
Di antara gaya bahasa ciri khas al-Quran adalah menyamarkan nama tokoh-tokoh perempuan kecuali hanya Maryam saja yang disebutkan secara literal. Jika Tuhan berkenan, kita akan mengungkap sedikit rahasianya saat sampai pada pembahasan tentang kewanitaan Maryam. Salah satu perempuan yang kisahnya diabadikan dalam al-Quran dan namanya disamarkan adalah Zulaikha. Begitu nama panggilan bagi istri panglima Mesir dalam kitab-kitab tafsir dan sejarah. Kisah cintanya yang begitu membara kepada Yusuf as., Allah swt abadikan dalam surat Yusuf. Di sana dikisahkan dari mulai bagaimana awal mula Zulaikha berjumpa dengan ketampanan itu, hingga kemenangan Yusuf setelah lama difitnah dengan kekejian dan disiksa oleh panasnya gejolak asmara Zulaikha yang ditolak cintanya.
Sebelum lebih jauh melangkah ke dalam pembahasan tentang kewanitaan Zulaikha, penulis hendak mengajak pembaca untuk lebih dulu merenungi tentang urgensi apa yang menjadi landasan Tuhan sehingga Dia mesti repot-repot mengisahkan mabuknya seorang wanita terhadap keindahan yang membuatnya melupakan diri dan dunianya di dalam kitab suci-Nya, di antara ayat-ayat perintah dan larangan-Nya? Pasti ada hikmah dan banyak pelajaran berharga di dalam-Nya. Keyakinan ini yang harus lebih dulu dibangun dalam hati seorang muslim ketika menemukan kisah-kisah yang Allah swt ceritakan dalam al-Quran. Kita harus mengambil posisi dan pandangan yang berbeda dengan orang-orang kafir yang mengatakan bahwa kisah-kisah dalam al-Quran hanyalah dongeng belaka. Seperti yang Allah katakan dalam surat al-Muthaffifin ayat 13:
اِذَا تُتْلٰى عَلَيْهِ اٰيٰتُنَا قَالَ اَسَاطِيْرُ الْاَوَّلِيْنَۗ
Apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, dia berkata, “(Itu adalah) dongeng orang-orang dahulu.”
Selain harus diyakini benar adanya kejadian atau peristiwa yang dikisahkan al-Quran dalam sejarah peradaban manusia, kita juga harus meyakini bahwa ia tidak dikisahkan sebagai hiburan begitu saja. Melainkan mengandung nilai-nilai kemanusiaan yang diwariskan dari kaum sebelum kita. Kesia-siaan dan kedustaan di dalamnya menjadi mustahil karena ia datang dari al-Hakim al-Khabir, Sang Mahahikmah dan Mahasejarah. Dengan sudut pandang ini, kita akan lebih mudah memetik dan menikmati buah hikmah yang Allah suguhkan di antara kisah-kisahnya. Rasa asam, manis, pahit dan getir di dalamnya adalah sebuah kebenaran yang tidak terbantahkan. Rasakan dan telan. Barangkali ada banyak hati yang penyakitan karena kekurangan mengonsumsi vitamin al-Quran. Semoga dengan ini, Tuhan berikan kesembuhan hingga dapat merasakan nikmatnya mengeja kebenaran.
Selain menyamarkan nama perempuan, al-Quran juga memiliki standar sendiri ketika membahas kisah. Yaitu dengan tidak menggunakan bahasa yang bertele-tele, alur waktu yang melar, tidak juga percakapan panjang-lebar. Ia hanya fokus menyebutkan adegan-adegan penting dari sebuah kisah. Jika dibandingkan dengan kisah-kisah lain yang ada dalam al-Quran, kisah Yusuf dalam surat Yusuf merupakan kisah yang paling panjang. Surat dibuka dengan kisah mimpi Yusuf kecil yang melihat matahari dan bulan dengan sebelas bintang sujud di hadapannya. Hingga pada saatnya Yusuf dewasa mengetahui takwil mimpi masa kecilnya itu. Panjang kisah Yusuf dalam al-Quran tidak bertentangan dengan kaidah yang barusan disampaikan tentang al-Quran yang hanya fokus kepada peritiwa penting di dalamnya. Justru, kaidah itu hanya menegaskan bahwa di setiap episode dari kisah Yusuf yang disebutkan dalam al-Quran, memiliki tuntunan dan norma kehidupan yang hendak Tuhan sampaikan. Di antara episode-episode itu ada kisah asmara Zulaikha yang tenggelam memuja keelokan Yusuf.
Dalam kitab al-Utrujjah fiman Ubtuliya bi Adza az-Zaujah, karya Syekh Muhyiddin ath-Tha’mi diterangkan bahwa Zulaikha adalah istri seorang panglima Mesir pada saat itu yang bernama Putifar. Dalam al-Quran, Putifar dibahasakan dengan sebutan al-Aziz. Zulaikha merupakan perempuan berparas cantik dan terpandang di tengah masyarakat Mesir. Menurut keterangan kitab ar-Raudhah al-Faiha’, mereka berdua sudah cukup lama tidak dikaruniai seorang anak. Sehingga sang suami membeli Yusuf yang pada saat itu dijual sebagai budak setelah diselamatkan dari kekejaman saudaranya yang menjatuhkannya ke dasar sumur, dan memberikannya kepada Zulaikha sebagai anak angkat. Allah swt berfirman dalam surat Yusuf ayat 19-21.
