
Cerita ke-1 dari serial “Cerpen Pesantren”
Rasanya cuaca pagi ini cukup cerah, hanya sedikit awan yang menggumpal bertumpuk di atas sana. Di tempat kami berada, kau dapat menilai suatu pagi yang cerah apabila pemandangan Gunung Karang dapat kau saksikan tepat di sebelah barat arah pandang. Seperti biasa, kegiatan harian di pondok diawali dengan apel pagi yang dilaksanakan pada beberapa tempat terpisah. Santri anggota bertempat di depan asrama, santri pengurus di depan aula, dan para guru melaksanakan apel pagi mereka di depan kantor pusat pesantren.
Aras idealita dibijakinya pelaksanaan apel pagi bagi seluruh warga pondok adalah untuk memastikan kesiapan seluruh elemen sebelum memulai rangkaian kegiatan pembelajaran harian. Dengan apel pagi, seluruh santri dituntut untuk dapat bersiap diri lebih dini. Keterlambatan santri untuk masuk kelas pun dapat diantisipasi dan dihindari. Selain itu, apel pagi juga ditujukan untuk menyampaikan beberapa arahan teknis sekiranya terdapat hal-hal khusus yang akan dilaksanakan pada hari tersebut. Lebih jauh lagi, apel pagi di pondok ini diupayakan pelaksanaannya dan diistiqomahkan bagi seluruh warga pondok sebab di dalamnya, para guru yang bertugas menjadi pemimpin apel, diharapkan tidak hanya menyampaikan arahan-arahan teknis seperti disebutkan sebelumnya, tetapi juga dapat memberikan semacam “semangat pagi” kepada peserta apel melalui pesan-pesan positif maupun kalam hikmah yang ditujukan untuk mendongkrak semangat para peserta apel dalam menyongsong hari.
Pelaksanaan apel pagi di pondok ini memang merupakan sesuatu yang baru, belum genap lima tahun. Kebijakan pelaksanaan apel pagi mulai diberlakukan ketika seluruh santri dengan terpaksa dipulangkan ke rumah masing-masing sebagai respon dari kebijakan pemerintah dalam menanggulangi penyebaran virus Covid-19. Kebijakan pemerintah itu menghendaki diberlakukannya pembatasan kegiatan di ruang-ruang publik termasuk proses belajar mengajar di sekolah, tak terkecuali pesantren. Maka dengan berat hati pesantren memulangkan seluruh santri dan seluruh proses belajar mengajar dilaksanakan secara daring. Semenjak itulah apel pagi mulai dibiasakan, dimulai oleh para guru yang tetap berada di pesantren. Terlepas dari sebab dilaksanakannya apel pagi tersebut dari sudut pandang kesejarahan serta motif yang mendasarinya, bagaimanapun apel pagi memiliki semangat dasar yang baik bagi upaya perwujudan disiplin positif dan penegakan atas sunah-sunah pesantren yang pada gilirannya nanti berimplikasi pada pembentukan karakter melalui penanaman nilai-nilai di dalamnya, baik yang disampaikan secara langsung maupun tidak.
Yang menjadi pertanyaan berikutnya adalah, karakter apa atau yang bagaimana yang hendak dibentuk dari pelaksanaan apel pagi? Apa nilai-nilai yang hendak ditanamkan di dalamnya? Serta bagaimana proses penanaman nilai dan pembentukan karakter tersebut dapat dijalankan dengan maksimal? Bekal apa yang harus dimiliki baik oleh pemimpin apel maupun peserta apel itu sendiri agar tidak terjebak dalam rutinitas harian belaka?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut membutuhkan jawaban-jawaban yang bersifat strukturalis-filosofis, merunut secara keseluruhan hal-hal yang berkaitan dengan setiap prosesnya. Penjelasan yang disampaikan secara terstruktur serta dilandasi oleh basis rasionalitas yang mapan akan menjadikan setiap elemen yang bersinggungan dengan apel pagi dapat memahami secara radikal efek jangka panjang dari pelaksanaan kegiatan tersebut.
Sebagai penjelasan awal yang perlu disampaikan guna memahami filosofi pelaksanaan apel pagi, hendaknya kita merujuk pada gambaran umum sistem berkehidupan di dalam pesantren. Sebelumnya, kita telah memahami bahwa pesantren merupakan lembaga pendidikan dan pengajaran yang menerapkan pola kehidupan dua puluh empat jam tersistem dan terukur. Dengan demikian, sejatinya tidak ada suatu kegiatan yang berpredikat sebagai awal maupun akhir dalam aktivitas keseharian warga pesantren. Tidak terkecuali apel pagi. Namun demikian, guna menyederhanakan cara pandang dan berpikir kita dalam memberikan batas-batas pemisah antara satu kegiatan dengan kegiatan lainnya maka diperlukan suatu simbol di tengah aktivitas berkehidupan yang “nonstop” tersebut.
