Krisis Keteladanan di Balik Profesionalisme

Esai seri ketujuh dari “Mencari Ruh Pendidikan”. Sebuah catatan reflektif, semacam kado cinta untuk dunia pendidikan.

Di antara sekian wajah krisis pendidikan, mungkin yang paling terkesampingkan dan paling memprihatinkan ialah krisis keteladanan. Ia tak selalu hadir di ruang rapat atau tertulis dalam laporan, tetapi terasa di udara kelas yang kehilangan hangatnya makna, pada tatapan murid yang mencari arah, pada guru yang mengajar dengan langkah letih. Profesionalisme memang menjulang megah, tetapi di balik kemegahan itu jiwa keteladanan perlahan layu, seperti bunga yang masih mekar namun tak lagi beraroma.

Mungkin di sanalah pendidikan meminta kita berhenti sejenak untuk menunduk dan merenung. Bukan tentang seberapa banyak yang telah kita ajarkan, melainkan seberapa tulus kita hadir di hadapan murid. Sebab, di balik setiap langkah menuju profesionalisme, ada hati yang perlu dijaga agar tidak beku oleh rutinitas. Guru bukan hanya pengajar yang mahir, ia adalah pelita yang menyala di tengah gelap pencarian. Bila pelita itu redup, cahaya pengetahuan kehilangan arah.

Barangkali sudah saatnya kita kembali menata niat yang dulu menuntun langkah pertama kita menjadi guru. Di sana, tersimpan alasan paling sederhana sekaligus paling suci, yaitu keinginan untuk membuat hidup orang lain lebih bermakna. Dari niat yang jernih itulah keteladanan tumbuh, bukan dari pujian atau jabatan, melainkan dari hati yang terus belajar untuk hadir dengan kasih.

Ironisnya guru masa kini sering dibentuk untuk menjadi ahli, bukan menjadi contoh. Ia terampil mengelola kelas, piawai merancang evaluasi, dan fasih berbicara tentang pembelajaran abad dua puluh satu, tetapi kerap ragu ketika harus menghadirkan ketulusan dan keteduhan dalam bimbingannya. Profesionalisme memang penting, namun ketika ia kehilangan dimensi ruhani, ia menjelma menjadi dinding yang dingin, tampak kuat tapi tanpa kehangatan. Dari balik ketepatan prosedur sering terlihat guru yang menjalankan perannya dengan rapi, namun hatinya perlahan menjauh dari sumber cahaya. Ia tetap mengajar, tetapi tak lagi hadir sepenuhnya. Di situlah pendidikan mulai kehilangan denyut kasih, denyut yang membuat ilmu menjadi hidup.

Max Weber pernah menyebut zaman modern sebagai the disenchanted world, dunia yang kehilangan pesonanya karena segala sesuatu diukur oleh rasionalitas teknis (Weber, 1946: 155). Dalam dunia pendidikan, pesona itu perlahan memudar ketika guru tak lagi dilihat sebagai teladan, melainkan sekadar operator dari sistem yang kaku. Saat efisiensi lebih dihargai daripada keikhlasan, pendidikan pun kehilangan getaran batinnya. Profesionalisme yang lahir dari niat baik untuk meningkatkan mutu, kadang justru menjerumuskan guru ke dalam pusaran sistem yang berputar tanpa jeda, hingga ia lupa arah asal pengabdian yang seharusnya menghidupkan jiwanya.

Krisis keteladanan bukanlah krisis keterampilan, melainkan krisis makna. Ia lahir ketika pengabdian perlahan berubah menjadi sekadar profesi, dan profesi kehilangan wajah panggilan yang suci. Hannah Arendt menulis, manusia modern sibuk bekerja, tapi lupa to act, lupa bertindak dengan kesadaran moral dan tujuan yang melampaui dirinya (Arendt, 1958: 154). Maka guru pun bisa saja sibuk mengajar, tapi tak lagi menghidupkan pelajarannya. Dalam kesibukan yang tampak mulia itu, ruh keteladanan perlahan memudar, sebab mengajar tanpa kesadaran adalah seperti menyalakan pelita tanpa minyak, terang sesaat, lalu padam dalam keletihan.

Keteladanan sejati bukan sekadar perilaku etis, melainkan pancaran dari hati yang menyala. Naquib al-Attas pernah menyampaikan bahwa tujuan akhir pendidikan adalah ta’dib, penanaman adab yang lahir dari kesadaran akan cahaya Ilahi dalam diri manusia. Ketika hati seorang pendidik jernih, ia memantulkan cahaya itu kepada muridnya sebagaimana cermin memantulkan sinar matahari (Al-Attas, 1999: 25). Namun, di tengah sistem profesionalisme yang kaku, cahaya itu sering tertutup oleh administrasi. Guru dipaksa menjadi efisien, bukan menjadi bijak.