وَجَاءَتْ سَيَّارَةٌ فَأَرْسَلُوا وَارِدَهُمْ فَأَدْلَىٰ دَلْوَهُ ۖ قَالَ يَا بُشْرَىٰ هَٰذَا غُلَامٌ ۚ وَأَسَرُّوهُ بِضَاعَةً ۚ وَاللَّهُ عَلِيمٌ بِمَا يَعْمَلُونَ (19) وَشَرَوْهُ بِثَمَنٍ بَخْسٍ دَرَاهِمَ مَعْدُودَةٍ وَكَانُوا فِيهِ مِنَ الزَّاهِدِينَ (20) وَقَالَ الَّذِي اشْتَرَاهُ مِن مِّصْرَ لِامْرَأَتِهِ أَكْرِمِي مَثْوَاهُ عَسَىٰ أَن يَنفَعَنَا أَوْ نَتَّخِذَهُ وَلَدًا ۚ وَكَذَٰلِكَ مَكَّنَّا لِيُوسُفَ فِي الْأَرْضِ وَلِنُعَلِّمَهُ مِن تَأْوِيلِ الْأَحَادِيثِ ۚ وَاللَّهُ غَالِبٌ عَلَىٰ أَمْرِهِ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ (21)
Datanglah sekelompok musafir. Mereka menyuruh seorang pengambil air, lalu dia menurunkan timbanya. Dia berkata, “Oh, senangnya! Ini ada seorang anak muda.” Kemudian mereka menyembunyikannya sebagai barang dagangan. Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan. Mereka menjualnya (Yusuf) dengan harga murah, (yaitu) beberapa dirham saja sebab mereka tidak tertarik kepadanya. Orang Mesir yang membelinya berkata kepada istrinya, “Berikanlah kepadanya tempat (dan layanan) yang baik. Mudah-mudahan dia bermanfaat bagi kita atau kita pungut dia sebagai anak.” Demikianlah, (kelak setelah dewasa,) Kami memberikan kedudukan yang baik kepada Yusuf di negeri (Mesir) dan agar Kami mengajarkan kepadanya takwil mimpi. Allah berkuasa terhadap urusan-Nya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengerti.
Yusuf kecil yang lucu tumbuh menjadi laki-laki dewasa yang tampan dan gagah. Keelokan fisiknya juga dimahkotai dengan amanah dan kecerdasan. Keindahan itu setiap hari disaksikan oleh Zulaikha yang diam-diam memendam cinta sejak lama. Alih-alih menyayanginya sebagai anak, Zulaikha malah hendak memperlakukannya lebih dari pada itu. Cinta yang semula ia tanam, tak tahan lagi terpendam dan pada saatnya sampailah ia pada kondisi yang dibutakan oleh hawa nafsunya.
وَلَمَّا بَلَغَ أَشُدَّهُ آتَيْنَاهُ حُكْمًا وَعِلْمًا ۚ وَكَذَٰلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ (22) وَرَاوَدَتْهُ الَّتِي هُوَ فِي بَيْتِهَا عَن نَّفْسِهِ وَغَلَّقَتِ الْأَبْوَابَ وَقَالَتْ هَيْتَ لَكَ ۚ قَالَ مَعَاذَ اللَّهِ ۖ إِنَّهُ رَبِّي أَحْسَنَ مَثْوَايَ ۖ إِنَّهُ لَا يُفْلِحُ الظَّالِمُونَ (23)
Ketika dia telah cukup dewasa, Kami berikan kepadanya kearifan dan ilmu. Demikianlah, Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Perempuan, yang dia (Yusuf) tinggal di rumahnya, menggodanya. Dia menutup rapat semua pintu, lalu berkata, “Marilah mendekat kepadaku.” Yusuf berkata, “Aku berlindung kepada Allah. Sesungguhnya dia (suamimu) adalah tuanku. Dia telah memperlakukanku dengan baik. Sesungguhnya orang-orang zalim tidak akan beruntung.” (Yusuf : 22-23)
Dari ayat inilah bermula pengetahuan yang Allah isyaratkan tentang karakteristik dasar seorang wanita dari sosok Zulaikha. Ayat di atas menunjukkan bahwa Zulaikha menggoda Yusuf dan mengurungnya di dalam kamar yang dalam tafsir al-Baghawi disebutkan berpintu tujuh.
وَلَقَدْ هَمَّتْ بِهٖۙ وَهَمَّ بِهَاۚ لَوْلَآ اَنْ رَّاٰ بُرْهَانَ رَبِّهٖۗ كَذٰلِكَ لِنَصْرِفَ عَنْهُ السُّوْۤءَ وَالْفَحْشَاۤءَۗ اِنَّهٗ مِنْ عِبَادِنَا الْمُخْلَصِيْنَ
Sungguh, perempuan itu benar-benar telah berkehendak kepadanya (Yusuf). Yusuf pun berkehendak kepadanya sekiranya dia tidak melihat tanda (dari) Tuhannya. Demikianlah, Kami memalingkan darinya keburukan dan kekejian. Sesungguhnya dia (Yusuf) termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih. (Yusuf : 24)
Berkat perlindungan Allah swt, Yusuf berhasil menghindar dari godaan Zulaikha. Ulama qiraat mewajibkan waqaf (berhenti) pada kalimat وَلَقَدْ هَمَّتْ بِهٖۙ. Hal ini menegaskan kemaksuman para nabi dari perbuatan tercela yang hina. Kemaksuman mereka adalah salah satu kewajiban yang mesti kita yakini ada pada diri seorang nabi. Sebelum lanjut, mari sejenak kita menyamakan sudut pandang, menghindari miskonsepsi ke depan. Saat ini, kita dihadapkan kisah yang diperankan oleh dua tokoh dari dua kutub yang berseberangan: Yusuf, utusan Tuhan dan Zulaikha, istri pejabat negara, wanita penyembah berhala. Dari sudut pandang ini, saya rasa kita akan lebih mudah menerima fakta bahwa dalam kisah ini yang salah adalah Zulaikha dan Yusuf korbannya. Tentu, kebenaran tidak ditentukan oleh status agama atau pun sosial. Namun, fakta itu hanya menguatkan fakta lainnya bahwa nabi maksum dari dosa. Sementara yang lainnya tidak. Bukankah begitu?
