“Memudahkan Jalan Para Santri Menuju Pendidikan di Timur Tengah”

Program Foundation sendiri terdiri atas dua program, yaitu Foundation MSU, yang merujuk pada program pesantren yang bekerjasama dengan Management and Science University (MSU), Shah Alam, Malaysia, dan Foundation for Dirasat Islamiyah (FDI)/Islamic Studies Program (ISP). Berikut ini hasil wawancara dengan Mudirul Ma’had Pondok Pesantren Daar el-Qolam 3 Kampus Dza ‘Izza dan juga Direktur Program Foundation, al-Ustadz Kiai Zahid Purna Wibawa, ST.

Apa yang melatarbelakangi didirikannya program Foundation for Dirâsât Islamiyah (FDI/Islamic Studies Program/ISP)?

Sesuai dengan apa yang saya dengar dan saya lihat dari arahan dan penjelasan Bapak Pengasuh Pesantren, ide gagasan itu muncul karena keinginan beliau untuk bekerjasama dengan Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta, tepatnya pada Fakultas Dirasat Islamiyah (Fakultas yang mengadopsi kurikulum dan silabus yang berlaku di Universitas al-Azhar, Kairo, Mesir). Beliau ingin memperkuat serta mengembalikan Pondok Pesantren Daar el-Qolam seutuhnya kepada nilai-nilai Dirasat Islamiyah, mengembalikan peran dan fungsinya sebagai lembaga tafaqquh fi-d-din yang menjadi ciri khas pondok pesantren. Pada saat itu memang terasa bahwa minat dan penguasaan dirasat Islamiyah mulai tertinggal dari pelajaran umum.

Maka harapan dari Bapak Pengasuh Pesantren supaya ada semacam stimulus yang ber-impact positif kepada seluruh Daar el-Qolam 1, 2, 3, dan 4 maka dilakukan beberapa upaya untuk menuju kerja sama dengan fakultas dirasat islamiyah. Pada saat itu, Majelis Taushiyah mencoba menginisiasi melalui Ustadz Ismatu Ropi (alumnus Daar el-Qolam yang juga menjabat sebagai dosen dan Direktur Riset PPIM UIN Jakarta). Beliau memperkenalkan Daar el-Qolam kepada pihak FDI UIN, melakukan beberapa hal teknis sampai dengan dilakukannya beberapa kali audiensi dengan pihak FDI. Inisiatif itersebut disambut positif oleh Pengasuh Pesantrne, yang kebetulan beliau bersama dengan Ustadz Nahrul Ilmi Arief sedang mengembangkan Daar el-Qolam 4.

Daar el-Qolam 4 sendiri merupakan bagian dari pengembangan Pondok Pesantren Daar el-Qolam khususnya pengembangan dari Daar el-Qolam 1. Daar el-Qolam 4 dirancang untuk mempersiapkan, membentuk dan menciptakan santri yang menguasai ilmu keislaman, aqidah Islamiyah dan Bahasa Arab secara lebih maksimal dengan cukup menguasai ilmu-ilmu umum substansinya saja. Jenjang satuan pendidikan yang ada di Daar el-Qolam 4 dalam Madrasah Tsanawiyah dan Madrasah Aliyah.

Itulah di antara hal yang melatarbelakangi pendirian program FDI, gagasan tersebut terus menguat tidak hanya pada penguatan peningkatan kemampuan kompetensi siswa dalam bidang agama dan bahasa tetapi juga berupaya mempersiapkan alumni Pondok Pesantren Daar el-Qolam untuk siap melanjutkan studi ke Timur Tengah (go global). Dan al-hamdu Lillah, sebelum adanya rencana program FDI ini pun, alumni Daar el-Qolam cukup banyak yang dapat melanjutkan studi ke Timur Tengah, tapi di sana keberadaan mereka cukup beragam, ada yang tuntas, ada yang cepat selesai belajarnya, dan ada pula yang lama selesai belajarnya. Ada juga yang tidak tuntas masa pendidikannya, akhirnya kembali ke Indonesia dan melanjutkan proses belajarnya di universitas yang ada di Indonesia, tentunya dengan beragam alasan yang ada.

