Peringatan Maulid 1447 H, Buya Arrazy Ungkap Keagungan Nur Muhammad

Pada Senin, 15 September 2025, Pondok Pesantren Daar el-Qolam 3 Kampus Dza ‘Izza menyelenggarakan peringatan Maulid Nabi Muhammad 1447 H. Acara yang bertema “Memetik Keteladanan Nabi Muhammad saw untuk Generasi Ahlu al-‘Izzah” ini berlangsung dengan khidmat di Aula at-Tasabuq dengan dihadiri Mudir al-Ma’had, K.H. Zahid Purna Wibawa, S.T., asatiz dan asatizah, serta seluruh santri. Hadir sebagai penceramah, Dr. H. Arrazy Hasyim, Lc., S.Fil.I., M.Hum., yang akrab disapa Buya Arrazy.

Mudir al-Ma’had, K.H. Zahid Purna Wibawa, S.T., menyampaikan sambutannya dengan penuh kehangatan dan harapan akan limpahan keberkahan dalam pelaksanaan peringatan Maulid Nabi Muhammad saw. Beliau berharap momentum mulia ini dapat menjadi sarana untuk memperkuat keimanan serta memperdalam pemahaman keilmuan.

Kiai Zahid juga menegaskan bahwa pesantren tidak boleh kehilangan khittahnya. “khittah pesantren adalah mendidik akhlak, mendidik karakter, baru kemudian ilmu pengetahuan. Karena tidak ada gunananya ilmu pengetahuan tanpa didasari akhlāk al–karīmah,” ujar Kiai Zahid. Hal ini, kata beliau, sesuai dengan misi diutusnya Rasulullah saw untuk menyempurnakan akhlak.

“Mudahan-mudahan kita dapat memperkuat generasi Ahlu al-‘Izzah ke depan,” harap beliau

Kiai Zahid pun berharap agar para santri Ahlu al-‘Izzah memiliki akhlak (mutakhalliq), ilmu pengetahuan (muta’allim), dan berperadaban (mutamaddin). Kemudian memiliki jiwa mundzir wa qa’id al–qaum dan berani menjadi muslih al–qaum. Semua itu berlandaskan cinta kepada Rasulullah saw sehingga menjadi generasi Ahlu al-‘Izzah yang Kāffah.

Selanjutnya Buya Arrazy berkesempatan memberikan tausiyahnya. Beliau membuka tausiyah dengan mengungkapkan sumber kemuliaan (‘Izzah), yaitu dengan Thā hā, yang merupakan nama Rasulullah saw. Kemuliaan Pondok Pesantren Daar el-Qolam 3, kata Buya, adalah dengan Thā hā, yaitu dengan mengikuti ajaran Rasulullah saw. Tanpa Rasulullah saw, tidak ada ‘Izzah. Beliau mengatakan;

فلنا العز بطه

Buya Arrazy juga menjelaskan tentang huruf-huruf muqaṭṭa‘ah dalam al-Qur’an. Menurut beliau, huruf-huruf seperti alif lām mīm, alif lām rā, alif lām mīm ṣād, ṭhā hā, qāf, nūn, kāf hā yā ‘ain ṣhād, ḥā mīm, yā sīn dan seterusnya merupakan nama-nama Nabi Muhammad saw. “Itu juga nama Allah. Allah punya nama dikasihkan Nabi Muhammad,” ujar Buya Arrazy.

Beliau melanjutkan dengan menyebut riwayat doa Sayyidina ‘Alī yang pernah berdoa, yā kāf hā yā ‘ain ṣād (يا كهيعص). “Ternyata itu nama Allah dan juga dijadikan nama Rasulullah,” jelasnya.

Dalam kesempatan itu, Buya menekankan urgensi sanad sebagai jalur keilmuan. Ia mengutip perkataan Syekh Yāsīn al-Fadānī:

الإسناد نسب العلم

Artinya, sanad (mata rantai guru) adalah nasabnya ilmu. Karena itu, seorang guru memiliki kedudukan sebagai orang tua bagi muridnya. “Maka semua ilmu yang tidak bersanad ke Rasulullah, lā ‘izzata lahu,” tegas Buya Arrazy.

Buya Arrazy juga menyampaikan apresiasinya atas pelaksanaan Maulid Nabi Muhammad saw yang diselenggarakan di Pondok Pesantren Daar el-Qolam 3 Kampus Dza ‘Izza. Hal ini karena umumnya pesantren modern tidak lagi mengadakan perayaan Maulid. Namun, Daar el-Qolam 3 tetap mempertahankan tradisi ini sebagai bentuk pelestarian nilai-nilai luhur serta kearifan lokal. Sikap ini mencerminkan semangat al-muḥāfaẓatu ʿala al-qadīmi aṣ-ṣāliḥ wa al-akhdzu bi al-jadīdi al-aṣlaḥ, yaitu memelihara tradisi lama yang baik dan mengambil hal baru yang lebih baik.

Selanjutnya, Buya Arrazy mengajak para santri untuk mengkaji kitab asy-Syarāb aṭ-Ṭahūr karya al-Habib ‘Umar bin Hafizh. Dalam uraian beliau, Nabi Adam as memperoleh kemuliaan bukan karena rupa fisiknya yang tampan, melainkan karena ditiupkan kepadanya rūḥ Aḥmad, yakni Nūr Muḥammad.

“Sayyidina Adam as, terhormat, termuliakan dengan rūḥ Aḥmad, Nūr Muḥammad,” ungkap Buya Arrazy. Kemuliaan itulah yang membuat Allah memerintahkan malaikat untuk bersujud kepada Nabi Adam as setelah ditiupkan ruh tersebut.

Buya Arrazy kemudian mengutip keterangan hadis riwayat Imam al-Ḥākim. Ketika Nabi Adam as memandang ke langit, ia melihat lafaz lā ilāha illā Allāh di tiang ‘Arsy, serta lafaz Muḥammad Rasūlullāh. Hal ini, menurut Buya, menegaskan derajat agung Nabi Muhammad saw. Bahkan, Nabi Adam as menikahi Hawa dengan mahar berupa selawat kepada Rasulullah saw.

Mengakhiri tausiyah, Buya Arrazy mendoakan seluruh santri dan keluarga besar Pondok Pesantren Daar el-Qolam 3 Kampus Dza ‘Izza agar selalu dinaungi keberkahan. Doa bersama pun dipanjatkan dengan penuh kekhusyukan, menutup peringatan Maulid dengan suasana yang hangat dan penuh syahdu.