Kemerdekaan Indonesia: Hasil Perjuangan Panjang

Kemerdekaan Indonesia adalah buah dari perjuangan panjang bangsa dengan pengorbanan jiwa, raga, darah, dan air mata. Sejak perlawanan terhadap Portugis, Belanda, hingga Jepang, seluruh lapisan masyarakat berjuang bersama. Para raja, sultan, ulama, kiai, santri, dan rakyat dari berbagai daerah turut berkorban demi kemerdekaan. Maka, 17 Agustus 1945 menjadi tonggak resmi pengukuhan kemerdekaan Indonesia sebagai hasil dari perjuangan panjang tersebut.

Menurut Ustaz Ade Rumaedi, S.Pd., guru sejarah di Pondok Pesantren Daar el-Qolam 3 Kampus Dza ‘Izza, kemerdekaan Indonesia sebagai pengakuan formal bisa saja hadiah dari Jepang jika sesuai dengan skenario yang telah direncanakan. Namun, sejarah mencatat peristiwa berbeda yang membuat bangsa Indonesia memproklamasikan kemerdekaan secara mandiri. Hal ini ia sampaikan dalam wawancara pada Sabtu (16/8/2025).

Ustaz Ade menjelaskan, pada 7 September 1944 Perdana Menteri Jepang, Kuniaki Koiso, menjanjikan kemerdekaan bagi Indonesia di kemudian hari. Sebagai tindak lanjut, pihak Jepang memerintahkan dibentuknya Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) pada 29 April 1945. Badan ini kemudian merumuskan dasar negara, termasuk Piagam Jakarta. Setelah BPUPKI selesai, dibentuklah Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) pada 7 Agustus 1945 yang diketuai Ir. Soekarno.

Pada 9 Agustus 1945, Soekarno, Mohammad Hatta, dan Dr. Radjiman Wedyodiningrat dipanggil ke Dalat, Vietnam, untuk bertemu Jenderal Terauchi Hisaichi. Dalam pertemuan itu, Terauchi menyampaikan bahwa kemerdekaan Indonesia akan diberikan pada 24 Agustus 1945.

Namun, di luar dugaan, pada 6 dan 9 Agustus 1945 Sekutu menjatuhkan bom atom di Hiroshima dan Nagasaki. Peristiwa ini memaksa Jepang menyerah tanpa syarat kepada Sekutu pada 15 Agustus 1945. Kekalahan Jepang menciptakan kekosongan kekuasaan (vacuum of power) di Indonesia. Kaum muda yang dipimpin antara lain oleh Sutan Sjahrir, mendesak “golongan tua” untuk segera memproklamasikan kemerdekaan tanpa menunggu PPKI maupun Jepang.

Desakan itu memuncak dalam peristiwa Rengasdengklok pada 16 Agustus 1945, ketika Soekarno dan Hatta dibawa oleh para pemuda untuk segera menyatakan kemerdekaan. Akhirnya, pada dini hari 17 Agustus 1945 di rumah Laksamana Maeda, teks Proklamasi disusun dan diketik Sayuti Melik. Pada pagi harinya, pukul 10.00 WIB, di Jalan Pegangsaan Timur No. 56 Jakarta, Soekarno-Hatta membacakan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.

“Karena itulah kemerdekaan Indonesia bukanlah hadiah dari Jepang, karena di luar skenario pihak Jepang,” tegas Ustaz Ade.

Selanjutnya, Ustaz Ade merinci lima peristiwa penting sebelum proklamasi:

  1. Janji kemerdekaan oleh Perdana Menteri Koiso pada 7 September 1944;
  2. Pembentukan BPUPKI pada 29 April 1945 yang menghasilkan Piagam Jakarta;
  3. Pembentukan PPKI pada 7 Agustus 1945 sebagai kelanjutan dari BPUPKI;
  4. Peristiwa Rengasdengklok pada 16 Agustus 1945 yang mengubah rencana semula;
  5. Proklamasi Kemerdekaan pada 17 Agustus 1945 di Jakarta.

Pesan untuk Generasi Muda

Ustaz Ade berpesan agar generasi sekarang mampu memaknai kemerdekaan dengan sebaik-baiknya. Jika dahulu pejuang harus mengorbankan nyawa, kini generasi muda memiliki kemudahan mengakses pendidikan. Maka perjuangan yang penting saat ini adalah dengan ilmu dan pendidikan, memberantas kebodohan, dan menghadapi bentuk penjajahan baru seperti ekonomi, politik, dan budaya.

“Kita sudah merdeka secara fisik, tetapi masih ada tantangan berupa keterbelakangan dan pengaruh asing dalam berbagai bidang kehidupan, yang dulu disebut Sukarno dengan Nekolim (neokolonialisme, kolonialisme, dan imperialisme). Generasi muda harus mengisi kemerdekaan dengan ilmu, pendidikan, dan karya nyata agar Indonesia menjadi bangsa yang bermartabat,” pungkasnya.