Kita hidup di zaman ketika keahlian lebih dihargai daripada kebijaksanaan. Seorang guru bisa dinilai “berhasil” karena administrasinya lengkap, bukan karena jiwanya menyentuh murid. Padahal, sebagaimana ditegaskan oleh Alasdair MacIntyre, moralitas hanya bisa lahir dari practice yang dijalani dengan kebajikan (virtue), bukan sekadar keterampilan (MacIntyre, 1984: 187). Profesionalisme tanpa kebajikan hanyalah tubuh tanpa jiwa.

Di sinilah paradoks itu lahir, ketika pendidikan semakin profesional namun perlahan kehilangan ruh keteladanan. Profesionalisme menuntut standar, tetapi keteladanan memanggil kehadiran. Standar dapat disusun oleh sistem, tetapi kehadiran hanya tumbuh dari jiwa yang terjaga. Yang hilang dari sekolah kita bukanlah metode, melainkan aura yang lembut namun nyata, getaran batin yang membuat guru dihormati bukan karena pangkat, melainkan karena kejernihan hatinya.

Ketika keteladanan meredup, pendidikan berubah menjadi rutinitas tanpa pesona. Murid tidak lagi meniru karena mengagumi, tetapi patuh karena takut. Relasi yang dulunya hangat menjadi birokratis, dan cinta yang dulu menjadi dasar belajar digantikan oleh kewajiban. Paulo Freire pernah mengingatkan, setiap pendidikan yang kehilangan cinta akan berubah menjadi penindasan (Freire, 1970: 56).

Keteladanan tidak bisa dipalsukan. Ia tumbuh dari keselarasan antara ucapan dan perbuatan. Martin Buber menyebut relasi sejati sebagai hubungan I–Thou—perjumpaan antara dua subjek yang saling hadir dengan kejujuran (Buber, 1937: 46). Ketika guru memandang murid sebagai “objek pembelajaran”, bukan pribadi, hubungan itu berubah menjadi I–It. Dan di situlah keteladanan mati, sebab yang dilihat bukan lagi jiwa, melainkan fungsi.

Dalam tradisi Islam, guru bukan hanya mu‘allim, tetapi juga murabbî, sosok yang menuntun sekaligus menumbuhkan. Ibn Khaldun mengingatkan bahwa kekerasan dalam mendidik hanya akan melahirkan murid yang takut, bukan yang tumbuh, hafalannya mungkin kuat, tetapi jiwanya rapuh (Ibn Khaldun, 1967: 618). Keteladanan sejati tumbuh dari keseimbangan antara ketegasan dan kasih, antara ilmu yang mencerahkan dan rahmat yang menenteramkan. Guru yang memiliki keseimbangan itu tidak hanya mengajarkan huruf, tetapi juga menanamkan makna di antara jeda kata-katanya. Ia tidak sekadar menuntut murid untuk cerdas, melainkan menuntun mereka agar bijak, agar setiap pengetahuan yang mereka pelajari menjadi jalan pulang menuju kemanusiaannya sendiri.

Sayangnya, dalam sistem modern, kelembutan sering dianggap kelemahan. Guru yang sabar dianggap lamban, yang penuh kasih dianggap kurang tegas. Padahal, sebagaimana diingatkan Buya Hamka, kelembutan adalah kekuatan batin yang lahir dari hati yang damai, ia tidak melemahkan, justru menguatkan karena bersumber dari cinta yang tulus (Hamka, 2018: 161). Di dunia pendidikan, kelembutan itulah yang membuat ilmu menjadi cahaya, bukan beban.

Keteladanan tidak membutuhkan panggung. Ia tumbuh di ruang-ruang kecil, seperti bagaimana cara guru menatap murid dengan empati, cara ia menegur tanpa mempermalukan, cara ia tersenyum ketika menjelaskan yang sulit. Dalam momen-momen sederhana itulah murid belajar tentang kemanusiaan. Bukan dari buku etika, melainkan dari tubuh dan sikap seorang guru yang hidup dalam kesadarannya.

