Jadwal Tabkir Pak Mis

Seri ketiga dari “Cerita Pesantren”

Para santri mulai berangkat menuju masjid untuk melaksanakan salat zuhur berjamaah. Setelah jam pelajaran ke-6 berakhir, mereka segera kembali menuju asrama masing-masing dan bersiap dengan sarung, baju koko, kopiah hitam, sajadah, serta Al-Quran yang di dekap erat dalam genggaman penuh ketawaduan khas mencirikan pribadi seorang santri. Pemandangan seperti ini rutin didapati pada waktu-waktu menjelang dilaksanakannya salat berjamaah. Pada waktu inilah kita dapat saksikan ribuan langkah berbondong-bondong menuju rumah Tuhan mengalir dengan penuh khidmat.

Tidak lama berselang, terdengar suara deru mesin motor dari kejauhan mulai mendekat ke tempat aliran langkah tersebut berasal, asrama santri. Sejurus kemudian ustaz yang mengendarai motor tadi pun memarkirkan motornya tepat di tengah asrama lalu menyisir satu demi satu kamar santri, memastikan tidak ada santri yang terlambat atau bahkan berniat untuk bolos dari jama’ah salat.

Kebetulan hari itu adalah hari Minggu, hari di mana para santri, walaupun tidak seluruhnya, mendapatkan kesempatan untuk bertemu dengan orang tua mereka. Di antaranya ialah Nawi, santri yang berasal dari Pekalongan itu mendapatkan kunjungan dari orang tuanya yang kebetulan juga sedang mendapatkan tugas di ibu kota. Seperti biasanya, orang tua Nawi menempati saung yang berada tepat di depan kediaman ustad Miswar atau yang akrab dipanggil Pak Mis.

Selepas jama’ah zuhur selesai, orang tua Nawi bermaksud sowan ke kediaman pak Mis yang juga merupakan wali kelas anaknya. Di tengah obrolan mereka, Pak Man, ayah dari Nawi, membahas soal ustaz yang dilihatnya menyisiri asrama santri terlebih dulu sebelum menuju masjid. Bagi Pak Man, itu adalah salah satu alasan yang cukup menguatkan untuk mempertahankan anaknya agar tetap sekolah di pesantren.
Selesai mendengarkan curhatan Pak Man, Pak Mis menjelaskan bahwa apa yang dilihat Pak Man tersebut dalam budaya tutur yang berkembang di pesantren ini disebut dengan istilah TABKIR.

“Kalu di sini kami menyebutnya ‘Tabkir’, Pak Man. Itu juga salah satu tugas seorang guru di pondok ini. Secara tersistem seluruh guru mendapatkan jadwal tabkirnya masing-masing. Sebagai contoh, jadwal tabkir saya adalah hari Rabu. Sehingga, saya berkewajiban untuk melakukan hal yang sama dengan yang ustaz itu lakukan setiap menjelang pelaksanaan salat berjamaah di hari Rabu.” Jelas Pak Mis kepada Pak Man.

Mengingat Pak Man juga merupakan seorang guru sekaligus kepala sekolah, Pak Mis mencoba untuk mengajaknya berdiskusi lebih dalam lagi. Sebelum meneruskan penjelasannya terlebih dulu ia nyalakan sebatang rokok yang sedari tadi tergeletak begitu saja di hadapannya seraya menawarkannya kepada Pak Man yang juga seorang perokok berat. Kebetulan Pak Mis dan Pak Man dulu sempat bertemu di suatu forum seminar pendidikan nasional di Jakarta yang dihadiri oleh guru-guru yang notabenenya mengampu mata pelajaran di bidang eksakta. Di forum itulah hubungan antara keduanya mulai terjalin erat bahkan sudah berasa seperti saudara sendiri. Sambung Pak Mis “budaya tabkir sejatinya bisa kita temukan di seluruh pondok pesantren khususnya pesantren modern dengan pola kehidupan yang tersistem, hanya saja bentuknya berbeda-beda antara satu pesantren dengan pesantren lainnya sebab masing-masing pesantren memiliki sistem, budaya, nilai-nilai, serta arah tujuan yang juga berbeda-beda. Tabkir itu sendiri, Pak Man, diambil dari bahasa Arab yang penggunaan katanya merujuk pada bentuk masdar dari akar kata bakkara-yubakkiru-tabkiran (بكّر – يبكّر – تبكير) secara etimologi ia berarti “bangun lebih awal” atau “bangun lebih dini”. Penggunaan kata yang merujuk pada asal kata ba-ka-ra (بكر) juga dapat kita temukan dalam Al-Quran, paling tidak terdapat tujuh tempat di dalam Al-Quran yang menggunakan kata bukroh ( بكرة) sebagai derivasi dari kata بكر. Kata بكرة di dalam 7 tempat tersebut menunjuk pada makna yang serupa yaitu “waktu pagi”. Kata bikrun (بِكرٌ) dalam bahasa Arab memiliki arti “muda”, sebagaimana kita temukan di dalam surat al-Baqarah لافارض ولا بكر yang artinya tidak tua dan tidak muda”.

