
Di tengah arus globalisasi pendidikan, jejaring antarlembaga menjadi kunci dalam membuka akses dan peluang yang lebih luas bagi peserta didik. Pesantren tidak lagi berdiri sebagai institusi yang terpisah dari dinamika dunia akademik internasional, melainkan aktif membangun kolaborasi strategis untuk menyiapkan masa depan santri. Langkah inilah yang terus diperkuat oleh Pondok Pesantren Daar el-Qolam 3 Kampus Dza ‘Izza.
Pondok Pesantren Daar el-Qolam 3 Kampus Dza ‘Izza telah menjalin kerja sama dengan berbagai lembaga pendidikan, baik di dalam maupun di luar negeri. Jejaring ini dibangun sebagai ikhtiar untuk memperluas akses studi lanjut, pertukaran keilmuan, hingga peluang pengembangan kapasitas santri.
“Tujuannya adalah memperluas medan juang santri. Apapun kerja samanya ini, baik dengan universitas ataupun dengan lembaga, targetnya adalah santri. Jadi, memudahkan santri untuk berkiprah di mana saja,” jelas Ustaz Iqbal Akbari, S.E., M.Mgt. saat diwawancara pada Sabtu (14/2/2026).
Menurutnya, dampak nyata dari kerja sama tersebut diarahkan langsung kepada santri sebagai penerima manfaat utama. “Manfaatnya itu itu akan langsung terasa dengan santri,” ujarnya.
Lebih lanjut, Ustaz Iqbal menegaskan bahwa langkah ini merupakan bagian dari peran pesantren dalam memikirkan keberlanjutan kiprah santri setelah menyelesaikan pendidikan. Pesantren tidak berhenti pada proses pembelajaran di dalam kelas, melainkan turut memfasilitasi arah langkah berikutnya.
“Dengan kerja sama itu kita memikirkan next-nya, memikirkan santri itu setelah dari pesantren mau ke mana. Nah, kita memudahkan itu semua,” ungkap Ustaz Iqbal.
Dari sisi kelembagaan, partnership yang terbangun juga menghadirkan nilai tambah strategis. Manfaat kerja sama secara institusional menjadi portofolio penting dalam memperkuat posisi pesantren di tingkat nasional maupun internasional.
“Bagi lembaga, kita mempunyai portofolio kerja sama yang sangat baik. Jadi kita sudah international recognize, dikenal secara internasional,” terang Ustaz Iqbal.
Ia kemudian memaparkan sejumlah bentuk kerja sama yang telah dijalankan, mulai dari beasiswa hingga program pertukaran tenaga pendidik. Skema ini dirancang untuk memberikan kemudahan akses bagi santri dalam menempuh pendidikan lanjutan.
“Kerja sama secara garis besar itu, scholarship, beasiswa untuk para santri, dan mempermudah para santri untuk masuk ke universitas-universitas di luar negeri yang memang sudah kerja sama. Jadi, ada kemudahan. Ibaratnya kita punya golden ticket,” paparnya.
“Seperti kemarin kerja sama dengan Kedutaan Turki, insyaallah itu menjadi jalan mulus bagi para santri yang mau melanjutkan kuliah di Turki,” ungkapnya.
Selain peluang beasiswa, terdapat pula program pertukaran guru sebagai bagian dari penguatan kualitas akademik.
“Ada juga teacher exchange, seperti melakukan pertukaran guru. Nanti guru akan dikirim ke kampus-kampus yang sudah kerja sama, nanti mereka akan menyerap ilmu di sana,” jelasnya.
Tidak hanya itu, kolaborasi juga mencakup pertukaran materi dan kurikulum untuk memperkaya perspektif pendidikan.
“Ada material exchange. Kita bisa mendapatkan kurikulum mereka, kurikulum mereka akan nge-link ke kampus-kampus yang sudah bekerja sama,” ungkapnya.
Ustaz Iqbal menambahkan bahwa kesinambungan kerja sama memerlukan komunikasi yang intens dan hubungan yang terjaga dengan baik. Upaya tersebut dilakukan agar manfaatnya dapat dirasakan dalam jangka panjang.
“Untuk menjaga agar kerja sama ini berdampak jangka panjang, tentunya komunikasi yang baik, silaturahmi dengan berbagai kampus. Itu ketika saya ke Turki banyak mendatangi kampus-kampus partner. Kami sebisa mungkin komunikasi tidak terputus,” jelas Ustaz Iqbal.
“Dengan adanya dampak jangka panjang diharapkan ada anak-anak kita yang masuk kampus-kampus itu,” imbuhnya.
Terkait preferensi studi lanjutan, Ustaz Iqbal mengungkapkan bahwa sebagian besar santri masih memilih perguruan tinggi dalam negeri dengan berbagai pertimbangan.
“Sejauh ini, kampus dalam negeri masih menjadi pilihan. Terutama karena faktor biaya. Ada juga karena faktor hubungan dan jarak yang jauh dari rumah,” katanya.
Menutup wawancara, Ustaz Iqbal menyampaikan harapannya dalam mendorong santri agar mampu berperan di panggung internasional.
“Dengan adanya kerja sama ini santri bisa go global. Seperti tagline kita, go global and be a global player. Kemudian, menjadi global citizen. Karena saya pernah menjadi mahasiswa di luar negeri, ternyata menjadi global citizen itu sangat berguna. Kalau waktu di pesantren teman kita dari Sabang sampai Merauke, kalau kuliah di luar negeri teman kita dari kutub utara sampai kutub selatan ada semua. Kita menjadi player di dunia global. Jadi pemain, bukan hanya jadi follower,” jelasnya.
“Kita memikirkan ke depannya santri mau seperti apa. Harapannya banyak santri yang menjadi pemain di dunia internasional. Memperluas medan juang santri, tidak hanya berkiprah di Indonesia, tapi juga di luar negeri. Kita mendapatkan banyak insight baru dari berbagai orang dari luar negeri. Santri harus bisa berkiprah di mana saja,” pungkasnya.
Melalui jejaring dan partnership yang terus diperluas, Pondok Pesantren Daar el-Qolam 3 Kampus Dza ‘Izza berupaya agar santri tidak hanya unggul dalam fondasi keilmuan dan nilai, tetapi juga siap bersaing dan berkontribusi, baik dalam lanskap nasional maupun internasional.
————————–
Mari bergabung di Pondok Pesantren Daar el-Qolam 3 Kampus Dza ‘Izza.
Berikut link pendaftarannya:
https://psb.daarelqolam3.sch.id/auth/login