Melihat hal-hal semacam itu, maka diharapkan keberadaan dari program FDI mampu mempersiapkan mental, psikis, dan kompetensi akademik santri sehingga para alumninya dapat berkompetisi dalam melanjutkan studi di Timur Tengah serta diharapkan mereka bisa istiqamah belajar di sana.

Berarti, keberadaan program FDI tidak terlepas dari keberadaan Daar el-Qolam 4?

Program FDI adalah upaya penguatan Dirâsât al-Islâmiyah di seluruh Daar el-Qolam secara umum, bukan hanya berlaku di Daar el-Qolam 4 saja. Namun pada saat itu Daar el-Qolam 4 memang didirikan sebagai upaya untuk menjadi program unggulan yang fokus pada kompetensi bidang Dirâsât Islâmiyah dan Lughawiyah sebagai upaya mengembalikan pada cita-cita awal didirikannya Pondok Pesantren Daar el-Qolam, sebagaimana yang sudah saya sampaikan tadi di awal. Daar el-Qolam 4 terpilih menjadi rumah perdana Program FDI, menunjukkan imtiyâz Daar el-Qolam 4.

Dengan demikian, bagaimana keterkaitan Program FDI dengan Program Daar el-Qolam 4 juga dengan Daar el-Qolam 1, 2, dan 3?

Mengingat program FDI rumahnya di Daar el-Qolam 4, maka sama halnya dengan Daar el-Qolam 3 sebagai rumah dari program Foundation MSU. Karena FMSU rumahnya di Daar el-Qolam 3, maka dilakukan upaya pemenuhan segala sarana dan prasarana atau fasilitas pendukung program tersebut. Khususnya pada fasilitas kegiatan pembelajaran. Selanjutnya mengingat saat ini fasilitas yang menunjang pada proses kegiatan pembelajaran FDI masih belum mendukung, maka untuk saat ini diambillah kebijakan bahwa FDI ditempatkan di Daar el-Qolam 3 dan ke depan seperti apa kebijakannya sambil menunggu kesiapan Daar el-Qolam 4 dari segi fasilitas pendukung maupun tenaga pendidiknya. Jika fasilitas di Daar el-Qolam 4 sudah siap, bisa jadi akan dikembalikan ke Daar el-Qolam 4. Saat ini kita semua fokus pada proeses pelaksanaan dan pengembangan FDI.

Program FDI ini walaupun rumahnya di Daar el-Qolam 4, pada peserta diidknya tidak wajib berasal dari Daar el-Qolam 4 saja, artinya sama halnya dengan program Foundation MSU, walaupun rumahnya di Daar el-Qolam 3, bisa diikuti oleh seluruh santri Pondok Pesantren Daar el-Qolam yang berminat, tentu saja bagi para santri yang dapat memenuhi standar kualifikasi yang sudah ditetapkan, serta melewati proses seleksi baik akademik dan non akademik, dan tentu saja memenuhi kualifikasi dasarnya.

Kualifikasi dasar yang saya maksudkan dan ayang terpenting adalah adanya kemampuan untuk belajar, walaupun basic-nya dia tidak terlalu kuat (tidak seperti Program Excellent Class yagn sedari awal sudah ditentukan kemampuan minimumnya). Bagi peserta program FDI yang menjadi catatan adalah standar kualifikasi kompetensi dalam ilmu Bahasa Arab dibandingkan dengan materi yang lain.

Dengan pentingnya kompetensi Bahasa Arab, lalu strategi apa yang dilakukan oleh Pondok Pesantren Daar el-Qolam 3 untuk meng-upgrade kemampuan berbahasa santri?

Yang sudah kami diskusikan baik dengan Pengasuh Pesantren, Majelis Taushyiah, maupun Program Komite, saya mempunyai gagasan dan ide, dan syukur al-hamdu lillah, gagasan tersebut direspons baik oleh Bapak Pengasuh Pesantren. Bahwa, sebagaimana yang telah berlaku di tahun-tahun sebelumnya, di mana program ekstensi ini masa belajarnya 4 tahun (sebelum dibijaki menjadi program 3 tahun). Pada saat itu, satu tahun pertama di pesantren, mereka hanya fokus belajar pada persiapan dalam penguasaan bahasa. Maka Daar el-Qolam 3 saat ini mencanangkan masa satu tahun yang hilang itu akan digantikan pada jam belajar malam (jam formal) berlaku dari kelas 1 Extension sampai dengan Kelas 2 Extension. Jam formal saat belajar malam difokuskan pada pembelajaran materi Bahasa Arab.

