Antara Tantangan dan Implementasi

Sejak awal kemunculannya hingga sekarang, pesantren tetap menarik untuk dikaji baik dari sosok luarnya, kehidupan sehari-harinya, isi pendidikannya, maupun sistem dan metodanya (Mahfudh, 1994:262). Ke depan, hal ini akan tetap menjadi bahan kajian dan diskusi yang amat menarik di kalangan para ahli dan pemerhati dunia pesantren sehingga makin memperkaya literatur tentang pesantren.

Pesantren merupakan lembaga yang lahir dan besar dari rahim masyarakat yang kemudian menjadi subkultur dengan ciri khas tersendiri. Ada tiga elemen dasar yang membentuk pondok pesantren sebagai sebuah subkultur. Pertama, pola kepemimpinan pondok pesantren yang mandiri dan tidak terkooptasi oleh negara; kedua penggunaan kitab-kitab rujukan umum yang telah digunakan berabad lamanya; dan yang ketiga, sistem nilai (value system) yang digunakan merupakan bagian dari masyarakat luas. Dari tiga elemen ini, dapat ditegaskan bahwa pondok pesantren memiliki hubungan yang sangat erat dengan kehidupan masyarakat Indonesia, di mana pesantren tidak hanya menyerap dan mengadaptasi nilai-nilai sosial-budaya lokal, tetapi juga melakukan transformasi yang dijiwai oleh nilai-nilai Islam yang bersifat universal. Tulisan ini akan mencoba untuk membahas sistem nilai pondok pesantren yang menjadi sumber bagi ethos kehidupan pesantren.

Menguatkan kembali etos dunia pesantren

Meskipun pesantren masih tetap eksis hingga kini, dalam perjalanannya mengalami banyak kendala. Pertama, terjadinya degradasi keilmuan dan dekadensi moral. Di pesantren, degradasi keilmuan terlihat dengan sulitnya mencari kader santri yang mampu melanjutkan estafet keilmuan dan perjuangan para tokoh pesantren. Sementara dekadensi moral terlihat dari semakin tipisnya kekuatan karakter santri yang mau berjuang memberdayakan masyarakat dengan penuh sikap optimis. Bahkan secara personal, kualitas santri sekarang dari sisi kerendahhatian (tawâdhu’), keikhlasan, ukhuwah islamiyah, kesederhanaan, dedikasi sosial dan semangat pengorbanan berada jauh di bawah santri zaman dulu. Di sinilah pentingnya upaya peningkatan kualitas santri dari berbagai aspek, baik aspek keilmuan, keorganisasian, sosial kemasyarakatan, kebangsaan, dan lain-lain supaya degradasi keilmuan dan dekadensi moral bisa diperbaiki secara intensif.

Kedua, disorientasi kurikulum. Modernisasi pesantren yang terus berlangsung dengan cepat mengakibatkan efek samping yang tidak ringan, yakni kebingungan pesantren mendeskripsikan kurikulumnya, apakah tetap konsistem merawat tradisi (al-muhâfazhah ‘alâ al-qadîmi as-shâlih), merespons modernisasi (al-akhdz bi al-jadîd al-ashlah) atau bahkan kombinasi keduanya. Ini tidak mudah dan bukan persoalan yang sederhana. Pilihan mana pun yang diambil memiliki implikasi masing0masing dan berpengaruh terhadap masa depan pesantren.

Dewasa ini, di saat pesantren memasuki era globalisasi dan modernisasi, maka tuntutan untuk mengikuti perkembangan zaman merupakan sebuah kenisacayaan. Arus informasi dan teknologi yang semakin meningkat dan pesat mengharuskan pesantren untuk mampu beradaptasi dan menguasainya. Untuk itu, beberapa hal yang harus ditekankan adalah:

