Dia Bagian Dariku, Aku Bagian Darinya

Namanya Julaybib ra., di Madinah dia bukanlah siapa siapa. Fisiknya pendek, kulitnya hitam, dan wajahnya (maaf) sangat tidak menarik oleh standar manusia saat itu. Tidak punya harta, tidak punya nasab yang kuat. Dia sering menghabiskan waktu sendirian, karena tidak banyak orang yang mau berlama-lama duduk dengannya.

Bayangkan rasanya menjadi Julaybib, setiap kali dia lewat, orang-orang mungkin berbisik atau membuang muka. Rasa sepi itu pasti mencekik. Namun, ada satu orang yang tidak pernah memalingkan wajah darinya. Satu orang yang selalu menatapnya dengan cinta dan senyum hangat. Dia adalah Rasullullah saw.

Sebagaimana dikisahkan dalam Shahih Muslim, bab Fadhailus-Shahabah, suatu hari Rasulullah bertanya kepadanya. “Wahai Julaybib, tidakkah engkau ingin menikah?” Julaybib tersenyum getir. “Siapakah yang mau menikahkan putrinya denganku, wahai Rasulullah? Aku ini tidak laku”. Tiga kali nabi bertanya, tiga kali pula Julaybib menjawab dengan kerendahan dirinya. Hingga akhirnya Nabi sendiri yang melamarkannya gadis Anshar untuknya.

Rasullullah mendatangi rumah salah satu pemuka Anshar. “Aku ingin melamar putrimu” kata Nabi. Ayah gadis itu girang. “Tentu, ini kehormatan besar!” . Lalu Rasulullah berkata “Bukan untukku, tapi untuk Julaybib”. Seketika wajah sang ayah berubah, ibunya pun menolak keras. “Julaybib?! Demi Allah, tidak! Kami sudah menolak pelamar yang lebih kaya darinya!”. Mendengar perdebatan itu, sang gadis keluar dari kamarnya, dia berkata tegas “Apakah kalian hendak menolak perintah Rasulullah saw?! Demi Allah, Nabi tidak akan mencelakanku. Nikahkan aku dengannya!”

Gadis shalihah itu melihat apa yang tidak dilihat orang tuanya. Dia tidak melihat wajah Julaybib, dia melihat rekomendasi Nabi saw. Pernikahan pun terjadi, tapi takdir berkata lain. Belum sempat mereka menikmati manisnya malam pertama, seruan jihad berkumandang. “Ya khailallah irkabuu!” (Wahai pasukan Allah, Naiklah ke kuda kalian!).

Julaybib dihadapkan dua pilihan, istri cantik yang baru ia nikahi, atau panggilan Allah? Tanpa ragu sedetik pun, Julaybib menyambar pedangnya. Dia tinggalkan kamar pengantinnya. Dia berlari menuju barisan depan, menyambut panggilan kekasih tertinggi Nya, Allah Ta’ala.

Dia bertempur habis-habisan. Dia tidak mencari kemenangan, dia mencari tempat terbaik di sisi Rab Nya. Perang usai, kaum muslimin menang. Saat mendata korban, Rasulullah bertanya. “Apakah kalian kehilangan seseorang?” Para sahabat menjawab, “Fulan, Fulan dan Fulan….” (Menyebut nama tokoh-tokoh terkenal). Mereka lupa pada Julaybib. Tidak masuk hitungan. Tapi Rasulullah berkata dengan suara gemetar. “Tetapi aku kehilangan Julaybib! Carilah dia sampai ketemu!” Nabi mencarinya sendiri diantara tumpukan jenazah. Dan Akhirnya….. beliau menemukannnya. Julaybib terbaring penuh luka. Di sekelilingnya ada 7 mayat musuh yang berhasil ia bunuh sebelum dia sendiri syahid.

Rasullullah berdiri di samping jasad sahabatnya itu, mata beliau berkaca-kaca. Beliau menatap wajah yang dulu sering dihina orang itu dengan penuh kebanggaan. Lalu keluarlah kalimat yang menggetarkan langit dari lisan Nabi. “Dia membunuh tujuh orang, lalu mereka membunuhnya. Dia bagian dariku, dan aku bagian darinya. Dia bagian dariku dan aku bagian darinya”. Nabi mengulanginya dua kali. Pengakuan total Rasulullah terhadap Julaybib.

Kemudian Rasulullah membopong jenazah Julaybib dengan kedua tangan beliau sendiri. Tidak ada keranda, tidak ada kain sutra. Kasur terakhir Julaybib adalah lengan Rasulullah. Dia diantar ke liang lahat dalam pelukan manusia paling mulia.

Para pembaca sekalian, dunia mungkin menilaimu dari seberapa glowing wajahmu atau seberapa tebal dompetmu, tapi kisah Julaybib mengajarkan kita bahwa “Dimata Allah Good Looking itu tidak ada harganya dibandingkan Good Heart“. Semoga kita semua mati dalam keadaan yang diridai Allah Ta’ala dan bertemu dengan-Nya nanti di akhirat kelak, Aamiin ya Mujiibassaailin.