Arunika Laa Ghofla

Tiada yang meminta seperti ini.. Tapi menurutku Tuhan itu baik.. Merangkai ceritaku sehebat ini.
Semilir angin membawa potongan lirik lagu itu menyeruak ke dinding daun telinga sebelum akhirnya masuk ke dalam perenunganku yang menyadarkan bahwa setiap episode kehidupan ini tidak ada yang benar-benar sesuai dengan keinginanku. Suka-dukanya, manis-getirnya hanya membawaku pada pengakuan tentang bahwa, ‘Tapi menurutku Tuhan itu baik’. Tidak lebih.

Kala itu, mula pagi tidak secerah yang seharusnya. Ada kesedihan langit yang nampak pada awan gelapnya. Entah apa sebabnya. Semoga saja bukan bias dari kesedihan hati. Cantik sekali orang Indonesia menamai awal pagi dengan Arunika. Meski hari ini, ia tidak seanggun namanya. Tapi tetap tidak mengurangi syukurku yang saat ini masih diberikan kesempatan mencium aroma basah tanah oleh embunnya.

Hijau gunung dan biru langit tidak butuh banyak kata untuk memukau penontonnya. Mereka hanya menyuguhkan keteduhan dan keharmonisan yang membawaku kepada perenungan mendalam. Keduanya memberikan kesan berbeda. Seolah ia bisa memberikan banyak makna dari keberagaman sudut pandang dan latar belakang yang berbeda. Pemandangan itu, membuat seseorang menangis dan yang lainnya tertawa pada waktu yang sama. Jika ada yang bertanya bagaimana caranya, kau hanya perlu berdiam diri di hadapan pesonanya. Tidak perlu berpikir, tidak usah memaksakan diri untuk membacanya. Kau hanya perlu telanjangi diri dari kepura-puraan yang selama ini kau hidup dengannya. Biarkan hijau dan biru mendekapmu memberikan kehangatan dari dinginnya kenyataan, memapahmu menuju kedamaian penerimaan diri. Hingga akhirnya kau tidak perlu lagi bersembunyi di balik tabir kepalsuan.

Aku ingat bagaimana anak-anak itu tersenyum. Lepas mengekspresikan emosi. Mengatakan apa yang mereka rasakan, melakukan apa yang mereka inginkan. Tidak ada tuntutan, tidak di bawah paksaan, tidak dibatasi oleh benar-salah subjektif. Tapi sayangnya, kenyataan hidup tidak cukup hanya dilalui dengan kebebasan. Perlahan ia akan menundukkan anak-anak itu pada apa yang hari ini tidak pernah mereka bayangkan. Kelak tanggung jawab akan merenggut itu semua dari mereka. Saat itu, larinya tidak lagi sekencang dulu. Kakinya terbelenggu oleh kekhawatiran. Rekah senyumnya perlahan memudar, terhalang oleh raut kecemasan.

Nak, sebelum terjadi, izinkanlah aku selaku sosok yang lebih dulu merasakan itu, untuk merangkulmu, masuk ke relung hatimu, untuk kutaruh di dalamnya nasihat ini. Nak, kepayahan di dunia ini adalah sebuah keniscayaan. Ia bukan pilihan yang bisa tidak kau pilih. Tapi kau bisa memilih dengan kepala seperti apa kau ingin menghadapinya, dengan hati yang bagaimana kau ingin menjalaninya. Nak, nikmatilah apa yang hari ini bisa kau nikmati. Terkadang aku suka iri melihatmu dengan mudah tidur dimanapun dan kapanpun kau mau. Bukan marah, aku hanya mengasihani diriku sendiri. Aku lupa kapan terakhir kali tidur karena mengantuk, kecamuk pikiran ini selalu mengusirnya pergi jauh dariku. Tebal tilam dan kehangatan selimut ternyata tidak selamanya memberikan kenyamanan untuk sekadar merehatkan badan. Ia menuntut ketenangan pikiran. Nak, sambil menikmati, belajarlah untuk sedikit lebih kuat saat menghadapi sesuatu yang perlahan kau pelajari bahwa hidup tidak selalu memberikan yang kau mau. Saat ia menarikmu dari kenyamanan, cobalah untuk melihatnya dari sisi yang lain. Niscaya akan kau dapati ia hanya membawamu kepada realitas yang lebih pantas kau syukuri. Nak, jika saat itu kau belum mampu mensyukuri, cobalah bertahan dengan kesabaran. Jangan berusaha untuk keras terhadap diri melawan garisan Tuhan. Karena pada akhirnya, kau sendiri yang akan patah. Jika sudah diusahakan, terimalah apapun hasilnya. Jangan percaya dengan pendusta yang mengatakan bahwa usaha tidak pernah mengkhianati hasil. Nyatanya, ada banyak yang gila dibohongi oleh usahanya. Karena terlalu besar menaruh kepercayaan pada upayanya yang tidak bisa apa-apa di hadapan kuasa-Nya. Sebagaimana kau berusaha karena Dia yang menyuruhnya, gantungkanlah pula hasilnya pada kemurahan-Nya. Nak, hari ini kita mengukir cerita di Laa Ghofla. Suka-dukanya kita kunyah bersama. Meski tidak saling tahu bagaimana rasanya. Tapi yakinlah, aku pun mengalaminya. Nak, entah kapan kau membaca pesanku ini, semoga pada saat itu kau sudah tahu bagaimana caranya dunia ini berjalan. Dan apabila pada saat itu kau mengingat kenangan hari ini, carilah aku untuk kembali menghangatkan dingin yang mungkin tercipta oleh jarak dan waktu yang memisahkan kita.

Temanmu, Nizam.