Panca Jiwa dan Moto Pondok: Sumber Inspirasi dan Gerak Kaum Santri

الَّذِينَ آمَنُوا وَهَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّـهِ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنفُسِهِمْ أَعْظَمُ دَرَجَةً عِندَ اللَّـهِ ۚ وَأُولَـٰئِكَ هُمُ الْفَائِزُونَ ﴿٢٠

orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta, benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan. (Q.S. At-Taubah (9:20)

Sebagai pemegang estafet kepemimpinan Pesantren Daar el-Qolam, Pak Kiai Syahid tentu mempunyai kepentingan yang amat sangat tinggi untuk menjaga nilai-nilai yang menjadi ciri kehidupan pondok pesantren.

Karenanya, dalam berbagai kesempatan, baik dalam acara formal ataupun ngobrol-ngobrol ringan, beliau tidak pernah lupa menyampaikan dan menyelipkan falsafah dan nilai-nilai yang dianut oleh Pondok Pesantren Daar el-Qolam tersebut kepada para guru maupun santri. Falsafah dan nilai tersebut menjadi dasar dan ciri segala gerak dan aktivitas yang ada di Pesantren. Falsafah dan nilai tersebut termaktub dalam apa yang disebut dengan Panca Jiwa Pondok dan Moto Pondok.

Seperti pada pagi hari itu, ketika acara pelantikan pengurus ISMI di Daar el-Qolam 2 akan dimulai, Kiai Syahid tiba-tiba datang dan meminta waktu untuk memberikan taushiyah sebelum acara pelantikan pengurus dimulai. Tentu ini menjadi momen pembuka yang sangat berharga bagi pengurus baru, dan penutup yang sangat indah bagi pengurus lama.

Seluruh santri menyambut hangat ketika beliau mulai berbicara di atas podium. Setelah membuka dengan hamdalah dan shalawat kepada Nabi Muhammad SAAW, beliau menyapa seluruh komponen yang hadir, para santri, pengurus, guru, juga pimpinan, kemudian beliau membuka taushiyah-nya:

Saya sebagai pemegang estafet, amanah pengembangan sekaligus ihya’ ma’had Daar el-Qolam, mempunyai kepentingan yang amat sangat tinggi terhadap menjaga nilai-nilai yang menjadi ciri kehidupan pondok. Karena itu, saya menyalip acara ini, sebelum dimulai acara pelantikan. Karena saya pun akan berupaya hadir memberikan taushiyah di Daar el-Qolam 1, karena acaranya berbarengan pada hari ini.

Perlu kalian pahami, bahwa Pesantren adalah lembaga pendidikan yang memiliki ciri yang selalu dipertahankan. Dan ciri itu memiliki kesamaan, lebih-lebih pada pesantren alumni Pondok Pesantren Darussalam Gontor.

Dasar dari nilai yang ada di Pondok Pesantren Daar el-Qolam itu, ibarat dasar di dalam beragama Islam, yaitu al-Quran dan Hadits Rasulullah SAAW serta fatwa para ulama as-shâlihûn. Karena itu di Pondok Pesantren Daar el-Qolam, nilai-nilai itu dikenal dan wajib diketahui oleh semuanya, dan itu menjadi sumber inspirasi dan sumber gerak dalam melakukan seluruh sunnah Pondok. Itulah Panca Jiwa dan Moto Pondok. Karena itu tidak ada satu pun gerak hati, kebijakan, pemikiran, dan falsafah kehidupan di Pondok Pesantren yang bertentangan dan tidak sejalan dengan Panca Jiwa dan Moto Pondok.

Semuanya harus dilandasi oleh keikhlasan. Sebagai pengurus, mukhlish, dilandasi oleh keikhlasan. Sebagai santri, mukhlish, dilandasi oleh keikhlasan. Karena itu, tidak perlu macam-macam. Cukup sederhana saja kita berpikir, tidak perlu tinggi-tinggi, karena maqâm kita belum tinggi dan bukan mahall (tempat) kita di tempat tinggi. “Lâ tarfa’û ashwâtakum fawqa shawtinnabiy wa lâ tajharû lahû.” Maqam kita bukan maqam Nabi. Paling banter maqam kita itu maqam mushaddiq, yang nabi palsu. Karena belum sampai pada maqam-nya maka jadilah dia nabi palsu.

