Santri Cerdas dan Saleh Harapan Kita Semua

Keseimbangan antara ilmu dan akhlak merupakan keistimewaan dari pendidikan pesantren. Ilmu menjadi cahaya yang menuntun pada kebenaran, sementara amal saleh adalah wujud nyata yang membumikan ilmu dalam kehidupan. Lalu semua itu dilandaskan pada keikhlasan.

Hal ini sebagaimana diungkapkan Ustaz TB. Wildanul Hakim, S.Hum., ia menekankan pentingnya keseimbangan antara kecerdasan akademik dan kesalehan dalam membentuk karakter santri. Dalam paparannya kepada Redaksi, pada Senin (28/7/2025), Ustaz Wildan menjelaskan empat pilar utama yang harus dimiliki setiap santri.

Pilar pertama adalah kesadaran akan pentingnya muhasabah diri. “Santri yang cerdas dan saleh selalu mengevaluasi diri, memperbaiki diri, dan berusaha menjadi lebih baik,” tegas Ustaz Wildan. Menurut beliau, kesadaran akan kehidupan akhirat menjadi motivasi utama untuk terus mencari ilmu dan beramal saleh. Ustaz Wildan mengutip pendapat Imam Ghazali bahwa ilmu tanpa amal adalah kegilaan, sementara amal tanpa ilmu adalah kesia-siaan.

“Jadi, santri yang cerdas adalah yang dapat mengimbangi antara ilmu dan amal,” ujarnya.

Peran guru sebagai mursyid menjadi pilar kedua yang tak kalah penting. “Guru sangat penting dalam mendidik santri, karena seorang guru sekaligus menjadi seorang mursyid. Mengajarkan dan mengarahkan serta membimbing santri menuju jalan yang benar,” jelasnya.

Ustaz Wildan mengemukakan bahwa seorang guru tidak hanya bertugas mengajar, tetapi juga harus mampu membimbing diri sendiri sebelum membimbing santri. Proses pendidikan akan berjalan optimal ketika guru mampu menjadi teladan yang menginspirasi. “Inilah yang sekarang di sebut dengan guru yang menginspirasi,” katanya.

Pilar ketiga berkaitan dengan kebiasaan positif yang harus dikembangkan santri. Ustaz Wildan menekankan tiga aspek utama: kesadaran identitas diri sebagai pencari ilmu, semangat berbuat baik kepada sesama, serta mahabbah (rasa cinta) kepada guru. Rasa cinta kepada guru akan mendatangkan kemudahan dan keberkahan dari Allah Swt.

“Itu sangat berefek sekali dalam keberhasilannya menuntut ilmu, disamping harus giat dan semangat dalam belajar, rasa mahabbah harus tertanam di hati mereka,” ucapnya.

Mengenai pilar keempat, Ustaz Wildan menegaskan bahwa ilmu dan akhlak harus berjalan seimbang. “Santri yang banyak ilmu namun kurang akhlak hanya akan menghasilkan kesia-siaan,” tegasnya. Beliau menjelaskan bahwa akhlak mulia merupakan buah dari kedekatan dengan Allah Swt, di mana semakin berilmu seseorang, semestinya semakin bertakwa.

“Semakin seorang santri berilmu maka semakin dekat dia dengan Allah Swt. Maka penting keseimbangan antara belajar ilmu dan beribadah kepada Allah Swt.,” terangnya.

Sebagai penutup, Ustaz Wildan menyampaikan harapannya agar seluruh santri memiliki ilmu dan wawasan yang luas dengan mengutamakan akhlakul karimah. Semoga mereka dapat menjadi generasi Ahlu al-‘Izzah (pemilik kemuliaan), dengan karakter Ahlu al-Ziyadah, Ahlu al-Qiyadah, dan Ahlu al-Riyadah.