
Relevansi al-Qur’an sebagai panduan yang melintas antar ruang dan waktu,selain sebagai firman Tuhan juga dapat dibuktikan secara faktual dan aktual yang ditemukan persis sesuai dengan apa yang dikabarkan al-Qur’an di antara lembaran ayat-ayat-Nya. Misalnya, jauh sebelum ditetapkan sebagai situs warisan dunia oleh UNESCO pada tahun 2010, gunung pelangi yang terletak di Taman Nasional Zhangye Danxia, China, sudah lebih dulu disebutkan ciri-cirinya oleh al-Qur’an secara detail dalam surat Fathir ayat 27.
أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ أَنزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجْنَا بِهِ ثَمَرَاتٍ مُخْتَلِفًا أَلْوَانُهَا ۚ وَمِنَ الْجِبَالِ جُدَدٌ بِيضٌ وَحُمْرٌ مُخْتَلِفٌ أَلْوَانُهَا وَغَرَابِيبُ سُودٌ
“Tidakkah engkau melihat bahwa sesungguhnya Allah menurunkan air dari langit,lalu dengan (air) itu Kami mengeluarkan hasil tanaman yang beraneka macam warnanya. Di antara gunung-gunung itu ada bergaris-garis putih dan merah yang beraneka macam warnanya dan ada (pula) yang hitam pekat.” (QS. Fathir : 27)
Atau contoh lain dari hal aktual yang belakangan baru terungkap seperti embriologi yang menjelaskan tahapan terbentuknya tubuh manusia secara sempurna di alam rahim. Hal ini dipaparkan secara gamblang dalam surat al-Mu’minun ayat 12-14:
وَلَقَدْ خَلَقْنَا ٱلْإِنسَٰنَ مِن سُلَٰلَةٍۢ مِّن طِينٍۢ (١٢) ثُمَّ جَعَلْنَٰهُ نُطْفَةًۭ فِى قَرَارٍۢ مَّكِينٍۢ (١٣) ثُمَّ خَلَقْنَا ٱلنُّطْفَةَ عَلَقَةًۭ فَخَلَقْنَا ٱلْعَلَقَةَ مُضْغَةًۭ فَخَلَقْنَا ٱلْمُضْغَةَ عِظَٰمًا فَكَسَوْنَا ٱلْعِظَٰمَ لَحْمًا ثُمَّ أَنشَأْنَٰهُ خَلْقًا ءَاخَرَ ۚ فَتَبَارَكَ ٱللَّهُ أَحْسَنُ ٱلْخَٰلِقِينَ (١٤)
“Sungguh,Kami telah menciptakan manusia dari sari pati (yang berasal) dari tanah. Kemudian, Kami menjadikannya air mani di dalam tempat yang kukuh (rahim). Kemudian, air mani itu Kami jadikan sesuatu yang menggantung (darah). Lalu, sesuatu yang menggantung itu Kami jadikan segumpal daging. Lalu, segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang. Lalu, tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian, Kami menjadikannya makhluk yang (berbentuk) lain. Mahasuci Allah sebaik-baik pencipta.” (QS. al-Mu’minun : 12-14)
Maka tidak salah jika cendekiawan muslim mengklaim bahwa al-Qur’an merupakan kitab induk pengetahuan yang darinya berasal segala macam disiplin ilmu pengetahuan. Termasuk di dalamnya adalah ilmu psikologi yang menyingkap tentang pola pikir dasar dan perilaku manusia, baik laki-laki maupun perempuan. Secara spesifik, Allah Swt menyebutkan dalam al-Qur’an tentang ilmu kejiwaan manusia. Bahkan, al-Ghazali (505 H) menjadikan seperempat bagian dari kitabnya, Ihya Ulum ad-Din sebagai bagian yang khusus mengupas tuntas fikih hati. Sebagai contoh, dalam surat ar-Rum ayat 33 Allah Swt menyebutkan di antara sifat buruk yang melekat pada sebagian banyak manusia.
