
Pada Senin (29/12/2025), Pondok Pesantren Daar el-Qolam 3 Kampus Dza ‘Izza menyelenggarakan kegiatan Welcoming Speech sekaligus penobatan Juara Kelas dan Bintang Santri Semester 1 Tahun Ajaran 2025/2026. Kegiatan ini menjadi momentum awal dimulainya kembali proses pendidikan setelah para santri menjalani masa liburan.
Dalam kesempatan tersebut, Mudir al-Ma’had Pondok Pesantren Daar el-Qolam 3 Kampus Dza ‘Izza, K.H. Zahid Purna Wibawa, S.T., menyampaikan ucapan selamat datang kepada seluruh santri yang kembali ke pesantren. Beliau mengingatkan bahwa pesantren bukan sekadar tempat tinggal, melainkan rumah ibadah, ruang belajar, serta ladang pembentukan akhlak dan penempaan diri dalam menuntut ilmu yang penuh keberkahan.
“Alhamdulillah, di pondok ini pendidikan bukan hanya belajar di kelas, tapi juga dalam aspek kehidupan dua puluh empat jam,” ujar Kiai Zahid.
Beliau kemudian memberikan motivasi kepada para santri agar senantiasa bersemangat menjalani proses pendidikan. Menurutnya, ilmu memerlukan kesabaran dan ketekunan sebagaimana hukum alam yang berjalan konsisten.
“Sebagaimana matahari yang konsisten, ilmu juga butuh waktu, butuh kesabaran, dan butuh istiqamah. Dia perlu proses. Tidak ada orang yang langsung berhasil, dia butuh perjuangan, dan bahkan kegagalan,” ungkap beliau.

Lebih lanjut, Kiai Zahid menegaskan bahwa penghargaan yang diberikan pada hari itu bukanlah tujuan akhir, melainkan bagian dari pendidikan tentang makna proses.
“Hari ini kita bukan sekadar memberi penghargaan, kita sedang mengajarkan tentang makna proses. Tidak ada hasil yang menghianati proses, tidak ada proses yang menghianati hasil,” terang Kiai Zahid.
Beliau juga menekankan bahwa prestasi akademik tidak boleh melahirkan rasa unggul atas yang lainnya. “Juara kelas, bintang santri, bukanlah tujuan akhir, ia hanyalah tanda bahwa proses tumbuh dengan benar. Santri yang mendapat bintang hari ini, peringkat terbaik lima besar hari ini, bukan berarti lebih mulia dibanding yang lain. Dia hanya lebih tekun, lebih teratur, lebih bertanggung jawab dalam menjalani proses pendidikan di pondok ini, untuk semester ini,” jelas Kiai Zahid.
Dalam arahannya, Kiai Zahid kembali mengingatkan makna ilmu sebagai cahaya, sebagaimana masyhur dalam kisah Imam Waki’ yang menasihati Imam Syafi’i, yang kerap dikutip dalam berbagai kitab:
شَكَوْتُ إِلَى وَكِيعٍ سُوْءَ حِفْظِي
فَأَرْشَدَنِي إِلَى تَرْكِ الْمَعَاصِي
وَأَخْبَرَنِي بِأَنَّ الْعِلْمَ نُورٌ
وَنُورُ اللَّهِ لَا يُهْدَى لِعَاصِي
“Aku mengeluh kepada Syekh Waki‘ tentang buruknya hafalanku, maka dia menunjukiku untuk meninggalkan maksiat. Dan dia memberitahuku bahwa ilmu adalah cahaya, sedangkan cahaya Allah tidak akan diberikan kepada orang yang bermaksiat.”
Kiai Zahid menegaskan kembali hakikat pendidikan di pesantren. “Pendidikan bukan tentang siapa yang paling cepat mencapai garis finish. Pendidikan adalah tentang siapa yang paling sabar menikmati prosesnya, paling kuat menjaga adabnya, paling istiqamah merawat akhlaknya,” terang Kiai Zahid.
Menurut beliau, proses pendidikan di pesantren serupa dengan hukum alam: panjang, bertahap, namun pasti. Seperti menanam pohon yang dirawat setiap hari hingga kelak berbuah.
“Semua santri harus sadar betul, bahwa di pondok ini setiap harinya adalah pendidikan, setiap kegiatan adalah madrasah, setiap nasihat adalah ilmu pengetahuan, dan setiap teguran adalah kasih sayang,” terang beliau.
Karena itu, Kiai Zahid mengingatkan agar para santri tidak menyia-nyiakan waktu dengan kelalaian, sebab masa pendidikan merupakan usia emas yang tidak akan terulang kembali.

Beliau juga mengingatkan besarnya kepercayaan orang tua yang menitipkan anak-anak mereka kepada pesantren. Kepercayaan tersebut, menurutnya, harus dijaga dengan kesungguhan dalam belajar, ketertiban dalam bersikap, serta kesadaran untuk menjaga amanah. Semua itu menjadi peta arah kehidupan santri selama menempuh pendidikan di pesantren.
Kiai Zahid mendorong para santri untuk terus meningkatkan capaian di semester berikutnya dan tidak berhenti pada prestasi yang telah diraih.
Sebagaimana bintang di langit yang akan pudar, demikian pula bintang penghargaan dan piagam yang kelak akan rusak dimakan waktu. “Tapi akhlak yang baik, adab yang benar, hati yang jujur, itu yang akan kekal,” ujar beliau.
Menutup arahannya, Kiai Zahid menyampaikan harapan dan doa bagi seluruh santri. “semoga hari ini menjadi awal yang baik bagi kalian semua, dalam proses pendidikan di pesantren. Jalanilah dengan sabar, dengang ikhlas, dengan niat yang tulus. Teruslah tumbuh, teruslah belajar, teruslah menuntut ilmu,” ujar Kiai Zahid.
Selanjutnya, beliau memimpin doa untuk kebaikan dan keberkahan bagi seluruh santri, guru, serta seluruh warga Pondok Pesantren Daar el-Qolam 3 Kampus Dza ‘Izza.