“Membaca Buku Itu Keren”: Menyiapkan Santri Menembus Perguruan Tinggi

Melalui rapat daring bersama Bapak Zaenal Muttaqin dari al-Kautsar Labschool Bandung, pengembangan literasi Pondok Pesantren Daar el-Qolam 3 Kampus Dza ‘Izza mendalami strategi membangun budaya membaca dan menulis sebagai bekal santri menghadapi tantangan akademik menuju perguruan tinggi.

Membaca bukan lagi kegiatan untuk menyelesaikan tugas sekolah. Kalau hanya sekadar membaca (apalagi hanya membaca buku teks pelajaran), literasi tak akan meninggi. Membaca buku diluaskan maknanya kepada memperkaya perbendaharaan kata, memperdalam pemahaman, membentuk kemampuan berpikir dan memecahkan masalah. Kebiasaan inilah yang dapat menjadi bekal penting bagi santri ketika menghadapi pelajaran yang semakin kompleks, ujian masuk perguruan tinggi, hingga tugas-tugas akademik setelah mereka meninggalkan bangku sekolah.

Gagasan tersebut menjadi salah satu pokok pembahasan dalam rapat daring tindak lanjut pengembangan program literasi pesantren untuk pembinaan masuk perguruan tinggi bersama Zaenal Muttaqin, Sabtu malam, 17 Oktober 2026. Pertemuan yang berlangsung mulai pukul 20.30 WIB itu diikuti unsur Wakil Mudir, University Center (UC) dan Kerja Sama Lembaga, Kepala Sekolah, Kepala Subbagian Perpustakaan, perwakilan Tim Redaksi Dza ‘Izza, serta guru-guru Bahasa dan Sastra Indonesia.

Materi yang disampaikan Zaenal membuka ruang refleksi mengenai cara sekolah membangun kemampuan literasi santri. Persoalannya bukan semata-mata bagaimana mendorong anak agar lebih sering membuka buku, melainkan bagaimana menjadikan membaca sebagai bagian alami dari proses belajar dan kehidupan sehari-hari.

Salah satu pengalaman yang menjadi perhatian adalah praktik pembelajaran di Al-Kautsar, sekolah yang dalam pemaparan tersebut dicontohkan berhasil mengembangkan kemampuan literasi peserta didiknya sekaligus mempersiapkan mereka menghadapi seleksi masuk perguruan tinggi.

Mendengar Saja Tidak Cukup

Dalam proses belajar, mendengar penjelasan guru merupakan bagian penting. Namun, kemampuan menyerap informasi secara lisan perlu ditopang oleh kebiasaan membaca. Tanpa itu, peserta didik berisiko memiliki perbendaharaan kata yang terbatas sehingga kesulitan memahami istilah, menangkap gagasan, dan menghubungkan informasi yang mereka terima.

Zaenal menekankan bahwa membaca membantu anak memahami kata-kata yang sulit dijumpai dalam pelajaran lain, terutama sains. Istilah ilmiah, uraian konsep, dan penjelasan yang panjang menuntut kemampuan memahami bahasa sekaligus mengolah informasi. Anak yang terbiasa membaca memiliki kesempatan lebih besar untuk mengenali struktur kalimat, memahami konteks, dan menemukan makna istilah yang belum akrab baginya.

Karena itu, sekolah perlu menciptakan lingkungan yang membuat anak tidak alergi terhadap buku. Membaca tidak seharusnya menjadi kegiatan yang hanya dilakukan ketika guru memberikan tugas atau menjelang ujian. Lebih jauh, peserta didik perlu dibiasakan membaca karena mereka ingin mengetahui sesuatu, memahami persoalan, atau menjelajahi gagasan yang menarik perhatian mereka.

Di sinilah budaya membaca berbeda dari sekadar program membaca. Program dapat dijadwalkan, tetapi budaya tumbuh ketika kegiatan tersebut diterima sebagai kebiasaan dan kebutuhan.

TKA dan UTBK Bukan Momok bagi Pecinta Baca

Salah satu hubungan yang disoroti dalam pertemuan itu adalah kaitan antara kebiasaan membaca dan kemampuan menghadapi Tes Kemampuan Akademik (TKA) maupun Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK).