Ketika para guru kehilangan ruang untuk menjadi manusia, maka murid kehilangan figur untuk menjadi manusia. Inilah krisis yang lebih menyedihkan daripada kemiskinan fasilitas, yaitu krisis kehadiran batin. Profesionalisme bisa dilatih, tapi keteladanan harus dialami. Ia bukan hasil pelatihan, melainkan hasil penempaan jiwa.

Dalam The Courage to Teach, Parker Palmer menulis bahwa guru sejati mengajar bukan dari teknik, melainkan dari siapa dirinya (Palmer, 1998: 30). Artinya, setiap pelajaran sejatinya adalah cermin dari keutuhan batin sang pengajar. Bila batin itu retak oleh ambisi, maka retak pula pesan yang ia sampaikan.

Profesionalisme modern sering menekankan objektivitas, seolah guru harus netral dari perasaan. Padahal, dalam pandangan tasawuf, ilmu tanpa rasa tidak akan hidup. Fethullah Gülen dalam Key Concepts in the Practice of Sufism menjelaskan bahwa ilmu sejati bukan sekadar pengetahuan rasional, melainkan cahaya yang menembus hati dan membimbing amal menuju keikhlasan serta cinta kepada Allah. Menurutnya, ilmu yang tidak dihidupkan oleh amal dan ikhlas hanyalah pengetahuan yang beku, sedangkan amal tanpa cinta tidak akan menghidupkan ruh manusia (Gülen, 2004: 273 ). Dengan demikian, keteladanan seorang guru adalah wujud cinta yang bekerja diam-diam di antara kata dan tindakan.

Dalam ruang-ruang sekolah, kita sering menjumpai guru yang rajin, tapi letih jiwanya. Mereka profesional dalam tugas, tapi hampa dalam makna. Seakan-akan setiap aktivitas telah kehilangan dimensi niyyah—niat suci yang menjadi jantung dari setiap amal. Jika niat itu sirna, maka semua keterampilan hanya menjadi kebisingan administratif.

Keteladanan tidak bisa dicetak lewat sertifikasi, sebagaimana keikhlasan tidak bisa diukur dengan indikator. Ia lahir dari kesadaran spiritual bahwa mengajar adalah ibadah, bukan karier. Imam al-Ghazali menegaskan bahwa perbuatan lahiriah tanpa kesadaran batin hanyalah kepura-puraan, sedangkan spiritualitas tanpa amal nyata adalah kemunafikan. Keduanya ibarat tubuh dan ruh, saling membutuhkan agar hidup dan bermakna (al-Ghazali, 1983:14). Dengan demikian, ilmu hanya akan membawa manfaat bila bersumber dari hati yang hidup oleh niat yang tulus dan amal yang ikhlas.

Di era profesionalisme, hati sering tertinggal. Guru sibuk memperbarui perangkat ajar, tetapi jarang memperbarui dirinya. Padahal, sebagaimana dikatakan Hamza Yusuf dalam Purification of the Heart, guru yang tidak menata hatinya sebelum mengajar, sama seperti pelita yang berdebu—ia menyala, tapi redup (Hamza Yusuf, 2004: 76). Keteladanan sejati memancar bukan dari kemampuan berbicara, melainkan dari kebersihan jiwa yang diam.

Maka, krisis keteladanan adalah krisis spiritualitas. Kita menyiapkan guru yang mahir bicara, tapi lupa menyiapkan yang sanggup diam dalam makna. Kita mengajarkan pedagogi, tapi jarang mengajarkan perenungan. Kita membekali keterampilan, tapi jarang menumbuhkan kesadaran.

Keteladanan membutuhkan keberanian untuk melambat. Di tengah tuntutan efisiensi, seorang guru harus berani berhenti sejenak untuk merenung: untuk siapa aku bekerja, kepada siapa aku menuntun? Perenungan semacam itu bukan kemunduran, melainkan langkah kembali ke asal. Sebab, dalam keheningan itulah nilai akan tumbuh.

Jika profesionalisme adalah tubuh pendidikan, maka keteladanan adalah jantungnya. Tanpa jantung, tubuh bisa berdiri, tapi tidak hidup. Dunia pendidikan boleh modern, tapi ia tetap akan hampa bila kehilangan denyut nurani. Sebab yang menghidupkan pengetahuan bukanlah kecanggihan metode, melainkan kehangatan hati yang menyalurkannya. Di tangan guru yang tulus, pelajaran berubah menjadi pengalaman batin, dan ilmu menjelma menjadi cahaya yang menuntun, bukan sekadar menerangi.

