
Tak hanya mempresentasikan hasil penelitian di hadapan penguji, para santri Pondok Pesantren Daar el-Qolam 3 Kampus Dza ‘Izza tahun ini mendapat kesempatan memperlihatkan karya mereka melalui pameran. Pengunjung pun bisa melihat, bertanya, dan mengeksplorasi langsung hasil penelitian yang telah mereka kerjakan selama satu semester.
Sebuah penelitian tidak selalu disampaikan melalui presentasi di depan ruang sidang. Ada kalanya, gagasan perlu diwujudkan menjadi sesuatu yang dapat dilihat, disentuh, diamati, dan didiskusikan bersama. Pengalaman itulah yang hadir dalam penyelenggaraan Pameran dan Sidang Karya Tulis Ilmiah (KTI) Terbaik Pondok Pesantren Daar el-Qolam 3 Kampus Dza ‘Izza, Kamis (15/10/2026), di Aula Tasabuq.
Tahun ini, penyelenggaraan KTI menghadirkan perubahan pada tahap akhirnya. Jika pada tahun-tahun sebelumnya Sidang KTI Terbaik berisi presentasi para nominator, kali ini kegiatan tersebut dikembangkan menjadi ruang yang mempertemukan presentasi ilmiah dan pameran hasil penelitian. Dengan pola baru ini, karya para santri tidak hanya dinilai melalui pemaparan di hadapan penguji, tetapi juga diperkenalkan melalui pameran.
Ustaz Ade Rumaidi, S.Pd., selaku penanggung jawab kegiatan, menjelaskan bahwa perubahan tersebut merupakan inovasi dalam penyelenggaraan KTI tahun ini. Dari seluruh nominator KTI Terbaik, enam peserta tampil sebagai perwakilan presentasi, sedangkan 18 peserta lainnya memperlihatkan hasil penelitian melalui stan pameran.
“Pola dari tahun ke tahun: Stadium General, Proses Bimbingan, Sidang KTI Kelompok, Sidang KTI Terbaik,” ujar Ustaz Ade menjelaskan rangkaian penyelenggaraan KTI yang selama ini berlangsung. Tahun ini, menurut dia, inovasi dilakukan pada tahap akhir dengan menghadirkan pameran sebagai bagian dari Sidang KTI Terbaik.
Perubahan ini memberi kesempatan lebih luas kepada para santri untuk menunjukkan proses dan hasil kerja ilmiah mereka. Penelitian yang selama satu semester dikerjakan melalui bimbingan dan pengujian kini hadir dalam bentuk yang lebih beragam, sesuai dengan karakter kajian masing-masing.

Aula Tasabuq: Ruang Sidang dan Stan Pameran
Penyelenggaraan KTI di Dza ‘Izza selama ini melalui sejumlah tahapan, mulai dari stadium general, proses bimbingan, sidang KTI kelompok, hingga Sidang KTI Terbaik. Rangkaian tersebut menjadi bagian dari proses belajar santri dalam menyusun penelitian, mengembangkan gagasan, serta mempertanggungjawabkan hasil kajiannya.
Pada tahun ini, tahap akhir tersebut memperoleh wajah baru. Tidak semua nominator harus menyampaikan hasil penelitian melalui presentasi di hadapan audiens. Sebagian dari mereka justru menampilkan karya melalui media visual dan produk yang memungkinkan pengunjung memahami penelitian secara lebih langsung.
Ustaz Ade menjelaskan, “Pada tahun ini, Sidang KTI Terbaik tidak lagi diisi dengan presentasi dari nominator terbaik, yang biasanya diisi oleh 9 peserta perwakilan dari tiga rumpun bahasa, tapi seluruh nominator terbaik ditampilkan dengan 6 peserta sebagai perwakilan presentasi, dan 18 peserta menampilkan hasil KTI melalui pameran.”
Santri yang melakukan penelitian eksperimen maupun kajian teori dan sejarah memvisualisasikan hasil karyanya dalam berbagai bentuk, mulai dari produk, maket, hingga gambar-gambar penjelas. Melalui cara tersebut, hasil penelitian yang semula tersimpan dalam naskah KTI dapat dieksplorasi oleh para pengunjung.
Para santri tidak hanya menunggu penilaian, tetapi juga menjelaskan gagasan, menjawab pertanyaan, dan memberikan keterangan mengenai hasil penelitian yang telah mereka kerjakan.

