
Ada satu lagu masa kecil yang begitu mudah diingat. Lagu dari Tasya dengan judul Libur Telah Tiba.
“Libur telah tiba, libur telah tiba… hore… hore… hore…”
Lagu itu selalu menghadirkan suasana gembira. Tentang perjalanan, tentang kebersamaan, tentang jeda dari rutinitas yang melelahkan. Ada rasa ringan, ada rasa bebas, ada energi yang seolah dilepaskan dari berbagai beban aktivitas sehari-hari.
Namun seperti semua fase dalam kehidupan, libur selalu memiliki batas. Dan ketika libur telah usai, sebenarnya yang kita butuhkan bukan lagi suasana “hore”, tetapi semangat baru untuk kembali berkarya.
Menariknya, banyak orang mengalami semacam “transisi emosional” setelah masa libur. Dari suasana santai menuju ritme kerja yang kembali cepat. Dari waktu yang fleksibel menuju jadwal yang lebih terstruktur.
Dalam perspektif psikologi dan komunikasi organisasi, fase ini sering berkaitan dengan proses re-entry adjustment—yaitu penyesuaian kembali seseorang setelah keluar dari rutinitas.
Jika tidak disadari, fase ini bisa membuat seseorang merasa berat untuk kembali bekerja. Bukan karena pekerjaannya berubah, tetapi karena ritme mentalnya belum sepenuhnya kembali.
Saya pun merasakan hal yang sama. Ketika membayangkan harus kembali berangkat kerja subuh dari Tangerang menuju Sunter, dengan jarak kurang lebih 130 km pulang-pergi setiap hari, rasanya bisa terasa cukup berat.
Bukan hanya soal jaraknya. Tetapi juga soal energi, konsistensi, dan ritme yang harus dibangun kembali.
Jika bayangan itu terus diperbesar, maka yang muncul bukan semangat, tetapi kelelahan—bahkan sebelum hari itu benar-benar dimulai.
Namun di sinilah letak pentingnya cara kita memaknai situasi. Dalam psikologi kognitif, hal ini dapat dijelaskan melalui konsep Cognitive Appraisal Theory dari Richard Lazarus. Lazarus menjelaskan bahwa respons emosional seseorang terhadap suatu situasi sangat dipengaruhi oleh bagaimana ia menilai (appraise) situasi tersebut.
Artinya, bukan situasinya yang langsung menentukan perasaan kita, tetapi cara kita memaknai situasi itu.
Jika perjalanan 130 km dipersepsikan sebagai beban, maka ia akan terasa berat. Namun jika dimaknai sebagai bagian dari perjalanan hidup, sebagai ruang refleksi, atau bahkan sebagai waktu untuk belajar dan mendengar hal-hal positif, maka pengalaman yang sama bisa terasa berbeda.
Perspektif ini juga diperkuat oleh konsep Self-Talk dalam komunikasi intrapersonal, yang banyak dibahas dalam kajian komunikasi oleh Albert Bandura melalui teori Social Cognitive Theory. Bandura menjelaskan bahwa keyakinan diri dan dialog internal seseorang sangat mempengaruhi perilaku dan performanya.
Apa yang kita katakan kepada diri sendiri akan mempengaruhi apa yang kita rasakan, dan pada akhirnya menentukan bagaimana kita bertindak.
Jika kita berkata:
“Berat sekali harus kembali bekerja…”
Maka tubuh dan pikiran akan mengikuti narasi tersebut.
Namun jika kita mengubahnya menjadi:
“Ini bagian dari tanggung jawab dan perjalanan yang saya pilih. Saya sudah beristirahat, sekarang saatnya kembali berkarya.”
Maka energi yang muncul akan berbeda.
Dalam konteks ini, libur sebenarnya telah memberikan satu hal penting: energi baru. Dan energi itu akan terasa sia-sia jika tidak diarahkan kembali ke dalam aktivitas yang produktif.
Menariknya, dalam sebuah hikmah yang disampaikan oleh KH. Ahmad Syahiduddin, disebutkan bahwa libur sejatinya hanyalah jeda sesaat dari satu aktivitas ke aktivitas yang lain.
Kalimat ini sederhana, tetapi sangat dalam maknanya. Artinya, hidup pada dasarnya adalah rangkaian aktivitas yang terus berjalan. Libur bukanlah tujuan akhir, melainkan bagian dari ritme kehidupan—sebuah jeda untuk mengatur ulang energi sebelum melanjutkan perjalanan.
Jika kita melihat libur sebagai “akhir dari kerja”, maka kita akan berat untuk kembali. Namun jika kita melihat libur sebagai “jeda untuk melanjutkan”, maka kita akan lebih siap untuk melangkah.
Dalam kajian komunikasi organisasi, hal ini berkaitan dengan konsep Work Engagement dari Wilmar Schaufeli, yang menekankan pentingnya semangat, dedikasi, dan keterlibatan dalam bekerja.
Menariknya, engagement bukan hanya soal kondisi pekerjaan, tetapi juga soal cara kita memaknai ritme antara bekerja dan beristirahat. Karena itu, kembali bekerja setelah libur bukan sekadar kembali ke rutinitas. Ia adalah proses menata ulang makna.
Mungkin kita tidak bisa lagi menyanyikan “libur telah tiba” dengan penuh euforia seperti dulu. Namun kita bisa menciptakan semangat yang sama—bukan untuk berlibur, tetapi untuk melangkah kembali dengan energi yang lebih sadar.
Karena pada akhirnya, produktivitas bukan hanya tentang seberapa banyak yang kita kerjakan. Tetapi tentang bagaimana kita memaknai setiap fase dalam kehidupan—termasuk jeda yang kita sebut sebagai libur.
Dan mungkin, versi baru dari lagu itu dalam kehidupan kita hari ini bukan lagi:
“Libur telah tiba… hore… hore… hore…”
Tetapi:
“Libur telah usai… saatnya kembali… karena ini bukan akhir, melainkan jeda untuk melangkah lagi.”