وَإِذَا مَسَّ ٱلنَّاسَ ضُرٌّۭ دَعَوۡا۟ رَبَّهُم مُّنِيبِينَ إِلَيۡهِ ثُمَّ إِذَآ أَذَاقَهُم مِّنۡهُ رَحۡمَةً إِذَا فَرِيقٞ مِّنۡهُم بِرَبِّهِمۡ يُشۡرِكُونَ
“Apabila manusia ditimpa oleh suatu bahaya, mereka menyeru Tuhannya dengan kembali (bertobat) kepada-Nya. Kemudian, apabila Dia memberikan sedikit rahmat-Nya kepada mereka, tiba-tiba sebagian mereka mempersekutukan Tuhannya.” (QS. ar-Rum : 33)
Fakhruddin ar-Razi (606 H) dalam Mafatih al-Ghaib menafsirkan, ayat ini menetapkan bahwa sifat lemah merupakan hal yang melekat pada manusia sebagai bagian di antara ciptaan Tuhan. Akal yang diberikan hanya membuat mereka lebih istimewa dibanding makhluk lainnya, dan tidak serta merta menghilangkan kelemahan lain serta keterbatasan mereka dalam menghadapi berbagai kebuntuan.
فإن عند انقطاع رجائه عن الكل يرجع إلى الله، و يجد نفسه محتاجة إلى شيء ليس كهذه الأشياء طالبة به النجاة
‘Sesungguhnya manusia itu apabila telah putus asa dari segalanya, niscaya ia akan kembali berharap kepada Allah Swt. Ia akan mendapati dirinya sangat butuh kepada sesuatu yang tidak serupa dengan dirinya dan akan memohon keselamatan kepada-Nya.’
Pernyataan beliau tentu dapat dibuktikan dan diuji kebenarannya melalui eksperimen sosial secara acak bahkan kepada ateis sekalipun. Pada keadaan tertentu seperti kecelakaan pesawat misalnya, akal yang dituhankan olehnya akan dipaksa untuk mengakui keberadaan Dzat Mahadaya yang secara otomatis diakui sebagai satu-satunya yang pada saat itu mampu menyelamatkan hidupnya. Saat harapan putus dari segala rupa benda dan manusia, fitrahnya sebagai makhluk akan menghantarkannya pada persaksian akan keesaan Dzat yang lain dari yang lain. Inilah makna fitrah yang Allah sisipkan pada setiap manusia dalam ayat 30 surat ar-Rum:
فَأَقِمۡ وَجۡهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًاۚ فِطۡرَتَ ٱللَّهِ ٱلَّتِي فَطَرَ ٱلنَّاسَ عَلَيۡهَاۚ لَا تَبۡدِيلَ لِخَلۡقِ ٱللَّهِۚ ذَٰلِكَ ٱلدِّينُ ٱلۡقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكۡثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَعۡلَمُونَ
“Maka, hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Islam sesuai) fitrah (dari) Allah yang telah menciptakan manusia menurut (fitrah) itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah (tersebut). Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. ar-Rum : 30)
Ar-Razi mengartikan fitrah dalam ayat ini sebagai tauhid: pengesaan Allah dari segala macam bentuk kesyirikan. Sehingga, setiap yang berakal sehat akan menemukan konsep tauhid pada waktunya. Cepat atau lambat, baik secara paksa maupun suka rela. Selain itu, bagian akhir dari ayat di atas juga menguak sifat lain dari manusia yang cenderung berpaling dari sesuatu saat ia telah mendapatkan apa yang diinginkan dan tidak lagi membutuhkannya. Sikap tidak tahu terima kasih semacam ini dalam istilah psikologi disebut sebagai sikap ingratitude. Sebagaimana Allah juga berfirman pada ayat senada yang menegaskan tabiat buruk manusia ketika diberikan pertolongan saat kesulitan.
وَإِذَا مَسَّ ٱلۡإِنسَٰنَ ٱلضُّرُّ دَعَانَا لِجَنۢبِهِۦٓ أَوۡ قَاعِدًا أَوۡ قَآئِمٗا فَلَمَّا كَشَفۡنَا عَنۡهُ ضُرَّهُۥ مَرَّ كَأَن لَّمۡ يَدۡعُنَآ إِلَىٰ ضُرّٖ مَّسَّهُۥۚ كَذَٰلِكَ زُيِّنَ لِلۡمُسۡرِفِينَ مَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ
“Apabila manusia ditimpa kesusahan, dia berdoa kepada Kami dalam keadaan berbaring, duduk, atau berdiri. Namun, setelah Kami hilangkan kesusahan itu darinya, dia kembali (ke jalan yang sesat) seolah-olah dia tidak pernah berdoa kepada Kami untuk (menghilangkan) kesusahan yang telah menimpanya. Demikianlah, dijadikan terasa indah bagi orang-orang yang melampaui batas itu apa yang selalu mereka kerjakan.” (QS. Yunus : 12)
Namun, perlu diingat bahwa sikap manusia yang secara zahir mengecoh Allah swt dengan berpalingnya mereka dari-Nya setelah diberikan kemudahan, tentu saja itu tidak terlepas dari bagian kesempurnaan ilmu dan kehendak-Nya. Seperti yang diterangkan oleh Abu Manshur al-Maturidi (333 H) dalam kitabnya, Ta’wilat Ahlissunnah. Beliau berdalil dengan ayat 34 surat ar-Rum ketika Allah Swt menjelaskan alasan-Nya mengangkat musibah yang menimpa mereka adalah agar mereka kufur terhadap pemberian-Nya berupa pertolongan. Hal itu karena Allah tahu bahwa mereka akan kembali kepada keingkaran seperti sebelumnya.