  1. Pesantren mengedepankan ilmu-ilmu alat sehingga para santri bisa melakukan penjelajahan intelektual. Dengan penguasaan ilmu alat itu, maka santri bisa menjadi pembelajar mandiri dan memiliki mental otodidak menjadi sosok “mutabahhir fî al-‘ilm” yang mampu mengarungi samudera ilmu yang tidak bertepi. Kebesaran pesantren dalam sejarahnya tidak lepas dari kesuksesan melahirkan kader bangsa yang memahami agama secara mendalam (tafaqquh fî ad-dîn) dan mampu mengaktualisasikannya secara kontekstual.
  2. Pesantren mendorong santri untuk aktif munâzharah (diskusi), mutâharah (berdebat), muthâla’ah (membaca secara mendalam), ta’lîq (mencatat keterangan/anotasi) dan tikrâr (mengulang). Kesungguhan dalam belajar, mengembangkan ilmu, kedisiplinan, mengatur waktu, menjaga moralitas luhur, semangat ototdidak (self-study) tirakat (riyâdhah rûhiyah), mempunyai jiwa pelopor dan perintis dalam perjuangan tinggi, menjadi kunci sukses para santri dalam belajar dan berjuang di tengah masyarakat.
  3. Pesantren menanamkan spirit optimisme dalam menatap masa depan. Optimisme ini dimulai dari niat pertama kali menuntut ilmu untuk mendapatkan rida Allah SWT. Menghilangkan kebodohan, mengibarkan panji kebesaran Islam, bukan mencari dunia, pangkat dan ketenaran. Optimisme ini akan melahirkan cita-cita yang tinggi, keyakinan yang kuat, kepercayaan diri dan tekad yang bulat untuk meraih keberhasilan tanpa menggantungkan diri pada orang lain. Di sinilah relevansi kaidah pesantren “al-i’timâd ‘alâ an-nafs asâs an-najâh“, yaitu kemandirian menjadi kesuksesan. Optimisme menyemaikan kerja keras, kerja cerdas dan kerja ikhlas. Semangat pantang menyerah dalam menuntut ilmu, kemandirian, prestasi dan kesuksesan akan lahir dari optimisme. Orang yang optimis berani menghadapi risiko.
  4. Pesantren melatih diri santri untuk memahami pentingnya berorganisasi sebagai media untuk memperjuangkan agama dan memberdayakan masyarakat. Dengan berorganisasi, santri akan memahami dan menerapkan prinsip planning, organizing, actuating and controlling; dengan berorganisasi maka akan mendorong santri untuk aktif mengembangkan keilmuan dan wawasan masa depan. Interaksi dan relasi sosial menuntut santri untuk beradaptasi agar tidak ketinggalan dan bisa menjadi leader yang mampu memandu perubahan.
  5. Pesantren mengokohkan visi sosialnya kepada santri secara efektif. Visi sosial adalah pandangan jauh ke depan tentang bagaimana membangun masyarakat yang sesuai dengan nilai Islam universal, seperti keadilan, kesejahteraan, kemajuan, kearifan, kesetaraan, kebahagiaan dan kerja sama dalam membangun kebaikan dan meminimalisir kejelekan (Wahid: 1999: 2-27).

Memasuki era globalisasi dan modernisasi, maka dunia pesantren harus terus berupaya meningkatkan kualitas dirinya dengan menguatkan kembali etos dan nilai-nilai hidup pesantren maupun penguasaan teknologi dan semangat berinovasi.

Implementasi Nyata Daar el-Qolam

Menurut Fazlurrahman (1979), pendidikan Islam bertujuan untuk membentuk budaya religius (religious culture). Budaya religius lahir dari kebiasaan dalam mengamalkan agama dan membentuk karakter yang kuat. Menurut Prof. Dr. Muhammad, MA (2014), karakter dibentuk oleh kebiasaan seseorang dalam kehidupan sehari-hari. Kebiasaan tersebut dibentuk oleh pengamalan ilmu yang terserap dari sumbernya. Model pendidikan pesantren terbukti efektif merealisasikan tanggung jawab dalam kehidupan kemasyarakatan dan kebangsaan.