Menurut materi yang disampaikan Zaenal, soal-soal dalam kedua bentuk tes tersebut banyak menuntut kemampuan memahami dan mengolah informasi yang disajikan dengan ungkapan berbeda. Peserta didik tidak cukup hanya mengingat materi. Mereka juga harus mampu menangkap maksud suatu pernyataan, mengenali hubungan antargagasan, serta memahami informasi yang disampaikan melalui parafrasa.

Parafrasa merupakan penyampaian kembali suatu gagasan menggunakan susunan kata atau bentuk kalimat yang berbeda tanpa mengubah makna pokoknya. Kemampuan ini berkaitan erat dengan keluasan kosakata dan pemahaman bacaan. Anak yang terbiasa membaca akan lebih sering berhadapan dengan variasi ungkapan, struktur kalimat, dan cara penulis menyampaikan gagasan.

Sebaliknya, peserta didik yang jarang membaca dapat mengalami kesulitan ketika informasi yang sebenarnya sudah mereka kenal disajikan dalam bentuk kalimat yang berbeda dari yang biasa mereka temui.

Materi tersebut juga menyinggung pengalaman Al-Kautsar dalam pembelajaran Bahasa Indonesia. Dalam pemaparan Zaenal, peserta didik SMP dan SMA Al-Kautsar disebut berhasil menempati posisi sepuluh besar dalam TKA Bahasa Indonesia di Bandung tanpa mengikuti kursus tambahan. Mereka juga hanya berlatih mengerjakan soal TKA menjelang pelaksanaan tes.

Pengalaman itu disampaikan sebagai gambaran bahwa kesiapan akademik tidak selalu harus dibangun melalui latihan soal secara intensif menjelang ujian. Fondasi yang dikembangkan jauh sebelumnya melalui kebiasaan membaca dan menulis dapat membantu peserta didik menghadapi beragam bentuk pertanyaan.

Dua Jam Pelajaran, Dua Kebiasaan yang Dibangun

Salah satu praktik pembelajaran di Al-Kautsar yang menarik perhatian adalah pembagian pembelajaran Bahasa Indonesia menjadi dua jam pelajaran dengan fokus berbeda. Jam pertama diarahkan untuk membaca, sedangkan jam kedua digunakan untuk belajar menulis.

Pola ini memperlihatkan bahwa membaca dan menulis tidak ditempatkan sebagai keterampilan yang berdiri sendiri. Keduanya saling menguatkan. Membaca memberikan bahan bagi pikiran, memperkaya kosakata, dan memperkenalkan beragam cara menyusun gagasan. Menulis menjadi ruang bagi peserta didik untuk mengolah apa yang telah mereka baca, menyampaikan pemikiran, serta mengembangkan kemampuan berbahasa.

Praktik tersebut juga menunjukkan pentingnya menyediakan waktu khusus bagi kegiatan membaca. Jika membaca hanya dilakukan ketika ada sisa waktu setelah guru menjelaskan materi, kebiasaan itu akan sulit tumbuh secara konsisten. Sebaliknya, ketika membaca menjadi bagian dari struktur pembelajaran, peserta didik memperoleh kesempatan untuk berlatih secara teratur.

Hal menarik lainnya terletak pada pilihan bahan bacaan. Dalam pemaparan Zaenal, peserta didik Al-Kautsar diarahkan membaca buku-buku mitologi, khususnya kisah dari tradisi India seperti Mahabharata dan Ramayana.

Pilihan ini memperlihatkan bahwa bahan bacaan dapat digunakan untuk memperluas wawasan peserta didik. Melalui karya-karya yang memuat kisah, tokoh, konflik, dan pandangan hidup, anak dapat berjumpa dengan beragam pengalaman manusia serta mengenali cara suatu kebudayaan memahami dunia.

Bacaan semacam itu juga dapat menjadi bahan diskusi yang kaya. Peserta didik bukan hanya diminta mengingat jalan cerita, tetapi dapat diajak menelaah karakter tokoh, hubungan sebab-akibat, nilai yang diperdebatkan, dan gagasan yang terkandung di dalamnya.