“Ketiga kata tersebut memiliki kedekatan makna sebab berasal dari akar kata yang sama. Kalau dilihat arti kata tabkir secara terminologis, bisa kita sebutkan bahwa tabkir adalah suatu upaya yang dilakukan oleh pengurus pesantren, dalam hal ini yaitu guru, berupa bentuk pengontrolan dan pengawasan terhadap para santri yang ditujukan untuk memastikan berjalannya suatu aktivitas atau kegiatan tertentu sesuai dengan regulasi dan ketentuannya yang berlaku”.

Pak Mis berusaha memberikan penjelasan mengenai tabkir tersebut secara filosofis-strukturalis. Lanjutnya “dilihat dari definisi tersebut, maka paling tidak terdapat empat unsur dalam pelaksanaan tabkir: guru, santri, aktivitas atau kegiatan yang dituju, dan juga usaha yang dilakukan untuk mencapai terlaksananya kegiatan yang dituju tersebut. Pada dasarnya tabkir adalah bagian dari suatu bentuk pengontrolan dan pengawasan terhadap tegaknya disiplin pesantren, sebagaimana definisi tabkir itu sendiri. Akan tetapi, pengontrolan dan pengawasan yang dilakukan baru dapat disebut sebagai tabkir apabila telah memenuhi keempat unsur di atas. Dikarenakan dalam totalitas kehidupan pesantren seluruh santri dan aktivitas yang dilakukan di dalamnya berada dalam kontrol dan pengawasan pesantren yang terjelma ke dalam bentuk-bentuk tertentu”.

Pak Man yang sedari tadi mendengarkan penjelasan yang disampaikan oleh Pak Mis hanya dapat menganggukkan kepala sembari mengunyah dengan lahap pisang goreng yang belum lama dibawakan oleh istri pak Mis. Kemudian Pak Man pun berusaha menimpali ucapan pak Mis “itu juga yang menjadi alasan saya menyekolahkan Nawi di pesantren, Pak. Kehidupan disiplin full 24 jam. Nonstop. Hehehe”

“Pesantren itu kental bahkan identik dengan pendidikan karakter, Pak Man. Ia bukan sekedar lembaga pendidikan yang mengutamakan capaian prestasi akademik peserta didik. Lebih jauh dari itu, yang menjadi concern utama pesantren adalah bagaimana membentuk pribadi-pribadi yang memiliki jiwa khidmah terhadap umat serta berkarakter unggul sebagaimana diidealkan oleh Islam, itulah mengapa di dalam pesantren ditemukan Panca Jiwa dan Motto Pondok. Bagi warga pesantren nilai-nilai yang terkandung di dalam Panca Jiwa dan Motto Pondok sudah harus melekat dan menjadi bagian utuh di dalam diri, sehingga dengan demikian seorang guru, santri, bahkan sekuriti sekalipun diharapkan dapat bersikap adil baik sejak dalam pikiran maupun perbuatan. Sikap tersebut kelak akan melahirkan pikiran-pikiran juga berbagai bentuk perbuatan yang sarat akan kebijaksanaan. Demi tujuan itulah tabkir memainkan perannya sebagai pemegang kendali agar aktivitas yang dilakukan santri tetap berjalan sebagaimana mestinya sesuai dengan sunah-sunah pesantren. Karenanya, upaya-upaya yang dilakukan saat tabkir perlu diperhatikan efektivitasnya.” Lanjut Pak Mis.