Ketika Mudir al-Ma’had Mengunjungi Stan
Bagi para peserta, kesempatan memperlihatkan hasil penelitian di hadapan banyak orang menjadi pengalaman yang membanggakan. Setelah melalui proses panjang selama satu semester, mereka akhirnya dapat menunjukkan hasil jerih payahnya kepada para penguji, dewan guru, wali santri, dan sesama santri yang hadir.
Menurut Ustaz Ade, para peserta menyambut kegiatan tersebut dengan rasa suka dan puas. “Dari segi peserta pameran dan sidang KTI Terbaik, mereka sangat suka dan puas. Jerih payahnya selama satu semester bisa ditunjukkan kepada khalayak ramai,” tuturnya.
Kegembiraan itu terlihat dari antusiasme mereka ketika menjelaskan hasil penelitian kepada para pengunjung.
Salah satu pengalaman yang paling berkesan bagi peserta adalah ketika Mudir al-Ma’had mengunjungi stan pameran. K.H. Zahid Purna Wibawa, S.T., mendatangi seluruh stan dan berdiskusi langsung dengan para santri mengenai hasil penelitian maupun kajian yang mereka tampilkan.
Ustaz Ade mengungkapkan, “Momen yg sangat berkesan adalah ketika stan mereka didatangi Mudirul Ma’had. Alhamdulillah Mudir al-Ma’had memang mendatangi semua stan peserta pameran dan melakukan diskusi dng peserta terkait hasil penelitian dan kajiannya.”
Kunjungan tersebut memberi kesempatan kepada peserta untuk menjelaskan gagasan mereka secara langsung kepada pimpinan pesantren. Di hadapan pengunjung yang datang silih berganti, para santri berusaha menyampaikan hasil penelitian dengan penuh semangat.

Menginspirasi Santri untuk Mulai Meneliti
Manfaat kegiatan ini tidak berhenti pada para peserta pameran. Santri yang hadir sebagai audiens juga memperoleh pengalaman baru. Mereka dapat melihat secara langsung beragam penelitian yang dikerjakan kakak kelasnya, mengajukan pertanyaan, serta mengenal proses penelitian melalui karya yang dipamerkan.
Salah seorang santri yang menyampaikan testimoni di hadapan audiens, Muthia Zia dari kelas 1 SMAWI A, mengungkapkan bahwa kegiatan tersebut membuka wawasannya tentang dunia penelitian. Pengalaman menyaksikan presentasi dan pameran karya ilmiah membuatnya terinspirasi dan bersemangat untuk mengikuti kegiatan serupa pada kesempatan mendatang.
Santri lainnya juga menunjukkan antusiasme. Mereka tidak hanya duduk menyaksikan rangkaian acara, tetapi dilibatkan dalam kegiatan eksplorasi stan dan penilaian Stan Favorite. Kesempatan tersebut mendorong mereka mendatangi stan, mengamati karya, serta bertanya langsung kepada peserta mengenai penelitian yang dipamerkan.
Dengan demikian, kegiatan KTI Terbaik tidak hanya menjadi ruang apresiasi bagi para peneliti, tetapi juga sarana untuk menumbuhkan ketertarikan santri lain terhadap kegiatan ilmiah.
Apresiasi dan Harapan untuk Pengembangan KTI
Kegiatan ini turut memperoleh apresiasi dari Mudirul Ma’had. Selain mengunjungi stan dan berdiskusi dengan peserta, K.H. Zahid Purna Wibawa, S.T., memberikan arahan mengenai tindak lanjut kegiatan agar penyelenggaraan KTI dapat terus berkembang pada masa mendatang.
Arahan tersebut menjadi bagian dari upaya menjadikan kegiatan penelitian sebagai proses pembelajaran yang berkelanjutan. Pameran dan Sidang KTI Terbaik tidak hanya dipandang sebagai penutup rangkaian kegiatan selama satu semester, tetapi juga sebagai pengalaman yang dapat menjadi pijakan untuk memperbaiki dan mengembangkan penyelenggaraan berikutnya.
Kegiatan ini dihadiri oleh Mudirul Ma’had, dewan pimpinan, dewan guru, serta wali santri peserta Pameran dan Sidang KTI Terbaik. Sebanyak 17 wali santri hadir dari 24 peserta yang diundang.
Kehadiran wali santri turut membuka ruang bagi mereka untuk melihat hasil proses belajar putra-putrinya. Karya yang selama ini dikembangkan melalui bimbingan di lingkungan pesantren dapat disaksikan secara langsung, sekaligus menjadi bahan penilaian mengenai pengalaman dan capaian belajar santri
Ustaz Ade menyampaikan rasa syukur karena seluruh rangkaian kegiatan dapat berlangsung dengan baik dan lancar. Ia juga menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung pelaksanaan kegiatan, mulai dari tim pembimbing, tim penguji, hingga panitia.
