
Sebuah catatan perjalanan dan wawancara bersama Ustaz Mohammad Iqbal Akbari, S.E., M.Mgt. dari Turki
Masjid Masjid Al-Fatih berdiri sebagai salah satu penanda penting dalam sejarah peradaban Islam di Istanbul. Pembangunannya dimulai pada tahun 1463 M, sekitar satu dekade setelah peristiwa besar Penaklukan Konstantinopel oleh Sultan Mehmed II, dikenal dengan gelar Al-Fatih (الفاتح), dan rampung pada 1470 M. Masjid ini menjadi simbol awal transformasi kota dari pusat Bizantium menjadi pusat kekuasaan Islam Utsmani.
Pada tahun 1766, bangunan ini mengalami kerusakan parah akibat gempa bumi besar yang melanda wilayah tersebut. Lima tahun kemudian, pada 1771, masjid dibangun kembali oleh Sultan Mustafa III dengan tetap mempertahankan tata letak serta karakter arsitektur utamanya, meskipun gaya bangunannya mengalami sentuhan arsitektur Utsmani klasik yang lebih baru. Keterangan ini disampaikan oleh Ustaz Mohamad Iqbal Akbari, S.E., M.Mgt. yang saat ini berada di Turki.
“Masjid Al-Fatih memiliki keunikan. Bukan hanya sebagai sarana ibadah, tetapi juga menjadi kompleks fasilitas umum di sekitar masjid, seperti sekolah, kampus, perpustakaan, dan rumah sakit,” ungkap Ustaz Iqbal saat diwawancarai pada Rabu, 8 April 2026.
Sejak awal, masjid ini memang dirancang sebagai külliye—kompleks terpadu yang mencakup berbagai layanan sosial, berfungsi sebagai pusat kehidupan masyarakat, bukan sekadar tempat ibadah.
“Ini adalah bangunan monumental Islam pertama di Istanbul. Jadi, semacam penanda era baru peradaban Islam di Turki,” imbuhnya.
Di dalam kompleks Masjid Al-Fatih, terdapat makam Sultan Al-Fatih. Di area tersebut juga tersimpan sejumlah artefak bersejarah, termasuk manuskrip Al-Qur’an yang dikaitkan dengan sang sultan–konon ditulisnya sendiri. Keberadaan makam ini menjadikannya salah satu tujuan ziarah penting, baik bagi masyarakat Turki maupun umat Islam dari berbagai negara.
Bagi masyarakat Turki, kawasan ini bukan sekadar situs sejarah, melainkan simbol kemenangan sekaligus transformasi peradaban. Sultan Al-Fatih dikenang sebagai pemimpin yang mewujudkan kabar gembira dari Rasulullah saw. tentang penaklukan Konstantinopel. Dalam hadis riwayat Ahmad ibn Hanbal disebutkan:
“Sungguh Konstantinopel akan ditaklukkan. Maka sebaik-baik pemimpin adalah pemimpinnya, dan sebaik-baik pasukan adalah pasukan itu.” (HR. Ahmad)
“Makamnya sangat populer di kalangan masyarakat Turki, termasuk di negeri Muslim lainnya. Selalu ramai dikunjungi,” ujar Ustaz Iqbal.
Ia juga menuturkan adanya tradisi tidak tertulis di kalangan pejabat Turki yang menyempatkan diri berziarah ke makam tersebut sebelum memulai jabatan atau menghadapi keputusan penting kenegaraan. “Jadi memang makam sakral. Sekaligus menjadi bagian dari identitas nasional,” ujarnya.

Lebih dari sekadar catatan sejarah, sosok Sultan Al-Fatih menghadirkan inspirasi lintas zaman. Ia menaklukkan Konstantinopel pada usia 21 tahun—usia yang tergolong sangat muda untuk sebuah pencapaian besar dalam sejarah dunia. Selain itu, ia dikenal menguasai berbagai bahasa seperti Yunani, Latin, dan Persia, serta memiliki ketertarikan kuat pada ilmu pengetahuan, termasuk matematika dan teknologi militer.
“Sultan Al-Fatih menaklukkan Konstantinopel ketika usia 21 tahun. Ia juga fasih di enam atau tujuh bahasa, seperti Yunani, Persia, Latin, dan lainnya. Ia juga menguasai sains dan matematika, hingga teknologi meriam,” kata Ustaz Iqbal.
“Beliau juga tidak pernah meninggalkan salat tahajud sejak baligh,” sambungnya.
Kecerdasan strategi Sultan Al-Fatih juga tercermin dalam langkah taktis saat menghadapi blokade rantai besar di Teluk Golden Horn. Ia memerintahkan pemindahan kapal perang melalui jalur darat melintasi perbukitan—sebuah langkah inovatif yang menjadi titik balik kemenangan.
“Beliau punya visi dan tidak mudah menyerah. Berpikir di luar kebiasaan. Seperti ketika kapal perangnya diblokir rantai raksasa di Golden Horn, kemudian menarik kapal lewat jalur darat melalui bukit,” jelasnya.
Di sisi lain, pendekatan kepemimpinannya juga menunjukkan sikap toleran. Setelah penaklukan, ia memberikan perlindungan kepada komunitas Kristen Ortodoks dan menjamin kebebasan beribadah. Hal ini dicatat oleh sejarawan Franz Babinger dalam Mehmed the Conqueror and His Time (1978), yang menggambarkan kebijakan tersebut sebagai langkah strategis sekaligus humanis dalam membangun stabilitas sosial.
“Beliau juga menjunjung toleransi. Meskipun sudah menang, tidak menindas penduduk setempat, dan memberikan kebebasan kepada penganut Kristen Ortodoks untuk beribadah dengan tenang,” terangnya.
Masjid Al-Fatih hingga kini tetap berdiri sebagai saksi sejarah tentang kemenangan, ilmu pengetahuan, pelayanan sosial, serta kepemimpinan visioner yang menjadi inspirasi bagi generasi saat ini.