K. H. Ahmad Dimyati: Darul Ulum Lido

Bersama Santri Pondok Pesantren Daarululum Lido
Bersama Santri Pondok Pesantren Daarululum Lido

Beberapa hari yang lalu saya menyambangi santri di Pondok Pesantren Darul Ulum Lido, Bogor. Menghadiri undangan bedah buku ‘Lost in Pesantren‘. Sempena milad pesantren itu yang ke-22.

Lebih dari seribu santri tumpah ruah di aula pesantren. Deras hujan di malam itu, tak mengurangi kehangatan kala berada di tengah-tengah mereka.

Darul Ulum Lido punya hubungan batin dengan Daar el Qolam. Pendirinya, KH. Ahmad Dimyati, alumnus Daar el-Qolam tahun 1979. Bahkan beliau adalah pioneer dari alumnus yang mendirikan pesantren.

Mendengar dan membaca perjalanan hidupnya, menyiratkan kesan bahwa keterbatasan tak menghalanginya untuk tumbuh meraih impian. Ia gigih, tekun, ulet, dan sabar. Falsafah hidupnya; fa idzâ ‘azzamta fatawakkal alaallâh (jika tekad telah kau tancapkan berserahlah kepada Allah).

Kiai Dimyati lahir dari keluarga miskin. Ayahnya wafat saat ia duduk di kelas 4 SD. Lulus sekolah dasar ia dititipkan kepada Kiai Rifai. Setelah tamat ia membantu kiainya mengajar, sampai ia bergelar sarjana. Setelah itu mendirkan pesantren.

Dari beliau kita belajar, bahwa di dunia nyata yang diperhitungkan bukan sekadar gelar sarjana atau nilai akademis yang bagus. Seseorang dituntut lebih dari itu; Berani, bernyali, terampil, gigih, dan lihai. Perkara ini yang lebih banyak memutuskan masa depan seseorang daripada nilai akademisnya.

Kiai Dimyati telah tiada (1955-2002), kala meninggal belum sampai 50 tahun usianya. Seperti sang guru, usia beliau lebih pendek dari hidupnya. Tapi jejak yang beliau tinggalkan memanjangkan namanya: Ia hidup dalam kematian (al-hayât fî al-maut). Wa lahu al-fatihah.

#lostinpesantren
#bukurepublika
#darululumlido

Tags

Leave a comment