Khutbatul Wada dan Pelepasan Santri Kelas Akhir Tahun Ajaran 2025-2026, Kiai Zahid Sampaikan Lima Pesan Kehidupan
Large group of graduates and staff in navy robes posing on a decorated stage with flowers and a lit graduation banner.

Pada Sabtu, 7 Maret 2026 yang bertepatan dengan 17 Ramadan 1447 H, Pondok Pesantren Daar el-Qolam 3 Kampus Dza ‘Izza menyelenggarakan Khutbatul Wada dan Pelepasan Santri Kelas Akhir Tahun Ajaran 2025–2026. Kegiatan tersebut berlangsung di Gedung Aula Tasabuq dengan suasana khidmat.

Acara ini dihadiri oleh Mudir al-Ma’had K.H. Zahid Purna Wibawa, S.T., Umi Hj. Ade Zamzami, serta Ibu Nyai Hj. Lilis Hafidzoh, S.K.M. Turut hadir pula Pengasuh Pondok K.H. Nahrul Ilmi Arief, S.Ag., Ibunda Dra. Hj. Enah Huwaenah, serta Keluarga Besar Daar el-Qolam dan La Tansa, di antaranya Drs. K.H. M. Mahdi, Kiai A. Reza Zaky Aulia, S.Pd.I., Kiai A. Harismawan Muhtarif, M.Pd., Ibu Nyai Hj. Lelah Jumislah, S.Pd.I., Ibu Nyai Hj. Mekka Mukarramah, S.H.I.

Hadir Majelis Khidmah Drs. H. Taftazani, Drs. M. Wahyuni Nafis, M.A., Prof. Dr. Ismatu Ropi, M.A., Ph.D., H. Ferdinal Lafendry, M.M., M.A., Dr. Aan Rukmana, M.A., M.M., dan Dr. Abdul Latief. Para dewan guru, santri kelas akhir yang mengikuti wisuda, serta para wali santri turut memenuhi aula dalam rangka menyaksikan prosesi penting tersebut.

Dalam kesempatan itu, Mudir al-Ma’had K.H. Zahid Purna Wibawa, S.T. menyampaikan Khutbatul Wada sebagai pesan perpisahan sekaligus bekal kehidupan bagi para santri yang akan meninggalkan masa pendidikan di pesantren. Beliau mengawali dengan mengingatkan bahwa peristiwa kelulusan bukan sekadar seremoni, tetapi menjadi sebuah refleksi perjalanan hidup.

“Peristiwa hari ini hendaknya dijadikan sebuah bahan muhasabah dan pembelajaran serta momentum untuk memotivasi perjuangan dan perjalanan hidupmu ke depan,” ujar beliau.

Kiai Zahid menjelaskan bahwa selama menjalani pendidikan di pesantren, para santri telah mengalami proses pembinaan yang panjang. Melalui pengalaman tersebut, para santri mulai memahami bahwa ketaatan kepada orang tua, guru, dan Allah Swt. merupakan jalan menuju kebahagiaan dan keberhasilan. Menurut beliau, berbagai aturan dan kebiasaan disiplin yang dahulu terasa berat sesungguhnya merupakan bagian dari pembentukan karakter.

“Ternyata kini kalian menjadi orang yang tangguh dan akhirnya menghadirkan kenikmatan yang sesungguhnya,” ucap beliau.

Line of graduates in mortarboard caps and gowns wearing floral garlands and stoles, standing solemnly in a decorated hall.

Kiai Zahid juga menegaskan bahwa masa pendidikan selama tiga hingga enam tahun di pesantren bukanlah waktu yang singkat. Periode tersebut merupakan fase penting dalam pembentukan kepribadian dan arah kehidupan para santri.

“Ritme kehidupan yang teratur dan penuh tanggung jawab itulah yang menempat karakter dan menguatkan mental serta menyiapkan kalian menghadapi kehidupan setelah meninggalkan pondok pesantren ini,” ungkap beliau.

Kiai Zahid menekankan bahwa nilai sebuah ijazah tidak semata-mata terletak pada dokumen pendidikan, melainkan pada kebermanfaatan yang dapat diberikan kepada masyarakat.

“Harga diri seseorang ditentukan oleh manfaatnya, bukan oleh dokumennya. Harga diri seseorang ditentukan oleh kebermanfaatan dirinya, bukan oleh dokumen pendidikan. karena itu mengabdilah, hadirkan manfaat di tengah umat. Mengabdilah di manapun kalian berada, di tengah masyarakat. jadikan keberadaan kalian bermanfaat, bukan sekedar ada,” ungkap beliau.

Lima Pesan Kehidupan bagi Santri
Dalam khutbatul wada tersebut, Kiai Zahid menyampaikan lima pesan utama yang berfokus pada kesadaran jati diri manusia, yang ia sebut sebagai pertanyaan mendasar: who am I atau man ana.

Meneguhkan Jati Diri sebagai Muslim

Pesan pertama adalah penegasan identitas seorang muslim dalam kehidupan, apa pun bidang yang dijalaninya di masa depan.

“Yang pertama dan paling utama adalah dimanapun kalian berada, sebagai apapun kalian, satu hal yang tidak boleh kalian lupa, fakullishhadu bi anna muslimin, saksikanlah bahwa kami seorang muslim,” ucap beliau.

Pesan tersebut berdasarkan firman Allah Swt. dalam Surah Ali Imran ayat 64:


فَقُولُوا اشْهَدُوا بِأَنَّا مُسْلِمُونَ

maka katakanlah (kepada mereka), ‘Saksikanlah bahwa kami adalah orang-orang muslim.'”

Kiai Zahid menegaskan bahwa seorang muslim tidak boleh meninggalkan kewajiban agama, terutama salat. Keberhasilan dalam ilmu pengetahuan, bisnis, ataupun status sosial tidak memiliki arti jika seseorang meninggalkan kewajiban tersebut.