Jika sudah sepakat, kita berpindah, berganti sudut, membaca peristiwa ini dari perspektif laki-laki. Diciptakan sebagai manusia artinya, berbuat salah adalah kemungkinan atau bahkan sebuah keniscayaan. Baik disengaja mau pun tidak. Namun, yang mesti kita pahami bersama adalah bahwa berbuat salah bukanlah sebuah kesalahan. Ia justru menjadi pengalaman yang mengajarkan. Kesalahan menjadi salah saat seseorang tidak menjadikannya sebagai sebuah pelajaran, mengulanginya di lain kesempatan, tidak merasa bersalah atau bahkan malah menyalahkan. Sebenarnya, ada langkah sederhana yang dapat dilakukan oleh siapa saja yang baru melakukan kesalahan. Setidaknya ada tiga langkah: mengakui kesalahan, meminta maaf kepada yang bersangkutan dan tidak mengulangi kesalahan. Tapi tidak dengan wanita.
Dua puluh tujuh dari dua puluh sembilan laki-laki, pernah dan memiliki pengalaman yang sama ketika konflik dengan perempuan yang bersalah: bukan mengaku salah, ia malah merajuk. Sedangkan dua laki-laki lainnya tidak pernah mengalaminya karena tidak memiliki pasangan. Hal yang demikian, rupanya juga dialami oleh Yusuf. Namun, dalam skala yang lebih dahsyat. Mari kita simak lanjutan kisahnya dalam al-Quran setelah Yusuf selamat dan melarikan diri dari rayuan maut Zulaikha.
وَاسْتَبَقَا الْبَابَ وَقَدَّتْ قَمِيْصَهٗ مِنْ دُبُرٍ وَّاَلْفَيَا سَيِّدَهَا لَدَا الْبَابِۗ
Keduanya berlomba menuju pintu dan perempuan itu menarik bajunya (Yusuf) dari belakang hingga koyak dan keduanya mendapati suami perempuan itu di depan pintu. (Yusuf : 25)
Setelah melewati enam lapis pintu yang semula terkunci, pada pintu yang ke-tujuh, Zulaikha berhasil meraih bagian belakang Yusuf dan menarik bajunya hingga terkoyak. Terbukalah pintu terakhir, sedangkan suami Zulaikha berada di ambangnya. Yusuf belum sempat memberikan penjelasan, Zulaikha mendahului kesempatan sempit itu untuk memperdaya suaminya dengan tipu muslihat.
قَالَتْ مَا جَزَاۤءُ مَنْ اَرَادَ بِاَهْلِكَ سُوْۤءًا اِلَّآ اَنْ يُّسْجَنَ اَوْ عَذَابٌ اَلِيْمٌ
Dia (perempuan itu) berkata, “Apakah balasan terhadap orang yang bermaksud buruk terhadap istrimu selain dipenjarakan atau (dihukum dengan) siksa yang pedih?” (Yusuf : 25)
Menolak dianggap sebagai pengkhianat kepada tuan yang telah menaunginya, Yusuf berusaha menepis tuduhan keji perempuan itu terhadap dirinya. Dalam tafsir at-Tabari dikatakan bahwa Yusuf bukan hanya menyanggah, ia juga membawa saksi yang kesaksiannya tidak akan dusta: anak bayi yang masih berada dalam gendongan ibunya.
قَالَ هِيَ رَاوَدَتْنِي عَن نَّفْسِي ۚ وَشَهِدَ شَاهِدٌ مِّنْ أَهْلِهَا إِن كَانَ قَمِيصُهُ قُدَّ مِن قُبُلٍ فَصَدَقَتْ وَهُوَ مِنَ الْكَاذِبِينَ (26) وَإِن كَانَ قَمِيصُهُ قُدَّ مِن دُبُرٍ فَكَذَبَتْ وَهُوَ مِنَ الصَّادِقِينَ (27)
Dia (Yusuf) berkata, “Dia yang menggoda diriku.” Seorang saksi dari keluarga perempuan itu memberikan kesaksian, “Jika bajunya koyak di bagian depan, perempuan itu benar dan dia (Yusuf) termasuk orang-orang yang berdusta. Jika bajunya koyak di bagian belakang, perempuan itulah yang berdusta dan dia (Yusuf) termasuk orang-orang yang jujur.” (Yusuf : 26-27)
Setelah terbukti tidak bersalah, Yusuf merasa lega. Ia berhasil membersihkan tuduhan keji yang dilemparkan Zulaikha kepada dirinya. Apa yang dilakukan Zulaikha kepada Yusuf adalah terjemahan dari istilah yang hari ini disebut dengan Playing Victim, maling teriak maling. Mengetahui fakta mengejutkan itu, Putifar, sang suami tak tahan menanggung rasa malu atas skandal yang sudah dilakukan istrinya. Sampai Allah swt mengabadikan ungkapannya dalam al-Quran:
فَلَمَّا رَأَىٰ قَمِيصَهُ قُدَّ مِن دُبُرٍ قَالَ إِنَّهُ مِن كَيْدِكُنَّ ۖ إِنَّ كَيْدَكُنَّ عَظِيمٌ (28) يُوسُفُ أَعْرِضْ عَنْ هَٰذَا ۚ وَاسْتَغْفِرِي لِذَنبِكِ ۖ إِنَّكِ كُنتِ مِنَ الْخَاطِئِينَ (29)
Maka, ketika melihat bajunya (Yusuf) koyak di bagian belakang, dia (suami perempuan itu) berkata, “Sesungguhnya ini adalah tipu dayamu (hai kaum wanita). Tipu dayamu benar-benar hebat. Wahai Yusuf, lupakanlah ini dan (wahai istriku,) mohonlah ampunan atas dosamu karena sesungguhnya engkau termasuk orang-orang yang bersalah.” (Yusuf : 28-29)
Imam al-Qurtubi dalam tafsirnya menjelaskan makna ayat ini yang mengatakan bahwa tipu daya wanita amat dahsyat.