Kalian harus seperti itu. Kalau sudah bisa ikhlas, sudah bisa hidup sederhana, maka akan tumbuh jiwa berdikari, tidak bergantung pada orang lain tapi tumbuh dalam diri sendiri untuk mengembangkan potensi yang ada di dalam diri sehingga kemudian menyebar dan bermanfaat kepada orang lain. Itulah ciri santri Daar el-Qolam. “Khayrun-nâsi ahsanuhum khuluqan wa anfa’uhum linnâsi.”

Kalau sudah seperti itu, maka akan terpelihara ukhuwwah Islâmiyah. Semua dilandasi oleh ukhuwwah Islâmiyah pada koridor “wa tawâshauw bil-haqq wa tawâshauw bi-s-shabr.” Kalian menjadi pengurus koridornya “wa tawâshauw bil-haqq“, bukan memberikan sanksi, bukan memberikan hukuman tapi memberikan bimbingan, arahan dan suri tauladan. “Laqad kâna lakum fî rasûlillahi uswatun hasanatun.” Ingat, ada kata di belakangnya, “liman kâna yarjû-llâha“, yang berarti konteks keikhlasan, “wa-l-yawma-l-âkhira” yang merupakan konteks keuksesan, sebab “wa-l-yawma-l-âkhira” adalah tujuan yang akan dicapai. Jadi, harus diterjemahkan “wa-l-yawma-l-âkhir” adalah tujuan akhir yang akan kita capai, yaitu surga atau neraka; sengsara atau senang; berhasil atau gagal.

Semua itu bisa kita lakukan, kalau kita bisa berpikiran bebas. Menerima apapun, tapi bisa dipertanggungjawabkan. Sebab, kebebasan bukan melakukan sesuatu tanpa batas, tapi kebebasan adalah melakukan sesuatu dengan pertanggungjawaban. “wa-s-Syamsu tajrî limustaqarrin lahâ“, ada ketentuan, karena itu ada tanggung jawab. “al-yawma nakhtimu ‘alâ afwâhihim…” Inilah Panca Jiwa Pondok.

Orang yang mukhlis pasti berbudi luhur, tidak mungkin tidak berakhlakulkarimah. Sebab Allah sudah menyatakan “wa innaka la’alâ khuluqin ‘azhîm…” yang tadi itu menjadi suri tauladan dari Rasulullah SAAW. Orang yang berbudi luhur pasti akan menjaga kesehatan badannya. Karena itu, berbadan sehat. Sehat itu relatif, tidak mesti sehat itu dalam pengertian seratus persen. Karena tidak ada manusia yang sehat seratus persen. Berbudi luhur, berbadan sehat, akan melahirkan nanti manusia-manusia yang berpengetahuan luas, sebab tidak terganggu dan tidak diganggu oleh hal-hal yang lain. Tidak berpikir negatif, selalu berpikir positif. Sebab tadi, berbudi luhur. Berbadan sehat, tidak terganggu oleh kondisi fisiknya, maka dia akan mampu menjadi manusia yang berpengetahuan luas, karena kalau pengetahuannya luas, maka dia akan memiliki pemikiran yang bebas, bisa menerima pendapat yang lain, tidak egois, tidak ngotot, tidak mutakabbir, tidak pesimis, selalu optimis, tetapi semuanya didasari oleh nilai-nilai “taraktu fîkum amrayni lan tadhillû in tamassaktum bihimâ, kitaballâhi wa sunnata rasûlihi.”

Pesan yang penuh makna, yang harus menjadi ruh penggerak setiap ia yang berikrar bersedia menjaga bukan hanya warisan intelektual tapi juga warisan spiritual yang bernama Daar el-Qolam.


Indra Jaya, MA. Tenaga Pengajar Pondok Pesantren Daar el-Qolam 3 Kampus Dza ‘Izza.

Leave a comment