Dengan demikian, membaca tidak berhenti pada kemampuan mengeja kalimat atau menemukan jawaban atas pertanyaan di akhir bab. Membaca menjadi pintu masuk untuk memahami persoalan dan mengembangkan pemikiran.

Menulis Dahulu, Tata Bahasa Kemudian

Bagian lain yang menjadi perhatian adalah pendekatan pembelajaran menulis. Dalam pengalaman Al-Kautsar yang dipaparkan Zaenal, guru Bahasa Indonesia di tingkat SMP tidak langsung menjadikan teori tata bahasa sebagai titik awal pembelajaran menulis.

Peserta didik terlebih dahulu diberi kesempatan untuk menulis. Guru kemudian membantu memperbaiki aspek-aspek tertentu, seperti tanda baca dan frasa. Pembahasan teori tata bahasa diberikan pada tahap berikutnya, terutama ketika peserta didik telah memiliki pengalaman menulis yang dapat dijadikan bahan pembelajaran.

Pendekatan ini berangkat dari gagasan bahwa kemampuan menulis membutuhkan latihan. Anak perlu memiliki kesempatan untuk menuangkan pikiran sebelum berhadapan dengan terlalu banyak aturan yang berpotensi membuat mereka enggan untuk memulai.

Jika sejak awal peserta didik hanya berhadapan dengan definisi, kategori, dan ketentuan tata bahasa, pembelajaran menulis dapat terasa seperti pekerjaan menghindari kesalahan. Padahal, menulis juga merupakan proses menemukan gagasan, mencoba menyampaikan pemikiran, dan memperbaiki cara berkomunikasi.

Bukan berarti tata bahasa tidak penting. Ketepatan struktur kalimat, penggunaan tanda baca, dan pemilihan kata tetap diperlukan agar tulisan dapat dipahami dengan baik. Yang menjadi perhatian adalah urutan pembelajarannya: memberi ruang bagi pengalaman menulis terlebih dahulu, kemudian menggunakan pengalaman itu untuk menjelaskan teori secara lebih bermakna.

Ketika peserta didik sudah memiliki tulisan, guru dapat menunjukkan mengapa sebuah kalimat perlu diperbaiki, bagaimana pilihan kata memengaruhi makna, atau mengapa susunan kalimat tertentu lebih efektif daripada susunan lainnya. Teori pun hadir untuk membantu mereka memahami dan memperbaiki praktik.

Guru Membaca, Murid Tergerak

Budaya membaca tidak dapat dibangun hanya melalui instruksi. Guru memiliki peran penting sebagai pendamping sekaligus teladan. Karena itu, salah satu poin yang ditekankan dalam materi Zaenal adalah pentingnya memilih guru Bahasa Indonesia yang memiliki minat kuat terhadap membaca dan menulis.

Dalam pemaparannya, ia bahkan menyampaikan harapan agar guru yang mengajar telah memiliki pengalaman menerbitkan setidaknya satu buku. Gagasan di balik penekanan tersebut sederhana: guru yang mengalami sendiri proses membaca dan menulis akan lebih mudah membimbing peserta didik, bukan hanya menjelaskan teori tentang keduanya.

Guru yang gemar membaca memiliki bahan untuk dibagikan, dapat merekomendasikan bacaan berdasarkan pengalaman, dan lebih leluasa mengajak peserta didik berdiskusi mengenai isi buku. Sementara itu, pengalaman menulis membantu guru memahami bahwa menghasilkan tulisan membutuhkan proses, kesabaran, penyuntingan, dan keberanian untuk menyampaikan gagasan.

Dalam materi tersebut, Zaenal menggunakan perumpamaan yang menegaskan pentingnya keselarasan antara apa yang diajarkan dan apa yang dikerjakan guru.

“Jangan sampai pengajar binaraga tapi badanya krempeng,” ujarnya.