وإنما قال عظيم لعظم فتنتهن واحتيالهن في التخلص من ورطتهن
Sesungguhnya Allah swt mengatakan bahwa tipu daya wanita itu dahsyat adalah karena bahayanya fitnah yang ditimbulkan perempuan dan sulitnya terlepas dari kerumitan tipu daya yang mereka lakukan.
Kemudian beliau juga meriwayatkan satu hadits yang dinisbahkan kepada Rasulullah ﷺ dari Abu Hurairah ra., beliau bersabda:
إن كيد النساء أعظم من كيد الشيطان لأن الله تعالى يقول : إن كيد الشيطان كان ضعيفا وقال : إن كيدكن عظيم
Sesungguhnya tipu daya wanita itu lebih berbahaya dari pada tipu daya setan. Karena sesungguhnya Allah swt berfirman dalam al-Quran: ‘Sesungguhnya tipu daya setan itu lemah.’ (an-Nisa : 76) Sementara di ayat lain Allah swt berfirman: ‘Sesungguhnya tipu daya wanita itu amatlah dahsyat.’
Menjelaskan makna ungkapan di atas, Syekh Muhyiddin mencoba menerka alasan mengapa bisa menjadi demikian.
لأن ذاك سر وهذا جهر، وذاك وحده وهذا مع الشيطان، وذاك يفر من الاستعاذة وهذا لا يفر
Hal yang demikian adalah karena tipu daya setan tidak terlihat, sedangkan tipu daya wanita nampak jelas. Setan menggoda manusia dengan usahanya sendiri, sementara wanita menggodanya bersama setan. Setan lari terbirit-birit dengan ucapan istiadzah, sedangkan perempuan tidak demikian.
Walau demikian, Yusuf tidak terlepas dari jerat cintanya Zulaikha begitu saja. Tidak cukup menodai nama suci Yusuf dan melemparnya dengan tuduhan keji, Zulaikha membuat ulah lainnya ketika berita skandalnya menjalar keluar istana dan menjadi buah bibir perempuan-perempuan sejawatnya.
وَقَالَ نِسْوَةٌ فِى الْمَدِيْنَةِ امْرَاَتُ الْعَزِيْزِ تُرَاوِدُ فَتٰىهَا عَنْ نَّفْسِهٖۚ قَدْ شَغَفَهَا حُبًّاۗ اِنَّا لَنَرٰىهَا فِيْ ضَلٰلٍ مُّبِيْنٍ
Para wanita di kota itu berkata, “Istri al-Aziz menggoda pelayannya untuk menaklukkannya. Pelayannya benar-benar membuatnya mabuk cinta. Kami benar-benar memandangnya dalam kesesatan yang nyata.” (Yusuf : 30)
Menggelitik sekali jika kita melihat ayat di atas dari sudut pandang sosial. Secara tersirat, ayat di atas mengabarkan bahwa tradisi menggosip di kalangan wanita ternyata sudah ada sejak zaman Zulaikha dan ibu-ibu sosialita pada masanya. Hingga desas-desus itu akhirnya sampai ke telinga Zulaikha. Tidak terima dirinya dipandang hina karena dianggap tergila-gila dengan budaknya sendiri, ia merencanakan kejahatan kepada wanita-wanita yang telah memandang rendah dirinya.
فَلَمَّا سَمِعَتْ بِمَكْرِهِنَّ اَرْسَلَتْ اِلَيْهِنَّ وَاَعْتَدَتْ لَهُنَّ مُتَّكَاً وَّاٰتَتْ كُلَّ وَاحِدَةٍ مِّنْهُنَّ سِكِّيْنًا وَّقَالَتِ اخْرُجْ عَلَيْهِنَّۚ فَلَمَّا رَاَيْنَهٗٓ اَكْبَرْنَهٗ وَقَطَّعْنَ اَيْدِيَهُنَّۖ وَقُلْنَ حَاشَ لِلّٰهِ مَا هٰذَا بَشَرًاۗ اِنْ هٰذَآ اِلَّا مَلَكٌ كَرِيْمٌ
Maka, ketika dia (istri al-Aziz) mendengar cercaan mereka, dia mengundang wanita-wanita itu dan menyediakan tempat duduk bagi mereka. Dia memberikan sebuah pisau kepada setiap wanita (untuk memotong-motong makanan). Dia berkata (kepada Yusuf), “Keluarlah (tampakkanlah dirimu) kepada mereka.” Ketika wanita-wanita itu melihatnya, mereka sangat terpesona (dengan ketampanannya) dan mereka (tanpa sadar) melukai tangannya sendiri seraya berkata, “Mahasempurna Allah. Ini bukanlah manusia. Ini benar-benar seorang malaikat yang mulia.”
