Santri Daar el-Qolam 3 di Kancah MKQ Asia Tenggara

Musabaqah Qiraatil Kutub (MQK) Tingkat Asia Tenggara yang digelar dalam rangka Sukarabic Fest 2025 oleh UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta menjadi ajang bergengsi bagi para pengkaji kitab kuning. Acara ini diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Program Studi Bahasa dan Sastra Arab, dengan tujuan memperkuat tradisi keilmuan Islam melalui kitab turats.

Dalam wawancara pada Kamis, 11 September 2025, Ustaz Alif Hendrawan, Lc., pembimbing santri Daar el-Qolam 3, menjelaskan bahwa MQK adalah perlombaan membaca, memahami, menerjemahkan, dan mengartikulasikan teks-teks kitab kuning berbahasa Arab. Pada kesempatan ini, kitab Fathul Mu’in menjadi fokus utama lomba.

Ajang MQK ini terbuka untuk semua kalangan tanpa batasan profesi, usia, atau latar belakang pendidikan. Hal ini membuat persaingan lebih luas dan kompetitif. Peserta berasal dari berbagai negara di Asia Tenggara, menjadikan ajang ini sebagai forum internasional yang mempertemukan pemikir-pemikir muda Islam.

“Lomba ini terbuka untuk umum, yang berarti semua bisa ikut lomba. Persaingan luas, tidak terbatas profesi, umur ataupun latar belakang pendidikan,” ujar Ustaz Alif.

Dari Pondok Pesantren Daar el-Qolam 3 Kampus Dza Izza, dua santri kelas 6 MADRIS telah dipilih untuk mewakili pesantren dalam kompetisi ini. Mereka adalah:

  • Muhammad Rafa Azka Alifasha
  • Barkan Akmal Muhammad Gunawan

Menghadapi persaingan yang sangat luas dan kompetitif, santri Daar el-Qolam 3 telah menjalani persiapan intensif selama tiga bulan. Latihan dilakukan bersama empat pembimbing berkompeten:

  • Al-Ustadz Yunal Isra, Lc., M.A.
  • Al-Ustadz Dr. Saepul Anwar
  • Al-Ustadz Shohibul Faroz, S.S.I., MA
  • Al-Ustadzah Ina Purwanti, Lc., M.Hum.

Menurut Ustaz Alif, kitab Fathul Mu’in merupakan salah satu kitab yang sudah menjadi bagian dari kurikulum di pesantren. Namun, latihan khusus tetap diperlukan untuk meningkatkan kemampuan analisis dan artikulasi para santri. Tantangan terbesar adalah beradaptasi terhadap suasana kompetisi yang lebih luas dan tingkat kompetitor yang beragam. Selain itu, kemampuan memahami kitab kuning dengan pendekatan yang mendalam juga harus menjadi kesiapan tersendiri.

Menutup wawancara, Ustaz Alif menyampaikan harapan besar terhadap para santri. “Saya berharap hasil yang maksimal. Tapi lebih dari itu, ini adalah pengalaman berharga untuk menguji sejauh mana kemampuan mereka dalam bahasa Arab dan kitab kuning, sehingga bisa memantik semangat juang mereka dan menjaga api semangat tersebut agar tidak padam, serta menjadi inspirasi bagi santri lainnya,” pungkasnya.