Rasulullah Saw. dan Benda Miliknya: Bagian Pertama – Pakaian

Gaya hidup Rasulullah ﷺ yang digambarkan dalam kitab-kitab sirah, jauh sekali dari kemewahan. Konsep zuhud yang diajarkan oleh standar hidupnya adalah memiliki sesuatu sesuai kebutuhan dan kegunaannya. Tidak menjadikan nominal harga sebagai patokan, tidak juga meletakkan harga diri seseorang pada apa yang ia miliki atau apa yang ia kenakan. Zuhud yang beliau contohkan bukan hidup sesuai kemampuan. Karena jika zuhud dimaknai demikian, itu sama saja penghinaan kepada Rasulullah ﷺ yang hidupnya pas-pasan. Bukan berarti beliau tidak mampu membeli barang terbaik pada masanya. Bagaimana tidak? Beliau diberikan Allah Swt. perbendaharaan bumi dan kekuasaan di atasnya. Harta rampasan perang dihalalkan untuknya. Padahal, sebelumnya itu diharamkan atas nabi-nabi lainnya.

Kendati demikian, beliau tetap memilih hidup seperti apa yang selama ini kita dengar tentangnya. Bukan tanpa alasan, beliau melakukannya sebagai bentuk kasih sayang kepada umatnya yang bernasib tidak seberuntung umat lainnya. Dengan demikian, beliau merasakan apa yang dirasakan oleh umatnya yang sedang dalam keterbatasan, mensyukuri pemberian Tuhan dan melembutkan hati dari kerasnya kesombongan yang bisa jadi timbul sebab kekayaan. Bahkan, salah satu di antara julukannya adalah Abu al-Masakin (Bapaknya orang-orang miskin) karena sifat pedulinya kepada mereka. Diriwayatkan oleh Imam at-Tirmidzi dari sahabat Anas bin Malik, suatu hari Rasulullah ﷺ pernah berdoa dengan doa yang mungkin tidak pernah kita panjatkan: “Ya Allah, hidupkanlah aku sebagai orang miskin, matikanlah aku sebagai orang miskin, dan bangkitkanlah aku bersama golongan orang-orang miskin pada hari kiamat.” Mendengar doa tersebut, A’isyah ra. bertanya: “Mengapa demikian, wahai Rasulullah ﷺ?” Beliau menjawab: “Sesungguhnya mereka 40 tahun lebih dulu masuk surga sebelum orang-orang kaya. Wahai, A’isyah, jangan pernah mengusir orang miskin. Berilah meski hanya sepotong kurma. Wahai A’isyah, cintailah dan dekati mereka. Sesungguhnya Allah Swt. akan mendekatkanmu pada hari kiamat.”

Sekali lagi, prinsip yang diiklankan oleh Rasulullah ﷺ dalam menjalani kehidupan ini adalah memiliki sesuatu berdasarkan kebutuhan. Sebagaimana yang disampaikan oleh Imam Yusuf an-Nabhani dalam Wasail-nya. Rasulullah ﷺ gelisah jika ada di dalam rumahnya harta yang melebihi batas kebutuhan hidupnya. Hilang ketenangannya hingga ia menggunakan harta lebih tersebut pada sesuatu yang seharusnya. Al-Qadhi ‘Iyadh dalam asy-Syifa’ meriwayatkan sebuah hadits yang mengisahkan bahwa suatu hari Rasulullah ﷺ diberikan banyak kepingan emas. Beliau pun membagikannya kepada yang berhak menerimanya, hingga tidak tersisa satu pun untuknya. Setelah itu barulah ia berkata:

الان استرحت

“Sekarang, aku bisa istirahat.”

Berbeda sekali keadaannya dengan kita. Beliau baru bisa tidur setelah tidak tersisa apa pun dari hartanya yang melebihi kebutuhannya, sedangkan kita tidak bisa tidur jika tidak memilikinya. Inilah teladan manusia sempurna. Beliau menyadarkan kita bahwa ketenangan dan kebahagiaan seharusnya sama sekali tidak terikat dengan jumlah harta yang menggumpal. Kesederhanaan hidupnya membuat seakan kesenangan hidup semestinya tetap dapat dinikmati sesederhana mungkin.

