri. Lebih dari itu, merupakan bagian dari proses ibadah thalabul ‘ilmi.
Hal ini disampaikan oleh Mudir al-Ma’had Pondok Pesantren Daar el-Qolam 3 Kampus Dza ‘Izza K.H. Zahid Purna Wibawa, S.T. pada Kamis (20/11/2025) di Aula Tasabuq dalam kegiatan Pengarahan Menjelang Ujian di hadapan para santri.
Kiai Zahid menjelaskan esensi dan makna fundamental dari ujian. Pertama, ujian merupakan bagian dari proses suci ibadah. Belajar adalah ibadah, maka ujian juga merupakan bagian daripada proses ibadah. Maknanya sama dengan thalabul ‘ilmi sebagaimana disebutkan dalam hadis Rasulullah saw.:
طَلَبُ العِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ
“Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslim.”
Karena merupakan kewajiban berarti maknanya ibadah. Bahkan, jelas Kiai Zahid, salat yang tersembunyi dan ibadah hati adalah thalabul ilmi. “Jadi kegiatan belajar nilainya tinggi,” ujar beliau.
Orang berilmu, dengan ibadah qalbi, lanjut beliau, maka ilmunya akan membuat hatinya tambah merunduk, bukan malah takabur. “Itulah esensi dari orang yang berilmu,” ujar Kiai Zahid.
“Thalabul ilmi adalah ibadah, maka ia juga menjadi jalan spiritual yang suci yang tidak mungkin tercampur dengan kekotoran,” tambah Kiai Zahid.
Beliau pun melanjutkan:
“Karena itu ujian atau thalabul ‘ilmi adalah ibadah yang menjadi jalan spiritual, ibadah yang suci, yang tidak boleh bercampur dengan hal-hal kotor dan kecurangan, baik itu niatnya ataupun caranya.”

Kiai Zahid mengingatkan para santri agar menjaga niat dan perbuatan, terutama dalam hal yang bernilai ibadah. Karena tiap kegiatan yang nilainya ibadah memang berat dilaksanakan karena ada godaan setan di dalamnya. Itu sebabnya nilainya tinggi dan besar berkahnya.
Beliau juga mengingatkan agar setiap aktivitas selalu dimulai dengan doa, seperti halnya dalam memulai belajar. “Karena doa itu wasilah paling utama untuk mendapatkan keberkahan dalam hidup kita,” ucap beliau.
Kiai Zahid mengutip Imam al-Ghazali yang menggambarkan jalan terjal menuju surga dalam kitab Minhajul ‘Abidin, bahwa hal itu adalah jalan yang begitu berat tingkat kesulitannya, begitu jauh perjalanannya. Banyak musuh dan perompak yang menjadi penghadangnya. Sedikit orang yang menjadi pendukungnya. “Itulah jalan terjal menuju surga, jalan terjal berbuat kebaikan, jalan terjal menjadi orang baik,” kata Kiai Zahid.
Beliau menyampaikan hadis Rasulullah saw.:
حُفَّتِ الجَنَّةُ بِالمَكَارِهِ وَحُفَّتِ النَّارُ بِالشَّهَوَاتِ
“Surga diliputi hal-hal yang tidak menyenangkan, dan neraka diliputi hal-hal yang menyenangkan.”
Namun beliau juga mengungkapkan bahwa beratnya ibadah adalah ketika akan dilaksanakan, setelah itu buahnya adalah ketenangan. “Karena nilai akhir dari sebuah ibadah adalah ketenangan,” ucap beliau.
Kiai Zahid menegaskan kembali thalabul ‘ilmi yang diniatkan dengan dasar keimanan, ikhlas, dan istikamah di jalan Allah Swt. “Sesulit apa pun, kalau dengan niat ibadah dan penuh keikhlasan, Allah Swt. pasti akan memberikan jalan dan kemudahan dalam belajar dan memahami pelajaran,” ujar Kiai Zahid.
“Ikhlas kata kuncinya,” ujar Kiai Zahid sambil mengingat pesan almarhum K.H. Ahmad Syahiduddin terkait hal ini.
“Jangan terjebak, seakan-akan kalau kalian sudah belajar pasti berhasil, padahal belum tentu karena ibadah. Tanpa niat ibadah kepada Allah Swt. tidak ada keberkahan. Seakan-akan kalau nilai kalian bagus pasti barakah ilmunya, belum tentu, ketika kalian tidak hormat kepada buku dan ilmunya, kalian tidak hormat kepada gurunya,” terang Kiai Zahid. Karena itu beliau menekankan agar jangan terpaku pada kegiatan hanya sebagai seremonial, tapi lihat kepada makna dan esensinya.
Selanjutnya Kiai Zahid menerangkan makna dan esensi kedua dari ujian, yaitu sebagai sarana muhasabah. “Ujian adalah sarana muhasabah bagi santri, muhasabah bagi guru, muhasabah bagi lembaga, maupun wali santri,” ujar Kiai Zahid.
Makna yang ketiga adalah menanamkan ruh persaingan dan kerja sama yang sehat atau berlomba dalam kebaikan (fastabiqul khairat).
Kiai Zahid juga menyebutkan tiga kiat sukses dalam belajar dan ujian, yaitu: mengamalkan ilmu, berakhlak, ibadah kepada Allah Swt. Sejalan dengan itu disebutkan pula jalan sukses sesuai surat al-‘Ashr, yaitu: beriman, beramal saleh, saling menasihati, dan bersikap sabar.
Terakhir, Kiai Zahid mendoakan para santri agar sukses, berkah dan bermanfaat ilmunya, serta sehat jasmani dan ruhani.