“Kami bersyukur kegiatan bisa terlaksana dengan baik dan lancar. Terimakasih atas semua doa, bantuan, dan kerja sama dari semuanya, tim pembimbing, tim penguji, tim panitia, semuanya luar biasa. Semoga Allah Swt. membalas semua kebaikan, pengorbanan, dan perjuangan kita semua dengan kebaikan di dunia dan akhirat. Amin”, ungkap Ustaz Ade.
Apresiasi tersebut menunjukkan bahwa penyelenggaraan KTI tidak berdiri di atas kerja peserta semata. Ada proses pendampingan, pengujian, persiapan, dan kerja bersama yang memungkinkan para santri menuntaskan penelitian hingga tahap pameran dan sidang.

Menampilkan Karya Kreatif dan Inovatif
Ustaz Jaka Sudira, S.Pd., selaku penanggung jawab pameran, menjelaskan bahwa kegiatan ini dirancang untuk memberikan ruang kepada santri yang memiliki karya kreatif dan inovatif. Melalui pameran, mereka tidak hanya menunjukkan hasil kerja, tetapi juga berinteraksi langsung dengan pengunjung.
“Dihadirkannya pameran karya ilmiah santri ini ditujukan sebagai wadah atau ruang bagi para santri yang memiliki produk atau karya yang kreatif dan inovatif. Sehingga santri bisa mempresentasikan hasil karyanya sekaligus berinteraksi langsung dengan para pengunjung. Hal ini bisa mengembangkan literasi sains santri,” ujar Jaka.
Pameran tersebut menjadi langkah baru dalam rangkaian KTI di Dza ‘Izza. Jika sidang memberi ruang bagi peserta untuk mempertanggungjawabkan penelitian di hadapan penguji, pameran membuka kesempatan bagi karya mereka untuk berjumpa dengan audiens yang lebih beragam.
Delapan Belas Stan, Beragam Gagasan
Sebanyak 18 stan pameran diisi oleh santri terpilih yang menampilkan karya dari berbagai bidang, mulai dari sains dan teknologi (saintek), sosial dan humaniora (soshum), hingga keagamaan. Keberagaman bidang tersebut menunjukkan bahwa karya ilmiah santri tidak terbatas pada eksperimen yang menghasilkan produk fisik. Gagasan, pemikiran, dan hasil kajian juga memiliki tempat untuk diperkenalkan kepada publik.
Ustaz Jaka menegaskan bahwa pameran ini tidak hanya diperuntukkan bagi karya berbentuk produk eksperimen. “Karena bukan hanya produk hasil eksperimen saja, tetapi gagasan/ide pemikiran juga memiliki wadah untuk dipamerkan,” katanya.
Pandangan tersebut memberi makna lebih luas terhadap kegiatan pameran. Karya ilmiah tidak semata-mata dinilai dari sesuatu yang dapat dibuat atau diperagakan, tetapi juga dari gagasan yang mendasarinya. Pemikiran yang disusun melalui proses kajian, penelusuran informasi, dan penalaran juga dapat menjadi karya yang layak dibagikan.
Ustaz Jaka menyebut sejumlah nilai yang diharapkan tumbuh melalui kegiatan ini, yakni budaya ilmiah, berpikir kritis, kreatif dan inovatif, rasa ingin tahu yang tinggi, keberanian, tanggung jawab, kecakapan berkomunikasi, kolaborasi, serta kemampuan menemukan solusi.
Nilai-nilai tersebut saling berkaitan. Rasa ingin tahu mendorong santri untuk mencari pengetahuan; berpikir kritis membantu mereka memeriksa informasi dan gagasan; kreativitas membuka kemungkinan untuk mengembangkan pendekatan baru. Sementara itu, keberanian dan kecakapan berkomunikasi diperlukan agar gagasan dapat disampaikan dan didiskusikan dengan orang lain.
Tanggung jawab juga menjadi bagian penting dalam proses tersebut. Sebuah karya tidak cukup hanya menarik perhatian, tetapi perlu dijelaskan secara jujur sesuai dengan proses dan hasil yang telah dikerjakan. Begitu pula kemampuan berkolaborasi dan mencari solusi membantu santri melihat bahwa persoalan tidak selalu dapat diselesaikan melalui satu sudut pandang.