Sebagai contoh, pelaksanaan salat tahajud bagi santri yang rutin dilaksanakan secara berjamaah sebelum memasuki waktu subuh berperan penting untuk memberikan semacam stimulus bagi para santri bahwa mereka akan memasuki dan memulai hari baru dengan segenap kegiatan, tugas, dan tanggungjawabnya. Simbol ini, yang terwujud dalam bentuk pelaksanaan salat tahajud berjamaah, juga penting bagi warga pesantren lainnya, guru, petugas keamanan, bahkan petugas kebersihan sekalipun.
Dengan demikian kita dapat memahami bagaimana apel pagi berperan sebagai suatu kode semiotik yang menandakan bahwa kegiatan belajar-mengajar di kelas pada hari tersebut akan segera dimulai. Simbol ini, sekalipun hanya sebatas semiotika material belaka, tetap menjadi unsur penting guna mewujudkan eksistensi seorang guru maupun santri atas kesiapan mereka sebagai dua aspek utama dalam berjalannya pelaksanaan proses belajar-mengajar. Namun, terlalu naif kiranya kalau apel pagi dilihat dan disikapi hanya sebagai seremonial belaka demi menunjukkan eksistensi individual. Pandangan seperti itu justru hanya akan mengaburkan atau bahkan menghilangkan sama sekali esensi dan semangat dasar yang terkandung di dalamnya. Walaupun sampai saat ini kita masih dapati hal-hal seperti itu terjadi. Tidak sedikit para peserta apel yang turut menghadiri barisan demi sekedar menampakkan batang hidungnya belaka, datang dan mengisi absensi lalu pergi kembali.
Apel pagi “diciptakan”, sebagaimana telah disinggung sebelumnya, dengan idealita untuk memberikan kontribusi signifikan dalam membangun karakter para pesertanya yang selaras dengan visi luhur pesantren. Ini merupakan cita jangka pangka yang hanya akan terwujud apabila proses pelaksanaannya dijalankan dengan baik dan tidak keluar jalur. Bangunan karakter tersebut pada diri masing-masing pesertanya dapat menjadi masjid yang senantiasa menyerukan nilai-nilai kebaikan dalam menjalankan sederet aktifitas harian berikutnya.
Karakter yang hendak dibangaun, walaupun pada gilirannya nanti terwujud dan terejawantahkan dalam laku individual yang berbeda-beda sesuai kecenderungan personal masing-masing peserta apel, ialah karakter yang berorientasi pada nilai-nilai rabbaniyyah. Yaitu, nilai-nilai yang diserap dari keseluruhan ajaran Islam yang memiliki keterkaitan dengan perwujudan atas keberadaan “Ruhul Mudarris” pada masing-masing diri seorang guru, juga “Ruhul Muta’allim” pada diri masing-masing santri.
Kemampuan manajemen waktu, adalah salah satu bentuk kemampuan personal (life skill) yang dapat dilatih untuk kemudian dapat dikuasai sebagai suatu skill utama, melalui pembiasaan diri dalam mengikuti apel pagi. Sejatinya seluruh bentuk kegiatan pesantren juga memiliki fungsi yang sama dalam melatih dan membentuk skill tersebut, barangkali apel pagi adalah bagian yang terberatnya. Bagaimana tidak, kehidupan di pesantren dengan sederet rutinitasnya menuntut para peserta apel untuk “siap siaga” jauh-jauh menit sebelum jam pertama KBM dimulai. Dengan demikian maka para peserta apel, khususnya bagi seorang guru, sudah harus marampungkan pekerjaan-pekerjaan rumah masing-masing lebih dini lagi. Kalau tidak, maka mereka akan dihadapkan paling tidak dengan dua pilihan. Pertema, meneruskan pekerjaan rumah dan menunda untuk mengikuti apel. Atau, yang kedua, bergegas menghantarkan diri menuju apel pagi dan membiarkan beberapa pekerjaan rumah tertunda sampai nanti. Tentu saja kita dapat segera memahami bahwa yang pertama itu bukanlah pilihan yang tepat, oleh karenanya banyak guru yang mempekerjakan asisten rumah tangga untuk membantu mengurusi pekerjaan rumah.
Pagi hari di pesantren memang merupakan waktu yang singkat, bukan karena singkatnya waktu itu sendiri, melainkan disebabkan beberapa kegiatan yang harus diikuti baik oleh santri maupun para guru yang mendampingi. Contohnya saja, selepas jamaah subuh para santri akan mengikuti kajian “Ta’lim Kitab Salafi” dan “Ilqo Mufrodat” sampai bel pagi berbunyi. Setelah itu mereka harus bergegas untuk sarapan dan mempersiapkan diri sudah dengan perlengkapan dan atribut sekolah lainnya untuk mengikuti apel pagi.
Daripada itu semua, seluruh warga pesantren kiranya telah mendapat petuah filosofis yang berguna sebagai “alarm diri” berkaitan dengan keutamaan mengatur waktu sebaik dan seefisien mungkin. Seperti, waktu itu lebih berharga dari emas.
Pelaksanaan apel pagi juga membantu terbentuknya pribadi yang sigap dan cekatan dalam bertindak. Dua sikap tersebut, secara elaboratif juga merupakan konsekuensi logis dari karakter yang harus dimiliki oleh warga pesantren atas sederet aktifitasnya, baik yang bersifat kolektif maupun personal.
