Mengenali Karakter Anak Berprestasi

Prestasi bukan bakat, tapi kerja keras. Prestasi bukan kebetulan, tapi buah dari kebiasaan yang konstan, bukan berleha-leha. Memang, tidak semua anak menonjol dalam mata pelajaran tertentu, tetapi setiap anak punya potensi untuk tumbuh menjadi pribadi yang unggul dan berprestasi jika dikenali dan diarahkan dengan tepat. Dalam wawancara pada Sabtu (12/7/2025), Ustaz Eka Sugandi, Kepala SMAS Daar el-Qolam 2, Pondok Pesantren Daar el-Qolam 3 Kampus Dza ‘Izza, menguraikan secara jernih tentang karakter anak-anak berprestasi, peran guru yang menginspirasi, serta lingkungan pergaulan yang membentuk semangat belajar. Temuan dan pengamatan beliau menjadi bahan refleksi penting bagi para pendidik dan orang tua untuk memahami bahwa prestasi tidak lahir dari keajaiban, melainkan dari kebiasaan yang dibentuk secara konsisten dan sadar. Setiap anak cerdas dan memiliki potensi untuk berprestasi sesuai dengan karakter kecerdasannya masing-masing.

Apa ciri umum dari karakter anak-anak berprestasi?

Anak berpestasi umumnya, yang paling sering terlihat itu, biasanya disiplin, memiliki kemandirian belajar, dan tentu saja ketahanan mental. Anak berprestasi tidak mudah menyerah ketika menghadapi kesulitan, mereka juga sering kali menunjukkan rasa ingin tahu yang sangat tinggi, fokus dan konsisten pada tujuan. Bukan hanya semangat sesaat. Mereka juga biasanya reflektif, sering melakukan evaluasi diri (bermuhasabah), mengevaluasi apa kelemahannya dan bagaimana memperbaikinya

Ada anak pintar atau berprestasi karena dirinya sendiri, ada juga berkat bimbingan guru. Dalam hal ini, guru seperti apa yang memberikan pengaruh dan mendorong anak berprestasi?

Banyak guru yang mampu mendorong anak meraih prestasi. Umumnya, guru itu peduli dan hadir, bukan hanya secara fisik tapi juga secara emosional. Dan ketika hadir bukan hanya menyangkut masalah akademik tapi juga di luar akademik. Kemudian, biasanya guru mampu melihat potensi yang tersembunyi dari siswa atau santri, dan ketika melihatnya guru tersebut mampu memotivasi anaknya. Guru itu seringkali memberikan tantangan dan umpan balik (feed back) atau masukan ke anak. Selain itu juga konsisten kalau mendampingi dan memantau perkembangan siswanya.

Biasanya guru itu juga mempercayakan tanggung jawab kepada siswa sehingga mereka tumbuh menjadi siswa yang mandiri, pembelajar yang mandiri. Guru seperti ini tidak hanya mengajar, tapi juga menginspirasi. Termasuk kategori guru great teacher dengan karakter inspiring.

Pola atau kebiasaan belajar tentu memiliki pengaruh dalam meraih prestasi. Bisa dijelaskan, seperti apa pola atau kebiasaan belajar anak berprestasi?

Anak berprestasi biasanya memiliki pola atau kebiasaan belajar dengan membuat jadwal yang jelas, setiap hari ngapain, setiap malam ngapain. Ia tidak suka menunda-nunda tugas, bukan tipe belajar sistem kebut semalam bila menghadapi ujian. Anak berprestasi tidak seperti itu. Dia mengamalkan salah satu yang disampaikan oleh Pendiri Pesantren, la tuakhir amalaka, jangan mengakhirkan amal yang bisa dilakukan saat ini.

Anak berprestasi juga suka membuat catatan atau rangkuman sendiri untuk menjadi panduan dia belajar ulang. Kalau belajar juga aktif, suka diskusi, bahkan suka mengajari teman atau adik kelasnya. Biasanya anak seperti itu rajin mengerjakan latihan soal. Dia konsisten, baik dalam belajar ataupun mengevaluasi, dia bisa mengoreksi kesalahannya sendiri, dan bisa belajar dari kesalahan. Dan yang paling penting, biasanya mereka punya target yang terukur, dan disiplin dalam mencapai targetnya. Ia  belajar benar-benar karena kesadaran, bukan sekadar kewajiban.

Pola pergaulan juga tidak dapat diabaikan, tentu memiliki pengaruh. Seperti apa pola pergaulan anak yang berpestasi?

Yang saya lihat, rata-rata anak-anak yang berprestasi circle-nya dengan yang baik-baik, memilih teman-teman yang suportif dan saling menguatkan, tidak saling menjauhkan dari tujuan. Mereka terlibat dengan kegiatan-kegiatan ekskul atau hal-hal yang positif, seperti ekskul keilmuan, berorganisasi, suka membaca bersama teman-temannya, menghindari pergaulan yang toxic atau pergaulan yang hanya mencari hiburan saja. Kemudian pola pergaulan yang terbuka pada diskusi sehat, mereka saling berdiskusi dan menginspirasi dalam belajar. Pergaulannya itu bisa jadi yang membentuk lingkungan yang menumbuhkan motivasi pada hal-hal yang mendorong prestasi, bukan melemahkan.