لِيَكْفُرُوا۟ بِمَآ ءَاتَيْنَٰهُمْ ۚ فَتَمَتَّعُوا۟ فَسَوْفَ تَعْلَمُونَ
“Agar mereka (orang-orang musyrik) mengingkari apa yang telah Kami anugerahkan kepada mereka. Bersenang-senanglah, kelak kamu akan mengetahui (akibat buruk perbuatanmu),” (QS. ar-Rum : 34)
Bila ditinjau dari sudut pandang sosial, pola semacam ini bukan hanya ditemukan pada relasi antar manusia dan Tuhan saja seperti yang dikabarkan dalam dua ayat di atas. Namun, juga ditemukan antar sesama manusia maupun dengan lingkungannya. Saat membutuhkan sesuatu dan sedang berusaha mendapatkan yang diinginkan, manusia akan menyusun dan melakukan siasat cantik. Sampai setelah tujuannya terpenuhi, punggungnya pergi membelakangi tanpa terima kasih. Mengenai hal tersebut, terdapat kaidah indah dalam buku Lutfah al-Hikmah yang berbunyi:
لَا تَنْسَى شَيْأًتَحْتَاجُهُ
‘Kamu tidak akan melupakan sesuatu yang kamu butuhkan.’
فإن المظلة لا تترك حين تواتر المطر
‘Karena payung tidak akan tertinggal saat hujan deras.’
Sehingga dari kaidah di atas dapat dipahami bahwa saat seseorang melupakan sesuatu, itu karena ia menganggapnya sebagai hal yang tidak penting, dan faktor mendasar mengapa seseorang bersikap acuh tak acuh kepada orang lain adalah karena ia tidak membutuhkannya. Maka tulisan kecil ini seharusnya menyadarkan pembaca yang mungkin pernah berada pada kondisi sosial yang tidak menguntungkan, merasa dimanfaatkan dan dirugikan, bahwa selain sebagai pembelajaran untuk mengikhlaskan kebaikan, sikap tidak berterima kasih juga sering dilakukan manusia bahkan kepada Allah Swt atau mungkin kita pun pernah menjadi salah satu pelakunya. Jangan heran, jika Sang Pencipta saja ‘dimanfaatkan’ apalagi kita yang hanya manusia.
Al-Maturidi menggarisbawahi bahwa tabiat buruk yang Allah gambarkan pada ayat di atas secara spesifik mengarah kepada ciri khas orang-orang kafir. Seorang yang mengaku muslim tidak sepantasnya memiliki sifat tercela ini. Beliau menafsirkan bahwa ayat tersebut menunjukkan puncak kebodohan orang-orang kafir yang berpura-pura berdoa ketika diberi musibah kemudian membangkang setelah diberi anugerah. Seharusnya tidak demikian. Pada umumnya, orang akan berpaling dan membenci orang yang menyulitkan keadaannya, dan akan berbuat baik serta mencintai siapa saja yang menghadiahkannya ragam rupa kebaikan. Keadaan orang kafir melawan fitrahnya sebagai manusia karena tingkat kerusakan akalnya yang parah.
Kemudian beliau menambahkan sebuah nasihat yang disarikan dari ayat tersebut agar hendaknya seorang muslim mengambil satu sikap yang sama dalam setiap keadaan, baik susah maupun senang: Tetap mengingat Allah Swt dan bersyukur kepada-Nya. Karena sejatinya seorang manusia akan lebih sering mengingat dan kembali kepada Allah ketika sedang terhimpit dalam kesulitan daripada saat bergelimang kesenangan. Maka lewat ayat ini, secara tidak langsung Allah Swt mengingatkan kita agar selalu mengingat-Nya dan kembali pada-Nya dalam keadaan apapun.