Kemampuan seorang guru dalam mengatur waktu dengan baik, mengerti kapan dan harus melakukan apa, memiliki kesigapan dan cekatan dalam bertindak, seluruhnya menunjukkan pada eksisnya suatu karakter diri yang berdikari. Karakter yang mengantarkan seseorang menuju kemandirian hidup, bahwa pribadi tersebut mampu menyesuaikan dan menyelesaikan apa yang menjadi tugas dan tanggunjawabnya, baik terhadap tugas-tugas pesantren maupun terhadap dirinya sendiri. Itulah diantara tanda yang memperlihatkan keberadaan “Ruhul Mudarris” pada diri seorang guru. Kalau apel pagi saja sudah dipenuhi oleh berbagai tedeng aling, bagaimana dengan salat berjamaah di masjid?
Melihat besarnya dampak sekaligus nilai positif yang dapat diperoleh dari pelaksanaan apel pagi, meskipun internalisasi nilai-nilai tersebut ke dalam diri membutuhkan waktu yang panjang, maka sudah semestinya seluruh rangkaian prosesi apel pagi dijalankan dengan baik, dengan standar maksimal yang koheren dan linear terhadap visi pembangunan karakter berbasis nilai-nilai luhur pesantren tersebut.
Untuk hal itu, pertama-tama yang perlu diperhatikan ialah berkenaan dengan “niat”, hal ini menjadi pokok dalam setiap amal seseorang. Bagi seorang guru, berarti bahwa mereka yang turut hadir sudah harus membekali diri masing-masing dengan konstruksi hati yang memadai. Selain dalam rangka menjalani rutinitas harian, juga dengan tujuan untuk memberikan suri tauladan kepada para santri. Dalam hal disebutkan belakangan itu, meminjam istilah yang sering digunakan dalam pelatihan peningkatan kualitas mengajar guru, bahwa “semuanya berbicara”. Itu berarti bahwa pada saat itu seorang guru sedang mengajak para santri untuk juga bergegas menyiapkan diri sekaligus membawakan pesan tersirat bahwa jam KBM sudah mendekati waktunya. Tentu saja tanpa menafikkan keberadaan “jaros” yang memang menandakan peralihan dari satu kegiatan menuju kegiatan lainnya.
Selanjutnya yang perlu diperhatikan sebagai salah satu unsur primordial dalam pelaksanaan apel pagi ialah berkenaan dengan pemimpin apel itu sendiri. Pemimpin apel merupakan di antara elemen yang berperan besar dalam menunjang kadar keberhasilan pelaksanaan apel tersebut, yang dimaksud di sini adalah kualitas dari apa yang disampaikannya pada saat memimpin apel, bukan sebatas kehadirannya belaka yang diiringi dengan untaian kata-kata hampa makna. Untuk menghindari terjadinya hal seperti itu, pemimpin apel perlu memahami esensi sekaligus cita pesantren dari pelaksanaan agenda tersebut sebagaimana telah disampaikan sebelumnya. Maka pemimpin apel seharusnya memahami bahwa apel pagi merupakan wasilah dalam menanamkan jiwa-jiwa pondok kepada masing-masing individu yang hadir dalam setiap momen apel pagi. Guna mencapai tujuan tersebut, para guru yang bertugas sebagai pemimpin apel sudah sepatutnya memperkaya diri dengan sumber-sumber keilmuan yang darinya khazanah intelektualitas masing-masing pemimpin apel akan semakin kentara kualitasnya. Dengan demikian, apa yang disampaikan dapat lebih relevan serta berorientasi pada perwujudan cita pembangungan “karakter manusia” pesantren.
“Semoga ini dapat menjadi pengingat untuk kita semua. Maksud dari amanat apel pagi ini bukanlah untuk melemahkannya, saya hanya ingin mengajak rekan-rekan guru untuk dapat melihat lebih dalam lagi pada esensi setiap kegiatan yang kita kerjakan bersama agar kegiatan tersebut memiliki makna yang kuat serta manfaat yang jauh lebih berarti. Dengan begitu, semoga kita termasuk dalam golongan hamba-Nya yang “Ulul Albab”, yaitu mereka yang mampu memaksimalkan potensi berpikirnya guna membaca tanda-tanda kebesarannya dan terus berproses untuk mendapatkan “Izzah”Nya. Sekian amanat apel dari saya, atas perhatian rekan-rekan guru sekalian saya ucapkan terima kasih. Wassalamualaikum…”.
Begitulah amanat apel yang disampaikan oleh Pak Mis, mendalam dan penuh dengan pesan-pesan spiritual pesantren yang amat kuat. Entah mengapa, apa yang keluar dari lisan Pak Mis selalu penuh dengan amunisi batin yang siap men”charge” siapa saja yang mendengarkannya dengan telinga dan hati yang bersih.
Tepat setelah barisan dibubarkan, bel pertama berbunyi, pertanda bagi seluruh guru dan santri untuk bergegas menuju ruang kelas. []