Perumpamaan itu mengingatkan bahwa pendidikan tidak cukup hanya mengandalkan instruksi. Keteladanan memberikan kekuatan pada pesan yang disampaikan. Ketika guru mengajak peserta didik membaca, tetapi dirinya sendiri tidak pernah terlihat membaca, ajakan itu akan kehilangan pengaruhnya.

Sebaliknya, ketika guru terbiasa membawa buku, berbagi bacaan, dan memperlihatkan kegembiraan saat menemukan pengetahuan baru, peserta didik memperoleh contoh nyata bahwa membaca merupakan kegiatan yang menarik dan menyenangkan. Dalam praktik yang dipaparkan Zaenal, guru-guru juga menyampaikan pesan yang sama kepada peserta didik: “Membaca Buku itu Keren.”

Bacaan Tidak Perlu Dikecilkan

Salah satu prinsip menarik dari pengalaman Al-Kautsar adalah memberi ruang kepada peserta didik untuk membaca beragam jenis buku, termasuk bacaan dengan tema yang dianggap berat.

Dalam pemaparan Zaenal, peserta didik tidak dibatasi hanya pada buku-buku yang secara langsung berkaitan dengan pelajaran sekolah. Mereka bahkan didorong menjelajahi bacaan yang lebih menantang agar pengetahuan dan wawasan mereka terus berkembang.

Pendekatan ini mengandung kepercayaan terhadap kemampuan anak untuk bertumbuh. Peserta didik memang membutuhkan pendampingan, tetapi bukan berarti bahan bacaan mereka harus selalu disederhanakan hingga kehilangan tantangan intelektualnya.

Buku dengan tema berat dapat menjadi pintu masuk untuk mengenali persoalan yang lebih luas, selama peserta didik memperoleh kesempatan untuk bertanya, berdiskusi, dan mencari penjelasan ketika menghadapi bagian yang belum dipahami.

Dalam lingkungan seperti itu, diskusi filsafat antara peserta didik dan guru bukan sesuatu yang harus dianggap aneh. Pertanyaan mengenai makna hidup, keadilan, pengetahuan, atau cara manusia memahami dunia justru dapat menjadi kesempatan untuk melatih penalaran dan keberanian mengemukakan pendapat.

Dalam materi yang disampaikan Zaenal, salah satu target yang ditetapkan bagi peserta didik Al-Kautsar adalah menyelesaikan sedikitnya empat buku secara tuntas sebelum lulus. Target ini memberi gambaran bahwa keberhasilan membaca tidak semata-mata diukur dari banyaknya buku yang disentuh atau halaman yang dibuka, tetapi juga dari kemampuan menuntaskan bacaan dan memahami isinya.

Presentasi dan Diskusi sebagai Ukuran Pemahaman

Kebiasaan membaca juga membutuhkan ruang untuk mengolah hasilnya. Dalam praktik yang dipaparkan Zaenal, presentasi dan diskusi mengenai buku yang telah dibaca menjadi bagian dari indikator penilaian peserta didik.

Pendekatan ini memberikan kesempatan bagi guru untuk melihat lebih jauh daripada sekadar memastikan bahwa seorang anak telah menyelesaikan bacaan. Melalui presentasi, peserta didik belajar menjelaskan isi buku dengan bahasa sendiri, menyusun pokok-pokok pemikiran, dan menyampaikan pendapat secara terstruktur.

Diskusi membuka kesempatan bagi mereka untuk mendengarkan pandangan yang berbeda, menanggapi pertanyaan, serta memperbaiki pemahaman ketika menemukan informasi atau argumen yang sebelumnya terlewatkan.

Perguruan Tinggi Bukan Awal Belajar Menulis

Dalam pemaparan Zaenal, peserta didik Al-Kautsar dipersiapkan memasuki perguruan tinggi dengan standar akademik yang tinggi. Salah satu pertimbangannya adalah agar mereka tidak merasa asing ketika harus mengerjakan tugas-tugas perkuliahan, termasuk menulis paper atau makalah.

