Majelis Ilmu Daar el-Qolam 3: Dari Kajian Turats hingga Walīmatul ‘Ilmi

Pondok Pesantren Daar el-Qolam 3 Kampus Dza ‘Izza menghidupkan semangat keilmuan melalui berbagai program kajian kitab turats. Salah satu kegiatannya adalah tradisi Walīmatul ‘Ilmi, yakni bentuk rasa syukur atas khatamnya pengajian sebuah kitab. Tradisi tersebut tidak hanya menjadi penanda selesainya kajian, tetapi juga perayaan sederhana atas perjuangan dan pencapaian para santri dalam memahami ilmu para ulama terdahulu.

Ustazah Ade Yulia Safitri, Lc., selaku Kasubag DKM Putri, menjelaskan bahwa kegiatan kajian kitab di DKM merupakan salah satu program utama yang menjadi ruh bagi pembinaan keilmuan santri.

“Kegiatan DKM putra dan putri yang menjadi program utama salah satu di antaranya adalah mengkhatamkan kitab-kitab turats yang tidak termasuk ke dalam kitab-kitab yang dikaji di kelas formal dan dikaji sampai khatam sebagai bentuk penghormatan terhadap ilmu dan warisan para ulama,” tuturnyav pada Sabtu (1/11/2025).

Ustazah Ade menambahkan bahwa waktu khusus memang diperlukan agar pemahaman santri terhadap ilmu menjadi utuh.

“Perlu adanya waktu khusus untuk mengkaji dan mengkhatamkan kitab secara menyeluruh, agar pemahaman santri terhadap ilmu menjadi utuh dan tidak terpotong-potong. Yang membedakan antara putra dan putri hanya pada pemilihan kitab utama yang disesuaikan dengan kebutuhan, seperti halnya kitab fikih darah wanita,” jelasnya.

Program kajian wajib bagi santri putri diselenggarakan dua kali dalam sepekan dengan kitab dan tingkat yang berbeda. Pada hari Ahad sore, dilaksanakan kajian Kitab Al-Ibānah wal-Ifādah fī Aḥkām al-Ḥaid wa an-Nifās wa al-Istihādhah yang diasuh oleh Ustazah Ina Purwati, Lc., M.Hum. Kajian ini dikhususkan bagi santriwati kelas menengah hingga atas dan berfokus pada hukum-hukum fikih wanita. Pada waktu yang sama secara bergilir, santriwati tingkat SMP hingga kelas 1 extension juga mengkaji Kitab Maraqi al-‘Ubudiyyah karya Imam An-Nawawi—syarh Bidayatu al-Hidayah karya Imam Al-Ghazali—yang membahas adab dan panduan hidup seorang hamba dari pagi hingga malam. Kajian ini dibimbing oleh Ustazah Sri Ajeng Hardiyani.

Selain dua kitab tersebut, setiap Selasa sore santriwati juga mengikuti kajian At-Tibyān fī Ādābi Ḥamalatil Qur’ān karya Imam An-Nawawi bersama Ustazah Astri Kurniati, Lc. Kitab ini secara khusus mengajarkan adab dalam bermuamalah dengan Al-Qur’an. Sedangkan setiap Jumat pagi, setelah salat Subuh, santriwati mengikuti kultum bergilir yang membahas Kitab Minhājul Muta‘allim karya Imam An-Nawawi, berisi pedoman adab dalam menuntut ilmu.

Ustazah Ade menjelaskan bahwa semua kegiatan tersebut berakar pada prinsip keilmuan Islam. Ia mengutip kaidah fikih,

مَا لَا يَتِمُّ الْوَاجِبُ إِلَّا بِهِ فَهُوَ وَاجِبٌ
“Sesuatu yang tidak sempurna pelaksanaan kewajiban kecuali dengannya, maka hal itu menjadi wajib pula.”

“Dari kaidah ini kita memahami bahwa menunaikan ibadah wajib tidak akan sempurna tanpa ilmu yang menjelaskan cara dan syarat-syaratnya. Karena itu, mempelajari ilmu yang berkaitan dengan kesempurnaan ibadah termasuk hal yang wajib pula,” ujarnya.

Ustazah Ade mencontohkan, salah satu ilmu penting bagi muslimah adalah fiqh thaharah, khususnya hukum-hukum haid, nifas, dan istihadhah. “Shalat, puasa, dan ibadah lainnya tidak akan sah tanpa mengetahui hukum-hukum ini. Ini menjadi landasan kenapa kami memilih mengkaji kitab Al-Ibānah wal-Ifādah sebagai salah satu program utama di lingkup santriwati,” tambahnya.

Dalam pandangan Ustazah Ade, Walīmatul ‘Ilmi memiliki makna spiritual yang dalam. “Walīmatul ‘Ilmi merupakan bentuk syukur atas selesainya kajian sebuah kitab. Kegiatan ini tidak hanya menjadi penanda bahwa santri telah menamatkan pembahasan kitab, tetapi juga momentum untuk menumbuhkan semangat baru dalam menuntut ilmu. Tradisi ini meneladani kebiasaan para ulama terdahulu yang selalu menghidupkan majelis ilmu dengan adab, doa, dan keberkahan sanad keilmuan,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa dalam acara tersebut biasanya disertai doa bersama, nasihat dari para asatidz, dan ungkapan rasa syukur atas nikmat ilmu. “Ini bukan sekadar perayaan, tetapi pengingat agar ilmu tidak berhenti di hafalan, melainkan diamalkan dan disebarkan,” ujarnya.

Menutup penjelasannya, Ustazah Ade menyampaikan harapan agar para santri mampu menjaga keberlangsungan tradisi keilmuan Islam. “Setelah mengkhatamkan kitab Al-Ibānah wal-Ifādah, para santri diharapkan memiliki bekal ilmu yang memadai agar dapat memahami proses alamiah yang mereka hadapi setiap bulannya. Mereka juga diharapkan mampu mengamalkannya dalam keluarga maupun masyarakat. Semoga istiqamah dalam mengkhatamkan kitab-kitab lainnya sehingga para santri memahami agamanya secara kaffah, mencintai kitab-kitab turats, serta menjaga tradisi keilmuan Islam,” tutupnya.

Ustazah Ade menegaskan bahwa dari majelis ilmu seperti inilah diharapkan lahir generasi Ahlul Qur’an yang berjiwa ‘izzah dan berperan aktif menebarkan cahaya ilmu di tengah masyarakat.