Keteladanan menuntut keutuhan antara pikiran, perkataan, dan perbuatan. Dalam Nicomachean Ethics, Aristoteles menyebutnya hexis—kebiasaan moral yang terlatih hingga menjadi watak (Aristotle, 1975: 27). Guru yang terus berlatih untuk jujur, sabar, dan rendah hati pada dasarnya sedang menanam hexis kebajikan itu, bukan hanya untuk dirinya, melainkan juga untuk generasi yang ia temui setiap hari.

Namun, moralitas semacam itu hanya bisa tumbuh jika guru diberi ruang untuk menjadi manusia yang utuh, bukan sekadar pegawai. Di sinilah falsafah dan tasawuf bertemu, yang satu menuntun pada refleksi rasional, yang lain menuntun pada penyucian batin. Ketika keduanya bersatu, keteladanan tumbuh tanpa perlu diperintah.

Maka yang perlu dirawat bukan hanya kemampuan berpikir, melainkan juga kemampuan merasa. Guru yang utuh adalah ia yang sanggup menyeimbangkan logika dan keheningan, kerasnya tuntutan dengan lembutnya doa. Di antara keduanya, ada ruang batin yang menjadi sumber segala tindakan, tempat di mana pengajaran berubah menjadi pengabdian. Dari ruang itulah lahir sikap-sikap kecil yang membawa kedamaian, meski tanpa banyak kata.

Ketika guru mampu kembali menyentuh ruang batin itu, ia tak lagi mengajar hanya karena kewajiban, melainkan karena cinta. Setiap langkahnya di kelas menjadi ibadah, setiap pandangan pada murid menjadi doa yang tak terucap. Keteladanan pun tumbuh seperti embun yang turun diam-diam, memberi kehidupan tanpa pernah menuntut balas.

Dalam suasana batin semacam itulah ilmu menemukan wajah sejatinya. Ia bukan lagi alat untuk menilai, melainkan jembatan untuk memahami. Dan dari pemahaman itu pula, barakah lahir, mengalir dari hati guru ke hati murid, membawa ketenangan yang tak bisa dijelaskan, hanya bisa dirasakan.

Perlu kita tegaskan, murid tidak belajar dari kata-kata, melainkan dari aura. Dalam tradisi pesantren, hal itu disebut barakah, yaitu kehadiran yang menenangkan, bukan karena banyak bicara, tetapi karena hati yang bening. Barakah tidak bisa diajarkan melalui kurikulum atau modul pelatihan. Ia hadir secara halus melalui ketulusan dan ketenangan batin seorang guru yang benar-benar hadir bagi muridnya. Seorang guru yang jujur menyalakan kejujuran di hati murid, sebagaimana api menyalakan api tanpa kehilangan panasnya.

Krisis keteladanan bisa jadi tak akan selesai dengan pelatihan profesionalisme. Ia hanya akan pulih bila guru kembali mengingat siapa dirinya. Bukan hanya sebagai pengajar, melainkan juga sebagai penjaga api makna. Sebab, sebagaimana diungkapkan Kahlil Gibran, “Tidak ada yang benar-benar dapat mengajarkan apa yang telah tertidur di dalam jiwa, kecuali kehidupan itu sendiri yang membangunkannya kembali” (The Prophet, 1923: 57).

Maka, tugas seorang guru bukan hanya menyampaikan, tetapi juga menghidupkan. Ia tidak sekadar bekerja dalam sistem, tapi berdiri di antara dua dunia—antara ilmu dan cinta, antara struktur dan ruh. Di sanalah keteladanan lahir, dari hati yang tetap menyala di tengah gelapnya birokrasi.

Namun panggilan itu sering tenggelam dalam riuhnya tuntutan zaman. Di antara laporan, penilaian, dan target kinerja, jiwa seorang guru perlahan kehilangan ruang untuk bernapas. Ia ingin setia pada panggilan nurani, tetapi sistem membuatnya terus berlari tanpa sempat berhenti untuk mendengar suara hatinya sendiri.

Setiap zaman memiliki luka yang tak selalu tampak. Dan salah satu luka terbesar pendidikan masa kini adalah ketika guru merasa harus menjadi sempurna, bukan menjadi manusia. Ia mengejar kesempurnaan administrasi, melatih keterampilan, menambal kekurangan, tetapi lupa menatap dirinya di cermin batin. Padahal, yang dibutuhkan murid bukan sosok tanpa cacat, melainkan sosok yang terus belajar memperbaiki diri.