Serial tulisan kali ini akan menyoroti tentang benda apa saja yang dimiliki Rasulullah ﷺ dalam memenuhi kebutuhan pokok hidupnya dan bagaimana beliau memperlakukan barangnya. Semoga Allah Swt. mudahkan kita untuk sedikit saja meneladani keluhuran akhlaknya bahkan kepada benda mati sekali pun. Amin.

Pakaian Rasulullah ﷺ

Sebelum menyebutkan jenis pakaian apa yang dikenakan oleh Rasulullah ﷺ, ulama lebih dulu meletakkan perhatiannya pada kaidah dasar yang melandasi nilai-nilai kesederhanaan lewat cara berpakaian Rasulullah ﷺ. Ia menjadi penting karena kaidah-kaidah tersebut merupakan standar tetap dalam sunnah berpakaian yang diajarkan Rasulullah ﷺ. Bukan hanya sekadar model atau bahan yang bersifat materi. Seperti yang dirumuskan oleh Imam an-Nabhani, berikut adalah hal-hal yang perlu diperhatikan dalam sunnah berpakaian ala Rasulullah ﷺ.

Rasulullah ﷺ mengajarkan umatnya dalam hal berpakaian agar mengenakan pakaian seadanya. Tidak berbangga-bangga dalam berpakaian dan berhias. Sebab hal itu bukan termasuk perkara yang membuat seseorang menjadi mulia nan agung. Berhias dalam berpakaian merupakan adat kaum perempuan yang tidak semestinya ada pada seorang laki-laki. Imam al-Qastallani dalam al-Mawahib al-Ladunniyyah mengatakan bahwa keindahan rupa dalam berpakaian dan berpenampilan terbagi menjadi tiga macam: Mahmud (terpuji), Madzmum (Tercela) dan Mubah (diperbolehkan). Adapun keindahan berpenampilan akan menjadi terpuji jika diniatkan untuk menaati perintah Allah Swt. dalam menutup aurat dan menghormati orang lain. Seperti yang dicontohkan Rasulullah ﷺ yang selalu nampak rapi dihadapan orang yang ia temui. Sedangkan jika dilandaskan kesombongan, pakaian yang mahal justru akan membuat pemiliknya tercela. Berpenampilan yang tidak didasarkan dengan kedua hal di atas adalah dihukumi mubah. Dalam hal berpakaian, Rasulullah ﷺ tidak memberikan batasan yang sempit. Beliau tidak menetapkan harus dengan bahan, model atau harga tertentu. Bahkan, dalam hal ini beliau memberikan keluasan pilihan dan menganjurkan umatnya agar mengenakan pakaian seadanya. Hal pokok yang tidak boleh dilepaskan dari ketentuan berpakaian dalam Islam adalah menutup aurat, menghalangi warna dan bentuk tubuh. Ini yang masih banyak disalahpahami oleh umat muslim pada umumnya bahwa menutup aurat cukup hanya dengan melapisi kulit dengan pakaian. Padahal tujuannya adalah agar menyamarkan lekukan tubuh yang berpotensi menjadi sumber fitnah. Salah satu istri Rasulullah ﷺ, Ummu Salamah ra. pernah bercerita, suatu malam Rasulullah ﷺ terjaga dari tidurnya, lalu berdoa dan berkata:

كم من كاسية في الدّنيا عارية يوم القيامة

Berapa banyak manusia yang dahulu berpakaian di dunia, telanjang tanpa pakaian pada hari kiamat.