Dengan rencana jahatnya ini, Zulaikha hendak memberikan pelajaran kepada mereka dan membuat mereka paham tentang keindahan seperti apa yang membuatnya tak kuasa meredam nyala bara cinta. Namun, kejinya Zulaikha, ia tidak berhenti menodai kesucian Yusuf dengan dirinya. Pada peristiwa itu, ia sengaja menyuruh Yusuf berhias diri dan menampakkannya ke hadapan wanita-wanita itu. Istri panglima itu kembali menyiksa Yusuf dengan tipu dayanya. Bisa kita bayangkan betapa dibuat menderitanya Zulaikha oleh cintanya kepada Yusuf. Jika mereka saja yang baru sekali menyaksikan ketampanannya mampu melupakan rasa sakit ketika tak sadar mengiris jari-jari mereka, bagaimana dengan Zulaikha yang hari-harinya penuh dengan lalu-lalang Yusuf. Tidakkah kalian penasaran, mengapa pada momen itu, Zulaikha tidak ikut memotong tangannya seperti teman-temannya ketika terpesona dengan keindahan Yusuf? Yasin al-Khatib menerka jawaban atas pertanyaan tersebut di dalam kitabnya, ar-Raudha al-Faiha’
لم قطعن أيديهن ولم تقطع زليخا يديها؟ قيل: لأن يوسف كان في منزلها، ولم تخف الفراق، وهن قطعن أيديهن للفراق
Mengapa wanita-wanita itu memotong tangannya sedangkan Zulaikha tidak? Karena Yusuf tinggal di dalam istana Zulaikha. Sehingga ia tidak takut kehilangan dirinya. Sementara mereka terkesima melihat ketampanan Yusuf yang luar biasa, sehingga mereka tak ada hati untuk berpisah meninggalkannya.
Setelah sadar jari-jarinya teriris dan gaun mereka bersimbah darah, barulah mereka mengerti apa yang sedang menimpa Zulaikha. Mereka mewajarkan tindakan skandalnya dan ikut mendukung Zulaikha untuk membujuk Yusuf agar mau menuruti hasratnya dan kali ini ia mengancamnya dengan dinginnya jeruji penjara jika tidak memenuhi keinginannya.
قَالَتْ فَذٰلِكُنَّ الَّذِيْ لُمْتُنَّنِيْ فِيْهِۗ وَلَقَدْ رَاوَدْتُّهٗ عَنْ نَّفْسِهٖ فَاسْتَعْصَمَۗ وَلَىِٕنْ لَّمْ يَفْعَلْ مَآ اٰمُرُهٗ لَيُسْجَنَنَّ وَلَيَكُوْنًا مِّنَ الصّٰغِرِيْنَ
Dia (istri al-Aziz) berkata, “Itulah orangnya yang menyebabkan kamu mencela aku karena (aku tertarik) kepadanya. Sungguh, aku benar-benar telah menggoda untuk menaklukkan dirinya, tetapi dia menolak. Jika tidak melakukan apa yang aku perintahkan kepadanya, niscaya dia akan dipenjarakan dan benar-benar akan termasuk orang yang hina.” (Yusuf : 32)
Tentu saja, Yusuf lebih memilih penjara dari pada harus menjadi budak hawa nafsu Zulaikha. Episode penjara dalam kisah Yusuf sama sekali tidak menunjukkan akan kekalahan kebenaran atas kebatilan. Tidak seperti kebanyakan penjara yang melambangkan kehinaan dan kejahatan. Penjara Yusuf justru lebih menonjolkan tanda kemuliaan dan kebajikan. Ia merupakan simbol dari keteguhan seorang laki-laki yang menggigit kencang prinsip hidupnya: mulia di jalan Tuhan. Dalam istilah tasawuf, memenjarakan diri seperti yang dilakukan Yusuf disebut Uzlah. Cara terbaik saat kezaliman benar-benar sudah menyudutkan dan tak ada daya-upaya untuk mengubahnya adalah dengan melindungi diri dari dampak kerusakan yang sedang terjadi. Karena jika tidak demikian, kitalah yang hancur terjerumus ke tengah kuat arusnya.
قَالَ رَبِّ السِّجْنُ اَحَبُّ اِلَيَّ مِمَّا يَدْعُوْنَنِيْٓ اِلَيْهِۚ وَاِلَّا تَصْرِفْ عَنِّيْ كَيْدَهُنَّ اَصْبُ اِلَيْهِنَّ وَاَكُنْ مِّنَ الْجٰهِلِيْنَ
(Yusuf) berkata, “Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka. Jika Engkau tidak menghindarkan tipu daya mereka dariku, niscaya aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka) dan tentu aku termasuk orang-orang yang bodoh.” (Yusuf : 33)
Ayat di atas juga mengajarkan kepada kita, laki-laki yang sedang jatuh cinta, namun belum mampu menikah. Hendaknya ia memenjarakan dirinya dari hal-hal yang dapat membuatnya tergelincir ke dalam kemaksiatan dengan melazimkan puasa sunnah seperti yang diajarkan Rasulullah ﷺ dalam hadits riwayat al-Bukhari.
يا مَعشَرَ الشَّبابِ، مَنِ استَطاعَ منكمُ الباءةَ فليَتَزَوَّجْ، ومَن لم يَستَطِعْ فعليه بالصَّومِ؛ فإنَّه له وِجاءٌ
Wahai para pemuda sekalian! Barang siapa di antara kalian yang sudah mampu untuk menikah, maka menikahlah. Dan barang siapa yang belum mampu, maka berpuasalah. Karena sesungguhnya di dalam puasa terdapat penahan syahwat.
Ayat di atas pula yang mendasarkan nasihat Abu al-Laits as-Samarqandi pada bab keutamaan majelis ilmu dalam kitabnya, Tanbih al-Ghafilin bi Ahadits Sayyidi al-Anbiya’ wa al-Mursalin tentang pengaruh yang ditularkan dari bergaul dengan macam-macam golongan manusia.
