Walīmatul ‘Ilmi Tandai Khatam Kitab Al-Ibānah wal-Ifādah

Dalam suasana penuh syukur, santriwati Pondok Pesantren Daar el-Qolam 3 Kampus Dza ‘Izza melaksanakan Walīmatul ‘Ilmi sebagai penanda khatamnya kitab Al-Ibānah wal-Ifādah fī Aḥkām al-Ḥaid wa an-Nifās wa al-Istihādhah ‛ala Mazhab al-Imām al-Syāfi’ī. Kegiatan ini berlangsung dengan khidmat dan penuh makna.

Kitab Al-Ibānah wal-Ifādah fī Aḥkām al-Ḥaid wa an-Nifās wa al-Istihādhah ‛ala Mazhab al-Imām al-Syāfi’ī merupakan karya ulama besar Sayyid Abdurrahman bin Abdullah bin Abdul Qodir as-Saqaf. Karya ini banyak dikaji di pesantren karena memuat penjelasan fikih yang mendalam mengenai hukum-hukum terkait darah perempuan.

Ustazah Ina Purwati, Lc., M.Hum., selaku guru pembimbing kajian kitab tersebut, menjelaskan bahwa kitab ini termasuk dalam kajian fiqh al-nisā’ atau fikih wanita.

“Kitab ini adalah salah satu kitab fiqh al-nisā’ atau fikih wanita yang mengkhususkan kajiannya seputar darah perempuan dan bagaimana hukum yang terkait dengan darah-darah tersebut. Di dalamnya dijelaskan secara lengkap bagaimana cara membedakan ketiga jenis darah yang keluar dari seorang perempuan, bagaimana cara menghitung rentang masa keluar darah tersebut, dilengkapi dengan tata cara bersuci dan melaksanakan ibadah yang terkait di dalamnya, apa saja yang boleh, apa saja yang tidak boleh dilakukan. Dilengkapi dengan contoh-contoh dan penjelasan yang cukup mendetail sehingga ini menjadi referensi yang cukup bagus untuk mengkaji fikih darah perempuan,” jelasnya.

Lebih jauh, Ustazah Ina menekankan pentingnya ilmu tersebut sebagai bekal dasar bagi setiap santriwati.

“Kita ingin membekali santriwati kita dengan ilmu dan pengetahuan yang memadai tentang siklus perempuan dan bagaimana mengatasi jika ada persoalan terkait dengan siklus-siklus tersebut. Jangan sampai anak-anak kita tidak tahu tentang sebuah ilmu terkait diri mereka sendiri yang seharusnya mereka tahu. Karena sangat riskan dari segi ilmu fikih kalau seorang perempuan tidak memahami siklus darah mereka sendiri yang bisa menyebabkan kesalahan fatal dalam melaksanakan ibadah amaliah mereka sehari-hari,” ujarnya.

Selain itu, Ustazah Ina berharap agar pemahaman para santriwati terhadap kajian ini mampu membentuk kepekaan dan ketelitian dalam menjalankan ibadah.

“Diharapkan dengan ilmu ini mereka betul-betul memahami keadaan diri mereka, sehingga tidak terjadi kebingungan ketika sesuatu yang tidak normal terjadi terhadap siklus, yang tentu saja siklus itu bisa berubah-ubah, ada yang tidak normal, ada yang terjadi kelainan, sehingga mereka tidak bingung menyikapinya. Menurut saya, ilmu ini sangat bermanfaat dan bisa dipakai seumur hidup,” tambahnya.

Tradisi khataman dan Walīmatul ‘Ilmi juga menjadi bagian penting dari budaya pesantren. Ustazah Ina menuturkan bahwa kegiatan ini tidak hanya menandai berakhirnya kajian kitab, tetapi juga menjadi tanda penghormatan terhadap ilmu dan ulama.

“Khataman kitab dan Walīmatul ‘Ilmi itu adalah sebuah tradisi pesantren yang menurut saya sangat bagus untuk diterapkan sebagai sebuah bentuk penghormatan terhadap ilmu dan ulama pengarang kitab dan sebagai sebuah bentuk perayaan sederhana terhadap pencapaian diselesaikannya pembacaan sebuah kitab, kemudian timbul kesan dan makna yang mendalam pada diri santri bahwa mereka telah berhasil menyelesaikan sebuah kitab sehingga tidak lewat begitu saja. Ada prosesi sederhana dengan khataman yang di dalamnya ada shalawat, ada doa tawasul, ada doa khataman, disertai dengan pesan-pesan setelah selesai mengkaji kitab itu apa yang harus mereka lakukan dan kemudian ditutup dengan makan sederhana bersama-sama sehingga ada kesan. Mereka senang sekali, bahwa itu pengalaman pertama mereka merasakan khataman kitab dan Walīmatul ‘Ilmi. Mereka baru tahu bahwa ternyata walimah itu bukan hanya walimah pernikahan tapi juga ada Walīmatul ‘Ilmi,” jelasnya.

Menutup penjelasannya, Ustazah Ina menyampaikan harapan agar ilmu yang telah dipelajari benar-benar membekas dalam kehidupan para santriwati.

“Harapannya anak-anak benar-benar mendapatkan manfaat dari teori-teori dan ilmu yang mereka baca dari kitab Al-Ibānah ini sehingga menjadi bekal mereka menjalankan ibadah amaliah dalam kehidupan mereka sehari-hari, karena amal ibadah tanpa ilmu itu sebagaimana kata Imam Syafi‘i:

كُلُّ مَنْ عَمِلَ بِغَيْرِ عِلْمٍ فَعَمَلُهُ مَرْدُودٌ غَيْرُ مَقْبُولٍ

“Barang siapa beramal ibadah tanpa ilmu maka amal ibadahnya bisa saja ditolak karena tidak sesuai dengan pengetahuan dan tata cara yang benar,” kata Ustazah Ina.

Kem7dian ia menambahkan bahwa ilmu ibarat kompas yang menuntun manusia agar tidak tersesat.

“Seperti kita tahu ilmu itu bagaikan kompas atau peta yang akan menuntun seseorang supaya tidak salah arah atau bahkan tersesat. Jadi harapannya, santriwati kita ini memang akan menjadi penerang dalam masyarakat. Ketika kembali kepada masyarakat nanti mereka bisa menularkan ilmu pengetahuan dan menjadi penerang terhadap masyarakat awam yang tentunya masih awam terhadap ilmu-ilmu, terutama ilmu fikih ibadah amaliah sehari-hari. Semoga santri-santri memang berkualitas dan menjadi lentera atau cahaya bagi masyarakat di sekitarnya,” pungkasnya.