Mengeja Huruf dalam Kata Wanita
Young man in traditional cap studying Arabic script at a desk with an open Quran, notebook and laptop showing a world map, stacked Islamic books nearby.

Tulisan ini lahir dari hasil perenungan panjang tentang keunikan makhluk Tuhan yang dinamakan wanita. Ia menarik, cantik, anggun juga tangguh. Namun, dibalik keindahannya ada banyak misteri yang ia suguhkan kepada siapa saja yang mulai terhipnotis dengan pesonanya. Seolah Tuhan menciptakan teka-teki di dalam dirinya sebagai bayaran bagi pasang mata yang hendak dengan tenang dan menang memiliki serta menikmati persembahan senyumannya. Rasulullah ﷺ mengisyaratkan hal ini dengan diksi yang paling santun ketika menubuatkan hakikat penciptaan wanita. Dalam hadits riwayat al-Bukhari, Rasulullah ﷺ bersabda:


 مَنْ كَانَ يُؤمِنُ بِاللهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ فَلَا يُؤْذِيْ جَارَهُ، وَاسْتَوْصُوْا بِالنِّسَاءِ خَيْرًا؛ فَإِنَّهُنَّ خُلِقْنَ مِنْ ضِلَعٍ، وَإِنَّ أَعْوَجَ شَيْءٍ فِي الضِّلَعِ أَعْلَاهُ، فَإِنْ ذَهَبْتَ تُقِيْمُهُ كَسَرْتَهُ، وَإِنْ تَرَكْتَهُ لَمْ يَزَلْ أَعْوَجَ، فَاسْتَوْصُوْا بِالنِّسَاءِ خَيْرًا

Barang siapa yang beriman kepada Allah swt dan hari akhir, maka janganlah ia mengganggu tetangganya. Nasihatilah para perempuan dengan kebaikan. Karena sesungguhnya mereka diciptakan dari tulang rusuk. Tulang rusuk yang paling bengkok adalah bagian teratasnya. Apabila engkau paksa meluruskannya, niscaya engkau akan mematahkannya. Apabila engkau meninggalkannya, niscaya engkau akan membiarkannya tetap bengkok.

Kebengkokan inilah yang disebutkan oleh para ulama sebagai kiasan dari keunikan wanita. Bahkan, sebagian dari mereka menyebutkan bahwa kebengkokannya adalah sebuah keniscayaan dan tidak ada cara untuk meluruskannya. Seolah mereka memang benar-benar murni diciptakan untuk menguji kesabaran kita. Namun, justru di sanalah letak keindahannya. Bukankah keindahan alis ada pada kebengkokannya?

Di sela-sela perenungan itu, hatiku terpaut pada ayat-ayat perempuan yang Tuhan sisipkan di antara tegas perintah dan keras larangan-Nya. Jika dirangkai rapi, ayat-ayat itu seakan menunjukkan jalan terang menuju jawaban atas keheranan kaum Adam melihat tingkah laku kaum Hawa yang tidak jarang membuat geleng kepala atau paling tidak mengelus dada. Sebelum lebih jauh menimbulkan gaduh, perlu pembaca ketahui lebih dulu, bahwa tulisan ini sama sekali bukan bentuk diskriminasi kepada kaum wanita. Justru, melalui ayat-ayat suci yang menggambarkan secara umum karakteristik perempuan, penulis hendak menampakkan satu gang kecil di antara jutaan jalan rumit bercabang yang mengarah pada keinginan terdalam seorang perempuan. Sebab, jujur saja, kami yang bukan wanita sering kali kehilangan arah di tengah usaha menebak maksud dan tujuan wanita dari perilaku yang bahkan malaikat saja tidak mengerti motifnya. Oleh karena itu, menulis dan membaca serial ini menjadi sebuah keharusan bagi setiap laki-laki yang ingin sedikit saja mengerti bagaimana cara kerja pikiran wanitanya.

Allah swt. berfirman dalam surat Ali Imran ayat 36 tentang perbedaan yang terbentang antara laki-laki dan wanita. Seperti ini bunyi ayatnya:


وَلَيْسَ الذَّكَرُ كَالْأُنثَىٰ

Dan laki-laki tidaklah seperti halnya perempuan.

Ayat di atas merupakan klaim kebenaran yang membantah adanya kesetaraan atau persamaan antara laki-laki dan perempuan. Perbedaan ini bukan untuk meninggikan atau merendahkan antar satu dengan yang lainnya. Perbedaan tersebut merupakan bagian dari kehendak Tuhan yang bertujuan untuk saling melengkapi dan memenuhi kebutuhan satu sama lain. Karena adanya dinding perbedaan inilah lahir kesadaran untuk belajar lebih sabar mengeja satu per satu huruf yang ada dalam kata wanita. Barang kali dari sana akan muncul kebijaksanaan dan keteduhan kala ketidakpahaman datang berusaha merenggangkan dua pasang manusia yang disatukan dengan akad pernikahan. Tulisan ini bukan hanya menjadi pelajaran bagi laki-laki dalam memahami wanita. Namun, juga sebagai pemantik yang mengingatkan wanita tentang tabiat dirinya yang kadang ia sendiri tidak mengerti. Harapannya adalah keduanya saling tumbuh dalam payung syariat yang menyejukkan setiap panas permasalahan.