Beliau juga mengingatkan sabda Rasulullah saw.:

إِنَّ بَيْنَ الرَّجُلِ وَبَيْنَ الشِّرْكِ وَالْكُفْرِ تَرْكَ الصَّلَاةِ

“Sesungguhnya (pembatas) antara seorang muslim dan kesyirikan serta kekafiran adalah meninggalkan salat.” (HR. Muslim)

Kiai Zahid juga mengingatkan pentingnya menjaga hati dan akhlak. Ia menyinggung kondisi masyarakat yang sering kehilangan kepekaan moral karena hati yang tertutup. Hal ini sebagaimana disinghung dalam firman Allah Swt. Surah Al-A’raf ayat 179:

وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِّنَ الْجِنِّ وَالْإِنسِ ۖ لَهُمْ قُلُوبٌ لَّا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَّا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لَّا يَسْمَعُونَ بِهَا ۚ أُولَٰئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ

“Dan sungguh, akan Kami isi neraka Jahanam banyak dari kalangan jin dan manusia. Mereka memiliki hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah), dan mereka memiliki mata, tetapi tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga, tetapi tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lengah.”

“Masya allah. Karena itu, jagalah selalu kebersihan hati kalian agar kalian menjadi sumber kebaikan,” ucap beliau.

Berbakti kepada Orang Tua
Pesan kedua adalah pentingnya berbakti kepada orang tua yang telah berkorban dalam perjalanan pendidikan anak-anaknya.

“Mereka adalah penopang utama perjalanan ini. Tanpa doa, tanpa pengorbanan mereka,dan kerja keras mereka, kalian tidak akan berdiri di titik ini,” kata beliau.

Kiai Zahid juga mengingatkan firman Allah Swt. dalam Surah Luqman ayat 14:

وَوَصَّيْنَا الْإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَىٰ وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam usia dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada Aku kembalimu.“

Mengamalkan Ilmu
Pesan ketiga adalah kewajiban mengamalkan ilmu yang telah diperoleh selama belajar di pesantren.

“Ilmu menjadi mulia karena ia mengantarkan kepada takwa. Ilmu menjadi mulia ketika ilmu itu menghantarkan kita kepada takwa, bukan kepada kesombongan, bukan kepada harta tapi kepada takwa kepada Allah Swt. dan itulah yang mengangkat seseorang di sisi allah. Inilah ruh pendidikan dari Daar el-Qolam 3 Kampus Dza ‘Izza,” tegas beliau.

“Maka jagalah ilmu dengan amal, jagalah amal dengan niat, dan jagalah keduanya dengan adab,” sambungnya.

Menjaga Harapan Guru dan Orang Tua
Pesan keempat berkaitan dengan harapan para guru dan orang tua yang selalu mendoakan keberhasilan para santri. Doa tersebut tercermin dalam firman Allah Swt. dalam Surah Ali Imran ayat 38:

رَبِّ هَبْ لِي مِن لَّدُنكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً إِنَّكَ سَمِيعُ الدُّعَاءِ

“Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku dari sisi-Mu keturunan yang baik. Sungguh, Engkau Maha Mendengar doa.”

Kiai Zahid juga mengingatkan ayat dalam Surah An-Nisa ayat 9:

وَلْيَخْشَ الَّذِينَ لَوْ تَرَكُوا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَافًا خَافُوا عَلَيْهِمْ فَلْيَتَّقُوا اللَّهَ وَلْيَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا

“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah yang mereka khawatir terhadap kesejahteraannya. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka berbicara dengan tutur kata yang benar.”

Menurut beliau pula, para santri hidup di abad ke-21 yang penuh perubahan dan ketidakpastian. Dalam kondisi tersebut, iman dan lingkungan pergaulan akan menentukan arah kehidupan seseorang.

Menjadi Ahlul ‘Izzah
Pesan kelima adalah ajakan untuk menjadi pejuang kehidupan yang bermakna, dengan menjadi Ahlul ‘Izzah.

“Almamatermu telah menempamu untuk menjadi manusia yang mampu membedakan mana yang hak dan mana yang batil. Almamatermu telah mendidikmu menjadi generasi yang siap terbang tinggi mengangkasa dalam kehidupan yang lebih luas,” ujar Kiai Zahid.

Beliau juga mengingatkan bahwa para santri merupakan bagian dari Ahlul Qolam, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an Surah Al-Qalam ayat 1–2:

نۤ ۚ وَالْقَلَمِ وَمَا يَسْطُرُوْنَ

“Nun. Demi pena dan apa yang mereka tuliskan”.

Selain itu, mereka juga diingatkan sebagai bagian dari Ahlul ‘Izzah, sebagaimana ditegaskan dalam Surah Al-Munafiqun ayat 8:

وَلِلَّهِ الْعِزَّةُ وَلِرَسُولِهِ وَلِلْمُؤْمِنِينَ

“Padahal kemuliaan itu hanyalah bagi Allah, bagi Rasul-Nya, dan bagi orang-orang mukmin.”

Kiai Zahid mengajak para santri untuk menjaga lima kesadaran yang telah disampaikan agar terus tertanam dalam hati, pikiran, dan tindakan mereka. Beliau juga menitipkan pesan kepada para orang tua agar senantiasa mengingatkan anak-anak mereka terhadap nilai-nilai tersebut.

Beliau kemudian menyampaikan harapan agar para lulusan menjadi generasi saleh yang memberi manfaat bagi masyarakat dan umat. Acara Khutbatul Wada tersebut menjadi penutup perjalanan pendidikan para santri sekaligus awal langkah mereka memasuki fase kehidupan yang lebih luas di tengah masyarakat.