Tugas akademik di perguruan tinggi menuntut lebih dari kemampuan merangkai kalimat. Mahasiswa perlu membaca sumber, memahami permasalahan, menyusun argumen, menghubungkan berbagai gagasan, serta menyajikan hasil pemikirannya secara runtut. Semua itu membutuhkan latihan yang tidak dapat dibangun hanya dalam waktu singkat.

Jika peserta didik sudah terbiasa membaca buku sampai tuntas, mendiskusikan isinya, dan menulis berdasarkan pemikiran sendiri, mereka memiliki fondasi untuk menghadapi tuntutan tersebut.

Perspektif ini penting bagi pengembangan program pembinaan masuk perguruan tinggi di pesantren. Persiapan tidak cukup dimaknai sebagai latihan soal menjelang seleksi atau pengayaan materi dalam waktu terbatas. Persiapan juga perlu dimulai dari kebiasaan belajar yang dibangun sejak peserta didik berada di kelas-kelas awal.

TKA dan UTBK, dalam kerangka ini, bukan tujuan akhir pendidikan. Keduanya merupakan salah satu tahapan yang dapat dihadapi dengan lebih baik ketika peserta didik memiliki kemampuan membaca dan memahami informasi.

Memberi Ruang kepada Guru untuk Mengembangkan Pembelajaran

Pengembangan budaya literasi juga berkaitan dengan cara guru merancang pembelajaran. Dalam materi yang disampaikan Zaenal, Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) tetap diperlukan, tetapi jangan sampai urusan administratif mengambil terlalu banyak perhatian hingga mengurangi ruang guru untuk mengembangkan kegiatan belajar yang bermakna.

Guru tetap perlu memiliki perencanaan yang jelas. Namun, perencanaan seharusnya membantu proses pembelajaran, bukan berubah menjadi tujuan yang menyita energi. Guru membutuhkan ruang untuk menyesuaikan bahan ajar, mengeksplorasi materi, merespons pertanyaan peserta didik, dan mengembangkan kegiatan yang mendorong mereka membaca serta menulis.

Dalam konteks literasi, keleluasaan tersebut dapat membuka peluang bagi guru untuk menghadirkan bahan bacaan yang beragam, mengembangkan diskusi berbasis buku, memberi kesempatan menulis secara rutin, serta menghubungkan pelajaran dengan persoalan yang dekat dengan kehidupan peserta didik.

Menumbuhkan Budaya, Bukan Sekadar Menjalankan Program

Pertemuan daring bersama Zaenal Muttaqin memberikan bahan refleksi bagi pengembangan program literasi dan pembinaan masuk perguruan tinggi di Pondok Pesantren Daar el-Qolam 3 Kampus Dza ‘Izza. Berbagai praktik yang dipaparkan memperlihatkan bahwa kemampuan akademik tidak hanya dibentuk oleh penguasaan materi pelajaran, tetapi juga oleh kebiasaan membaca, pengalaman menulis, kesempatan berdiskusi, dan keteladanan guru.

Membangun budaya literasi tentu membutuhkan proses. Peserta didik memiliki minat, kebiasaan, dan kemampuan yang beragam. Karena itu, penerapan gagasan dari pengalaman sekolah lain perlu mempertimbangkan konteks pesantren, kesiapan guru, ketersediaan bahan bacaan, serta karakteristik santri. Yang dapat dipelajari bukan sekadar menyalin pola, melainkan memahami prinsip di baliknya dan menyesuaikannya dengan kebutuhan pendidikan di Dza ‘Izza.

Jika kebiasaan membaca tumbuh secara konsisten, manfaatnya akan melampaui keberhasilan menghadapi ujian masuk perguruan tinggi. Santri memiliki bekal untuk menjadi pembelajar mandiri yang tidak berhenti mencari pengetahuan setelah menyelesaikan pendidikan formal.

“Membaca Buku itu Keren” akan memiliki makna ketika santri melihatnya dalam keseharian: guru yang membaca, kelas yang memberi ruang bagi buku, diskusi yang menghargai pertanyaan, dan pembelajaran yang mendorong mereka berpikir melampaui hafalan. Semua itu dapat dimulai dari satu kebiasaan sederhana yang dijalankan dengan sungguh-sungguh: membaca buku.