The Beauty of Yesterday

Sebuah buku yang berbicara tentang sosok yang patut dikenang. Yang visinya melampaui waktu. Yang hidupnya lebih panjang dari usianya: Kiai Ahmad Rifa’i Arief.

Cover Buku Kiai Rifa'i dalam Kenangan Santri
Cover Buku Kiai Rifa’i dalam Kenangan Santri

Penulisnya Tajwini Jahari. 4 tahun nyantri. Setahun mengabdi, membantu kiai mendidik santri. Momen kala nyantri menjadi long term memory yang masih terekam dalam ingatan Tajwini.

TJ. Demikian sapaan akrabnya, berhasil membuncahkan ingatan kolektif santri-santri Kiai Rifai lainnya, untuk memutar kembali alunan the beauty of yesterday: masa lalu dengan segala aroma dan rasanya.

Visi sang kiai memang bernas dan tajam: Di sudut kampung ia membangun peradaban (Daar el-Qolam).

Di antara dua lembah yang jauh ia memberi energi. “School is not place, school is a concept (La Tansa).

Di pinggiran pantai ia membelai jiwa-jiwa yang kering agar tumbuh seimbang dengan raga yang subur (La Lahwa).

Visinya melebihi kapasitas fisiknya kata Prof. Thihami. Senada dengan teori leadership John C. Maxwell: pemimpin level 3 melihat dengan visi, dengan mata possibility. Di mata mereka semua mungkin. Sementara pemimpin level 1 dan 2 melihat dengan kasat mata dan mata analisis.

Melihat jejak sejarah karya kiai Rifai yang boleh dibilang from zero to hero, tak berlebihan jika beliau ditempatkan pada level pemimpin nomor 3.

“Pemimpin tanpa visi yang kuat hanya memacu bawahannya untuk kerja, kerja, bergerak, bergerak, merespon semua yang ada. Ujung-ujunganya hanya memicu confusion (kekacauan)”. Begitu kata Rhenald Kasali.

“Pemimpin tanpa visi adalah pemimpin yang reaktif. Ia bisa bekerja cepat merespons semua tindakan. Tetapi hasilnya tidak efektif. Ia hanya berorientasi pada hal yang kasat mata yaitu: here (di sini) and now (saat ini)” Kata Rhenald Kasali lagi.

Kiai Rifai menutup mata pada usia 55. Tapi ia membuka mata dan telinga orang-orang yang ditinggalkan: jika ada kemauan pasti ada jalan.

Mengenangnya memang penting. Tapi merawat dan mengembangkan visinya jauh lebih penting. Supaya generasi penerus dan santri-santri tidak terlena dalam alunan the beauty of yesterday. Cause tomorrow is today, kata Billy Joel.

Bravo Kang TJ you are keren!

Tags

Leave a comment