مَنْ جَلَسَ مَعَ ثَمَانِيَةِ أَصْنَافٍ مِنَ النَّاسِ، زَادَهُ اللَّهُ ثَمَانِيَةَ أَشْيَاءَ مَنْ جَلَسَ مَعَ الْأَغْنِيَاءِ، زَادَهُ اللَّهُ حُبَّ الدُّنْيَا وَالرَّغْبَةَ فِيهَا، وَمَنْ جَلَسَ مَعَ الْفُقَرَاءِ، زَادَهُ اللَّهُ الشُّكْرَ وَالرِّضَا بِقِسْمَةِ اللَّهِ تَعَالَى، وَمَنْ جَلَسَ مَعَ السُّلْطَانِ، زَادَهُ اللَّهُ الْكِبْرَ، وَقَسَاوَةَ الْقَلْبِ، وَمَنْ جَلَسَ مَعَ النِّسَاءِ، زَادَهُ اللَّهُ الْجَهْلَ، وَالشَّهْوَةَ، وَالْمَيْلَ إِلَى عُقُولِهِنَّ، وَمَنْ جَلَسَ مَعَ الصِّبْيَانِ، زَادَهُ اللَّهُ اللَّهْوَ وَالْمِزَاحَ، وَمَنْ جَلَسَ مَعَ الْفُسَّاقِ، زَادَهُ اللَّهُ الْجُرْأَةَ عَلَى الذُّنُوبِ، وَالْمَعَاصِيَ وَالْإِقْدَامَ عَلَيْهَا، وَالتَّسْوِيفَ فِي التَّوْبَةِ، وَمَنْ جَلَسَ مَعَ الصَّالِحِينَ، زَادَهُ اللَّهُ الرَّغْبَةَ فِي الطَّاعَاتِ وَاجْتِنَابَ الْمَحَارِمَ، وَمَنْ جَلَسَ مَعَ الْعُلَمَاءِ، زَادَهُ اللَّهُ الْعِلْمَ وَالْوَرَعَ
Barang siapa yang duduk dengan delapan golongan dari manusia berikut ini, niscaya Allah swt akan menambahkan baginya delapan hal lainnya. Pertama, barang siapa yang duduk dengan orang-orang kaya, niscaya Allah swt akan menambahkannya rasa cinta terhadap dunia dan ambisi terhadapnya. Kedua, barang siapa yang duduk dengan orang-orang fakir, niscaya Allah swt akan menambahkannya rasa syukur dan rida terhadap pemberian Allah swt. Ketiga, barang siapa yang duduk dengan para penguasa, niscaya Allah swt akan menambahkannya kesombongan dan kerasnya hati. Keempat, barang siapa yang duduk dengan perempuan, niscaya Allah swt akan menambahkannya kebodohan, syahwat dan kecondongan kepada pola pikir mereka. Kelima, barang siapa yang duduk bersama anak kecil, Allah swt akan menambahkannya canda dan senda gurau. Keenam, barang siapa yang duduk bersama orang-orang fasik, niscaya Allah swt akan menambahkannya keberanian untuk melakukan dosa, kemaksiatan, keinginan untuk melakukannya dan menunda taubat. Ketujuh, barang siapa yang duduk dengan orang-orang saleh, niscaya Allah swt akan menambahkannya keinginan untuk melakukan ketaatan dan menjauhi hal-hal yang dilarang. Kedelapan, barang siapa yang duduk dengan para ulama, niscaya Allah swt akan menambahkannya ilmu dan kehati-hatian dalam perkara agama.
Pernyataan Yusuf dalam ayat di atas maupun nasihat as-Samarqandi yang mengatakan bahwa banyak duduk bersama wanita akan mewariskan kebodohan bagi laki-laki, tidak serta-merta menafikan kecerdasan wanita. Bukan begitu. Pahamilah bahwa ucapan tersebut merupakan perspektif laki-laki yang bisa saja terpengaruh dengan hal-hal negatif jika menormalisasi interaksi dengan perempuan yang bukan mahram melebihi batas kewajaran dan di luar keperluan. Karena jika kita melihat akibat yang disebutkan oleh as-Samarqandi dari banyak bergaul dengan perempuan hanya dua: laki-laki itu termakan syahwatnya atau jiwanya akan condong ke dalam dunia wanita. Dua hal tersebut sama buruknya dalam Islam. Maka sikap Yusuf yang tegar dan teguh untuk memenjarakan dirinya dari tipu daya wanita adalah salah satu pelajaran berharga yang bisa kita petik dari kisah ini. Para mufassir mengemukakan beragam riwayat tentang lamanya masa Yusuf dipenjara. Ada yang mengatakan lima tahun. Ada yang mengatakan tujuh tahun. Bahkan dalam tafsir al-Qurtubi ditafsirkan bahwa Yusuf mendekam di balik jeruji besi sepanjang dua belas tahun lamanya.
ثُمَّ بَدَا لَهُم مِّنۢ بَعْدِ مَا رَأَوُا الْآيَاتِ لَيَسْجُنُنَّهُۥ حَتَّىٰ حِينٍ
Kemudian timbul pikiran pada mereka setelah melihat tanda-tanda (kebenaran Yusuf) bahwa mereka harus memenjarakannya sampai waktu tertentu. (Yusuf : 35)
Jika kita cermati dengan seksama, pembaca seharusnya bertanya tentang apa yang membuat Yusuf tetap dipenjara? Apakah itu atas kemauannya sendiri? Ataukah ada kasus lain yang dilakukan Yusuf? Padahal kita sama-sama tahu bahwa Yusuf telah terbebas dari tuduhan Zulaikha dengan bukti-bukti nyata seperti terkoyaknya baju bagian belakang Yusuf, kesaksian bayi yang masih berada dalam gendongan ibunya dan penolakan Yusuf terhadap bujuk rayu wanita Mesir yang memotong tangannya sendiri. Bukankah seharusnya ia dibebaskan dari hukuman apa pun karena terbukti tidak bersalah? Bukankah yang seharusnya dihukum adalah Zulaikha?
