5G: Lentera di Ujung Kampung

Tulisan ini tidak ada hubungannya dengan pelanjut generasi ke empat dalam jagat seluler (4G). Ini tentang soko guru peradaban, soal-soal yang berkelindan dengan jagat pendidikan, Anda penasaran? Berikut saya kenalkan 5G itu : Gontor, Gantar, Gentur, Gantong, dan Gintung.

Gontor: Inspirator pesantren modern di Indonesia, usianya saat ini 90 tahun. Pesantren cabangnya tersebar di berbagai pelosok negeri. Belum termasuk ratusan pesantren yang didirikan oleh alumninya. Kampung kecil ini menjadi tempat persemaian generasi muda yang diharapkan dapat menyalakan lentera ilmu untuk kemajuan bangsa.

Gantar : kampung kecil di pedalaman Indramayu, Jawa Barat. Sawah dan tanah kering di kampung ini berubah menjadi bangunan beton yang megah, penggah, mewah, dan gemilap dengan infrastruktur berstandar internasional. Ciri metropolitanisme itu berawal dari berdirinya sebuah pesantren bernama: Ma’ had Al-Zaytun. Terlepas dengan pandangan peyoratif tentang pesantren ini. Dengan kekhasan dan karakternya, Gantar berupaya mengobarkan kembali api peradaban Islam.

Gentur : Kampung kecil di kecamatan Warung Kondang, Cianjur, Jawa Barat. Di kampung ini berdiri sebuah pesantren sejak zaman kolonial. Pendirinya Syekh Ahmad Syatibi al-Qonturi yang dikenal dengan Mama Gentur. Beliau adalah maha guru para ulama tatar Sunda yang menghasilkan para ulama ahli tasawuf, tarekat, dan para kyai seperti Mama Sempur, Syekh Yusuf, Syekh Abdullah Nuh atau yang lebih dikenal dengan Aang Nuh.

Gentur menjadi pemelihara khazanah ilmu dan tradisionalisme Islam. Sampai saat ini di Gentur benda- benda seperti tv, radio, pengeras suara, dan handphone barang haram yang tidak boleh ada. Gentur punya cara sendiri menyalakan lentera peradabannya.

Gantong: Tak perlu saya jelaskan panjang lebar. Nama kampung ini terangkat oleh Andrea Hirata lewat novelnya, yang sudah diterjemahkan dalam 34 bahasa asing dan diterbitkan lebih dari 130 negara. Gantong bukan pesantren, tapi ruh dan falsafah pendidikan ada di sini. Gantong seakan menegaskan sukses belajar dan mengajar akan terwujud manakala guru mencintai profesinya dan ikhlas mendidik anak muridnya.

Gintung : Kampung terpencil di ujung Tangerang, di bantaran sungai Cidurian yang menjadi sempadan wilayah Serang. Di kampung ini ribuan santri belajar yang datang dari berbagai pelosok negeri. Pesantren itu bernama Daar el Qolam, yang lahir dari rahim Gontor pada tahun 1968, mungkin salah satu pesantren alumni Gontor yang paling dinamis dan kreatif. Awal berdiri fasilitas dan infrastrukturnya mirip Gantong. Ruang belajarnya tanpa pintu, tanpa jendela yang tingginya tanpa keramik . Sampai akhirnya kesungguhan, kemandirian, dan kerja keras membawa fasilitasnya mendekati Gantar. Santri-santrinya ditempa untuk belajar menunda kenikmatan sesaat. Tanpa handphone, tv, dan radio meski tidak mengharamkannya seperti Gentur.
Nama-nama dalam akronim 5G itu unik, bukan hanya estetik dalam rima aliterasi, asonansi, atau disonansinya. Tapi juga gerak dan vitalitasnya yang menegaskan bahwa ‘ school is not place, school is a concept. Sungguh, Maha Benar Allah dengan firmannya: : “Adapun buih yang tak ada harganya akan segera hilang tanpa bekas, sedangkan yang bermanfaat untuk manusia akan tetap menghujam di bumi” (QS: al-Ra’d:17)

Oleh : al-Ustadz Saeful Bahri, M. Sc.

Leave a comment