
Bersyukur bukan hanya tentang mengucapkan terima kasih, tetapi kesadaran mendalam bahwa segala sesuatu yang kita miliki adalah pemberian dari Allah Swt. Dalam hidup ini, manusia sering kali hanyut dalam kesibukan dan kesenangannya sendiri, hingga lupa bahwa setiap napas, setiap langkah, bahkan setiap keberhasilan yang diraih adalah bagian dari nikmat dari Allah Swt yang tak terhitung jumlahnya.
Sebagaimana firman Allah Swt dalam Surat Ibrahim ayat 34:
وَآتَاكُم مِّن كُلِّ مَا سَأَلْتُمُوهُ ۚ وَإِن تَعُدُّوا نِعْمَتَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا ۗ إِنَّ الْإِنسَانَ لَظَلُومٌ كَفَّارٌ
“Dan Dia telah memberikan kepadamu segala apa yang kamu mohonkan kepada-Nya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. Sungguh, manusia itu sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).”
Ustaz Dr. Saepul Anwar, guru Pondok Pesantren Daar el-Qolam 3 Kampus Dza ‘Izza, menjelaskan bahwa maksud Allah Swt memberikan segala apa yang dimohonkan (pada ayat di atas) adalah bahwa Allah Swt telah memberikan kepada kita apa yang kita butuhkan dalam kehidupan ini, bahkan yang tidak kita minta sekalipun. “Maksudnya Allah Swt telah memberikan kepada kita apa yang kita butuhkan dalam kehidupan ini, bahkan bukan hanya yang kita pinta, yang tidak kita memintanya pun Allah Swt berikan. Ini bisa dibaca di Tafsir Ibnu Katsir,” jelasnya pada Rabu, 13 Agustus 2025.
Namun, di balik limpahan nikmat tersebut, manusia sering kali digambarkan sebagai makhluk yang zalim dan kufur. Menurut Dr. Saepul, sifat zalim ini terlihat dari perilaku manusia yang sering menzalimi dirinya sendiri. “Dengan berbagai macam nikmat yang Allah Swt berikan, seharusnya dia tidak menzalimi dirinya sendiri dengan melakukan apa-apa yang Allah Swt haramkan. Namun, kebanyakan manusia malah mengabaikannya, padahal pengabaian terhadap perintah dan larangan Allah Swt merupakan bentuk kedzaliman bagi dirinya sendiri dan kekufuran terhadap nikmat yang telah Allah Swt berikan,” ungkap beliau.
Bagaimana cara kita menghindari sifat zalim dan kufur ini? Dr. Saepul mengatakan agar umat Islam melatih kesadaran akan keberadaan Allah Swt dalam setiap langkah kehidupan. “Artinya, kesuksesan, pencapaian, dan mampunya kita melalui ujian kehidupan, harusnya dikaitkan dengan kesadaran bahwa semuanya adalah kehendak Allah Swt,” tambahnya.
Di masa sekarang, ujian kenikmatan ini semakin mudah melalaikan manusia dari rasa syukur kepada Allah Swt. Salah satu bentuk kelalaian yang sering terjadi adalah terlalu sibuk membandingkan diri dengan orang lain. “Terlalu mengimpikan posisi orang lain dan tidak memaksimalkan diri dalam menjalani peranan yang diamanahkan kepadanya dalam kehidupan,” terang Dr. Saepul.
Sebagai penutup, beliau menyarankan untuk selalu memulai dan menanamkan nilai-nilai dalam ungkapan basmalah, hamdalah, tasbih, dan hauqolah. Dengan cara ini, hati kita akan lebih peka terhadap nikmat Allah dan terhindar dari sifat zalim maupun kufur nikmat. “Selalu memulai dan menanamkan nilai-nilai dalam ungkapan basmalah, hamdalah, tasbih, dan hauqolah,” pungkasnya.
Surat Ibrahim ayat 34 adalah pengingat sekaligus peringatan bagi kita semua. Semoga kita senantiasa bersyukur atas nikmat Allah yang tak terhitung jumlahnya dan menjaga diri dari sifat-sifat yang menjauhkan kita dari kebaikan, terlebih zalim dan kufur. Na’udzubillah min dzalik.