Sebagaimana di awal disampaikan, bahwa program extension ini harus mengikuti pola FDI (ada jam belajar formal malam hari). Pola pembelajarannya terus berjenjang dan santri bisa fokus pada penguasaan bahasa, mulai dari jenjang beginner, intermediate, sampai pada advanced. Pembagian rombongan belajarnya pun akan dibagi berdasarkan kemampuan penguasaan bahasa secara individual.

Strategi yang lain adalah mempersiapkan diri guru-guru yang memang sudah kita desain untuk mengisi di jam formal (malam hari). Tahun depan, Insya Allah, kegiatan hanya berlaku bagi Kelas 1 dan Kelas 2 Extension. Kenapa Kelas 3 Extension (kelas akhir) tidak diikutsertakan, karena praktis pada kelas 3 Extension itu mereka sudah harus fokus dengan bimbingan belajar Ujian Nasional sebagai upaya untuk program sukses Ujian Nasional dan masuk universitas di Indonesia. Dengan strategi ini, diharapkan santri kelas 3 Extension bisa mendapatkan nilai yang memuaskan seperti harapan kita semua.

Sehingga, meskipun program FDI tidak diberlakukan untuk program 3 tahun, sekali lagi, pesantren memberikan opsi dan solusi lain tanpa menutup kesempatan mereka untuk melanjutkan studi ke Timur Tengah. Mungkin bedanya kalau peserta FDI dari Program 6 Tahun kita menginginkan anakanak tersebut yang ke Timur Tengah bisa langsung mengikuti proses perkuliahan, tanpa harus mengikuti kelas persiapan lagi di sana atau di universitas yang menjadi tujuannya. Tapi kalau program extension, kita menyiapkan mentalnya agar mereka siap kuliah di Timur Tengah yang di sana persaingannya cukup ketat. Walaupun mungkin tahapannya perlu ke kelas persiapan bahasa dulu, mudah-mudahan dengan adanya program malam hari ini kita pun bisa menyamakan dengan program yang lain. Itu harapannya.

Selanjutnya, berkenaan dengan Sumber Daya Manusia (SDM). Apakah para pengajar ini hanya diampu oleh Dewan Guru di Daar el-Qolam secara umum atau melibatkan dari yang lain?

Berkenaan dengan SDM, Pesantren sudah menyiapkan dua opsi. Opsi yang pertama adalah tentu saja kita ingin mandiri–guru-guru kita yang di-upgrade oleh Dosen FDI SUNI Syarif Hdiayatullah dan tentu saja membutuhkan waktu yang relatif lebih lama. Santri pun di-upgrade kemampuan berbahasanya, begitu juga asâtîdz-nya di-upgrade pula kompetensinya. Opsi kedua, tentunya pihak Pesantren meminta bantuan dari tim Dr. Ahmadi Usman, Lc, M.A (Wakil Dekan bidang akademik FDI UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta) untuk membantu langsung di program Foundation for Dirâsât Islâmiyah. Artinya guru-guru Daar el-Qolam akan di-upgrade kemampuannya oleh para dosen dari Fakultas Dirâsât Islâmiyah UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, juga para dosen UIN tersebut ikut dilibatkan secara langsung dalam pembelajaran di dalam kelas. Selain itu para guru Daar el-Qolam juga bisa turut serta dalam asistensi bagi para dosen pengampu. Guru Daar el-Qolam bisa ikut serta masuk ke dalam Kegiatan Belajar Mengajar dan selanjutnya memperhatikan, mengamati model pembelajaran, pendekatan yang dilakukan dan metode yang digunakan dalam penyampaian materi Dirâsât Islâmiyah.

Tahapan berikutnya saat guru Daar el-Qolam mengajar di kelas, para dosen tersebut yang melakukan observasi terhadap guru-guru Pondok Pesantren Daar el-Qolam. Inilah tahapan-tahapan yang akan dilakukan oleh Pesantren.

Secara manajemen, apakah Program Foundation for Dirâsât Islâmiyah (FDI) dan Foundation MSU (FMSU) berada dalam satu manajemen, atau bagaimana?