Imam al-Lahji mengatakan bahwa hadits di atas merupakan peringatan dari Rasulullah ﷺ kepada umatnya yang mengenakan pakaian transparan dan membentuk lekukan tubuh. Setelah memenuhi syarat dan ketentuan menutup aurat, barulah seorang muslim hendaknya juga memperhatikan kebersihan pakaiannya. Abu Nu’aim al-Ashbahani (430 H) dalam al-Hilyah meriwayatkan dari Ibnu Umar mengatakan bahwa sesungguhnya kemuliaan seorang mukmin di sisi Allah swt terdapat pada kebersihan pakaiannya dan keridaannya terhadap pakaian yang dimilikinya. Suatu hari, Rasulullah ﷺ mendapati seorang laki-laki yang berpakaian lusuh, kotor. Kemudian beliau berkata: ‘Apakah orang ini tidak menemukan sesuatu yang dapat membersihkan bajunya?’ Pertanyaan Rasulullah ﷺ adalah tanda perhatian beliau bukan pada model atau harga pakaiannya. Namun, pada kebersihan dan kerapihan. Selain itu, Rasulullah ﷺ juga mengajarkan umatnya agar mengenakan pakaian yang lumrah dikenakan pada suatu masyarakat tertentu. Tidak nyentrik sehingga menimbulkan pandangan negatif dari penduduk setempat. Beliau tidak menuntut umatnya agar mengenakan apa yang beliau pakai. Sunnahnya bukan hanya terbatas pada memakai jubah atau udeng di atas kepala. Mampu menyesuaikan pakaian di waktu dan tempat tertentu adalah sunnah besar yang menaungi adab berpakaian.

1. Jubah

Pakaian harian Rasulullah ﷺ adalah jubah. Dalam kamus bahasa Arab, jubah dideskripsikan sebagai pakaian yang memiliki dua lubang tangan, satu kantong dan terbuat dari kain katun, bukan kain wol. Imam at-Tirmidzi dalam kitab asy-Syamail meriwayatkan hadits dari Ummu Salamah ra. beliau berkata:

كان أحبّ الثياب إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم القميص

Pakaian yang paling disenangi oleh Rasulullah ﷺ adalah jubah.

Al-Munawi dan ulama lainnya mencoba menerka alasan mengapa Rasulullah ﷺ gemar mengenakan jubah adalah karena ia lebih menutupi badan dari pada kain sarung. Selain itu, jubah juga lebih ringan ketika dikenakan. Orang yang biasa memakai jubah lebih sedikit berpotensi terkena penyakit sombong.

كان كمّ قميص رسول الله صلى الله عليه وسلم إلى الرّسغ

Asma’ binti Yazid al-Anshari, nama asli dari Ummu Salamah ra., juga meyifatkan jubah Rasulullah ﷺ panjang lengannya hingga pergelangan. Imam al-Lahji mengungkapkan hikmah dari hal tersebut adalah jika panjang lengan baju melebihi pergelangan, ia akan menghalangi pemakainya dari pergerakan yang leluasa. Namun, kurang dari pergelangan, lengan akan tersengat panas atau tertusuk dingin. Itulah mengapa Rasulullah ﷺ menjadikannya hingga pergelangan tangan sebagai pertengahan, dan sebaik-baiknya perkara adalah yang pertengahan. Dalam riwayat yang lain, al-Mughirah bin Syu’bah ra. pernah menyaksikan bahwa Rasulullah ﷺ pernah memakai jubah dari negeri Syam yang berlengan sempit. Mungkin pada saat ini, seperti lengan baju kemeja. Karena biasanya, bagian lengan jubah longgar. Namun, ternyata Rasulullah ﷺ juga pernah mengenakan model lainnya. Ini menjadi bukti tentang keluasan Rasulullah ﷺ dalam perkara model pakaian selama memenuhi syarat utamanya: menutupi aurat dan bersih.

2. Koko dan Kain Sarung

Selain jubah, Rasulullah ﷺ juga memiliki sepasang pakaian atasan dan bawahan. Warna setelan pakaian yang pernah dimiliki oleh Rasulullah ﷺ beragam. Beliau pernah memiliki setelan bercorak merah buatan Qatar seperti yang disaksikan oleh Abu Juhaifah ra. dan al-Barra’ bin Azib dalam asy-Syamail al-Muhammadiyyah. Mereka berdua mengatakan tidak pernah melihat ketampanan seperti Rasulullah ﷺ ketika sedang mengenakan pakaian tersebut. Beliau juga memiliki setelan bercorak garis-garis hijau sebagaimana yang dikisahkan oleh Imam asy-Sya’rani dalam Kasyf al-Ghummah. Imam al-Ghazali pun meriwayatkan hadits dalam kitabnya, Ihya’ dari Ummu Salamah bahwa Rasulullah ﷺ pernah memiliki baju berwarna hitam sebelum beliau memberikannya kepada orang lain. Ummu Salamah sampai terpesona memandang keindahan Rasulullah ﷺ mengenakan baju tersebut seraya memuji:

ما رأيت شيئا قطّ أحسن من بياضك على سواده

Sungguh aku tidak pernah melihat sesuatu yang lebih indah dari keelokan putih kulitmu yang berpadu pada hitam baju itu.

Di antara warna itu, warna hijau adalah warna yang paling disenangi Rasulullah ﷺ. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abu asy-Syaikh dan Abu Nu’aim dalam kitab ath–Thib an-Nabawi dari sahabat Anas bin Malik ra. beliau berkata demikian. Begitu pula kesaksian Qatadah ketika sedang bersama Anas bin Malik, mereka melewati sebuah negeri yang hijau, beliau takjub dan mengenang bahwa dahulu Rasulullah ﷺ sangat menyenangi warna hijau. Karena hijau menjadi warna yang dipilih Tuhan untuk menghiasi surga dan pakaian berwarna hijau adalah pakaian ahli surga.

وَمِنْ دُوْنِهِمَا جَنَّتٰنِۚ (62) فَبِاَيِّ اٰلَاۤءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبٰنِۙ (63) مُدْهَاۤمَّتٰنِۚ (64)

Selain dari kedua (surga) itu ada dua surga (lagi). Maka, nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan (wahai jin dan manusia)? Kedua surga itu (terlihat warnanya) hijau tua. (ar-Rahman : 62-64)

مُتَّكِـِٕيْنَ عَلٰى رَفْرَفٍ خُضْرٍ وَّعَبْقَرِيٍّ حِسَانٍۚ

Mereka bertelekan pada bantal-bantal yang hijau dan permadani-permadani yang indah. (ar-Rahman : 76)

عَالِيَهُمْ ثِيَابُ سُندُسٍ خُضْرٌ وَإِسْتَبْرَقٌ ۖ وَحُلُّوا أَسَاوِرَ مِن فِضَّةٍ وَسَقَاهُمْ رَبُّهُمْ شَرَابًا طَهُورًا

Mereka berpakaian sutra halus yang hijau, sutra tebal, dan memakai gelang perak. Tuhan memberikan kepada mereka minuman yang suci. (al-Insan : 21)

Meski demikian, kesukaan Rasulullah  ﷺ terhadap warna hijau, tidak menafikan kedudukan pakaian warna putih dalam Islam. Sebab dalam haditsnya yang lain, beliau juga menganjurkan umatnya agar membiasakan diri memakai pakaian putih. Warna putih pula yang dipilih oleh Rasulullah ﷺ untuk menjadi pakaian terkahir seorang hamba saat wafat menghadap-Nya.

عن ابن عباس قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم عليكم بالبياض من الثّياب ليلبسها أحياؤكم وكفّنوا فيها موتاكم، فإنّها من خير ثيابكم

Dari Ibnu Abbas ra. beliau berkata bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda: ‘Hendaklah kalian mengenakan pakaian berwarna putih. Pakaikanlah pakaian warna putih itu kepada saudara kalian yang masih hidup dan kafanilah mereka dengannya ketika wafat. Karena sesungguhnya ia adalah di antara pakaian terbaik bagi kalian.’ (HR. At-Tirmidzi)

عن سمرة بن جندب قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم البسوا البياض فإنّها أطهر وأطيب، وكفّنوا فيها موتاكم

Dari Samurrah bin Jundab beliau berkata bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda: ‘Pakailah pakaian berwarna putih. Karena sesungguhnya ia lebih bersih dan lebih elok. Kafanilah saudara kalian yang wafat dengannya.’

