
Tes Kemampuan Akademik (TKA) merupakan ujian yang mengukur kemampuan berpikir logis, analitis, serta penguasaan dasar-dasar pengetahuan yang dibutuhkan untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan tinggi. Ujian ini menjadi salah satu tahapan penting bagi para santri kelas akhir Pondok Pesantren Daar el-Qolam 3 Kampus Dza ‘Izza sebelum melangkah ke dunia perkuliahan.
Dalam rangka persiapan menghadapi TKA, Mudir al-Ma’had Pondok Pesantren Daar el-Qolam 3 Kampus Dza ‘Izza, K.H. Zahid Purna Wibawa, S.T, memberikan pengarahan dan orientasi kampus luar negeri kepada para santri kelas akhir di Ballroom Asy-Syahid pada Ahad (2/11/2025). Acara ini turut dihadiri oleh Ustaz H. Muhidin, M.Pd. (Wakil Mudir Bidang Pranata), Ustaz H. Indra Jaya, M.A. (Wakil Mudir Bidang Pengajaran), Ustaz Suganda, S.Pd.I. (Kabag Pengajaran), Ustaz Eka Sugandi, S.Pd. (Kepala SMA), dan perwakilan Tim University Center.
Dalam kesempatan tersebut, Kiai Zahid menegaskan pentingnya menjaga keikhlasan dan tujuan dalam menuntut ilmu. “Banyak orang gagal ketika hampir mencapai garis finish dikarenakan teralihkan dari tujuan utama, mendahulukan hawa nafsu daripada keimanan,” ujarnya. Sebab di atas ilmu ada adab, dan adab berakar pada iman. Keduanya pun, ilmu dan adab, harus berasaskan iman.
Beliau lalu mengutip firman Allah Swt. dalam surah Al-Mujādilah [58]:11:
يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ
“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.”
“Kuncinya adalah iman,” tegas Kiai Zahid. Dengan iman itulah seseorang mencapai tujuannya dengan ḥusnul khātimah.
Beliau menganalogikan perjuangan menuntut ilmu seperti lari maraton—dibutuhkan kesiapan, ketekunan, dan fokus hingga mencapai garis akhir. Jangan sampai gagal mencapai garis finish. Beliau pun mengingatkan para santri agar mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya. Tujuan utama bukan sebatas nilai di atas kertas, tapi integritas berdasarkan nilai-nilai Dza ‘Izza.
Kiai Zahid menegaskan bahwa kuliah di mana pun sama; yang membedakan adalah nilai yang tertanam dalam diri sendiri. Niat yang benar, rajin, sungguh-sungguh, disertai rida orang tua dan guru—itulah kunci keberhasilan. Menurut beliau, kemuliaan seseorang tidak ditentukan tempatnya, tapi oleh dirinya sendiri.
““Ujian adalah bagian dari proses dan itu adalah perjalanan dalam belajar, proses menjadi abdi ilmu,” ujar Kiai Zahid. Beliau menambahkan pentingnya menghormati guru dan orang tua. Orang tua kandung adalah fin-nasab, sedangkan guru adalah orang tua fil-‘ilmi. Keduanya adalah pintu keberkahan.
Beliau juga mengingatkan:
“Nilai di atas kertas hanyalah sebuah angka, tapi tidak akan pernah mampu menulis seluruh perjuangan kalian. Nilai perjuangan kalian lebih tinggi daripada itu. Nilai perjuanganmu, nilai ketaatanmu, nilai akhlakmu, kepribadianmu, keseharianmu—itu yang paling dinilai.”
“Begitulah pondok pesantren, yang dinilai kehidupan dua puluh empat jam, bukan sebatas nilai ujian,” ungkap Kiai Zahid.
Menurut beliau, ukuran sejati dari ilmu terletak pada manfaatnya. “Nilai sejati dari belajar adalah seberapa besar ilmu itu memperbaiki dirimu dan memberi manfaat bagi orang lain. Itulah orang yang berilmu,” jelas Kiai Zahid.
“Kalau ilmumu belum memperbaiki dirimu, maka jangan berharap buahnya bisa bermanfaat bagi orang lain,” tambahnya.
Kiai Zahid menegaskan bahwa ilmu tidak diukur dari status akademik, melainkan dari amal dan akhlak. beliau mengutip ungkapan klasik:
الْعِلْمُ بِلَا عَمَلٍ كَالشَّجَرِ بِلَا ثَمَرٍ
“Ilmu tanpa diamalkan bagaikan pohon yang tidak berbuah.”
Karena itu, beliau menasihati agar setelah ujian para santri tidak terpaku pada angka nilai, tetapi melihat apakah ilmu itu memberi manfaat. ““itulah nilai ilmu yang sebenarnya di sisi Allah Swt,” ungkap beliau.
“Ilmu itu tinggi nilainya karena tinggi manfaatnya,” tegas beliau.
Kiai Zahid juga mengutip perkataan ‘Abdullah bin al-Mubārak: “Seringkali ilmu yang banyak menjadi tidak bermanfaat karena kurangnya adab.“
Menutup arahannya, Kiai Zahid memaparkan sejumlah kampus luar negeri yang menjalin kerja sama dengan Daar el-Qolam 3. Beliau pun berpesan agar para santri mempersiapkan diri dengan sungguh-sungguh.