Saat ini Daar el-Qolam telah memiliki dua program Foundation, yaitu Program FMSU dan program FDI. Kedua program ini kebetulan dilaksanakan di Pondok Pesantren Daar el-Qolam 3 Kampus Dza ‘Izza, meskipun di awal Daar el-Qolam merupakan rumah program FMSU. Tahun depan, Insya Allah, kedua program tersebut akan diformalkan berada dalam pengawasan Kepala Bagian yang bernama Kepala Pengembangan Kapasitas Kelas Akhir dan Program Internasional (PKKAPI).

Secara garis struktural, Kepala PKKAPI ini akan membawahi koordinator dari FMSU, FDI dan juga penanganan santri kelas akhir. Jika ke depan bertambah program baru pun, misalkan International Baccalaureate (IB) atau Cambridge International Examinations (CIE), maka program tersebut juga berada di bawah PKKAPI. Diharapkan kedua program tersebut (FSMU dan FDI) mempunyai standar kualitas, manajemen, dan fasilitas yang sama.

Beberapa waktu yang lalu, Daar el-Qolam kedatangan kunjungan 2 orang tamu perwakilan dari Universitas Az-Zaitunah, Tunisia. Apakah ini bagian dari strategi Pondok Pesantren Daar el-Qolam untuk membangun jaringan dengan Universitas yang ada di Timur Tengah?

Tadi sudah saya jelaskan bahwa sebelum ada program FDI ini sudah banyak alumni Pondok Pesantren Daar el-Qolam yang melanjutkan studi ke Timur Tengah dan bersaing dengan yang lain. Sebelumnya juga, Pondok Pesantren Daar el-Qolam juga sudah melakukan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) dengan Jam’iyah al-Ifriqiyah al-Alamiyah atau International University of Africa, Sudan. Namun belakangan ini di usia Pondok yang 50 tahun, Pengasuh Pesantren sudah menggaungkan go global dan be a global player. Artinya di usia emas Daar el-Qolam mencoba menguatkan hal tersebut dengan semakin memperluas jaringan bukan hanya untuk Timur Tengah saja, tapi juga untuk Barat, seperti Eropa, Amerika, dan Australia, hingga Dunia secara umum, dengan bentuk kerjasama yang resmi dan lebih spesifik.

Berkenaan dengan kedatangan tamu dari Universitas Zaitunah, Tunisia beberapa waktu yang lalu, syukur al-hamdu Lillah, sudah juga dilakukan penandatanganan MoU antara fakultas Hadharah Islamiyah dengan Pondok Pesantren Daar el-Qolam, dan Daar el-Qolam akan mendapatkan jatah 15 santri yang bisa langsung kuliah di Universitas Zaitunah pada fakultas tersebut. Tidak sampai di situ saja, kabar bahagia pun diterima oleh Daar el-Qolam, setelah visitasi yang dilakukan oleh perwakilan dari Universitas Zaitunah Tunisia, Daar el-Qolam juga memperoleh jatah kembali yakni sebanyak 30 santri diterima di Fakultas Dirasat Islamiyah. Artinya, jatah yang diterima oleh Daar el-Qolam mencapai 45 orang.

Di masa yang akan datang, Daar el-Qolam akan selalu berusaha meningkatkan diri, mengupayakan memudahkan jalan para santrinya untuk melanjutkan pendidikan ke Timur Tengah dengan terus membuka kerja sama secara resmi dengan Universitas di Timur Tengah yang lain. Kita semua yakin, jika santri yang melanjutkan studi di Timur Tengah atau ke negara lain yang berkualitas, InsyaAllah berkah akan selalu berlimpah (universitas tempat mereka belajar akan menaruh kepercayaan kepada Daar el-Qolam).

Perlu untuk dicatat bahwa Pengasuh Pesantren Daar el-Qolam memberikan kebijakan bahwa santri yang berhak mengikuti atau melanjutkan kuliah ke Universitas Zaitunah Tunisia harus dari peserta Program Foundation for Dirâsât Islâmiyah (FDI) saja, karena menjadi keunggulan dari Program FDI (semua santri Daar el-Qolam yang mengikuti program FDI). Dan semoga ke depan akan semakin bertambah dan berjalan baik sesuai dengan harapan bersama.

Leave a comment