Lalu, Apa Yang Kau Ragukan dari al-Quran?

Sadarkah, kita sudah berada di akhir zaman. Banyak dari kita yang mulai mengabaikan al-Quran dan lebih memfokuskan diri pada hal-hal yang lain, entah dalam hal perdagangan, hukum, politik, dan pekerjaan lainnya yang tidak sesuai dengan syariat agama. Coba tilik al-Quran surah al-Furqan: 30 yang berisi pengaduan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam yang artinya, “Dan Rasul (Muhammad) berkata, ‘wahai Tuhanku, sesungguhnya kaumku telah menjadikan al-Quran ini sesuatu yang diabaikan’.”

Umat Muhammad Harus Berwawasan

Mengapa wahyu pertama yang diturunkan Allah kepada RasulNya surah al-‘Alaq? Mengapa ayat pertama menggunakan kata Iqra’ yang berarti ‘bacalah’? Menurut beberapa ahli tafsir, itu semua karena Allah memerintahkan kita untuk sadar akan kebesaranNya. Allah memerintahkan kita supaya mampu membaca qauliyah-Nya seperti al-Quran maupun kauniyah-Nya seperti membaca keadaan alam yang mencakup ilmu Biologi, geografi dan lain sebagainya. Perintah ini memberikan kesimpulan kepada Muhammad dan umatnya agar terus membaca dengan capaian menjadi manusia yang berwawasn. al-Quran sendiri diwahyukan kepada Muhammad berbeda dari kitab lainnya yang diwahyukan kepada nabi-nabi sebelumnya yang hanya berisi ajaran Tauhid.

al-Quran dan Segala Ilmu Allah Ada di Dalamnya

Semua ilmu yang terdapat di jagat raya ini, yang dititipkan kepada manusia, merupakan ilmu Allah. Jika kita renungkan segala sesuatu yang ada di bumi ini dan tempat-tempat lain, semua itu merupakan dalil-dalil kauniah yang semestinya disadari oleh setiap manusia. Di dalam al-Quran Allah menjelaskan bahwa ruang angkasa dapat ditembus, ini yang kita kenal dengan ilmu astronomi. Lalu Allah menjelaskan manusia dengan alam sekitarnya, perkembangan kehidupan, eksistensi alam, tumbuh-tumbuhan, hewan dan binatang kecil yang kenal dengan biologi. Bahkan Allah memberi kabar di dalam al-Quran bahwa ada sesuatu yang menyerupai roket yang Allah jelaskan di dalam surah al-Insyiqaq: 19 yang artinya “Sesungguhnya akan kamu jalani peringkat demi peringkat (dalam kehidupan).” Maksud ‘seperti roket’ ialah karena kita menjalani hidup dengan peringkat demi peringkat yang dimulai dari setetes air mani sampai dilahirkan, kemudian melalui masa kanak-kanak, remaja, dan sampai dewasa. Hidup menjadi mati, kemudian dibangkitkan kembali.

Mengapa Ragu dengan al-Quran?

Di zaman sekarang, banyak orang tua yang lupa memberikan pengajaran al-Quran kepada anak-anaknya, dengan alasan karena al-Quran tidak terpandang sekarang. Ada beberapa orang yang mempunyai potensi untuk menghafal al-Quran namun orang tuanya melarang dengan alasan “nanti belajar sekolahnya terganggu” atau “memangnya bisa jadi apa kalau hafal al-Quran?”. Bisa dibilang menyedihkan sekali. Padahal yang kita lihat sekarang, banyak universitas swasta maupun negeri memberikan beasiswa kepada orang yang mampu menghafal al-Quran atau yang sering dikenal dengan sebutan hafizh/hafizhah. Mengapa harus ragu dengan al-Quran, padahal Allah telah berjanji kepada mereka (penghafal al-Quran) di dalam hadits Nabi yang artinya “Aku cukupkan engkau dari segala sesuatunya”.

Soal bagaima dengan belajarnya di sekolah? Seperti ini perumpamaannya: bukankan al-Quran jauh lebih sulit untuk dihafal dibandingkan dengan menghafal pelajaran sekolah? Mengapa? Itu karena al-Quran merupakan kalam Allah yang dalam menghafalnya kita tidak bisa hanya memasukkannya ke dalam otak belaka, namun kita juga harus mampu memasukkannya ke dalam hati yang bersih. Dalam rangka menghafal al-Quran kita tidak hanya dituntut untuk menghafalkannya hari ini, namun kita juga dituntut untuk mampu menjaga kualitasnya sampai akhir hayat. Ketika dalam keadaan sulit menghafal pelajaran sekolah, kita dapat memudahkannya dengan cara merangkum. Namun, bagaimana jika kita kesulitan dalam menghafal al-Quran? al-Quran tidak bisa dan tidak boleh dirangkum. Jadi, orang yang mampu menghafal al-Quran seharusnya lebih mampu dalam menghafal pelajaran. Perumpamaannya seperti kalian terbiasa mengangkat beban 5 kilogram (diibaratkan al-Quran) setiap harinya, namun kemudian suatu waktu kalian hanya mengangkat beban 2 kilogram saja (diibaratkan pelajaran sekolah). Apa yang kalian rasakan? Tentunya kalian akan merasakan lebih mudah untuk mengangkatnya, bukan?

Ayah, Ibu… Kami butuh dukunganmu

Ayah, Ibu…. Percayalah. Dengan keadaan seperti ini, kami tahu kami tidak seperti anak saleh yang namanya telah dikenang sepanjang sejarah seperti Uwais al-Qarni yang mampu menggendong ibunya dari Yaman menuju Makkah. Namun, kami mau usaha menjadi anak saleh dengan cara yang bisa kami lakukan. Contohnya menghafal al-Quran dan berusaha untuk mengamalkan segala kandungan yang ada di dalamnya dalam kehidupan. Sering kali masing-masing di antara kita, entah ayah, ibu, adik ataupun saya sendiri disibukkan oleh urusannya masing-masing. Namun ada satu hal yang diam-diam saya pintah dari Allah untuk kita semua “Ya Allah, saya sayang mereka… Mungkin kita sering dipisahkan oleh waktu karena sibuk dengan urusannya masing-masing ketika di dunia. Namun Ya Allah, jangan Engkau pisahkan kami di akhirat nanti. Kumpulkanlah kami di Jannah-Mu, tempat di mana tidak ada kesedihan di dalamnya nan abadi.”

Ya, itulah permintaan saya. Memangnya bisa? InsyaAllah selama kita tetap istiqamah dalam ikhtiyar dan doa. Rasulullah SAW bersabda, “Siapa yang membaca al-Quran dan menghafalkannya, niscaya Allah akan memasukkannya ke dalam surga dan menganugerahinya hak untuk memberikan syafaat kepada sepuluh orang keluarganya yang telah ditetapkan sebagai penghuni neraka” (H.R. Ibnu Majah)

Abu Dawud meriwayatkan dari Mu’adz al-Juhni, bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda, “Barang siapa yang membaca al-Quran dan mengamalkannya, maka di hari kiamat kelak, orang tuanya akan mengenakan sebuah mahkota yang cahayanya lebih terang daripada cahaya matahari yang ada di rumah-rumah dunia, jika ia menyinari kalian. Lalu bagaimana menurutmu dengan orang yang mengamalkan semua ini?” (Jami’ al-Ushul, 8/496-501).

Allahu a’lam []

Ditulis oleh Zulfah Wardatul Auliya,
santriwati kelas 3 IPS B Pondok Pesantren Daar el-Qolam 3 Kampus Dza ‘Izza.

Leave a comment