Jati Diri Santri Itu, Ya Memang Mendunia

Cukup banyak sudah analisa dan pemikiran yang berkesimpulan bahwa santri adalah pemilik sah pemegang amanat kepemimpinan bangsa-dunia ini. Tidak sulit menjelaskan kesimpulan di atas.

Namun tentu saja, sebelum saya membahas prospek kiprah santri yang mendunia itu, terlebih dahulu saya akan mengkaji kiprah dan peran santri secara nasional dalam lingkup keindonesiaan. Berbagai fakta yang berkaitan dengan kedirian dan kompetensi seorang santri, baik secara historis maupun kemampuan-kemampuannya, bisa kita tunjukkan untuk mendukung kesimpulan di atas. Pertama, santri, karena terlahir dari sekelompok masyarakat indigenous Islam-Indonesia, maka santri lah yang paling mengetahui dan menghayati kebatinan bangsa Indonesia. Karena itu, hal-hal yang berkaitan dengan psikologis, sosiologis, dan antropologis kemasyarakatan, santri telah terlebih dahulu menguasainya. Kedua, karena gemblengan tentang nilai-nilai agama dan ketuhanan yang cukup intensif, santri memiliki etos kerja dan tanggung jawab yang sangat tinggi. Menurut sosiolog Max Weber, etos kerja dan tanggung jawab santri yang luar biasa itu karena santri memiliki apa yang disebut Weber sebagai inner worldly asceticism (kesalehan dunia dalam diri). Karakter itulah yang membuat santri bekerja dengan maksimal meski tidak adanya pengawasan. Santri akan tetap jujur meski tak seorang pun mengawasinya, karena dengan karakter kesalehan dunia dalam dirinya itu, santri yakin betul bahwa Tuhan Omni-Present anytime, anywhere. Ketiga, adanya ajaran Islam yang mewajibkan penganutnya untuk terus belajar dan menuntut ilmu, “meski pun harus ke negeri Tiongkok”, maka kultur intelektualisme santri menjadi sangat terbuka, egaliter, demokratis, dan sangat menjunjung tinggi nilai-nilai keilmuan dari mana pun berasal. “Dari bejana apapun hikmah itu kamu temukan, santri wajib mengambilnya”, begitu kira-kira sabda Rasul Agung.

Nah, dengan berbagai keunggulan santri tersebut, ditambah saat ini mulai banyak bermunculan lembaga-lembaga pendidikan Islam dan pondok pesantren yang secara baik memfasilitasi pengembangan kompetensi para santri, maka semua keunggulan tersebut di atas melesat bagaikan roket yang dalam waktu tidak lama dari satu dasawarsa di awal abad 21 ini akan menjelma menjadi kekuatan alternatif intelektual dan kepemimpinan dunia. Booming intelektual santri di Indonesia pada tahun 1980-an, kemudian booming para doktor luar negeri dari kalangan santri yang mulai fenomenal pada pertengahan tahun 1990-an, membuat santri bukan hanya berpandangan outward looking, melainkan kompetensi mereka juga telah merambah ke berbagai intelektual sosial kemasyarakatan. Mereka tidak hanya menjadi ustâdz, guru, dosen, dai, kiai, melainkan juga mereka menjadi manajer di berbagai perusahaan, direktur, politisi, kepala daerah, menteri, dan posisi-posisi strategis lainnya.

Santri yang muncul dalam kepemimpinan dan intelektualisme itu terlihat secara integrated tiga hal penting dalam dirinya. Pertama, aspek “what” dari peran yang mereka miliki sudah mulai cukup. Karena itu, banyak di antara santri yang tampil secara profesional. Kedua, aspek “how”, yang menjadi job para manajer dan direktur. Dan banyak sudah santri yang menduduki posisi ini. Ketiga, aspek “why” yang menyangkut nilai, belief, sehingga dari “tahu” (“what”) dan “bisa” (“how”), santri juga “mau” (“why”) melakukannya.

Santri yang semacam itulah yang dalam al-Quran disebut sebagai “hamba-hamba-Nya yang Ṣâlihûn”, yang bumi ini diwariskan kepadanya, jika kehidupan umat manusia di dalamnya ingin harmonis, adil, sejahtera, sehingga para penghuninya merasakan kebahagiaan.

وَلَقَدْ كَتَبْنَا فِي الزَّبُورِ مِن بَعْدِ الذِّكْرِ أَنَّ الْأَرْضَ يَرِثُهَا عِبَادِيَ الصَّالِحُونَ ﴿١٠٥

[Muhammad Wahyuni Nafis—Direktur Sekolah Madania: Ketua Nucholish Madjid Society; Anggota Advisory Board Pesantren Daar el-Qolam]

Leave a comment