
Sejumlah Santri Pondok Pesantren Daar el-Qolam 3 Kampus Dza Izza melangkah menuju di Al-Azhar University, salah satu pusat keilmuan Islam tertua dan paling berpengaruh di dunia Islam. Perjalanan ini menjadi penanda bahwa sistem pembelajaran pesantren, khususnya melalui program MADRIS, mampu mengantarkan santri menembus lembaga pendidikan bertaraf internasional. Program MADRIS (Markaz al-Dawly fi al-Dirasat al-Islamiyah) merupakan program persiapan masuk perguruan tinggi internasional dengan jenjang pendidikan 3 tahun (SMA) yang bekerja sama dengan perguruan tinggi Timur Tengah dan Afrika Utara.
Dalam wawancara pada Rabu (29/4/2026), Dr. Saepul Anwar selaku pengajar program MADRIS menjelaskan bahwa proses pendaftaran ke Al-Azhar saat ini dipusatkan melalui Markaz al-Tathwir, lembaga yang menjadi jalur utama bagi calon mahasiswa internasional sebelum memasuki perkuliahan resmi.
“Untuk pendaftaran ke al-Azhar, sekarang difokuskan ke Markaz al-Tathwir dan untuk mendaftar ke Markaz al-Tathwir itu ada dua jalur, yaitu melalui Kemenag dan melalui mediator yang sudah kerjasama dengan Markaz al-Tahtwir. Setelah mendaftar, mereka akan mengikuti tes seleksi dan tes level kemampuan bahasa,” ungkapnya.
Menurutnya, jalur tersebut menjadi tahap awal yang menentukan kesiapan akademik, terutama dalam penguasaan bahasa Arab. Dari angkatan kelulusan 2026, dua santri yang dinyatakan lolos adalah Barkan dan Dzanuba, dengan hasil seleksi yang dinilai sangat membanggakan.
“Angkatan kelulusan 2026 yang lulus dengan hasil terbaik antaranya dua orang, Barkan dan Dzanuba. Hasil tes mereka luar biasa ya, jadi mereka lulus tes Bahasa Arab di tingkat 6, yang artinya mereka tidak perlu lagi mengikuti bimbingan bahasa persiapan di indonesia dan bisa langsung kuliah di al-Azhar setelah menyelesaikan tingkat mutamayyiz di sana,” jelasnya.
Pencapaian level 6 dalam tes bahasa Arab menunjukkan kesiapan akademik yang matang. Dengan hasil tersebut, keduanya memiliki jalur yang lebih singkat menuju perkuliahan formal di Al-Azhar, tanpa harus melalui program persiapan bahasa di Indonesia.
Dr. Saepul Anwar menilai keberhasilan itu tidak terlepas dari fondasi pembelajaran yang telah dibangun selama menempuh pendidikan di Daar el-Qolam 3, terutama melalui program MADRIS yang menjadi basis penguatan bahasa dan keilmuan Islam.
“Untuk prosesnya, hasil pembelajaran mereka di Daar al-Qolam 3 khususnya program MADRIS menjadi modal utama sebelum mereka mengikuti tes tersebut,” ujarnya.
Ia juga mencontohkan bahwa kualitas lulusan program MADRIS tidak hanya terlihat dalam penerimaan di Timur Tengah, tetapi juga mampu menembus perguruan tinggi di Eropa. Salah satu alumninya bahkan telah diterima di University of Edinburgh untuk jenjang magister.
“Alumni MADRIS ada yang diterima di Edinburgh Inggris untuk program S2 namanya Abdurrauf Said, dan sedang proses mengikuti seleksi LPDP bermodalkan surat penerimaan tersebut,” imbuhnya.
Hal ini menunjukkan bahwa jalur pendidikan pesantren memiliki daya saing yang luas, baik dalam studi keislaman maupun pengembangan akademik di tingkat global.
Menutup wawancaranya, Dr. Saepul Anwar berpesan agar kesempatan belajar di Al-Azhar dipandang sebagai amanah besar yang harus dijaga dengan sungguh-sungguh.
“Harapan saya untuk yang sudah diterima agar menjadikan kesempatan tersebut sebagai amanah. Selain belajar di al-Azhar dalam bidang ilmu keislamannya, harapan saya mereka juga menambahkan kemampuan bahasa asing lain selain bahasa Arab sebagai modal untuk menyebarkan Ilmu mereka,” pungkasnya.