Alumnus Daar el-Qolam 3 Tembus Kuliah ke Tiongkok

Pendidikan pesantren tidak melulu berkutat dengan al-Quran ataupun sajadah. Hal tersebut terbukti dengan lolosnya beberapa alumni Pondok Pesantren Daar el-Qolam 3 Kampus Dza Izza ke berbagai universitas luar negeri. Berikut ulasan komunikasi singkat Redaksi Dza ‘Izza dengan Ega Ilham Wahyudi yang lolos ke Tiongkok.

Ega Ilham Wahyudi, benarkah itu nama lengkap Anda?

Benar. Ega Ilham Wahyudi, kelahiran Lebak, Banten, 7 Juli 1998. Saya alumnus Daar el-Qolam 3 Kampus Dza Izza angkatan V. Dulu saya duduk di program Extension Kelas Ilmu Pengetahuan Alam (IPA).

Dari beberapa informasi, Anda lolos seleksi beasiswa ke Tiongkok. Bisa ceritakan dengan singkat bagaimana prosesnya?

Dari SMP saya memang sudah tertarik untuk bisa study abroad, dan alhamdulillah, Daar el-Qolam sering sekali mengundang tamu dari luar negeri yang membuat saya semakin bersemangat. Dimulai dari kelas 1 Extension, saya coba-coba apply program Student Exchange ke US, tapi gagal. Lanjut di kelas 3 Extension, saya fokus untuk apply studi ke luar negeri seperti Jepang, Australia, Malaysia, dan Tiongkok. Tak lupa pula menyiapkan cadangan di Indonesia. Semua itu saya coba daftar melalui jalur beasiswa.

Berkali-kali Anda gagal, tidak menyerah kemudian memilih kulian di Indonesia?

“Hidup jangan takut gagal. Takut gagal, mati saja.” Saya tidak akan pernah melupakan apa yang pernah disampaikan oleh Pak Kiai Syahid itu.

Pernah ada jawaban dari apply studi itu?

Alhamdulillah, pengalaman kegagalan saya di masa lampau telah berbuah manis. Saya pernah mendapat balasan dari universitas yang ada di Australia, Malaysia, Tiongkok, bahkan universitas swasta di Indonesia, dengan program beasiswa yang berbeda. Setelah banyak pertimbangan, terutama dari segi finansial, saya memutuskan untuk memilih ke negeri Kungfu Panda berasal. Alhamdulillah sekarang saya kuliah di Nanjing Polytechnic Institute, Program Studi Unmanned Aerial Vehicle (UAV).

Kenapa Tiongkok?

Berlandaskan hadits Rasulullah, “Uthlubu-l-‘ilma wa law bi-s-shîn” yang saya pelajari di Pondok, saya memilih Tiongkok. Selain itu, biaya hidup di sini juga tidak berbeda jauh dengan Indonesia. Tiongkok adalah salah satu negara besar pengatur ekonomi dunia. Mengenai teknologinya pun, Tiongkok sendiri sudah terbilang mumpuni bisa bersaing dengan negara-negara maju lainnya.

Rencana Anda ke depannya?

Untuk rencana ke depan, cukup banyak. Tapi, salah satunya, insyaAllah, saya berencana untuk membuat Komunitas Pelajar Muslim se-Tiongkok yang cukup luas ini, supaya bisa terjalin silaturahim antar pelajar Muslim. Lebih-lebih bisa menghilangkan mindset pelajar Muslim di Indonesia yang sungkan belajar di sini karena dibilang “negara komunis”. Tenang, di sini aman, kok.

Ada pesan untuk adik-adik yang masih di pesantren?

Pesan untuk adik-adik, percayalah Allah is the Best Planner. Saya tipe orang yang percaya akan rencana, rencana, dan rencana. Jadi, sedari dini mungkin siapkan rencana studinya mau ke mana. Siapkan plan A sampai Z, karena ekspektasi tidak selamanya sesuai dengan realita. Tapi jangan hanya fokus ke masa depan, masa sekarangnya malah terabaikan. Salah itu. Nikmati saja dulu masa nyantri-nya. Lakukan yang terbaik. Ikuti semua program yang sudah dibuat oleh pesantren. Semuanya sangat bermanfaat. Percayalah, dik. Kuliah tak seindah drama-drama FTV.

Ada lagi?

Oh ya, lupa. Public Speaking atau Muhâdharah yang kalian anggap membosankan itu telah memberikan pengaruh besar pada diri saya di sini. Bermodal ilmu dan pengalaman muhâdharah, saya bisa berbicara secara langsung di depan Kongjen KJRI Shanghai di depan para mahasiswa lainnya. Tumbuhkan semangat Muhâdharah-nya.

Tags

Leave a comment