Mengenai hal ini, ulama tafsir juga memberikan jawaban yang reflektif. Al-Qurtubi dalam tafsirnya menyangkal bahwa dipenjara bukanlah kehendak Yusuf. Sementara, dalam tafsir ath-Thabari dikatakan bahwa alasannya adalah karena Yusuf berusaha membersihkan namanya dari tuduhan yang mencemarkan nama baiknya kepada masyarakat lain. Perbuatan Yusuf tersebut diketahui oleh Zulaikha. Ia pun mengadukan perihal ini kepada suaminya dan memintanya agar Yusuf menghentikan perbuatannya dengan mengurungnya di penjara.
Pada momen ini, kita berhenti sejenak untuk mengamati alur cerita yang secara zahir hanya menampakkan momen Yusuf dipenjarakan Zulaikha bahkan setelah suami dan seisi istana sudah mengetahui siapa yang salah dan benar dengan bukti dan saksi. Tidakkah kalian menyaksikan bagaimana besarnya pengaruh seorang wanita terhadap pasangannya? Entah dengan apa atau bagaimana caranya Zulaikha mampu membujuk suaminya agar memenjarakan Yusuf. Padahal saat itu, sang suami adalah panglima yang membawahi banyak pasukan, tangan kanan kerajaan dengan kekuasaan yang besar. Isyarat ini, ternyata juga ditunjukkan oleh al-Qurtubi. Dalam tafsirnya, ia mengatakan:
وكأن العزيز – وإن عرف براءة يوسف – أطاع المرأة في سجن يوسف
Dan seolah ayat di atas menyiratkan bahwa sang al-Aziz (sebutan al-Quran bagi suami Zulaikha) tetap menuruti keinginan istrinya untuk memenjarakan Yusuf. Bahkan, setelah ia sendiri mengetahui kebenaran Yusuf.
Walau demikian, Yusuf tetap menerima semua kepedihan yang menimpanya. Karena ia memahami dengan baik bahwa segalanya merupakan bagian dari rencana Tuhan dan tidak ada satu momen pun yang keluar dari kehendak-Nya.
وَاللّٰهُ غَالِبٌ عَلٰٓى اَمْرِهٖ وَلٰكِنَّ اَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُوْنَ
Allah berkuasa terhadap urusan-Nya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengerti. (Yusuf : 21)
Yusuf menjalani harinya dalam penjara dengan penuh syukur dan rida. Hal itu terlihat dari bagaimana Yusuf menghabiskan waktunya di sana dengan beribadah dan berdakwah. Ia melakukan, mengajarkan dan mengajak kebaikan kepada semua penghuni penjara. Kehadirannya di tengah-tengah mereka menyulap suramnya penjara menjadi pusat penyebaran agama islam. Begitulah bagaimana Yusuf menerima ketetapan Tuhan-nya. Hingga tiba saatnya, sang raja diusik oleh sebuah mimpi yang menurutnya mengandung sebuah misteri yang harus dipecahkan. Ia membutuhkan Yusuf untuk mentakwil mimpinya. Akhirnya sang raja mengutus utusannya untuk segera membebaskan Yusuf. Sesampainya sang utusan di hadapa Yusuf, menawarkan kebebasan dirinya yang telah lama dirampas oleh Zulaikha, alih-alih bergembira, Yusuf malah meminta jaminan terlebih dahulu kepada raja tentang kebenarannya yang selama ini terpendam di tengah masyarakat. Ia menuntut agar sang raja mengadili Zulaikha dan semua wanita yang terlibat dalam kasus pencemaran nama baiknya serta mengungkap kebenaran yang sesungguhnya.
وَقَالَ الْمَلِكُ ائْتُوْنِيْ بِهٖۚ فَلَمَّا جَاۤءَهُ الرَّسُوْلُ قَالَ ارْجِعْ اِلٰى رَبِّكَ فَسْـَٔلْهُ مَا بَالُ النِّسْوَةِ الّٰتِيْ قَطَّعْنَ اَيْدِيَهُنَّۗ اِنَّ رَبِّيْ بِكَيْدِهِنَّ عَلِيْمٌ
Raja berkata, “Bawalah dia kepadaku!” Ketika utusan itu datang kepadanya, dia (Yusuf) berkata, “Kembalilah kepada tuanmu dan tanyakan kepadanya bagaimana perihal wanita-wanita yang telah melukai tangannya. Sesungguhnya Tuhanku Maha Mengetahui tipu daya mereka.” (Yusuf : 50)
Pada momen ini, Yusuf mengajarkan kepada kita agar bersabar dalam penantian menuju pernikahan. Jangan berani melepaskan atau mengendurkan ikatan untuk memaklumi tindakan yang berpotensi menjatuhkan kita ke dalam bentuk kemaksiatan. Pastikan dulu bahwa di luar diri kita sudah benar-benar aman untuk dipijaki. Sehingga nama baik kita sebagai hamba Allah swt tidak tercemar dengan perzinaan. Itulah bentuk penjagaan terbaik seorang laki-laki kepada seorang wanita: adalah dengan menjaga kehormatan dirinya dari merusak wanita.
Mendengar permintaan itu dari utusannya sebagai syarat kebebasan Yusuf, sang raja yang disebut dalam tafsir al-Qurtubi bernama ar-Rayyan bin al-Walid memenuhi persyaratannya dan menggelar sidang. Setelah hadir Zulaikha dan semua wanita yang terlibat dalam kasus pencemaran nama baik Yusuf, raja memulai sidang dan menghujani mereka dengan pertanyaan. Sampailah akhirnya pada titik pengakuan Zulaikha dan teman-temannya.