Adab Berpakaian

Selain prinsip dasar dalam berpakaian yang telah dipaparkan pada bagian sebelumnya, Rasulullah ﷺ juga mengajarkan bagaimana adab berpakaian. Adab tersebut adalah sebagai berikut.

1. Membaca Doa

Gaya hidup yang ditawarkan Rasulullah ﷺ adalah hidup yang benar-benar menjadikan setiap guliran waktunya adalah ibadah. Tidak ada satu momen di dalamnya melainkan harus mengandung unsur ibadah. Kegiatan yang sepintas terlihat hanya sebatas rutinitas, karena diniatkan dan dimula dengan doa seketika menjelma menjadi ibadah dalam bentuk yang lain. Seperti saat memakai pakaian, beliau tidak membiarkannya berlalu begitu saja tanpa nilai ibadah. Pada kesempatan yang sekejap itu, beliau menyempatkan untuk berdoa dalam wujud syukur atas nikmat-Nya berupa pakaian yang melindunginya dari panas dan dingin. Kegiatan ringan itu menjadi peluang untuk mendapatkan ampunan. Berikut doa yang diriwayatkan oleh Imam at-Tirmidzi dari Abu Sa’id al-Khudri ra. Doa ini dibaca Rasulullah ﷺ ketika mendapatkan baju baru.

اللَّهُمَّ لَكَ الحَمْدُ كَمَا كَسَوْتَنِيْهِ ، أَسْأَلُكَ خَيْرَهُ وَخَيْرَ مَا صُنِعَ لَهُ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّهِ وَشَرِّ مَا صُنِعَ لَهُ

‘Ya Allah, segala puji bagi-Mu. Sebagaimana Engkau telah memakaikanku pakaian itu, aku memohon kebaikannya dan kebaikan apa pun yang dibuat untuknya, dan aku berlindung dari keburukannya dan dari keburukan apa pun yang dibuat untuknya.’

Dalam riwayat Ahmad, Abu Dawud dan Ibnu Majah, Rasulullah ﷺ mengajarkan doa yang lain.

من لبس ثوبا فقال الحَمْدُ لِلّهِ الَّذِيْ كَسَانِيْ هَذَا وَرَزَقَنِيْهِ مِنْ غَيْرِ حَوْلٍ مِنِّيْ وَلَا قُوَّةٍ، غفر الله له ما تقدم من ذنبه

Barang siapa yang mengenakan pakaian lalu ia membaca doa: ‘Alhamdulillahilladzii kasaanii hadza wa razaqaniihi min ghairi haulin minni wala quwwatin’ niscaya Allah akan mengampuni dosanya yang telah lampau.

2. Memakai dari Kanan dan Melepas dari Kiri

Diriwayatkan oleh Imam at-Tirmidzi dalam Sunan-nya, begitu pula an-Nasa’i dengan sanad yang shahih dari Abu Hurairah ra. berkata bahwa Rasulullah ﷺ jika hendak memakai pakaian, ia akan memulainya dari sebelah kanan. Imam al-Lahji menjelaskan, hadits ini mendasarkan kesunnahan mendahulukan sebelah kanan dalam berpakaian dan mendahulukan sebelah kiri ketika menanggalkan.

Imam Yusuf an-Nabhani di tengah penjelasannya mengenai pakaian Rasulullah ﷺ meriwayatkan sebuah fakta menarik tentang Rasulullah ﷺ yang tidak pernah tampil di hadapan sahabatnya melainkan beliau menampakkan keindahan dan kerapihannya dalam kesederhanaan. Beliau mengatakan bahwa pakaian yang digunakan Rasulullah ﷺ tidak pernah kotor. Kutu tidak mau menghampiri pakaiannya seperti yang dikatakan oleh Ibnu Sab’in, Sulaiman bin Dawud as-Sabti (550 H) dalam kitab asy-Syifa. Begitu pula al-Fakhru ar-Razi menukil bahwa selama hidupnya Rasulullah ﷺ tidak dihinggapi lalat dan nyamuk enggan mengisap darahnya. Semoga tulisan ini Allah jadikan wasilah yang menuntun penulis dan pembacanya pada teladan mulia Sang Insan Purna ﷺ.