“Efektivitas tabkir dapat dilihat pada sejauh mana upaya yang dilakukan di dalamnya membawa pada penegakan disiplin dan perubahan pola perilaku santri menuju lebih baik lagi. Diantara indikasi sederhananya adalah dengan melihat pada perbandingan antara upaya yang dilakukan saat tabkir dengan kondisi atas aktivitas santri saat itu. Sebagai contoh, tabkir yang dilakukan untuk menggerakkan para santri menuju masjid untuk salat berjamaah, ketika upaya yang dilakukan oleh guru saat tabkir tersebut tidak mampu untuk menyegerakan kesiapan para santri dapat dikatakan tabkir tersebut memiliki nilai efektivitas yang rendah. Diantara usaha-usaha tabkir yang tidak efektif adalah dengan memanfaatkan penggunaan klakson motor, bising suara yang dihasilkan oleh klakson tersebut tidak memiliki nilai-nilai edukatif sama sekali terhadap santri. Penggunaan klakson yang dimaksud ialah penggunaannya secara berlebih sampai menimbulkan kegaduhan suara. cara tersebut dikatakan tidak efektif dalam penegakan disiplin dan pembentukan karakter sebab tidak ditemukannya perubahan yang signifikan ke arah yang lebih baik.”
“Sebagai suatu bentuk controlling dan pengawasan yang dilakukan oleh guru terhadap santri dalam penegakan disiplin kehidupan berasrama, maka diperlukan adanya suatu sistem yang terorganisir dengan baik. Seperti, penetapan jadwal tabkir bagi masing-masing guru yang dalam hal ini perlu disesuaikan dengan jadwal mengajar guru yang bersangkutan sehingga diharapkan dengan adanya penyesuaian tersebut tabkir dapat dilaksanakan dengan maksimal. Hal lain dalam tabkir yang juga membutuhkan standar operasional dalam prosedur pelaksanaannya, yaitu berkenaan dengan pemberian sanksi bagi santri yang didapati melakukan tindakan indisipliner, santri yang terlambat berangkat ke masjid contohnya. Pola pemberian sanksi tersebut, selain harus bersifat edukatif dan memiliki efek jera, ia juga harus terukur dan bersifat gradual, berjenjang berdasarkan banyaknya pengulangan atas tindakan indisipliner yang dilakukan. Sifat edukatif dalam sanksi yang diberikan sudah harus ada dalam semua jenis sanksi dan pada seluruh tingkatannya, baik sanksi ringan, sedang, sampai sanksi yang paling berat. Keberadaan sanksi edukatif inilah yang menjadi salah satu unsur dalam menguatkan peran pesantren sebagai lembaga pendidikan karakter. Artinya, seluruh kegiatan mulai dari yang terkecil hingga kegiatan yang melibatkan banyak pihak, bahkan pemberian sanksi sekalipun harus mengandung dan berperan sebagai media pembelajaran dan pendidikan, apapun dan bagaimanapun bentuknya. Sehingga dengan demikian para guru dapat mengambil langkah tepat dan bijak saat mendapati santri yang melanggar disiplin atau sunah-sunah pesantren, yaitu dengan memberikan sanksi yang adil, juga sanksi yang bersifat edukatif. Dalam hal pemberian sanksi yang adil, itu berarti bahwa sanksi yang diberikan bukan atas dasar main hakim sendiri, melainkan berdasarkan pedoman pemberian sanksi serta dengan memperhatikan asas proporsionalitas yang melihat kepada kuantitas serta kualitas dari tindakan indisipliner yang dilakukan oleh santri tersebut. Hanya dengan begitulah sanksi yang diberikan dapat dikatakan adil dan bijak. “

Pak Man menyelak penjelasan yang disampaikan oleh Pak Mis dengan memberikan suatu pertanyaan “kalau begitu berarti relasi yang terdapat di dalam tabkir ini bersifat top–down ya, Pak Mis?”

“Betul, Pak Man. Sebagai suatu bentuk al-Amaliah at-Tarbawiyah, relasi di dalam tabkir ini bersifat top-down, yang artinya bahwa pengontrolan dan pengawasan tersebut dilakukan oleh guru terhadap santri. Dalam ranah yang lebih kecil lagi di dalam kehidupan asrama, proses tabkir ini dapat berlangsung di dalam relasi antara santri pengurus terhadap santri anggota. Relasi top-down dalam tabkir merupakan suatu keniscayaan, sebab pihak yang berada di posisi bawah (down) tidak memiliki kuasa untuk mentabkir pihak yang berada di posisi atas (top). Dikarenakan dalam bingkai penegakan disiplin dan edukasi, pihak yang berada di atas memiliki kuasa yang diberikan oleh lembaga sebagai pihak yang dapat menegakkan disiplin kehidupan asrama sekaligus mampu menjadi pemberi edukasi serta berperan sebagai fasilitator lembaga dalam penanaman nilai-nilai dasar pesantren terhadap pihak yang berada di bawahnya. Semangat dasar perwujudan tabkir dalam kehidupan asrama di pesantren sejalan dengan nilai dasar yang dibawa oleh Islam, sebagaimana yang pernah disampaikan oleh Sayyidina Ali:


الـحَقُّ بِلَا نِظَامٍ يَغْلِبُهُ البَاطِلُ بِنِظَامٍ

Dalam konteks menegakkan “Al-Haq “itulah maka suatu bentuk peraturan dan sistem sekaligus perangkat-perangkat yang dibutuhkan oleh keduanya menjadi penting untuk dijaga eksistensinya. Namun demikian ia tidaklah jumud, nilai-nilai kebenaran akan terus berkembang seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang mana perkembangan keduanya itu akan berdampak pada perkembangan budaya dan akan mendatangkan pergeseran-pergeseran nilai, termasuk nilai akan suatu “kebenaran”. Oleh karena itulah pesantren harus peka serta melek informasi guna dapat merespon segala bentuk dampak modernisasi dengan tetap mempertahankan tradisi-tradisi baik yang dimilikinya.”

Belum selesai Pak Mis dari penjelasannya itu, Pak Man tiba-tiba saja menyela di antara seruputan kopinya yang belum tuntas.


“الـمُحَافَظَةُ عَلَى القَدِيْمِ الصَّالِـحِ وَالأَخْذُ بِالـجَدِيْدِ الأّصْلَحِ”

“Betul sekali, Pak Man. Merawat tradisi, merespon modernisasi” Tanggap pak Mis dengan nada dan ekspresi wajah yang menunjukkan kesepakatan dengan apa yang disampaikan oleh pak Man. Pak Mis merasa senang karena pak Man mau memperhatikan penjelasannya yang panjang lebar tersebut mengenai budaya tabkir di pesantren.

Walaupun Pak Man tidak pernah mondok, namun ia memiliki cita-cita serta harapan yang besar terhadap sistem pendidikan dan pengajaran yang diterapkan pesantren. Ia menilai bahwa pendidikan pesantren dapat menjadi pilihan yang tepat bagi orang tua untuk memberikan fasilitas belajar yang ideal bagi sang anak, kehidupan 24 jam tersistem yang diterapkan pesantren dapat menjadi benteng bagi pergaulan anak serta mampu meminimalisir pengaruh dari distrupsi teknologi dengan media sosialnya yang dapat memberikan dampak besar terhadap menurunnya kualitas moral.

“Saya hanya mampu berterima kasih, Pak Mis, teruntuk seluruh guru juga pengurus pondok lainnya. Karena berkat keikhlasan para guru dalam mendidiklah yang pada masanya nanti akan menyelamatkan anak-anak kami para santri semua.” Ujar Pak Man dengan suara yang sedikit luruh.

“Sama-sama, Pak Man. Mohon doakan kami juga agar dapat Istiqomah dan sabar dalam menjalankan tugas ini “

Jawab Pak Man “Amin. Kami titip anak-anak ya, Pak Mis. Mohon maaf tidak bisa lama-lama karena kami harus segera pulang. Sekali lagi terima kasih banyak ya, Pak Mis.”

Sebelum berpisah, Pak Man, Pak Mis, beserta keluarga yang turut hadir pada silaturahmi siang itu menyempatkan untuk berfoto bersama. Pelataran rumah Pak Mis, tempat mereka asik berdiskusi dengan suguhan kopi, pisang goreng, juga cemilan-cemilan ringan lainnya menjadi latar tempat mereka mengabadikan momen kebersamaan yang penuh kehangatan tersebut. Kehangatan yang dibangun di atas api tauhid dan kasih sayang yang luhur sesama muslim.

“Suatu saat foto ini akan bercerita kepada anak cucunya Nawi nanti. Kami pamit ya, Pak Mis. Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh”

“Waalaikumsalam warahmatullah wabarakatuh” jawab pak Mis sambil melambaikan tangan dan mengantarkan senyum khas seorang Jawa yang dimilikinya ke arah pak Man dan keluarga yang sudah berada di dalam mobil mereka.