قَالَ مَا خَطْبُكُنَّ اِذْ رَاوَدْتُّنَّ يُوْسُفَ عَنْ نَّفْسِهٖۗ قُلْنَ حَاشَ لِلّٰهِ مَا عَلِمْنَا عَلَيْهِ مِنْ سُوْۤءٍۗ قَالَتِ امْرَاَتُ الْعَزِيْزِ الْـٰٔنَ حَصْحَصَ الْحَقُّۖ اَنَا۠ رَاوَدْتُّهٗ عَنْ نَّفْسِهٖ وَاِنَّهٗ لَمِنَ الصّٰدِقِيْنَ
Dia (raja) berkata (kepada wanita-wanita itu), “Bagaimana keadaanmu ketika kamu menggoda Yusuf untuk menundukkan dirinya?” Mereka berkata, “Mahasempurna Allah, Kami tidak mengetahui sesuatu keburukan darinya.” Istri al-Aziz (Zulaikha) berkata, “Sekarang jelaslah kebenaran itu. Akulah yang menggodanya dan sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang benar.” (Yusuf : 51)
Inilah akhir cerita Zulaikha dari serangkaian kisah Yusuf yang sarat hikmah. Setelah ayat di atas, kisah Zulaikha tidak ditemukan lagi pada ayat atau surat yang lainnya. Ia hanya bagian kecil dari kesabaran Yusuf dalam mengemban risalah kenabian. Lalu apa setelah itu? Apakah usai begitu saja? Tentu tidak. Jangan berhenti pada akhir kisah Zulaikha sebelum memeras intisarinya. Mari kita kembali kepada titik awal konflik. Singkat saja. Zulaikha bersalah karena mencoba menggoda Yusuf untuk menuruti hawa nafsunya. Seharusnya ketika suami Zulaikha mendapatkan keduanya lari dari kamar singgasana, Zulaikha mengakui kesalahannya, meminta maaf kepada Yusuf dan suaminya, serta tidak mengulangi kesalahannya. Terlepas apakah nanti suaminya memaafkan atau tidak, memberikannya hukuman atau tidak adalah hal lain. Paling tidak, tiga langkah sederhana itu dulu yang seharusnya dilakukan Zulaikha setelah melakukan sebuah kesalahan. Namun, sebagaimana telah kita ketahui bersama, yang dilakukan Zulaikha setelah bersalah bukan tiga hal itu. Ia menyalahkan Yusuf, menjadikannya tontonan untuk teman-teman wanitanya, mengancamnya dengan penjara, membujuk suaminya agar memenjarakan Yusuf hingga bertahun-tahun lamanya. Meski pun pada akhirnya, ia mengakui juga kesalahannya.
الْـٰٔنَ حَصْحَصَ الْحَقُّۖ اَنَا۠ رَاوَدْتُّهٗ عَنْ نَّفْسِهٖ وَاِنَّهٗ لَمِنَ الصّٰدِقِيْنَ
“Sekarang jelaslah kebenaran itu. Akulah yang menggodanya dan sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang benar.”
Pembaca yang budiman. Jika hari ini anda tidak asing dengan apa yang dilakukan Zulaikha sebagai wanita setelah melakukan kesalahan, jika anda saat ini pernah berada pada posisi Yusuf, maka ketahuilah barang kali memang seperti itu alurnya untuk sampai pada tahap mengakui kesalahan. Belum ke tahap meminta maaf apalagi berjanji untuk tidak mengulangi. Belajarlah sabar dari Yusuf yang rela menunggu Zulaikha mengakui kesalahannya dari dalam penjara, bertahun-tahun lamanya. Karena pada akhirnya, Zulaikha bertobat. Setelah mendapat penolakan cintanya Yusuf, ia berlari mengejar cinta Tuhan-nya Yusuf. Sehingga Allah pun merestui dan menikahkan keduanya dalam kebahagiaan. Seperti yang diriwayatkan dalam kitab-kitab tafsir
Jika baru sehari atau dua hari menghadapi rajukan istri di rumah karena kesalahan yang tidak pernah kalian lakukan, bersabarlah. Karena kalian tidak berada di dalam penjara -meski pun pada saat seperti itu, rumah lebih terasa seperti penjara- dan rajukannya tidak akan bertahan lama. Bujuklah hingga senyumannya kembali merekah. Sekali lagi, barang kali memang begitu tabiatnya. Begitulah al-Quran ingin mengajarkan bagaimana kita memperlakukan perempuan. Mengakhiri tulisan ini, izinkan penulis mengajukan pernyataan dan pertanyaan kepada pembaca sekalian. Pernyataannya adalah jika tulisan ini secara tidak langsung mengusik pembaca dari kalangan kaum hawa, mungkin itu adalah alasan mengapa Jalaluddin as-Suyuti dalam kitabnya al-Itqan fii al-Ulum al-Quran menukil ucapan al-Hakim tentang larangan mengajarkan kandungan surat Yusuf kepada mereka. Sedangkan, pertanyaannya adalah bagaimana jika seandainya Zulaikha mengaku bersalah sejak awal, kemudian meminta maaf dan berjanji tidak mengulanginya, apakah kelanjutan ceritanya akan sama?
‘Wanita adalah buku yang sampulnya diperindah oleh Tuhan. Sehingga ia menjadi fitnah bagi orang-orang yang melihatnya. Tuhan menulis di pengantar buku, maka ia datang tersenyum seperti bunga-bunga pada musim semi. Kemudian setan menulis bab-babnya, sehingga ia penuh tipu daya, sengsara dan sering berduka.’ –Lamartine–