
Pondok Pesantren Daar el-Qolam 3 Kampus Dza ‘Izza kembali melaksanakan Amaliyah Tadris yang dimulai dengan Kuliah Amaliyah Tadris bagi santri kelas akhir. Program ini merupakan praktik mengajar yang dirancang sebagai bekal pengalaman mereka untuk berkiprah di masyarakat nanti.
“Amaliyah Tadris adalah suatu pelaksanaan praktik mengajar bagi siswa kelas akhir, di mana mereka dibekali dengan Kuliah Amaliyah Tadris terlebih dahulu, simulasi Amaliyah Tadris, Amaliyah Tadris perdana, sampai pelaksanaan Amaliyah Tadris kelompok,” jelas Ustaz Suganda, Kepala Bagian Pengajaran, saat diwawancara Senin (1/9/2025).
Dalam pelaksanaannya, Amaliyah Tadris menggunakan dua bahasa, yakni Arab dan Inggris. Hal itu juga diterapkan pada mata pelajaran umum, seperti Biologi, Fisika, dan lainnya “Tujuan Amaliyah Tadris adalah bahwa santri itu harus bisa mengajar, sebagai persiapan mereka untuk di masyarakat,” tambahnya.
Menurutnya, praktik ini mirip dengan program PPL di perguruan tinggi. Bedanya, santri sudah mendapatkannya sejak SMA kelas 3. Prosesnya diawali dengan Kuliah Amaliyah Tadris sebagai pembekalan awal, termasuk penyusunan i’dad amaliyah (rencana pelajaran).
Setelah itu, santri memilih mata pelajaran dan bahasa pengantar sesuai angket yang telah dibagikan. Mereka lalu dibimbing oleh dua musyrif untuk setiap sepuluh santri, sebelum mendapatkan koreksi akhir dari musyrif ‘am. “Proses ini tidak mudah dan membutuhkan ketekunan serta kesabaran. Mereka harus melakukan konsultasi, menerima koreksi, lalu memperbaiki hingga mendapatkan pengesahan,” ujar Ustaz Suganda.

Selanjutnya adalah praktik mengajar di kelas, di hadapan adik kelas serta musyrif yang menilai. Evaluasi dilakukan baik oleh musyrif maupun sesama anggota kelompok. “Dalam Amaliyah Tadris ini, mereka semua diuji keilmuan dan mentalnya,” lanjutnya.
Seluruh santri kelas akhir yang berjumlah 163 orang, mendapat giliran sesuai jadwal. Pembuatan i’dad berlangsung selama dua pekan, dilanjutkan dengan Amaliyah Tadris perdana selama tiga hari. Dari tahap perdana ini, dipilih santri terbaik dengan kategori bahasa Arab dan Inggris.
Ustaz Suganda menegaskan bahwa program ini tidak sekadar melatih keterampilan mengajar, tetapi juga membentuk karakter. “Itu perjuangan mereka. Maka Amaliyah Tadris ini menjadi proses uji keilmuan dan akhlak mereka,” ungkapnya.
“Kita berharap, dengan adanya Kuliah Amaliyah Tadris mereka mendapatkan bekal dalam proses Amaliyah Tadris dan pembuatan i’dad dengan sebaik mungkin, serta selesai pada waktunya. Ini tidak mudah dan banyak pengorbanan baik pikiran, waktu, tenaga, dan materi. Itulah perjuangan mereka,” ungkap Ustaz Suganda.
Ustaz Suganda juga berharap, penyelenggaraan tahun ini mampu melahirkan kualitas yang lebih baik dibanding sebelumnya. “Semoga Amaliyah Tadris ini kualitasnya lebih baik dan bermanfaat. Dan semoga mereka diberikan kemudahan serta kelancaran dalam melaksanakan proses Amaliyah Tadris,” tutupnya.