Sejalan dengan itu, Pondok Pesantren Daar el-Qolam dalam proses pendidikan dan pengajaran, pembinaan, pengawasan, pelatihan dan pengasuhan selalu dilandasi prinsip-prinsip dsar dan ethos kehidupan yang menjiwai semua elemen pesantren dalam melakukan tugas-tugasnya. Prinsip-prinsip dan ethos itu tercermin dalam Panca Jiwa Pondok dan Moto Pondok.

Pondok Pesantren Daar el-Qolam secara umum mempunyai dua tujuan dalam pendidikan, yaitu tujuan kemasyarakatan dan tujuan mencari ilmu (thalab al-‘ilm) sebagai berikut:

Tujuan Kemasyarakatan

Santri di Daar el-Qolam dididik untuk memahami dan menjadi bagian dari masyarakat dan karena itu diharapkan mereka mampu memberikan kontribusi dalam menyelesaikan masalah yang ada di masyarakat. Daar el-Qolam merupakan miniatur masyarakat di mana santri dengan latar belakang yang berbeda saling berinteraksi satu dengan lainnya. Santri dibekali untuk mengatur kehidupannya secara individu dan kolektif sebelum mereka kembali menjadi bagian dari masyarakat yang sesungguhnya.

Untuk itu, Daar el-Qolam membekali para santri dengan berbagai macam ilmu dan keterampilan secara terencana, dengan mengajarkan makna tanggung jawab dengan memberikan kesempatan mereka untuk berinovasi dalam mencari dan menciptakan sesuatu yang bermanfaat. Daar el-Qolam juga menanamkan ethos bekerja keras, keikhlasan dan kepemimpinan sehingga diharapkan tumbuhnya rasa percaya diri dan mudah beradaptasi dan berinteraksi serta cakap dalam mengambil keputusan.

Tujuan Mencari Ilmu

Selain tujuan kemasyarakatan di atas, Daar el-Qolam juga secara konsisten menanamkan ethos untuk terus mencintai ilmu dan menuntut ilmu dengan niat suci ibadah demi memenuhi perintah Allah SWT. Tujuan pendidikan di Daar el-Qolam adalah mencetak generasi muda Islam yang beriman dan berilmu pengetahuan. Pada tataran aplikasinya, Daar el-Qolam mengintegrasikan sistem pendidikan yang ada di Indonesia. Dapat dikatakan Daar el-Qolam adalah lembaga pendidikan pesantren yang berbasis sekolah (school-based pesantren). Tradisi sekolah dipadukan dengan tradisi pesantren modern yang menekankan pada penguasaan bahasa asing dan kedisiplinan.

Panca Jiwa Pondok

Panca Jiwa adalah lima prinsip dasar yang mesti tertanam dalam jiwa siapapun yang menjadi penghuni pondok pesantren, entah itu kiai, guru, ataupun santri. Panca Jiwa Pondok adalah sebagai berikut:

  1. Keikhlasan. Keikhlasan memiliki makna yang sangat luas, namun bila diartikan secara verbal, keikhlasan berarti sepi ing pamrih rame ing gawe, yakni berbuat sesuatu buakan atas dasar dorongan nafsu untuk mendapatkan kenuntungan-keuntungan tertentu, segala perbuatan yang dilakukan semata-mata bernilai ibadah lillâhi ta’âlâ. Kiai ikhlas mendidik, santri iklhas didik dan mendidik diri sendiri, dan yang membantu kiai ikhlas pula dalam membantu menjalankan proses pendidikan.
  2. Kesederhanaan. Kehidupan di dalam pondok diliputi oleh jiwa kesederhanaan. Sederhana tidak berarti pasif, tidak juga berarti miskin atau melarat, karena sederhana harus disesuaikan dengan kemampuan. Di dalam kesederhanaan terdapat nilai-nilai kekuatan, kesanggupan, ketabahan, penguasaan dan pengendalian diri dalam menghadapi perjuangan hidup. Dalam kehidupan di pesantren inilah, nilai-nilai kesederhanaan itu ditanamkan kepada seluruh santri.
  3. Berdikari. Berdikari atau kesanggupan menolong diri sendiri merupakan prinsip dan senjata ampuh yang dibekalkan pesantren kepada para santrinya. Berdikari tidak saja dalam arti bahwa santri sanggup belajar dan berlatih mengurus segala keperluan sendiri, tetapi pondok pesantren itu sendiri merupakan lembaga pendidikan yang sanggup berdikar sehingga tidak pernah menyandarkan kehidupannya kepada bantuan. Bagi pondok pesantren, jiwa berdikari berarti tidak menggantungkan diri kepada bantuan orang lain.
  4. Ukhuwah Islamiyah. Prinsip ini bertujuan untuk menjalin hubungan sesama manusia yang berasaskan prinsip ajaran Islam yang damai dan toleran. Ukhuwah dalam Islam adalah nilai persaudaraan dengan semangat tolong-menolong yang tidak melihat batas-batas tertentu, seperti golongan, etnis, bahkan agama atau keyakinan orang lain. Islam menyuruh umatnya untuk menghormati siapapun, bekerjasama dan bergaul tanpa memandang status sosial bahkan keyakinannya. Hal ini tentunya selaras dengan ajaran Islam sebagai agama yang menyebarkan kedamaian universal atau rahmatan li al-‘âlamîn. Kehidupan di pondok pesantren diliputi suasana peraudaraan yang akrab, dengan saling menghormati satu sama lain, walaupun para santri berasal dari daerah, suku, dan budaya yang berbeda-beda.
  5. Kebebasan. Bebas dalam berpikir dan berbuat; bebas dalam menentukan masa depan, bebas dalam menentukan jalan hidup, dan bahkan bebas dari berbagai pengaruh negatif dari luar masyarakat. Jiwa bebas ini akan menjadikan pengasuh pondok, pemimpin pondok pendidik dan santri beriwa besar dan optimis dalam menghadapi segala kesulitan sesuai dengan nilai-nilai yang telah diajarkan kepada mereka.

Jiwa-jiwa tersebut di atas itulah yang terus ditanamkan dalam kehidupan santri di pondok pesantren sebagai bekal untukterjun dalam kehidupan masyarakat; jiwa-jiwa ini harus terus dijaga dan dikembangkan dengan sebaik-baiknya.

Moto Pondok

Moto pondok pesantren merupakan elemen penting dalam proses pendidikan dan pengajaran di lingkungan Pondok Pesantren Daar el-Qolam. Moto Pondok adalah sebagai berikut:

  1. Berbudi luhur. Ini adalah sifat yang harus ada di dalam diri manusia, terutama generasi muda. Sifat ini sangat penting dan haruslah berada pada tingkat pertama sebelum sifat-sifat lain yang akan dimiliki.
  2. Berbadan sehat. Sebagai calon pemimpin masyarakat, kualitas fisik yang sehat dan kuat juga sangat penting. Akhlak yang mulia, ditambah dengan fisik yang prima akan melahirkan insan tangguh dalam menghadapi setiap tantangan dan cobaan.
  3. Berpengetahuan luas. Syarat ini tentunya tidak diragukan lagi. Ia juga syarat utama yang mesti dimiliki oleh calon pemimpin masa depan. Kesempurnaan seorang pemimpin dapat diketahui melalui budi pekerti, badan yang sehat serta pengetahuannya luas.
  4. Berpikiran bebas. Kepribadian yang dibalut dengan akhlak, fisik yang sehat dan ilmu yang luas harus mampu menempatkan dirinya yang bebas, tidak terikat pada siapapun. Yang dibelanya hanya kebenaran untuk kemaslahatan umat.

Saat ini, modernisasi kehidupan telah menyentuh semua aspek kehidupan, akibat perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat pesat, hingga mengharuskan semua pihak untuk mereponsnya secara aktif dan kontekstual. Di tengah kecanggihan ilmu pengetahuan dan teknologi dewasa ini, pesantren dituntut segera merespons dan beradaptasi secara cepat, memanfaatkan teknologi untuk menunjang misi dakwahnya, serta selalu berkreasi, berinovasi dan berwawasan global.


Mislakhudin Hanafi. Pengajar di Pondok Pesantren Daar el-Qolam 3 Kampus Dza ‘Izza

Leave a comment