Selain itu, tulisan ini juga berangkat dari keresahan melihat banyak kasus kekerasan yang terjadi pada perempuan, pelecehan seksual hingga pemerkosaan. Padahal pada banyak ayat, al-Quran sangat menjunjung tinggi martabat seorang perempuan, juga mengajarkan laki-laki agar senantiasa berbuat baik padanya bahkan pada saat ia berhak untuk membela diri. Seperti misalnya, ketika hubungan pernikahan menemukan kebuntuan, seorang laki-laki hanya diperkenankan memilih satu di antara dua pilihan: mempertahankannya dengan baik atau melepaskannya dengan baik pula. Sebagaimana Allah swt berfirman dalam ayat-ayat berikut:


الطَّلَاقُ مَرَّتَانِ ۖ فَإِمْسَاكٌ بِمَعْرُوفٍ أَوْ تَسْرِيحٌ بِإِحْسَانٍ ۗ (البقرة : 229)

Talak (yang dapat dirujuk) itu dua kali. (Setelah itu suami dapat) merujuk dengan cara yang patut atau melepaskan (menceraikan) dengan baik. (al-Baqarah : 229)


وَإِذَا طَلَّقْتُمُ النِّسَاءَ فَبَلَغْنَ أَجَلَهُنَّ فَأَمْسِكُوهُنَّ بِمَعْرُوفٍ أَوْ سَرِّحُوهُنَّ بِمَعْرُوفٍ ۚ وَلَا تُمْسِكُوهُنَّ ضِرَارًا لِّتَعْتَدُوا ۚ وَمَن يَفْعَلْ ذَٰلِكَ فَقَدْ ظَلَمَ نَفْسَهُ ۚ وَلَا تَتَّخِذُوا آيَاتِ اللَّهِ هُزُوًا ۚ (البقرة : 231)

Apabila kamu menceraikan istri(-mu), hingga (hampir) berakhir masa idahnya, rujuklah mereka dengan cara yang patut atau ceraikanlah mereka dengan cara yang patut (pula). Janganlah kamu merujuk mereka untuk memberi kemudaratan sehingga kamu melampaui batas. Siapa yang melakukan demikian, dia sungguh telah menzalimi dirinya sendiri. Janganlah kamu jadikan ayat-ayat (hukum-hukum) Allah sebagai bahan ejekan. (al-Baqarah : 231)


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نَكَحْتُمُ الْمُؤْمِنَاتِ ثُمَّ طَلَّقْتُمُوهُنَّ مِن قَبْلِ أَن تَمَسُّوهُنَّ فَمَا لَكُمْ عَلَيْهِنَّ مِنْ عِدَّةٍ تَعْتَدُّونَهَا ۖ فَمَتِّعُوهُنَّ وَسَرِّحُوهُنَّ سَرَاحًا جَمِيلًا (الأحزاب : 49)

Wahai orang-orang yang beriman, apabila kamu menikahi perempuan-perempuan mukminat, kemudian kamu ceraikan mereka sebelum kamu mencampurinya, tidak ada masa idah atas mereka yang perlu kamu perhitungkan. Maka, berilah mereka mutah (pemberian) dan lepaskanlah mereka dengan cara yang sebaik-baiknya. (al-Ahzab : 49)

Tiga ayat ini secara terang menuntut kita, laki-laki untuk senantiasa memperlakukan wanita dengan muamalah yang baik. Bukan dengan kekerasan verbal apalagi fisik. Pokok masalahnya adalah bagaimana seorang laki-laki mampu memperlakukan wanita dengan baik dalam segala keadaan, jika ia belum memiliki sekelumit pengetahuan yang cukup untuk mengenali karakteristik seorang wanita? Tulisan ini mewadahkan sekelumit pengetahuan itu. Harapannya, dengan modal fikih wanita ini, sebagai laki-laki kita lebih kokoh, teguh dan bijaksana meluruskan bengkoknya. Jika lebih teliti merunun rapi ayat-ayat wanita dalam al-Quran, kita akan mendapati bahwa setiap kali Allah swt membicarakan tentang mereka, Allah swt selalu menggunakan bahasa yang amat jelas. Padahal pada banyak perkara, Allah swt kerap menggunakan bahasa yang mengandung multi tafsir. Namun, tidak pada urusan perempuan. Apakah hal itu karena Allah swt tahu, kita sudah cukup kesulitan menebak dan membaca isi hatinya? Lebih dari semua itu, serial ini dilayangkan sebagai ejawantah sabda Rasulullah ﷺ yang menitahkan kita agar senantiasa menasihati kaum wanita dengan kebaikan.

Selain bertumpu pada al-Quran dan Hadits, serial ini juga akan banyak bersandar pada dua buku rujukan yang dipilih penulis sebagai buku terbaik yang membicarakan tentang wanita. Dua buku itu adalah: ar–Raudhah al-Faiha’ fii A’lam an-Nisa karya Yasin al-Khatib dan Rawa’i min Aqwal al-Falasifah wa al-Uzhama fii al-Mar’ah karya Sayyid Shiddiq Abdul Fattah. Buku pertama ditulis oleh seorang sejarawan dan sastrawan asal Mosul, Irak. Ilmuwan yang wafat pada tahun 1232 hijriah itu, mengumpulkan biografi perempuan-perempuan salihah lintas generasi dalam bukunya tersebut. Sedangkan buku yang ke-dua, adalah buah penelitian dari seorang sejarawan dan sastrawan asal Mesir yang masyhur pada tahun sembilan puluhan. Dalam bukunya, beliau menghimpun banyak pandangan filsuf, ilmuwan besar dari Timur sampai Barat. Sehingga kumpulan sudut pandang dari mereka membentuk kesamaan dan saling menyempurnakan perspektif tentang wanita. Semoga Allah swt catat maksud dan tujuan penulis. Setelah ini, kita akan bersama-sama mengeja huruf-huruf itu hingga akhirnya kita mampu benar-benar membaca dan mengerti maknanya secara utuh tentang apa dan siapa wanita.


“Wanita adalah ladang yang berubah-ubah. Terkadang ia menjadi gurun tandus yang hanya bisa ditanami kesabaran.” -Ibrahim Nawwar-