Keteladanan sejati lahir bukan dari kesempurnaan, melainkan dari kejujuran untuk mengakui ketidaksempurnaan. Guru yang mengakui letihnya di hadapan murid justru sedang menunjukkan keberanian spiritual. Ia sedang mengajarkan bahwa manusia tak harus kuat setiap saat, cukup jujur dan tulus dalam setiap usaha dan niat.

Mungkin, tugas guru bukan menutupi retak cerminnya, melainkan merawat retakan itu agar tetap memantulkan cahaya. Sebab, di situlah rahasia keteladanan bekerja, yaitu dalam keheningan yang menerima, dalam kelemahan yang menjadi doa.

Al-Junayd berkata, “Ketika engkau menjadi cermin bagi orang lain, bersihkan dirimu agar pantulan itu jernih.” (Al-Qusyairi, n.d.: 58). Barangkali, pendidikan hanya akan kembali bernapas ketika para gurunya berhenti mengejar kesempurnaan, lalu kembali belajar untuk jernih—karena cermin yang bersih tak perlu bicara, cukup memantulkan cahaya yang melewati dirinya. Dan ketika cahaya itu jatuh ke hati murid, mungkin di situlah pendidikan menemukan kembali maknanya, bukan pada gelar, bukan pada angka, tetapi pada getar kecil di dada seseorang yang, tiba-tiba, ingin menjadi lebih baik hanya karena pernah mengenal guru yang tulus.

Namun, perjalanan menuju cahaya itu tidak instan. Ia tumbuh perlahan di antara kesalahan dan pembelajaran, di antara letih yang diterima dengan ikhlas. Dalam proses itu, hati manusia saling bersentuhan dan saling menyalakan harapan. Setiap guru menyalakan sedikit cahaya dari apa yang ia miliki, dan setiap murid menyalakan kembali cahaya itu dalam hidupnya. Dari perjumpaan yang sederhana itulah, pendidikan menemukan denyut spiritualnya, sesuatu yang tak tertulis dalam silabus, tetapi terasa dalam cara manusia saling menguatkan untuk menjadi lebih baik.

Dan barangkali, ketika kita menatap wajah seorang guru yang mengajar dengan cinta, kita sedang menatap wajah pendidikan yang sesungguhnya—pendidikan yang tidak hanya mencerdaskan, tetapi juga menyucikan. Sebab, di balik profesionalisme yang bising, selalu ada suara halus yang memanggil: kembalilah menjadi teladan, bukan hanya tenaga ahli.

Sumber Bacaan

Al-Attas, Syed Muhammad Naquib. 1999. The Concept of Education in Islam. Kuala Lumpur: ISTAC.

al-Ghazali. 1983. Inner Dimensions of Islamic Worship. Translated by Muhtar Holland. Leicester: The Islamic Foundation.

———. 2011. Revival of Religion’s Sciences (Ihya’ Ulum Ad-Din) Volume 1. Translated by Mohammad Mahdi al-Sharif. Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah.

Al-Qusyairi, Abu al-Qasim ‘Abd al-Karim al-Naisaburi. n.d. Risâlah al-Qusyairiyyah fi ‘Ilm al-Tasawwuf. Terj. oleh Tim Pustaka Azzam. Jakarta: Pustaka Azzam.

Arendt, Hannah. 1958. The Human Condition. Chicago: University of Chicago Press.

Aristotle. 1975. Nicomachean Ethics. Translated by Hippocrates G. Apostle. London: D. Reidel Publishing Company.

Buber, Martin. 1937. I and Thou. Edinburgh: T. & T. Clark.

Freire, Paulo. 1970. Pedagogy of the Oppressed. New York: Continuum

Gibran, Kahlil. 1923. The Prophet. New York: Alfred A. Knopf.

Gülen, Fethullah. 2004. Key Concepts in the Practice of Sufism: Emerald Hills of the Heart, Vol. 2. New Jersey: The Light.

Hamka. 2018. Tasawuf Modern. Jakarta: Republika.

Khaldun, Ibn. 1967. The Muqaddimah. Princeton: Princeton University Press.

MacIntyre, Alasdair. 1984. After Virtue: A Study in Moral Theory. Notre Dame: University of Notre Dame Press.

Palmer, Parker J. 1998. The Courage to Teach: Exploring the Inner Landscape of a Teacher’s Life. San Francisco: Jossey-Bass.

Weber, Max. 1946. From Max Weber: Essays in Sociology. Trans. H.H. Gerth & C. Wright Mills. New York: Oxford University Press.

Yusuf, Hamza. 2004. Purification of the Heart: Signs, Symptoms and Cures of the Spiritual Diseases of the Heart. London: Dar Al Taqwa LTD.